Tuesday, June 30, 2009

[ac-i] www.karbonjournal.org // 1# JULI 2009: FOTO BARU oleh Dian Bara



Film Taksi (Arifin C. Noer, 1990) yang dibintangi Rano Karno dan Meriam Belina,
meraih 6 piala Citra pada masa ketika perihal kota merebut sudut pandang,
ketika pandangan yang 'Jakarta-sentris' semakin mengukuhkan diri.
'Suara' manakah yang direkam oleh Taksi di dalam narasinya,
dan bagaimana film Taksi merekam jejak sejarah ruang kota di Jakarta?
Ifan Adriansyah Ismail mengulasnya untuk Anda.



AKAN DATANG: JULI 2009
FOKUS 6: HUMOR DI RUANG KOTA
Penulis: Veven Sp Wardhana, M. Isfanani Haidar Ilyas,
Farid Rakun, Evi Mariani Sofian, Nuraini Juliastuti



Alamat e-mail Anda kami dapatkan dari koleksi kontak milik Karbon dan Ruangrupa, organisasi seni rupa
kontemporer di Jakarta yang menerbitkan jurnal online Karbon ini. Jika publikasi melalui e-mail
ini mengganggu Anda, silahkan kirimkan pemberitahuan ke editor@karbonjournal.org,
agar setelah itu kami hilangkan kontak Anda dari arsip publikasi kami. Terima kasih.




Berselancar lebih cepat.
Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis)

[ac-i] saya dan sastra indonesia saya dan sastra dunia



(1) saya dan sastra indonesia

Share
Saturday, June 27, 2009 at 2:49pm | Edit Note | Delete

sastra indonesia tak hendak lepas dari otak saya. juga sastra dunia. hidup saya untuk sastra. napas dan seluruh gerak saya untuk sastra.

pagi saya bangun saya langsung menulis, atau membaca. sampai siang. istirahat saya ambil di sela selanya saja. begitulah hidup yang jalani saban hari: pagi, siang, malam dan tengah malam serta dini hari - hanya sastra saja yang saya akrabi. sambil sesekali melakukan onani.

dulu sebelum masuk ke maya saya sudah membaca sastra indonesia dalam bentuk buku, koran atau majalah serta jurnal dan buletin. kini saya gabung jadi satu: cetak dan maya. dua duanya saya baca dengan tekun. sehingga kerap saya hapal di mana sebuah puisi di letakkan dalam buku seorang penyair. atau sebuah cerpen atau esai.

saya juga hapal dan tahu persis ucapan atau pikiran penting dari tiap novel indonesia. begitulah saya bermain dengan sastra itu. dalam dunia sunyi dan seorang diri.

kini saya tak bisa lagi sunyi dan sendiri. atau saya bisa bersunyi di tengah orang ramai. menulis dan membaca bersama orang ramai. dan itu suatu niscaya. kita tinggal pandai mengambil jarak untuk menjaga kesunyian hati kita sendiri. sambil menatapi juga hati orang lain.

pada sastra ada kekuatan pengubah yang luar biasa, yang seakan api bisa membakar dan menerangi suatu kegelapan. atau menyalakan suatu mesin mobil yang mogok dan pastilah mobil itu kini bisa berlari karena mesinnya telah menyala.

tak saya peluk dengan egois sastra itu. tapi kita demokratiskan: terserah kepada orang kelak apakah dia menjadikan kegiatan membaca dan menulis yang membentuk pribadinya itu, untuk terus menekuni dunia sastra, atau berbelok ke bidang bidang hidup yang lain.

padanya yang begitu menyehatkan. kita terasing tapi sekaligus berbaur bersama kehidupan. kita terasing karena kita lahir sendirian. kita mati pun sendirian. di selanya kita berbaur bersama orang lain.

saya ingin menjadikan sastra bukan sebagai kesenangan pribadi belaka, tapi menyambarkan juga kegembiraan dan harapan kepada orang lain - orang banyak yang suka sastra, juga orang banyak yang tak suka sastra atau belum suka sastra.

mereka yang pandai memetik manfaatnya akan terasa bahwa melalui sastra ia akan jadi lebih rasional - bukankah tanpa rasionalitas sastra tidak bisa tercipta?

rasionalitas semacam itulah yang dibutuhkan oleh bangsa ini. yakni rasionalitas di mana ia mendayakan kemampuannya sebagai pengolah alam di mana dia tinggal, melalui kegiatan membaca dan menuliskan alam di mana dia tinggal itu sendiri.

jadi dari kegiatan membaca dan menulis sastra, bisa seolah menjadi pintu masuk belaka untuk hadirnya sebuah potensi lain dari manusia dan kini ia mewujudkan potensinya itu ke dalam realitas sehari hari.

tentu saja saya terlalu melebih lebihkan tentang manfaat sastra ini, dengan mengatakan dia bisa sebagai kekuatan pengubah. karena pada kenyataannya, saya juga percaya tak ada apapun yang diubah dalam hidup ini. saya terlalu dalam percaya bahwa tiap orang menyandang nasibnya sendiri. juga suatu bangsa menyandang nasibnya sendiri.

