Friday, June 5, 2009

[ac-i] "Putri Melayu" Dikritisi Siswa



Revolusi sosial yang terjadi di daerah Sumatera Utara (khususnya Tanjungpura  dan Binjai) pada tahun 1964 telah memakan banyak korban yang tak bersalah, terutama dari kaum bangsawan melayu. Salah satunya adalah Tengku Amir Hamzah. Penyair kenamaan dan pahlawan nasional ini dihukum pancung oleh algojo dari laskar kiri tanpa ada proses pengadilan.

Novel berlatar revolusi sosial di tanah melayu ini banyak membahas tentang penderitaan kaum  bangsawan, mulai dari teror, penangkapan, penyiksaan, dan pembunuhan yang dilakukan oleh laskar kiri kepada kaum Borjuis atau Feodal (julukan laskar kiri kepada kaum bangsawan)..

Menceritakan Farida Sebagai tokoh utama, gadis jelita puteri pangeran Setiakala yang baru berusia 17 tahun. Dia harus rela meninggalkan kemewahan dan kebahagiaan istana dan menjalani kehidupan baru sebagai tawanan dan tinggal di kampung-kampung tahanan laskar kiri. Puncak kebahagiaan Farida adalah saat acara pesta ulang tahunnya yang ke -17, dan kembalinya Farid (pria idaman Farida) dari Batavia  ke Tanjungpura dengan seragam perwira TKR.

Namun kejadian dini hari tertanggal 17 Maret 1964 alur kehidupan Farida berubah sangat cepat, pintu kediaman pangeran Setiakala digedor pasukan  laskar kiri, hartanya dijarah. Pangeran Setiakala sendiri tewas pada kejadian tersebut.  Sedangkan, nasib ibundanya sendiri tidak diketahui Fraida secara pasti.

Setelah kejadian tersebut resmilah  Farida dengan status tawanan laskar kiri. Sebagai tawanan Farida banyak mendapat perlakuan tak manusiawi oleh penjaga-penjaga kampung, mulai dari penyiksaan hingga percobaan pemerkosaan. Namun untunglah ada umar (salah seorang petinggi TKR) yang membawa Farida keluar dari tahanan dan menjadikannya sebagai perawat. Namun apakah penderitaan Farida berakhir setelah datangnya Umar dalam kehidupan Fraida?

Novel karya Ammirudin Noor ini ditulis dengan gaya bertutur dan banyak dibumbui oleh dialog-dialog berbahasa melayu yang menjadi nilai lebih pada novel ini. Terutama bahasa puitis yang ada pada setiap paragraf akan membuat pembaca menjadi nyaman menikmati bagian-perbagian novel ini.

Sayangnya, alur dalam novel ini maju dengan terlalu cepat sehingga pembaca akan merasa seperti di kejar-kejar oleh cepatnya jalan cerita. Namun gaya bahasa yang digunakan bisa menutupi kekurangan pada novel ini. Secara keseluruhan, novel ini sangat sayang jika dilewatkan. (Rendi Handoko ,Hilman Ramadhan , dan Ega Nurjaman; santri kelas 11 MA. Manba'ul Huda, Bandung).

Judul                           : Puteri Melayu
Penulis                        : Amirudin Noor
Penerbit                     : Bentang, anggota IKAPI
Tanggal terbit            : Februari – 2009
Jumlah halaman         : 428 halaman
Kategori                      : Novel

--------------------------
PT BENTANG PUSTAKA
Jl. Pandega Padma No. 19
Yogyakarta 55284
Indonesia
Phone 62-274-517373
Fax 62-274-541441
www.mizan.com
--------------------------

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

[ac-i] Buku "Hoegeng" di Mata Para Pelajar



Hoegeng merupakan buku yang berisi tentang biografi seorang polisi yang patut menjadi contoh untuk seluruh polisi.Hoegeng merupakan sosok seorang laki-laki yang tegar dalam meghadapi cobaan-cobaannya pak Hoegeng di masa kecil di didik oleh orang tuanya dengan disiplin dan kasih sayang orang tuanya dengan disiplin dan kasih sayang. Hoegeng adalah seorang polisi yang bertugas di pekalongan. Ketika masa kecilnya ia bercita-cita menjadi polisi karena ia terkesan dengan sosok polisi yang ramah seperti karib ayahnya. Oleh karena itu hoegeng di didik ayahnya dan teman-teman ayahnya untuk menjadi polisi.

Akhirnya Hoegeng pun bisa menjadi polisi yang pertama ia berkuliah di perguruan polisi.Hoegeng pun berhasil menjadi polisi yang berwibawa tinggi dan disegani oleh banyak orang,namun ia juga menyukai lelucon walaupun dalam waktu singkat.Ia pernah menjadi Angkatan Laut (AL) Dan ia kembali lagi kepada polisi untuk menjadi kekaguman banyak orang.

Ia adalah sosok polisi yang pantang disogok oleh siapa pun, seperti ia ketika pindahan dan ditempatkan dirumah dinas sebelum ia memiliki rumah sendiri. Semua barang yang sudah tertata rapi dalam rumah tersebut. Karena pribadi hoegeng yang pantang di sogok,kemudian barang-barang tersebut dikeluarkan dari rumahnya,dan membiarkan barang-barang tersebut diluar.

