Sunday, June 7, 2009

[ac-i] Pers Release Erawan vs Pelukis "Sejati"



Pers Release

ERAWAN

vs

PELUKIS "SEJATI"

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

I Wayan Wirawan (Yancut) – I Wayan Sudarna Putra (Nano)

I Dewa Gede Jodi Saputra (Jodi) – I Kadek Suadnyana (Peptiv)

I Gede Suanda (Sayur) – I Putu Suardana (VJ)

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Kurator                 :  Mikke Susanto

Pembukaan        :  Sabtu, 16 Juni 2009 pukul 19:30

Tempat                 :  Tujuh Bintang Art Space

                                   Jl. Sukonandi 7 Yogyakarta 55166

Musik                    :  Deliciouz Band

Pameran              :  Tanggal 16 Juni  5 Juli 2009 pukul 10:00 – 20:00 WIB

----------------------------------------------------------------------------------------

 

Pameran ini tidak sedang memparodikan kisah sejarah yang pernah dilakukan oleh para pelukis era pasca Perang Dunia I, sekitar Januari 1920. Ketika sejumlah pelukis ternama, seperti Pablo Picasso, Amedeo Modigiani, Soutine dan lain-lain diundang oleh seorang art dealer untuk melakukan pertarungan melukis dalam ruang dan waktu yang bersamaan, hanya untuk merebut gelar pelukis "master" di Eropa. Pameran ini lebih berorientasi melihat sejauh mana perbandingan situasi dan kemampuan diri tanpa harus melakukan pertarungan secara langsung.

 

Erawan dan Pelukis "Sejati" dipertandingkan dalam pameran ini bertujuan untuk melihat dan mengetahui sejauh mana perjuangan mereka merebut perhatian publik, minimal publik di Bali dan (sekarang) di Yogyakarta. Pertarungan ini bukanlah main-main. Dalam persiapan pameran ini masing-masing berupaya tampil maksimal dan dengan kepercayaan diri yang kuat, mereka ingin merebut perhatian publik Jogja, sebuah kota yang juga penuh persaingan dan pertarungan.

 

Berbagai perbedaan, persamaan, kekurangan, kelebihan; berbagai ragam cara berpikir, jalan hidup, dan latar belakang yang mereka miliki menghaturkan cerita dan akibat yang berbeda serta menarik untuk disuguhkan dalam ruang dan waktu yang bersamaan. Dan siapa diantara mereka yang sesungguh-sunguhnya dianggap sebagai pelukis sejati?

 

Tujuh Bintang Art Space,  Juni 2009

 

More info :

Email               : info@tujuhbintang.com

Website           : www.tujuhbintang.com

Blog                 : http://blog.tujuhbintang.com

 

 

Reminder...

Partisipasi anda dalam Tujuh Bintang Art Award 2009 kami tunggu...!!!

 

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

[ac-i] penyair afrizal malna, sastrawan antok serean, dan usia semesta tak bertepi



penyair afrizal malna, sastrawan antok serean, dan usia semesta tak bertepi

Share

Yesterday at 3:19pm | Edit Note | Delete

kawan baik saya antok serean, hari ini berulang tahun. saya tidak tahu ulang tahun yang keberapa. dari home di fb, saya juga melihat seseorang mengucapkan ulang tahun kepada kawan yang lain - afrizal malna. apalah arti usia kita ini, di tengah eksistensi semesta yang telah miliaran tahun itu.

kita sungguh segumpal debu. debu yang mencoba mengekalkan dirinya ke dalam dunia kata. tapi kata, ke depan, apakah masih dunia aksara yang kita kenal?

kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi.

dalam waktu miliaran tahun yang merentang, siapa yang menjamin nominal yang dipakai manusia masih lambang 0 sampai dengan 9? siapa yang yakin dunia aksara masih akan menggunakan huruf huruf a, b, dan seterusnya. juga garis dan bulatan seperti huruf cina atau jepang.

tak satu pun yang tahu tentang masa depan.

catatan mingke dalam novel anak semua bangsa, meluncur dengan gaya renungan yang telah dibebaskan dari masa remaja.