berubah atau tak berubah, itu adalah suatu tatanan dari tiap orang atau tiap bangsa. bahwa memang di sanalah ia atau mereka sedang berada.

bahwa orang berupaya atau malah diam sama sekali, semuanya ada dalam tingkatan nasib yang terberi itu.

tapi memang tak ada jalan lain lagi: bahwa suatu kenyataan ada perubahan bila orang ingin berbenah; tapi adalah suatu kenyataan pula orang setengah mati berbenah tapi sering pulang tanpa membawa suatu apapun di tangannya.

pada keduanya saya meletakkan sastra itu: suara bahagia dan suara bermuram durja.

semua sah bagi saya dan semua nyata bagi saya. seperti nyatanya ada orang baik dan ada orang jahat dalam hidup ini.

sastra hendak memotret semua itu, ke dalam cerita yang dibentukkannya atas bahagia dan sakitnya pengarangnya sendiri.

bravo sastra indonesia dan bravo juga sastra dunia. mari kita mencapai suatu horison terjauh yan mungkin bisa dicapai oleh tiap manusia di bumi. dengan bekerja sekeras kerasnya dan dengan mengatupkan rahang kita sekuat kuatnya.

telah kukatupkan rahangku dan aku pun berharap begitu kepadamu.

hudan hidayat
Written on Saturday · Comment · LikeUnlike
You, Nur Jehan, Amik Koofee, Cepi Sabre and 5 others like this.
Nur Jehan, Amik Koofee, Cepi Sabre and 5 others like this.
Hudanosch HudanHudanosch
Nur JehanNur
Amik KoofeeAmik
Cepi SabreCepi
Rini AsmoroRini
Cesillia CesiCesillia
Kwek Li NaKwek
Yuswan TaufiqYuswan
Dewi MaharaniDewi

Hudanosch Hudan at 3:05pm June 27
halo jiwaku. kau sunyi sepi di fb barumu ini ya. tapi enak. terasa sekali kau dan aku kini menulis dari dunia sunyi. dari sunyi yang aneh.

bahagialah mereka yang tahu akan arti sunyi, karena kelak kalau mereka menjelang mati tak akan kaget, karena telah terbiasa sendirian.

lihat kini kau sendirian, yang ada hanya kau dan aku. tapi lihat kau mulai kedatangan kawanmu: penyair yang memang pantas kau puja sastranya: dewi maharani.

seksi ya dia itu. dia temanmu dan kamu temannya. kamu kan teman siapa saja. sebab hidup memang beginilah: di bawah langit kita hidup bersama, dengan kesamaan dan perbedaan.

pandailah kamu mensyukuri nikmat dari tuhanmu.

Dewi Maharani at 6:09pm June 27
hai sastrawan pujaanku ... dalam kesunyian telah kutemukan kurnia terbesar Illahi yang semakin membuaku mengerti apa sebenarnya yang aku kehendaki ...

aku ingin menjadi "berarti" ... bagi siapapun ... aku ingin mempunyai sesuatu karya yg bs di nikmati oleh semua orang ... apakah aku terlalu muluk2 ???

dengan menulis apa yg aku rasakan ... aku ingin org yg membaca karyaku ikut terhanyut di dalamnya .. bukan untuk menunjukkan bahwa aku hebat .. krn aku mmg tidak pernah merasa kalau aku ini hebat ... jauuuhhh sekali

krn aku hanya bisa menulis dengan hati .. bukan dengan pedoman2 ilmu sastra yg sangat dangkal aku miliki ...

dan aku ingin terus menggali potensi diri lewat fesbuk ini
tapi kenapa fesbuk begitu jahat yaaa ... ooohhh semua karyaku lenyap krn kebodohan yg aku buat (tdk pernah menyimpan tulisan2 ke dlam folder)

maka itu aku sarankan kepada teman2 semua utk mengcopy semua tulisan2 hasil karya indah itu ke dlm folder sblm erjadi hal2 sprt yg aku alami ...

Dewi Maharani at 6:14pm June 27
aku tetap ingin menulis .. dan menulis .. aku hanya ingin merehatkan jiwaku yg terlampau terpukul dgn kehilangan ini .. apakah berlebihan jika aku katakan kalu aku terpukul ... ??

buat bang Hudan .. mohon jangan hentikan bimbinganmu pada perempuan bodoh ini .. agar aku bisa terus belajar & belajar menulis lebih baik lagi ..

kelembutanmu sbg guru , sungguh membuatku takut berpaling dari lapakmu

berjuanglah terus bang Hud di jalan sastramu ... aku berdo'a selalu untuk kesuksesan mu ... HUdan Hidayat !!!!