Bahkan Dr.George Junus Aditjondro mengatakan "hanya ada tiga polisi yang pantang di sogok,yaitu hoegeng, patung polisi, dan polisi tidur "

Dalam buku hoegeng ini selain mrndapatkan sejarah perjuangan hoegeng yang bisa kita ambil hikmahnya terdapat juga foto-foto hoegeng yang bersejarah. Dan dalam buku ini juga kata-kata dan huruf-hurufnya sangat mudah dipahami dan dicerna,sehingga kecil kemungkinan kita untuk mengulang-ngulang sebuah kalimat karna kita paham apa maksudnya. Akan tetapi sedikit kekurangan dalam buku ini adalah sebuah sampul yang kurang menarik minat para pembaca. Padahal isi bukunya ada terdapat kemenarikan dan pelajaran yang perlu dipelajari banyak orang, terutama polisi

Apabila kita ingin mencontoh kelebihan hoegeng dengan berbagai masalah yang dihadapi mari kita membaca buku ini, kita bisa tahu dan karena membaca bukulah kita akan mendapatkan banyak ilmu. (Abdul 'Alim, Ahmad Nurdin, Febri Anggayana, santri kelas 11 MA. MANBA'UL HUDA BANDUNG)

Judul                : HOEGENG
Penulis              : Aris Santoso, Ery Sutrisno, Hasudungan, Imran Hasibun
Penerbit            : Bentang 
Tebal                : 354
Tahun Terbit     : 2009

--------------------------
PT BENTANG PUSTAKA
Jl. Pandega Padma No. 19
Yogyakarta 55284
Indonesia
Phone 62-274-517373
Fax 62-274-541441
www.mizan.com
--------------------------

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

[ac-i] Besarnya Alam, Sempurnanya Sang Pencipta dan Terbatasnya Manusia



Hal yang paling saya suka dalam pekerjaan saya di bidang pariwisata ini adalah seringnya saya bertemu dengan orang baru yang memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman menarik yang memberi saya kesempatan untuk berdiskusi tentang tema-tema menarik.

Selama ini, kebanyakan klien saya adalah para pensiunan yang tidak lagi bekerja yang sedang menikmati masa tua. Mereka ini seringkali di masa tuanya mendalami hal-hal yang merupakan ketertarikannya di masa muda tapi tidak sempat dijalani karena banyaknya waktu yang tersita oleh pekerjaan mereka.

Jika beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan Jean Panis, seorang petani yang gila terbang, sekarang saya bertemu dengan Jean Pierre Bourdery, seorang pensiunan dokter spesialis anestesi asal Bourdeaux yang di masa pensiunnya menaruh minat besar dalam bidang serangga. Sebagai ahli anestesi Jean-Pierre sangat tertarik pada sistem syaraf serangga karena berkaitan dengan pekerjaannya sebagai ahli anestesi dia banyak berurusan dengan sistem syaraf.

Menurut Jean Pierre, meskipun dalam bentuk yang lebih sederhana tapi secara ajaib sistem syaraf serangga yang dia temui ternyata banyak kemiripan fungsi dengan sistem syaraf manusia.

Jean Pierre sangat senang ketika saya tertarik pada ceritanya karena menurutnya tidak banyak orang yang tertarik mendengarkan cerita tentang hobinya tersebut. Setiap ada waktu luang di sela-sela kegiatan wisata, Jean Pierre memanfaatkannya untuk bercerita dengan saya, bahkan ketika di dalam bis yang membawa kami dari Jogja menuju Ambarawa, ketika guide kami yang bernama Ibu Agatha dengan serius bercerita tentang hal-hal menarik yang ditemui di sepanjang perjalanan, Jean Pierre memilih berdiskusi dengan saya.

Dari cerita soal serangga pembicaraan kami berkembang ke hal yang lebih luas, mengenai lingkungan, manusia sampai ke hakikat semesta dan kisah terbentuknya alam. Tentang teori-teori baru yang berkembang belakangan untuk mengukur luasnya semesta, mengenai lubang hitam dan juga ide-ide dari penulis terkenal Stephen Hawking juga Fred Hoyle, ilmuan astronomi terkenal yang meneliti tentang proses pembentukan planet-planet.

Meskipun kami berdua tidak memahami teorinya secara detail, kami membicarakan tentang batas alam semesta dalam kerangka teori Relativitas Umum (General Relativity Theory) yang diperkenalkan oleh Einstein, yang memperkirakan secara ekperimental bahwa ruang semesta itu melengkung dalam dimensi ke-4 dan tertutup. Tapi selain perkiraan alam semesta yang berada dalam dimensi ke-4 itu, Jean-Pierre mengatakan kalau sekarang juga sudah ada usaha dari beberapa ilmuwan yang juga menggunakan General Relativity Theory yang menghitung luas semesta dengan perhitungan x,y,z ala dimensi tiga.