"annelies telah berlayar", demikian bunyi pembuka novel itu, "kepergiannya laksana cangkokan muda yang direnggut dari batang induk. selesai sudah masa muda. masa masa penuh harapan dan impian."

saya tidak tahu apakah kutipan saya akan sebuah "masa masa penuh harapan dan impian" itu benar. mungkin benar. sebab saya mengutipnya berdasarkan ingatan. tapi saya merasa pasti bahwa demikianlah alur pembukaan dari kata kata yang mengalir di sana.

kata kata penuh ingatan dan kenangan dari seorang pribumi akan nasibnya sendiri - annelies itu, seorang gadis indo pujaan hatinya. tapi telah direnggutkan dari dirinya oleh sebuah kekuasaan kolonial waktu itu. sehingga riwayat percintaan mereka yang malang, akhirnya berakhir ke rumah duka di mana yang kembali bukanlah annellies lagi, yang digambarkan oleh sang narator seolah sebuah bintang kejora. tapi sebuah koper tua dengan seonggok pakaian annelies di dalamnya.

begitulah hidup - penuh dengan kekerasan dan kekalahan. tapi juga penuh dengan kemenangan.

tapi kalau kita tanyakan, kekalalahan siapa dan kemenangan siapa? dalam sebuah kesadaran dari perasaan yang kita renggutkan di hati, maka nampak katergori menang dan kalah itu, hanyalah seuntai permainan pikiran belaka. seolah kita sedang berhadapan dengan chanel dengan tombol radio. tangan kita menekan sebuah tombol chanel berganti. tangan kita menekan tombol channel lain yang muncul.

sebab melalui kematian yang pasti datang itu, kekalahan dan kemenangan nampak sebuah situasi tanpa daya. tanpa daya yang membuat seorang albert camus memberontaki kematian dengan hidup yang acuh dalam novel orang asing, atau hidup yang melihatkan diri seperti di novelnya yang lain - sampar.

puisi paling pilu dari afrizal malna barangkali kisah hidupnya sendiri. suatu biografi sang penyair yang saya baca di bukunya kalung untuk teman. di sana, sang penyair membuatkan sebentang layar hitam dari hidupnya sendiri. hidup yang diisinya oleh lompatan lompatan hati yang tak menentu, atas dasar mana dia menulis puisi. dari manajemen keuangan amburadul khas seniman, begitulah situasi bohemian itu tergambar dengan jelas.

ada saat saya punya uang, ada saat saya tak punya uang sama sekali. hari ini saya terbang ke swiss, besok saya sudah mendarat dan berbicara tentang puisi di lombok.

begitulah hidup sang penyair berjalan. hidup yang dibangun atas tanpa suatu kesepakatan apapun terhadap hidup yang hendak mengikat, hidup yang hendak mengekang. sampai puncak pilu itu datang ke hati saya: ayah saya meninggal tapi saya enggan menengoknya.

apakah afrizal, penyair yang telah menciptakan sejarah sendiri dalam lintasan seni kata kata kita itu, telah pula dirambahi oleh sebuah kenyataan absurd yang dipeluknya diam diam, saya tidak tahu. tapi saya tahu betapa puisi paling pilu itu datang dari sana - dari suatu kenyataan ayahnya yang meninggal dan dia tak hendak datang. barangkali memang demikianlah penyair yang hebat itu: ia mencerabutkan segala eksistensi dirinya akan dan atas tiap ikatan. akan dan atas tiap hati kecuali hatinya sendiri.

aku ini binatang jalang, dari kumpulannya yang terbuang, dan pekik pekik histeris chairil ini melandai dalam sikap afrizal yang santun, tapi sangat keras hati itu.