Hudanosch Hudan at 6:24pm June 27
iya dewi kita berdua, kau dan aku aku dan kamu, seolah anak tiri di dunia ini ya hihi tapi sudahlah: semakin kita dianak tirikan semakin kita akan melangkahkan kaki. kamu benar: wacana hebat itu hanyalah goyang goyang pinggul metapora dalam bahasa.

tak ada yang hebat selain hudan dan dewi tentu saja haha hihi hehe hiks selain tu haaaaaannnnnn .

maju terus untuk dewi maharani. sekali terbunuh akan tumbuh dewi maharani yang lebih kuat lebih kuat lebih kuat lagi! akan tumbuh seorang hudan yang lebih kuat lebih kuat lebih kuat la giiiiii hihihi

Dewi Maharani at 6:42pm June 27
aku suka semangat mu ini bang ... sekali dibunuh akan tumbuh dewi maharani yang lebih kuat lebih kuat lagi ! akan tumbuh hudan yang lebih kuat lebih kuat lagi!

Percaya diri itu memang harus !!!! yaaa .. memang harus !!!!
hihihiiii ... yuuukkk rayakan kesendiarian dan reinkarnasi Hudan Hidayat menjadi Hudanosch Hudan !!!!!!
cheeeeeeeeerrrrssss !!!!

mana wine nya bang ... hihi hehe .. huhu ... hahahaaa

Hudanosch Hudan at 6:44pm June 27
mesti no ojo no nduso no aku meluuuuuuuuuu hehehehe

Dewi Maharani at 6:48pm June 27
hihihi.... yuuukkk meluuuuuuuu !!!

Pakar Dukun at 7:02pm June 27
iki gek dha ngapa lho..? hahaha..

Dewi Maharani at 7:23pm June 27
hahahaa .. wong lagi yangyangan kok di ganggu seeeehhh ... hahahaaaa

Yuswan Taufiq at 7:23pm June 27
Mudah-mudahan note-note di pesbuk lama tidak hilang bang Hudan.
Krn sangat berharga sekali, saya pun akan merasa kehilangan juga andai itu hilang..

Hudanosch Hudan at 7:46pm June 27
eh sebentar itu yuswan dan pakar kok bagaimana bisa masuk ya? kan belum saling add kita? wah bagaimana fbku ini hihi

Pakar Dukun at 7:55pm June 27
lha kan dukun..!! huhuuyyyy.. :-"

Yuswan Taufiq at 8:02pm June 27
Brarti sama Nuruddin...pesbuk bang Hudan dibuat 'open for everyone'...
Itu bisa disetel di 'pengaturan privasi' kan bang Hudan...hehe

Dewi Maharani at 8:16pm June 27
bang baiknya scurity settingnya di sett lagi ... biar aman gityuu loocchhh ...

Bamby Cahyadi at 9:43pm June 27
Pagi yang menghebohkan, telah hilang sastrawan besar dari facebookku, kucari ke sana, ke mari, tak hilang akal kumasuk ke jurnal tuhan hudan.
Aiiih, alhamdulillah dewi maharani menjadi dewi penolongku hehehe

Kwek Li Na at 10:10pm June 27
aku sudah masuk...

dimana pun dikau pasti kami cari...

aduh ibara anak ayam kehilangan induknya pasti nyari sampai ketemu aha..asyik...sudah ada lagi bang Hudan yang kami sayang :)

Hudanosch Hudan at 12:14am June 28
aduh kawan kawanku terima kasih ya. aneh sekali ada yang mati matian membenciku tanpa sebab yang jelas ada pulang kejam menyiksa diriku hehe hihi haha

Cesillia Cesi at 12:28am June 28
welkome back, aih aku beruntung selalu mencopas semua tulisanmu den don hu dan hihihi jadi bacaan bila ku senggang biar nambah ilmu selalu.

Axn Azhar at 2:03am June 28
Hadir!!!
:)

Rini Asmoro at 7:02am June 28
goyang duyu..........aku dapat ilmu laaagggeeee.......!

Cepi Sabre at 6:37pm June 28
sejarah pun dimulai saat tulisan dikenal.sebelumnya disebut sebagai pra-sejarah.tidak dicatat tidak akan teringat, kata ibu guru saya satu kali.

pada kemampuan dan kemauan mencatat inilah jempol ter-angkat buat bang hudan.

Faradina Izdhihary at 3:15am June 30
kenyang. besok lagi ah

Nur Jehan at 9:01am July 1
Mulai yang ini aku copas deh note2mu mas, biar aman.
salut dengan semangatmu.

Helga Inneke Agustine Worotitjan at 9:52am July 1
bagaimana bisa sepi Mas bila seluruhmu begitu riuh dg keluarbiasaan?

Write a comment...

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

[ac-i] PRESS RELEASE: SA LANGIT MONG BUGHAW(under your blue sky), a group show of Philipines artists [1 Attachment]

[Attachment(s) from riessa wijaya included below]

Kepada Yth: Rekan Media

Press Release ini juga sekaligus undangan pada anda sekalian dan publik Jogja untuk menghadiri pembukaan pameran bersama 4 seniman Philipina: SA LANGIT MONG BUGHAW di Tembi Contemporary, Jumat, 3 Juni 2009, 19.30.