Kepada Jean Pierre saya mengatakan pikiran saya tentang anehnya semesta ini yang sebegitu luas tapi hanya memberi tempat pada satu noktah kecil di tepian galaksi bima sakti untuk menjadi tempat kehidupan berkembang. Tapi menurut Jean Pierre, bisa jadi faktanya memang seperti itu, tapi lebih besar lagi kemungkinan bahwa itu karena ketidak tahuan kita. Kita tidak tahu karena kita hanya bisa berpikir sebatas realitas yang bisa kita cerna menurut perangkat panca indera dan mental yang kita punya. Gambaran yang kita punya dalam kesadaran kita akan dunia realitas secara umum adalah semata-mata rekonstruksi dari semua yang kita tangkap dengan panca-indera dengan logika kita sebagai alat rekonstruksi, sehingga kita bisa memahami saling keberhubungannya (hukum-hukum alam) dan juga sebab-sebabnya (hukum kausalitas), dan menjadi puncak dari semuanya, mengontrolnya.

Di luar itu, semua serba spekulasi. Soal kehidupan misalnya, kita hanya mengenal kehidupan berbasis karbon, karena memang kehidupan jenis itu yang berkembang di planet yang kita diami ini. Sementara di tempat lain bisa jadi berkembang jenis kehidupan yang berbasis unsur lain, katakan berbasis belerang (sulfur) misalnya. Kita tidak tahu.

Mengenai alam dan kehidupan segala isi dan permasalahannya ini, belakangan saya melihat banyak orang dan malah seperti menjadi trend untuk memhaminya bukan berdasarkan pengamatan dengan panca indera tapi berdasarkan pada teks-teks kitab suci. Trend ini terutama berkembang di kalangan penganut dua agama samawi (abrahamic) yaitu Islam dan Kristen.

Saya sendiri adalah orang Islam yang terlahir sebagai orang Gayo yang merupakan bagian dari Aceh.

Sebagaimana orang Aceh lainnya, cara kami di Gayo memandang keislaman berbeda dengan cara pandang banyak suku-suku lain di Nusantara dalam memandang keislaman mereka. Kalau beberapa suku di Nusantara yang beragama Islam bisa menolerir ada penganut agama yang berbeda dalam satu keluarga atau bisa menerima pernikahan beda agama. Tidak demikian halnya dengan kami di Aceh, bagi kami orang Aceh, Islam bukanlah sesuatu yang bisa ditawar-tawar. Di Aceh kami merasa menjadi Islam itu bukanlah sebuah pilihan, tapi merupakan takdir yang dibawa lahir. Kami orang Aceh sama sekali tidak bisa membayangkan mengganti agama yang kami anut sebagai mana kami tidak mungkin bisa membayangkan mengganti orang tua yang melahirkan kami.

Karena begitu melekatnya Islam dengan identitas kami inilah, kami orang Aceh bisa menolerir berbagai bentuk hujatan dan hinaan terhadap diri kami dengan tingkat kesabaran dan daya tahan yang bervariasi dari rendah sampai tinggi. Tapi kami orang Aceh sama sekali tidak bisa menerima perkataan bahwa KAMI BUKAN ISLAM. Kami sama sekali tidak bisa menerima omongan itu, tidak peduli siapapun yang mengatakannya, termasuk orang-orang berjenggot yang karena memahami Islam ala wahabi dan bersikap ala kaum wahabi merasa diri lebih Islam dari kami.

Orang-orang Non-Aceh atau orang yang secara genetik Aceh tapi tidak lahir di Aceh dan tidak tumbuh dalam nilai-nilai keacehan, terutama orang-orang yang menganut pandangan bahwa sesuatu agama itu murni sebagai pilihan pribadi, banyak yang tidak memahami karakter kami ini. Mereka tidak bisa mengerti jika melihat kami bereaksi sangat keras terhadap orang yang berani mengusik identitas keislaman kami.

Karena itulah dulu banyak orang non-Aceh dan orang Aceh yang tidak pernah hidup dengan nilai-nilai Aceh tidak bisa memahami kemarahan saya saat ada seorang simpatisan PKS menuduh saya sebagai musuh Islam dan agen Yahudi. Sebaliknya orang Aceh yang dibesarkan di Aceh dan dengan nilai-nilai keacehan sangat memahami alasan kemarahan saya.

Tapi meskipun Islam melekat pada identitas kami dan kami semua tidak bisa menerima cap BUKAN ISLAM dilekatkan pada diri kami, cara kami di Aceh dalam memandang dan memahami Islam sebagai sebuah agama sangat bervariasi.

Di Aceh kita bisa menemui berbagai macam karakter penganut Islam, mulai dari yang memahami dan mempraktekkan Islam secara ketat ala kaum wahabi yang sama sekali tidak menolerir segala bentuk praktek keagamaan yang bercampur dengan praktek-praktek kegamaan pra-islam seperti kenduri, peusijuek dan lain sebagainya, yang agak moderat yang ketat dalam berbagai hal tapi masih menerima praktek kenduri dan peusijuek sampai kepada yang masih mempraktekkan perdukunan dan upacara-upacara berbau animisme ala masyarakat pra-islam yang memberi sesajen pada benda-benda tertentu seperti pohon besar, kuburan dan batu yang dianggap keramat.