***

saya mengenal antok serean dari sebuah milis, saat lelaki biseks ini mendukung saya dalam polemik yang berkembang panas waktu itu - "polemik sastra pornografi". saya mendukung kebebasan tiap orang berekspresi, katanya. polemik yang telah membawa hubungan budaya saya dengan fadjroel rachman dan mariana amiruddin, juga rocky gerung, berkembang ke dalam kelompok memo indonesia yang kami buat, agar jangan menghalangi tiap diri yang hendak menyuarakan kebebasan berekspresinya.

biarkan orang berkembang dalam ciptaannya sendiri sendiri. biarkan bangsa ini menjadi kreatif. janganlah sedikit sedikit di tekel dengan fatwa haram. haram itu. haram ini. yang akhirnya membawa kematian semangat penciptaan.

barangkali "potret dari jalanan" nung bonham ini, bisa mendekatkan kita dengan astrawan bertalenta besar antok serean, yang setelah komentarnya di milis itu, saya langsung masuk ke blognya dan menemukan sebuah cerita pendek yang amat gemilang - kampung lanang, yang konon masuk sebagai salah cerita yang hendak diterjemahkan ke dalam bahasa asing itu. cerita pendek yang membuat saya yakin bahwa dunia prosa di indonesia, sungguh banyak mengeram dan berdiam di blog blog sunyi, blog blog yang sang sastrawannya sendiri tidak menyadari bahwa apa yang mereka tulis itu adalah sastra dengan kualitas yang hebat.

cerita itu segera saya kirimkan ke banyak milis. dan sejak itu hubungan kami menjadi akrab. bahkan saya memintanya untuk masuk dan aktif di milis jurnal perempuan dan milis apresiasi sastra.

apakah hubungan puisi nung dengan antok serean? bahwa sang sastrawan adalah seorang pekerja buruh pabrik yang menulis sastra, di mana di blognya begitu ramai komentar yang memanjang ke bawah atas ceritanya kampung lanang itu. dan antok serean, demi memilih kebebasan hidup seperti burung, siap untuk keluar dari pabriknya dan menjadi manusia yang "jobless" seperti sajak nung di bawah ini. walau nasibnya kelak belum tentu seperti anak anak yang membuat kita bersedih, dan marah itu.

ia mengembuskan napas baru dan berani dalam peta sastra kita, telah dan hendak menyuarakan dunia "seks ketiga", sebagai hasrat dan kehendak yang telah dipilihnya sendiri - seperti dunia yang bergema dan memantul mantul dalam cerpen cerpennya.

mari kita nikmati puisi nung bonham yang memijarkan kenyataan hidup di seputar kita ini.(hudan hidayat)

nung bonham - potret dari jalanan

anak-anak kecil dan kumal diperempatan
sontak bergerak ketengah jalan
tepat saat lampu menyala merah
dengan wajah melas tanganya tengadah

tak hirau resiko yang mengintai
demi perut keselamatanpun terabai
tak disini tak disana
pemandangan diprapatan nyaris sama
anak-anak Lazarus terlihat terus
bergrumul digramul lapar dan haus

anak-anak kecil dan kumal diperempatan
terlalu kecil untuk kenal derita
terlalu kecil untuk kenal kerja
terlalu kecil untuk turun kejalan
bermain dicumbu debu, angin dan hujan,
dicekik terik siang dan dingin malam,
diendus asap dan dengus kendaraan

Kudus 06062009

Written 19 hours ago · Comment · LikeUnlike
You, Abdullah Sajad, Kurniawan Yunianto, Rien Al Anshari and 7 others like this.
Abdullah Sajad, Kurniawan Yunianto, Rien Al Anshari and 7 others like this.
Hudan HidayatHudan
Abdullah SajadAbdullah
Kurniawan YuniantoKurniawan
Rien Al AnshariRien
Dedik PriyantoDedik
Nina YulianaNina
Ririn WulandariRirin
Nung BonhamNung
Nani MarianiNani
Teddy DelanoTeddy
Em Muhlash EmerEm

Em Muhlash Emer at 3:25pm June 7

tak ada yang bisa menyangka ke depan bagaimana...
kecuali DIA.
met ulang tahun juga, ya...