SA LANGIT MONG BUGHAW

Di Bawah Langit Birumu

3 – 30 Juli 2009

Tembi Contemporary

 

RILIS MEDIA

 

Tembi Contemporary dengan senang hati mempersembahkan Sa Langit Mong Bughaw, sebuah pameran bersama pertama yang menampilkan empat seniman dari Filipina: Ambie Abaño, Christina Quisumbing Ramilo, Pardo de Leon dan Popo San Pascual. Sa Langit Mong Bughaw juga menandai episode puncak Program Residensi  Valentine Willie di Bali.

 

Diterjemahkan sebagai "di bawah langit birumu," "sa langit mong bughaw" disadur dari salah satu bait Lagu Kebangsaan Filipina, Lupang Hinirang. Kelompok ini berusaha melebur bersama syair dibalik fragmen patriotik dalam sentimen dan medium yang beragam. Ambie Abaño, seorang seniman grafis/cetak, merekam wajah dalam jeda khusyuk. "Dalangin" diterjemahkan sebagai doa, dan figur serta wajah yang dimaksudkan adalah hasil cetak karet pada spandex, menoreh perhatian orang Filipina terhadap kepercayaan. Referensi terhadap seni klasik, pengukuran dan pandangan pada ilmu pengetahuan dibawakan oleh Pardon de Leon. Di sisi lain Popo San Pascual, yang mahir dalam bidang warna, mengeksplorasi nuansa serta rentetan letupan kaleidoskop budaya Filipina. Christina Quisumbing Ramilo telah tinggal lebih dari sebulan di Bali dan Yogyakarta dalam interaksi yang mengagumkan dengan sejumlah seniman lokal terkemuka. Sa Langit Mong Bughaw adalah jalan lapang tempat dimana Ramilo menyatukan sejumlah kesamaan antara kebudayaan Filipina dan Indonesia melalui penggunaan bahasa yang tergabung dalam patung-patung fungsionalnya sekaligus sikap-sikap serupa lainnya dalam praktek seni rupa.

 

Sama beragamnya dengan Filipina, Sa Langit Mong Bughaw adalah sebuah tinjauan substansial pada berbagai cara berbeda dalam penciptaan seni yang mengambil tempat dalam sebuah tataran. Dengan cara yang sama, terjadi semacam kesejajaran manakala keempat seniman Filipina ini mencetuskan cara berpikir dan merasakan yang merupakan kemiripan kedua budaya ini.


Sa Langit Mong Bughaw berlangsung mulai tanggal 3 Juli di Tembi Contemporary, Jl. Parangtritis KM 8,5 Bantul,
Yogyakarta, INDONESIA.

 

Pembukaan 3 Juli 2009. 19:00

Dibuka oleh Dr. Soeprapto Soedjono M.F.A., Ph.D.

Disaksikan: Duta Besar Austria, Duta Besar Australia, Duta Besar Canada, Duta Besar Mexico, KGPH Wironegoro dan Gusti Pembayun

 

Presentasi Seniman 4 Juli 2009 16:00 – 18:00

Moderator: Arahmaiani

 

 

 

CURATORIAL ESSAY

 

Dua Negeri, Satu Langit

 

Sa Langit Mong Bughaw (Di Bawah Langit Birumu) menawarkan sebuah gugusan kemungkinan bagi dialog masa depan antara seniman Filipina dan Indonesia. Sebuah pameran rintisan oleh empat seniman Filipina di Yogyakarta, menunjuk pada wilayah kepedulian bersama antara dua negara yang masih memiliki banyak potensi dialog dalam bidang kebudayaan dan kesenian.

 

Judul pameran ini diambil dari sebuah bait dalam Lagu Kebangsaan Filipina, Lupang Hinirang, sebuah lagu patriotis dan merupakan simbol bersejarah dalam konteks politik Filipina. Mengambil tema utamanya dari praktek kebudayaan secara umum membentuk konsepsi seseorang mengenai apa yang dimaksud dengan kebangsaan, pameran ini secara tersirat merefleksikan pertanyaan mengenai bagaimana kesatuan dibentuk terlepas dari perbedaan dalam sejarah, geografi, kebudayaan dan cara pandang.

 

Karya-karya dalam pameran ini menunjukkan bagaimana praktek seni yang beragam bisa dihadirkan dalam satu wilayah atau teritorial yang tidak utuh dalam membentuk sebuah bangsa atau daerah. Bagaimanapun juga, seni kontemporer Filipina tidak dapat dengan serta merta diklasifikasikan pada sebuah genre atau cara visual: apa yang telah dibuat oleh para seniman selama bertahun-tahun berkisar pada karya figuratif sampai absttrak, simbolis sampai literal, fungsional sampai konseptual. Sebaliknya, pameran ini menampilkan bagaimana karya yang beragam menuju penciptaan sebuah citra yang utuh, dalam arti membentuk apa yang disebut seni Filipina: bagaimana setiap elemen atau tradisi mutlak diperlukan untuk melukiskan gambaran yang utuh, kira-kira demikian, terlepas dari hadirnya berbagai kontradiksi dan perbedaan.