Saya sendiri mengenal Islam pertama kali melalui almarhum kakek saya yang bernama Tgk. Ashaluddin. Seorang ulama yang cukup dikenal di tempat kelahiran saya.
Almarhum kakek saya fasih berbahasa arab dan sangat gemar membaca Al Qur'an dan selalu terkagum-kagum dengan bahasa dan informasi yang ada dalam kitab suci yang sangat beliau hormati itu. Tapi satu hal yang selalu saya ingat dari kakek saya adalah beliau sama sekali tidak pernah berani memahami Al Qur'an secara literer apalagi menggunakan ayat-ayat suci dari Al Qur'an yang sangat beliau kagumi itu sebagai bahan argumen dalam berdebat. Kakek saya juga suka menggubah Sya'ir Gayo : Sa'er) dan sama seperti dalam berdebat, dalam menggubah syairpun kakek saya tidak pernah berani menggunakan ayat-ayat suci Al Qur'an karena beliau tahu beliau atau manusia manapun tidak akan pernah bisa menafsirkan Al Qur'an sesuai dengan maksud 'penulisnya'.

Kepada orang yang menanyakan soal sikapnya itu, kakek saya selalu mengatakan "Al Qur'an itu berisi ucapan sempurna dari yang maha sempurna yang hanya bisa dimengerti dengan tepat maknanya juga oleh yang maha sempurna, karena saya bukan yang maha sempurna ayat-ayat itu hanya bisa saya pahami sebatas kemampuan saya yang tidak sempurna".

Dulu saat kakek saya masih hidup, saya tidak pernah benar-benar memahami kata-kata kakek saya ini, tapi belakangan ketika informasi yang saya dapatkan semakin banyak saya mulai memahami alasan kakek saya.

Sekarang saya bisa memberikan contoh sederhana dari pemahaman kakek saya tentang relevannya kesenjangan pengetahuan dalam membuat kemungkinan salah tafsir.
Contoh sederhana itu adalah resep dokter.

Kalau seorang dokter menuliskan resepnya dengan benar (tidak diakal-akali dengan tulisan yang dijelek-jelekkan), semua orang yang bisa baca tulis bisa membaca resep tersebut. Tapi tidak semua orang paham apa makna dari kata-kata yang tertulis di resep tersebut, karena itulah perlu profesi apoteker, yang berguna untuk menterjemahkan resep tersebut, yang bisa memahami dengan persis apa yang dimaksud oleh dokter (yang bahkan dapat memahami dengan maksud resep tersebut dengan tepat ketika dokter menulisnya dengan tulisan cakar ayam) dan bisa memberikan obat yang kegunaannya tepat sesuai resep.

Contoh lain, seorang ahli kimia dapat dengan mudah berkomunikasi dengan sesama ahli kimia menggunakan berbagai istilah aneh yang sama-sama mereka pahami. Tapi kalau orang awam yang tidak mengerti istilah-istilah itu ikut-ikutan merasa mengerti hal itu bisa menjadi masalah dan malah bisa menimbulkan kekacauan, kalau si awam yang sok tau yang karena menurut persepsi awamnya merasa ada yang tidak beres langsung bertindak menyerang sumber ketidakberesan itu.

Contoh kekacauan yang ditimbulkan oleh orang-orang yang tidak mengerti tapi sok tau ini adalah heboh kasus Hydrolicic Acid atau Dihidrogen Monoksida yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan teh botol SOSRO. Mereka bereaksi begitu keras sampai menghujat pemerintah segala karena dianggap lalai mengawasi penggunaan Dihidrogen Monoksida sebagai bahan baku makanan. Padahal yang namanya Dihidrogen Monoksida itu sebenarnya tidak lain adalah Air Murni yang kita minum sehari-hari.

Dua contoh di atas adalah contoh antara manusia dengan manusia yang sama-sama makhluk, yang sama-sama tidak sempurna tapi bisa memiliki tingkat kesenjangan pengetahuan yang sangat berbeda dan bisa membuat kesalah pahaman akibat kesenjangan pengetahuan itu.

Kalau antar manusia saja bisa sangat berbeda memahami sebuah kata atau kalimat, apalagi dengan YANG MAHA SEMPURNA, bukankah kesombongan yang luar biasa besarnya namanya kalau ada MANUSIA yang untuk memahami pemikiran manusia lain yang pengetahuannya melebihi dirinya saja masih tergagap-gagap tapi dengan berani menggunakan perkataan YANG MAHA SEMPURNA sebagai bahan argumen untuk mendebat manusia lain?

Bukankah itu mempertuhankan diri namanya?

Al Qur'an saya percaya sebagai firman dari YANG MAHA SEMPURNA tapi karena tertulis dengan tulisan yang bisa dipahami manusia, kita bisa membacanya, kita bisa membacanya dengan bacaan yang benar karena ada ahli tajwid yang bisa membenarkan kesalahan ucapan kita, sebagaimana seorang ahli membaca tulisan bisa membaca resep dokter dengan benar.

Tapi untuk mengerti persis seperti apa maksud ayat-ayat yang SEMPURNA itu seperti maksud yang menurunkan firman itu JELAS dibutuhkan syarat bahwa yang membaca juga memiliki pengetahuan yang PERSIS sama soal materi yang dibicarakan dengan yang menurunkan firman. Seperti untuk yang bisa bisa mengerti PERSIS maksud resep dokter, yang dibutuhkan adalah seorang apoteker, bukan seorang yang ahli membaca tulisan tangan.

Dalam Al Qur'an, YANG MAHA SEMPURNA banyak menjelaskan soal diriNya, alam semesta dan juga manusia. Karena DIA adalah YANG MAHA SEMPURNA. Dalam bayangan saya, ketika YANG MAHA SEMPURNA berfirman menurunkan ayat-ayat itu DIA tentu tahu persis setiap detail firmannya. Tentang Alam misalnya, saya membayangkan ketika YANG MAHA SEMPURNA berfirman, DIA tahu persis jumlah bintang, jumlah galaksi luasnya semesta dan batas-batasannya sampai ke atom-atom terkecil penyusunnya dan jenis-jenis kehidupan yang berkembang di sana, kapan awal dan akhirnya bahkan sampai ke banyak hal lain yang tidak sanggup saya pikirkan karena perangkat untuk memikirkan itu tidak tersedia dalam diri saya.

Tapi apakah di planet ini ada manusia yang bisa mengerti persis maksud dari YANG MAHA SEMPURNA ketika berkata seperti itu?

Dari pembicaraan dengan Dr. Bourdery, saya bisa memahami betapa luasnya alam ini dan betapa sedikit yang kita ketahui dan betapa terbatasnya pengetahuan kita sebagai manusia dibandingkan dengan 'sesuatu' yang kita percaya telah menciptakannya sehingga sayapun sependapat dengan kakek saya bahwa TIDAK ADA SATUPUN MANUSIA YANG BISA MEMAHAMI AL QUR'AN PERSIS SAMA SEPERTI MAKSUD PENULISNYA yang dipercaya adalah 'sesuatu' yang sama dengan yang menciptakan alam semesta ini.

Karena itulah saya merasa tidaklah relevan seorang manusia mengutip ayat dari kitab suci untuk berdebat. Hakekat Tuhan sendiri bagi saya adalah sesuatu yang bersifat pribadi yang hanya bisa dihayati dari pengalaman rohani masing-masing individu manusia. Saya berpandangan begitu karena bagi saya YANG MAHA SEMPURNA itu tidak terbatas oleh ruang dan waktu dan juga TRANSENDEN yang artinya diatas atau diluar kemampuan logika manusia.

Tapi sedikit sekali orang yang sependapat dengan saya dan banyak sekali orang-orang yang belajar dalil-dalil agama, yang mempelajari Al Qur'an lengkap sampai ke arti per khalimah, sejarah turunnya ayatnya, sejarah penafsirannya dan lain sebagainya lalu merasa sangat mengerti dengan maksud ayat-ayat itu lalu menjadikannya sebagai bahan argumen untuk memaksa manusia lain untuk mengikutinya, manusia lain yang menentang pendapat orang-orang yang belajar dan ahli dalam dalil-dalil agama ini dibuat seolah-olah menentang pendapat YANG MAHA SEMPURNA.

Seperti kekacauan yang timbul akibat orang sok tau yang tidak mengerti Dihidrogen Monoksida yang mempost cerita itu kemana-mana. Orang-orang sok tau yang merasa memahami perkataan YANG MAHA SEMPURNA persis sama seperti maksudNya juga menimbulkan kekacauan di mana-mana. Tapi skala kekacauan dan kerusakan yang ditimbulkannyapun bukan hanya sebatas kekacauan yang terjadi akibat kasus Teh Botol Sosro yang mengandung Dihidrogen Monoksida yang mengakibatkan penurunan volume penjualan Teh dalam kemasan botol tersebut.

Skala kerusakan yang ditimbulkan oleh kengototan orang-orang sok tau ini jauh lebih besar, orang-orang seperti ini telah membuat Islam turun ke titik terendah sepanjang sejarah peradabannya, bahkan menyebabkan banyak manusia kehilangan nyawa akibat kekejaman yang mengatasnamakan AGAMA.

Salah satu orang yang merasa mampu memahami perkataan YANG MAHA SEMPURNA persis sama seperti MaksudNya ini adalah IKHWANA MEHATDI KOBAT, orang Gayo yang tinggal di Medan yang dengan gagah berani mengutip ayat-ayat Al Qur'an dalam argumennya.

Meskipun dalam balasan ke blog saya Sang Ketua Dewan Pengurus Nasional Generasi Muda Masjid Indonesia ini mengatakan dia beristighfar berulang-ulang ketika membaca balasan saya. Tapi dengan keberaniannya menggunakan ayat-ayat Al Qur'an yang merupakan firman dari YANG MAHA SEMPURNA sebagai dasar argumen tentang Manusia dan Bumi dan segala isinya, ketika menuliskan itu dan merasa apa yang dia tuliskan itulah kebenaran yang tak terbantahkan, maka secara tidak langsung, jelas saat itu IKHWANA MEHATDI KOBAT orang Gayo yang tinggal di Medan ini sedang merasa dirinya adalah sesuatu yang MAHA SEMPURNA juga.