 

Udara perayaan keragaman artistik direkam dalam karya-karya abstrak Popo San Pascual yang tajam. Warna-warna yang berani dan nyaris cair dalam gerakannya, karya-karyanya nyaris tak berbatas, memperlihatkan spontanitas yang mengagumkan. Bentuk-bentuk organik – pusaran, petakan, lingkaran –mengalir pada dan ke luar dari satu sama lain, berpindah dari keburaman menuju kebeningan. Keindahan karya San Pascual terletak pada bagaimana warna-warna yang sama-sama kuat dan tampak mengejutkan dipadukan secara berani untuk menghasilkan kesatuan yang memuaskan dan utuh.

 

Karya-karya San Pascual yang penuh warna menemukan sebuah kontras visual yang langsung dalam karya cetak hitam-putih Ambie Abaño yang dingin, berpusat pada potret psikologis orang-orang yang sedang berdoa (dalangin). Meskipun sepertinya terfokus pada keadaan pembacaan doa dan permohonan, subyek pokok dalam karya-karya Abaño adalah sebuah isu yang penting bagi kebudayaan di Filipina, di mana agama  memainkan  peranan kunci dalam lingkungan sosial. Dalam konteks ini, tindakan dalangin dari sisi sejarah bersifat politis sekaligus pribadi: menjadi bagian dari kejadian, bahkan pemberontakan. Seseorang akan tergerak untuk bertanya apakah hal ini merupakan hal yang sama di Indonesia, dan jika benar demikian, bagaimana  ini diwujudkan.

 

Empat karya Pardo de Leon dalam pameran ini menunjukkan tekanan yang meluap di bawah permukaan seni yang diproduksi masa kini: kontradiksi antara tradisi dan arah menuju masa depan. Figur-figur  yang dijajarkan diambil dari gambar kapur maestro Italia pada masa Renaissance, Leonardo da Vinci dan gambar-gambar  acak lainnya, sang seniman mendokumentasikan  pijakan yang lemah dalam upaya merengkuh gaya visual menggambar dan melukis sekaligus tradisi seni bersejarah di masa lalu maupun masa kini.

 

Kecenderungan pribadi de Leon pada karya-karya masa Renaissance dapat dilacak pada pendidikan seninya di UP CFA (yang, dalam hal mengembangkan kurikulumnya sendiri, juga mengambil dari tradisi akademik untuk belajar dari karya-karya para Maestro) sekaligus pengalaman residensi ke Italia. Seniman ini menghasilkan  tanggapan yang intuitif,  psikologis dan bahkan acak terhadap sebuah tradisi visual yang dikaitkan dengan penjelasan empiris dan ilmu pengetahuan, upaya pencapaian ideal, dan integrasi yang hati-hati dengan proporsi dan keseimbangan. Sebagai contoh, dua karyanya, Leda dengan Kodok, mengacu pada representasi da Vinci akan Leda dan angsa (yang, sebenarnya, merupakan pola yang diambil dari mitologi Yunani) tidak hanya menjajarkan dua citra dan konsep yang seolah acak, namun juga mengacu pada erotisme dan pelanggaran dalam karya seniman masa Renaissance itu. Intuisinya yang tajam pada kontradiksi dapat dicermati dalam karyanya yang lain, di mana citra dan bentuk-bentuk geometris –teladan rasional dan pemikiran ilmiah –melayang dengan tenang, secara sureal, di langit.

 

Instalasi fungsional Christine Quisumbing Ramilo, secara umum menggunakan berbagai benda temuan di Jogja, mencari kesamaan dan dialog antara kebudayaaan Filipina dan Indonesia. Seniman ini mempertemukan nilai-nilai dalam obyek sehari-hari, seperti tempat tidur, kardus, gerobak dan bingkai, untuk menciptakan obyek dengan ruang yang terbuka pada interaksi dan refleksi.

 

Seniman ini menggunakan teks temuan untuk menunjukkan konsep pertukaran: kata-kata umum antara dua negara yang dapat dilacak pada masa kesamaan warisan Bahasa Indonesia(seperti mahal, bekas dan ingat) dan puisi temuan berbahasa Indonesia yang umumnya ditulis oleh kenalan barunya selama masa residensi itu. Solo Flight (Penerbangan Tunggal), sebuah ambin dengan teks mahal dan ingat yang dipahatkan, berkisah mengenai cara-cara umum di mana kata-kata ini berada dalam kebudayaan Filipina dan Indonesia, menemukan ruang sementara akan pemahaman dan kenyamanan diantara dua kesatuan. Idlip, ambin yang lain, menjadi ruang refleksi sekaligus aspirasi, di mana teks yang ditampilkan langit mong bughaw bukan hanya sebuah frasa patriotik, tapi juga undangan untuk menemukan penghiburan dalam ketenangan dan impian akan berbagai kemungkinan.

 

Ramilo juga menghubungkan konsep populer gerobak sorong sebagai sebuah bentuk utama untuk mengaitkan publik melalui seni. Grobak Contemporary, sebuah gerobak dengan sepeda, menampilkan figur yang jamak dalam kebudayaan dua negara: pedagang makanan kaki lima membawa barang pecah belah mereka dalam gerobak. Ramilo mengisi gerobak dengan berbagai benda seni dan menyusun karya-karya sejumlah seniman di dalamnya, bukannya makanan dan membawa pameran keliling ini melewati sejumlah ruang publik dan komunitas untuk menekankan maksudnya bahwa seni adalah sebuah elemen yang sangat penting untuk sebuah kehidupan yang layak. Letters to the Universe (Surat-surat untuk Semesta), sebuah instalasi kotak kayu diisi dengan puisi temuan dari Indonesia, Filipina dan Amerika Serikat di dalam amplop-amplop tertutup, mengundang para pengamat untuk berhubungan dengan hal-hal pribadi maupun filosofis.

 

Sebagai sebuah pameran yang utuh, karya-karya dalam Sa Langit Mong Bughaw menampilkan rentang lebar yang meliputi berbagai isu, estetika, dan cara berhubungan. Mereka menawarkan kita sebuah gambaran pada berbagai macam kemungkinan terjadinya dialog antara seni Indonesia dan Filipina, selayaknya interaksi semacam ini dimungkinkan dan dilanjutkan sebagai kolaborasi.

 

Akhirnya, karya-karya dalam Sa Langit Mong Bughaw juga menekankan pada arah tematik dan konseptual pada terjadinya dialog: lapisan perbedaaan apapun, pada akhirnya, berakar pada kekhasan sejarahnya. Pada kasus Filipina dan Indonesia –dua kepulauan yang terbentang bersebelahan di bawah angkasa biru namun memiliki perbedaan kebudayaan yang besar –sebuah ruang yang umum untuk melakukan refleksi akan menjadi pengalaman kedua negara dengan kolonisasi dan masa peradaban yang semakin bertolak belakang, gelombang patriotisme dan kebencian, refleksi pada peran pengaruh Barat, perayaan dan kemeriahan berbagai untaian subkultur yang ada di dalamnya, refleksi dan pencarian identitas, dan kaitannya dengan publik yang lebih besar dalam peranan seni.

 

 

Tentang Seniman

 

Ambie Abaño adalah seorang arsitek, seniman visual dan seniman grafis/cetak. Ia mememenangkan  Hadiah Utama dalam Anugerah Phillip Morris Filipina  2006 dan Kompetisi Seni Terbuka Asosiasi Seni Filipina (Kategori Lukisan) 1987. Ia telah menggelar 11 pameran tunggal dan telah ambil bagian dalam lebih dari 70 pameran bersama sejak 1986. Abaño menjadi Presiden Asosiasi Seniman Cetak/Grafis Filipina sejak 2007 hingga saat ini dan tengah menyelesaikan gelar Master dalam bidang Seni Rupa dari Universitas Filipina di Diliman, Quezon City.

 

Pardo de Leon memiliki gelar sarjana Seni Lukis dari Akademi Seni Rupa Universitas Filipina di Diliman. Ia adalah penerima Anugerah Tigabelas Seniman dari Pusat Kebudayaan Filipina pada tahun 1988. Pada tahun yang sama,  ia menerima hibah studio( program residensi ), bersama dengan tiga seniman Filipina lainnya, dari Yayasan Kebudayaan Italia-Swedia di Venesia, Italia, yang dinobatkan sebagai pameran terbaik tahun tersebut oleh lembaga pemerintah pada 1999. Sejak saat itu, De Leon telah terus berbagi karyanya dengan publik melalui berbagai pameran tunggal dan pameran bersama di Filipina.

 

Christina Quisumbing Ramilo adalah seniman lepasan dan kurator, instruktur seni, penggerak masyarakat dan desainer furnitur. Menyelesaikan pendidikan sarjana Komunikasi Visual di Akademi Seni Universitas Filipina, Ramilo kemudian meraih gelar pasca sarjana dengan Master Seni di Studio Seni dan Pendidikan Seni (jurusan Seni Lukis) dari New York University. Ia belajar litografi, patung keramik, ilustrasi, dan fotografi pada sejumlah institusi seni, termasuk Liga Mahasiswa Seni, Sekolah Seni Visual, State University of New York dan Parsons School of Design. Pada tahun 2008, ia mendirikan Martinez Art Project (MAP), sebuah kelompok yang berfokus pada penggunaan bahan-bahan daur ulang untuk menciptakan karya-karya yang konseptual, fungsional dan tradisional.