Inilah yang saya sebut sebagai SYIRIK YANG NYATA.

Wassalam

Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

[ac-i] Fw: INTERVIEW - Bali governor says won't enforce Indonesia porn law



Dari milis tetangga, bdg
 
----- Original Message -----
From: Holy Uncle
Sent: Thursday, June 04, 2009 3:14 PM
Subject: [nasional-list] INTERVIEW - Bali governor says won't enforce Indonesia porn law

Wednesday June 3, 2009

INTERVIEW - Bali governor says won't enforce Indonesia porn law

By Sunanda Creagh

JAKARTA (Reuters) - Indonesia's mainly Hindu island of Bali has no intention of enforcing a controversial anti-porn law passed last year because it conflicts with local culture and tradition, the provincial governor said in an email interview.

Pluralism and religious freedom have become election issues in predominantly Muslim, officially secular Indonesia.

The new law, which created much confusion over what would be considered pornographic, was slammed by religious minorities but backed by the Islamic and Islamist political parties allied to President Susilo Bambang Yudhoyono, who is seeking re-election in the presidential polls on July 8.

"As long as I am the governor of Bali, I, along with the head of the provincial government in Bali, have stated that we will not enforce this law in Bali," Governor I Made Mangku Pastika told Reuters, adding that the law is "not appropriate for the people of Bali."

He said the most serious effect of the law would be its impact on Bali's culture and traditional art, which includes nude statues and often sexually explicit imagery.

"The artworks and cultural practices of Bali are not in any way meant to be pornographic. They are meant to educate and communicate about the essence of life and existence," he said.

Centuries-old traditions including outdoor bathing would also have to be banned if the law was properly enforced, added the governor, a former police chief who led investigations into deadly bomb attacks by Islamic militants on Bali.

Pastika said that he had not yet been reprimanded by the central government, despite his stated aim to disobey the law.

Bali's economy is also heavily dependent on tourism because of its culture, beaches and surfing.

The anti-porn law fuelled concerns that tourists might be arrested for wearing swimwear, but Pastika said tourists were exempt.

"The impact of the law on our tourism sector will not be significant because tourism has been granted an exception," he said.

CREEPING CONSERVATISM

Yudhoyono's Democrat Party won the parliamentary election in April with one fifth of the votes, and has formed a coalition with several smaller parties including the Islamist Prosperous Justice Party (PKS).

Minority groups warned that the anti-pornography bill -- which was passed in October last year and bans public displays of flesh and behaviour that could incite lust -- was a sign of creeping conservatism in traditionally pluralist Indonesia.

"However, I am sure that they [Islam-based parties] realise that in a natural democracy and in this current era of reform, PKS and other Islam-based parties will not force their will on others because that conflicts with the era of reformasi," or reform, he said.

While recognising that he is subordinate to the central government in Jakarta, Pastika said he was beholden to his voters.

"The governor is obligated to listen to and fulfil the aspirations of the people who chose him. This is also true in the area of law enforcement," he said.

"If the people reject a law, that means the law is inconsistent with the aspirations of the people. In a true democracy, the aspirations of the people are the priority."

"For the people of Bali, it's not only what's written but also what's moral and ethical."

http://thestar.com.my/news/story.asp?fi ... rldupdates


Lauren found her dream laptop. Find the PC that's right for you.



No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 8.5.339 / Virus Database: 270.12.52/2153 - Release Date: 06/03/09 18:00:00

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

[ac-i] Fw: Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno, punya banyak kegemaran. Salah satunya mengoleksi lukisan Rudolf Bonnet. [1 Attachment]

[Attachment(s) from BDG KUSUMO included below]

Salam dari milis sebelah, Bismo DG
 
----- Original Message -----
From: awind
Sent: Friday, June 05, 2009 12:42 AM
Subject: [nasional-list] Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno, punya banyak kegemaran. Salah satunya mengoleksi lukisan Rudolf Bonnet.

 
 
 
 
 
 
Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno, punya banyak kegemaran. Salah satunya mengoleksi lukisan Rudolf Bonnet.


Sedikit yang mengenal Johan Rudolf Bonnet(30 Maret 1895-18 April 1978). Dia seorang warga Belanda yang hampir 40 tahun tinggal di kota Ubud, Bali. Orang tuanya mungkin tak pernah mengira, lelaki keturunan Prancis ini bakal jadi pelukis handal. Maklum turun temurun keluarga bekerja sebagai tukang roti.
 
Bonnet sempat mengenyam pendidikan seni lukis di ibukota Amsterdam dan pernah melancong ke Italia untuk mengembangkan kemampuannya. Setelah sempat berkunjung ke pulau Nias, ia akhirnya memutuskan Bali menjadi tempat pusat karyanya. Di Ubud, lelaki fasih berbahasa Indonesia itu membangun sanggar dan banyak melatih para seniman muda Bali.
 
Harry Kwee, sobat dekat Rudolf Bonnet, menceritakan bahwa Sukarno sangat gandrung dengan hasil kuas pelukis Belanda tersebut. Ia secara khusus meminta Bonnet membuat dua lukisan untuk dipajang di Istana Bogor. Lukisan panen raya, yang memperlihatkan sekumpulan warga memanen padi, terpasang indah di bangunan bersejarah itu.
 
Rudolf Bonnet termasuk sedikit orang berjasa bagi perkembangan kesenian di Bali.
 

 
 



No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 8.5.339 / Virus Database: 270.12.53/2156 - Release Date: 06/05/09 06:24:00

__._,_.___

Attachment(s) from BDG KUSUMO

1 of 1 Photo(s)

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

[ac-i] Selamat Jalan Bapak Kami ; In Memoriam Pak Dib



Kemarin aku cukup letih sepulang bekerja dan akupun tertidur lelap meskipun malam belum terlalu larut. Tapi saat lelap tertidur aku terbangun oleh suara nada dering SMS dari HP yang selalu kuletakkan di dekat kepalaku. Dengan mata yang masih mengantuk aku mengambil HP dan bersiap-siap mengutuk kalau ternyata SMS yang masuk itu adalah berbagai promosi tidak penting dari Indosat yang belakangan ini cukup gencar masuk Ke HP-ku dan kadang sangat menjengkelkan karena masuk di saat aku berkendara.

Tapi begitu kotak masuk kubuka, yang masuk adalah SMS dari Uun, adik angkatanku di Leuser dan ketika isi SMS-nya kubaca aku merasa seperti disambar petir rasanya. Dalam SMS-nya Uun mengatakan kalau Pak Dib telah meninggal dunia.

Pak Dib yang bernama lengkap Sudibyo yang lahir di kecamatan Blora Jawa Tengah adalah seorang purnawirawan TNI angkatan Darat dengan pangkat terakhir Peltu (Pembantu Letnan Satu) yang berperawakan cukup kecil untuk ukuran seorang tentara.

Sejak Leuser, organisasi pecinta alam kami berdiri pada tahun 1986 silam, Pak Dib secara rutin menjadi pelatih kami setiap kali kami menyelenggarakan DIKSAR (Pendidikan Dasar) yang menjadi syarat keanggotaan kami. Karena dedikasinya yang begitu besar Pak Dib kami jadikan anggota kehormatan organisasi kami.

Aku mengenal Pak Dib pertama kali di akhir tahun 1993 saat aku mengikuti Pra Diksar UKM Pa Leuser, waktu itu Pak Dib memberi materi pelajaran navigasi, materi yang kemudian menjadi kegemaran dan keahlianku saat aku sudah menjadi anggota. Kemudian saat saya mengikuti Diksar, Pak Dib juga selalu hadir berada bersama abang-abang dan kakak-kakak yang membina aku. Saat menjalani Diksar itu aku benar-benar dibantai habis-habisan oleh abang-abang dan kakak-kakakku termasuk Pak Dib, tubuhku dipaksa bekerja sampai ke daya tahan maksimalnya. Tapi dalam keadaan seperti itu aku sangat merasakan betapa bijaksananya Pak Dib, pensiunan tentara yang sudah pernah bertempur di mana-mana ini.

Ketika itu pada malam Diksar pertama ketika tubuhku masih belum terbiasa menerima berbagai beban latihan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, aku benar-benar kepayahan dipaksa oleh kakak-kakak dan abang-abang seniorku untuk melakukan berbagai aktivitas fisik yang luar biasa berat, mulai dari lompat kodok, jalan jongkok, push up sampai berguling dari puncak bukit untuk disuruh kembali berlari secepat-cepatnya ke puncak bukit tempat awal aku mulai berguling.

Ketika aku sudah sangat kepayahan dan belum ada tanda-tanda kalau abang-abang akan berhenti 'membina' aku, emosiku sempat naik pada salah seorang abang yang aku mintai tanda tangannya tapi untuk mendapatkannya banyak sekali alasan tidak masuk akal yang dia perintahkan padaku sampai membuat aku berpikir dia sentimen padaku, aku sampai sempat berpikir akan memukul abang ini. Tapi saat aku kepayahan seperti itu Pak Dib mengambil alih dan berhentilah penderitaanku. Bersama Joel Gunung temanku dari kelompok lain yang juga sudah kepayahan, oleh Pak Dib aku diperintahkan mendekat dan disuruh berpura-pura menjadi pengawal beliau dan pura-pura menembaki nyamuk-nyamuk yang mendekat kepada beliau.

Meskipun terlihat tegas saat memerintahkan aku dan Joel untuk mendekat, aku bisa melihat dan merasakan rasa sayang Pak Dib kepada kami melalui sorot matanya. Sorot mata seorang bapak yang menyayangi anak-anaknya. Perasaan ini terasa semakin kentara ketika Diksar berakhir dan kami diundang makan-makan di rumah Pak Dib.