 

Popo San Pascual memiliki gelar dalam bidang Seni Lukis dari Akademi Seni Universitas Filipina. Ia, bersama dengan Pardo de Leon, menerima Anugerah Tigabelas Seniman dari Pusat Kebudayaan Filipina pada tahun 1988 dan menerima hibah dua bulan residensi seni dari Fundaccion Culturale Italo Svedese.

 

Lisa Ito belajar Seni Murni, jurusan Sejarah Seni Rupa, di University of the Philippines College of Fine Arts (UP CFA) di  Diliman, Quezon City. Tulisannya mengenai seni rupa dipublikasikan dalam berbagai media, termasuk: Asian Art News, World Sculpture News, Pananaw Philippine Journal of Visual Arts 6, Ctrl+P: Journal of Contemporary Art, Art Manila Quarterly, Philippine Daily Inquirer, Philippine Graphic dan  www.bulatlat.com

 

 




--
tembi contemporary
Jl. Parangtritis Km 8,5
Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul
Jogja 55186
INDONESIA

t : +62 274 6881919
f : +62 274 368321
e: info@tembicontemporary.com
w: www.tembicontemporary.com

OPENING HOURS
tues - sat  10 am - 6 pm
sunday      11 am - 5 pm

monday and public holiday CLOSED


Berselancar lebih cepat.
Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis)

__._,_.___

Attachment(s) from riessa wijaya

1 of 1 File(s)

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
New business?

Get new customers.

List your web site

in Yahoo! Search.

Yahoo! Groups

Auto Enthusiast Zone

Passionate about cars?

Check out the Auto Enthusiast Zone.

Y! Messenger

Group get-together

Host a free online

conference on IM.

.

__,_._,___

[ac-i] metapora: bunyi, kata, mati



(10) metapora : bunyi, kata, mati
Share
Today at 11:33pm | Edit Note | Delete

bunyi apakah yang akan keluar dari mulut kita, tanpa pikiran dan perasaan, dalam kesadaran? tetapi apakah kesadaran? kesadaran adalah suatu akal sehat kita yang sedang bekerja dalam dan saat menatapi dunia? kesadaran yang kita hela agar kita terus bisa hidup, atau bahkan memutuskan untuk mengakhiri hidup atau antara kehendak untuk hidup yang bersamaan dengan kehendak untuk mati, dalam sikap dari absurditas dari dalam diri.

saat kita tidur kesadaran itu tidak bekerja. tapi benarkah kesadaran tidak bekerja? di alam nyata kesadaran bekerja melalui indera mata, telinga, dan pori pori di sekujur tubuh. tapi waktu tidur seluruh indera kita pun seolah istirahat. tapi istirahatkah kesadaran? lalu bagaimana dengan mimpi itu? mimpi adalah hasil dari kegiatan kita sehari hari, terdorong dan terbawa ke dalam mimpi. juga mimpi tentang suatu isyarat akan sesuatu, yang datang dari suatu bentuk keilahian.

menghitung kesadaran seperti itu, berguna bukan terutama di dalam suatu hitungan saat terjaga, tapi saat tak terjaga alias tidur. alias tidur inilah yang hendak kita bangkitkan dalam keadaan terjaga. bahwa dalam diri kita ada kesadaran yang sedang tertidur, tak bangkit, dan absurd kapan ia naik ke permukaan serta mewujudkan diri dalam pikiran atau tindakan.

inilah tenaga ketaksadaran yang bekerja, mendesak dan mendorong minta diwujudkan. kadang kesadaran kita merasakannya naik, merasakan keanehan yang sedang terjadi dalam diri, tapi kita tak berdaya mencegahnya. demikianlah misalnya tangan kita telah tiba tiba saja tanpa suatu keputusan akal sehat menyambar gelas minuman keras dan menenggaknya sampai habis.

selalu ia membantingkan langkah kaki kirinya, kata iwan simatupang dalam novel ziarah, atas dan padahal tokoh kita, dalam novel itu, telah mendayagunakan seluruh akal sehatnya, atau kesadarannya, untuk membantingkan langkah kakinya ke kanan. tapi selalu kiri juga yang dipilih langkah kakinya itu.

sebelumnya saya ingin menawar aristoteles, yang mendeskripsikan metapora adalah pemberian nama untuk sesuatu yang lain. bahwa ia datang dari suatu gerakan - gerakan pemberian nama itu, atau gerakan benda benda yang berpindah itu. bukan suatu bahasa. sebaliknya saya ingin mengatakan bahwa bahasa adalah metapora itu sendiri. yakni saat kata atau kalimat, dalam bahasa, menyebutkan sesuatu yang sesuatu itu bukanlah dirinya sendiri. bahwa bahasa adalah nama, adalah lambang, identitas akan sesuatu yang disebutkannya, atau ditunjuknya.

sesuatu yang ditunjuk itu, akan selamanya menjadi sesuatu. seperti bahasa itu akan selamanya menjadi sesuatu yang lain lagi. yakni bahasa.