Sebelum DIKSAR Leuser dipindahkan ke Sabang karena alasan keamanan, biasanya kami selalu menyelenggarakan acara puncak DIKSAR di kolam Mata Ie, tidak jauh dari rumah Pak Dib. Dan tiap selesai DIKSAR Pak Dib memang selalu mengadakan acara kenduri kecil-kecilan di rumahnya dengan mengundang kami semua, panitia dan anak-anak yang baru lulus DIKSAR yang seminggu penuh tidak pernah mendapat makanan yang layak. Sekarang aku sering berpikir entah darimana Pak Dib mendapatkan uang darimana untuk membiayai acara makan-makan yang mengundang anak-anak leuser yang rata-rata rakus luar biasa itu karena aku tahu gaji pensiunan seorang tentara jumlahnya tidak seberapa. Tapi dulu hal itu tidak pernah terpikirkan di kepalaku, dulu saat Pak Dib mengundang kami makan seperti itu, sama seperti teman-temanku yang lain, yang terpikir di kepalaku adalah bagaimana cara memasukkan sebanyak mungkin makanan ke perutku.

Di masa pensiunnya Pak Dib membuka lahan kebun di desa teladan dekat Seulimum, oleh Pak Dib kami sering diundang ke kebunnya dan ketika pulang selalu diberi oleh-oleh Pepaya dari hasil kebunnya. Belakangan desa tempat kebun Pak Dib berada menjadi sarang GAM yang sangat anti pada tentara. Kami semua sangat mengkhawatirkan keselamatan Pak Dib, tapi syukurnya sampai konflik berakhir Pak Dib tetap selamat dan tidak terjadi apa-apa.

Pak Dib adalah tentara yang kenyang dengan segala pengalaman tempur dan Pak Dib sering menceritakan pengalaman-pengalamannya itu kepada kami, yang paling berkesan baginya adalah ketika beliau bertempur di Timor Timur, pengalaman itu sering diceritakan Pak Dib pada kami. Tapi saat bercerita kentara sekali terlihat kesan bahwa Pak Dib tidak sedang menyombongkan diri. Sebaliknya yang terasa jelas adalah seorang tentara yang mengabdi dengan penuh rasa ikhlas kepada bangsanya. Bahkan ketika beliau menceritakan tentang pertempurannya dengan fretilin-pun aku menangkap kesan bahwa Pak Dib tidak membenci mereka, tapi justru menghormati mereka sebagai lawan yang sama-sama bertempur berdasarkan rasa cinta pada negara.

Begitulah, meski secara hubungan darah kami sama sekali tidak memiliki ikatan apa-apa, tapi di hati kami anak-anak Leuser, status Pak Dib sebenarnya bukan hanya sebagai seorang pelatih atau anggota kehormatan saja. Bagi kami lebih dari itu, kami anggota Leuser rata-rata adalah anak perantauan yang tinggal di Banda Aceh tidak bersama orang tua. Sehingga sosok Pak Dib bagi kami benar-benar adalah ORANG TUA.

Karena Pak Dib memang kami anggap sebagai orang tua, teman-teman yang sudah menikah dan punya anakpun sering mengajak anak dan keluarganya ke rumah atau ke kebun Pak Dib dan anak-anak kamipun menganggap Pak Dib sebagai kakeknya.

Di masa tuanya pak Dib mulai sakit-sakitan, tapi Pak Dib selalu menunjukkan senyum tulusnya jika kami anak-anak Leuser mengunjunginya dan terlihat sekali Pak Dib berusaha tampak tegar di depan kami. Saat saya ke Banda Aceh kemarin kak Cicit, salah seorang seniorku yang tinggal di Banda Aceh mengatakan sakit Pak Dib sudah makin parah dan dokter yang merawatnya melarang Pak Dib untuk terlalu banyak bergerak. Tapi hal itu tidak bisa dicegah kalau kami anak-anaknya datang berkunjung. Ibu Dib sering memarahinya jika begitu. Tapi menurut Kak Cicit, meskipun harus menahan rasa sakit, kalau mengetahui ada anak Leuser yang berkunjung kentara sekali tampak wajah pak Dib memancarkan aura gembira dan matanya menunjukkan rasa bangga.

Sejak tadi malam Pak Dib sudah tiada, tapi senyum Pak Dib, ketulusan Pak Dib tidak akan pernah hilang dari hati kami anak-anaknya.

Meskipun sekarang pak Dib sudah tiada, tapi aku yakin sampai akhir hayatnya bahkan sekarangpun di alam lain sana Pak Dib pasti merasa bangga pada kami anak-anaknya, yang pernah berada di bawah pembinaannya.

Pak Dib sekarang memang sudah tiada, tapi kami yakin bapak tersenyum dan bangga saat meninggalkan dunia yang fana ini. Kami yakin bapak tersenyum karena dalam hidup bapak yang singkat, bapak telah berhasil membina kami, anak-anak bapak yang berkat Bapak telah tumbuh dewasa menjadi manusia-manusia yang jauh dari sikap cengeng, yang tahan banting, yang mampu bertahan hidup dalam segala cuaca dan kondisi.

Meski bapak sudah tiada, pak Dib yakinlah...semangat, keikhlasan dan ketulusan bapak akan terus kami tularkan ke adik-adik Leuser di setiap generasi untuk menjadi nilai teladan di organisasi kita.

Semoga bapak mendapat tempat yang layak di sisinya...Selamat jalan Pak Dib, selamat jalan bapak kami yang kami sayangi.

Dari anakmu

LL.165.US
www.winwannur.blog.com

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___