maka kalau kita menyebut aku, aku bukanlah gejala fisik diri beserta segenap aktivitas diam atau sadarnya. tapi aku sebagai penamaan, sebagai suatu identitas bahwa seluruh fenomena fisik itu. fisik itu sendiri tetap adalah fisik. bukan aku. aku, adalah metapora, bergeraknya atau berpindahnya sang fisik itu ke dalam bahasa. atau disebutkannya nama lain itu - fisik itu - ke dalam sesuatu yang lain - bahasa: aku.

gejala bahasa atau metapora ini, khususnya metapora tentang suatu tenaga yang tak sadar, menarik saya untuk diterapkan ke dalam suatu bahasa puisi. bahwa puisi di facebook ini, atau seni dari dunia kata kata pada umumnya, selalu menggunakan suatu bahasa atau metapora yang datang dari dunia yang sadar. dunia sadar yang sangat mudah kita pahami karena dunia semacam itu adalah meniscayaan kejelasan arti arti - umpama kalimat denomatif. bukan suatu pemakaian bahasa atau metapora yang bersifat konotatif. dengan konotasi inilah kita hendak mengacukannya kepada tenaga jiwa yang tak sadar itu.

tenaga jiwa yang tak sadar yang lebih dari sekedar persoalan laju dalam bahasa, tapi suatu dorongan di mana kita tiba tiba mendapatkan suatu bahasa, atau kombinasi bahasa yang mengejutkan. kita terkejut karena tak menyangka bahwa bahasa akan membalik atau mengekspresikan dirinya sedemikian rupa. bukan hanya telah menjauh dari bahasa yang denotatif, tapi telah menjadi bahasa yang melakukan subversif dari bahasa resmi yang kita kenal.

tentu saja ia datang dari bahasa yang kita kenal, yang kita akrabi sehari hari. tapi ia bisa juga datang dari bahasa yang tidak kita kenal sama sekali. dan baik bahasa yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal, keduanya telah menjadi suatu kombinasi bahasa yang pada akhirnya memungkinkan kita mendapat suatu pengelihatan baru atas tiap gejala yang mapan dalam hidup ini.

"larik bertukar tangkap dengan lepas" dari puisi padamu jua amir hamzah barangkali cukup representatif untuk sebuah contoh dari pemakaian bahasa yang datang dari dunia kata kata yang kita akrabi. cobalah ceraikan larik itu lalu buat ia menjadi suatu entitas yang sejajar. maka akan kita dapati: bertukar, tangkap, dengan, lepas. tak menunjukkan apa pun dan adalah dalam kosa kata yang kita pakai sehari hari. tapi saat disambung dengan cara amir menyambungnya, maka kita mendapat suatu kombinasi bahasa yang mencengangkan kita karena kemampuannya menjelaskan akan suatu fenomena yang seolah kadang tertangkap tapi kemudian luput lagi: tuhan, tuhan sebagai suatu seolah bayang dalam diri. memanjang, hendak kita tangkap dan seolah bisa kita tangkap. tapi akhirnya lepas kembali dan kita pun gagal menangkap tuhan ke dalam diri.

(semacam cara untuk menatapi puisi tiga penyair kemarin itu. ia seolah kerja yang terpisah untuk kelak disatukan dalam tulisan utuh)

hudan hidayat
filsuf

Written 23 minutes ago · Comment · LikeUnlike
You, Iwan Gunawan and Cepi Sabre like this.

Iwan Gunawan at 11:51pm June 30
aneh, tapi nyata.

Cepi Sabre at 11:53pm June 30
materi ke non-materi ke materi lagi.
membingungkan.mengasyikkan.

Hudanosch Hudan at 11:56pm June 30
iya ini agak agak absurd tapi tadi: nyata.

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Search Ads

Get new customers.

List your web site

in Yahoo! Search.

Dog Groups

on Yahoo! Groups

discuss everything

related to dogs.

Yahoo! Groups

Mom Power

Find wholesome recipes

and more. Go Moms Go!

.

__,_._,___

[ac-i] Diskusi "PROSES PUISI, VIDEO PUISI"



Undangan:

Majelis Proses Sastra mengundang Anda dalam diskusi bertajuk:
"PROSES PUISI, VIDEO PUISI"

Pembicara: ANDY FULLER, antropolog, Universitas Tasmania, Australia.
                    BINHAD NURROHMAT, penyair "Demonstran Seksi"
Moderator: HELMI Y. HASKA, editor Jurnal Proses Sastra

Tempat     : Newseum Cafe, Jl. Veteran I / 31, Monas (samping Istiqlal)
                                                Jakarta Pusat

Waktu       : Jumat, 3 Juli 2009, pukul: 19.00 WIB

Free Admision



New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Search Ads

Get new customers.

List your web site

in Yahoo! Search.

Yahoo! Groups

Auto Enthusiast Zone

Discover Car Groups

Auto Enthusiast Zone

DonorsChoose

Support our

Troops' Children

Give to education

.

__,_._,___

Monday, June 29, 2009

[ac-i] Pemenang Lomba Komentar Novel Sang Pemimpi

This summary is not available. Please click here to view the post.