Wiwit Nur Lestari at 3:33pm June 7

dan karna tak tau tentang masa depan, detak yang kita lalui justru makin berarti, sebab setidaknya kita pernah menjadi bagian dari semesta tak bertepi

Pdt Victor Hamel at 3:36pm June 7

dari tanah kembali pada tanah....

Teddy Delano at 3:42pm June 7

berapa umur manusia hanya kuantitas...yang penting adalah apa saja yang pernah kau lakukan dalam umurmu itu (kualitas).....hahaha

Antok Serean at 3:59pm June 7

terima kasih mas hudan dan kawan2 atas ucapan selamat ulang tahun. entah kenapa aku punya ritual tiap kali ulang tahun: dini hari, berdiri sendiri di atas atap, menatap bentang langit malam, menyisir laut di kejauhan, kerlap-kerlip lampu jalan, dan menghikmati suara binatang malam. sungguh, rasanya sangat tentram. ulang tahun adalah momentum kontemplasi diri, menakar sejauh mana diri punya arti bagi semesta alam. masa lalu dan masa depan lebur dalam kekinian. sejenak aku terpejam. menelusup masuk ke relung terdalam. aku bertemu dengan sesuatu-mungkin tuhan-yang berkata dengan bahasa yang aku mengerti sendiri tanpa sanggup mengucapkan dalam bentuk abjad, aksara, atau kata-kata. inikah hakikat cinta?

Fadjroel Rachman at 4:06pm June 7

mantap hh..yang fana adalah waktu. kita abadi

Early Rahmawati at 4:19pm June 7

keren....cool....mantappp...apapun deh pokoknya OK:)

Nani Mariani at 4:51pm June 7

Pertama : Selamat Ulang Tahun utk Antok Serean. Pasti doa doa yang mujarab untuk mu, aminnn.. Kedua, penjelasan Pres Hud Hud, selalu menggeliurkan nafsu. he he.. nafsu utk membacanya , he he he..,

Gema Yudha at 6:21pm June 7

selamat ajah buat yang ber-ulangtaun
buat tuhan hudan, makasih bacaannya, aku jadi inget mimpi-mimpi einstein Alan lightman: jika masa silam berakibat tak menentu pada masa kini, maka tak usah terlalu merenungi masa lalu, dan jika masa kini cuma berakibat kecil buat masa depan, maka tak perlu terlalu membebani apa yang kita lakukan saat ini.
hehehehe..

Ary Nurrohman at 6:27pm June 7

maaf aku tak ucapkan selamat, karena semua tau berarti umur afrizal akan berkurang, aku cuma mau mendo'akan supaya afrizal dipanjangkan umurnya dan tetap "Demi Pena Dan Apa Yang Dituliskanya"

Nung Bonham at 7:00pm June 7

wah.. bana Hudan.. trimakasih sekali..
iya, sprti kata Armijn Pane yg ini "Hamba buruh apa dikata" hihihi...
iya bang ya...tak ada yg dpt mnerka sprti apa wujudnya dunia kata dihari depan, hehe..

--Slamat Ulang Tahun Mas Antok Serean, Semoga Slalu Dalam Keberkahan..

Kurniawan Yunianto at 1:09am June 8

selamat menikmati usia yang masih tersisa .. para kekasih hehe ..
Write a comment...

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

[ac-i] dunia populer, luna maya, goenawan mohamad, juman rofarif dan perang ambalat



Yesterday at 7:05am | Edit Note | Delete
Juman Rofarif

ingin bertanya, "benarkah Mas Hudan Hidayat, sastrawan dan budayawan kondang itu, benar-benar tidak mengenal Luna Maya?"

Fri 8:11am · Comment · LikeUnlike · Show Feedback (18)Hide Feedback (18)
You and Ery Wibowo like this.
Ery Wibowo likes this.

Jaleswari Pramodhawardani
Jaleswari Pramodhawardani at 8:17am June 5

gak usah heran goenawan mohamad aja gak kenal ahmad dhani. Jadi, artis2 dilarang ge-er...:)))

Juman Rofarif
Juman Rofarif at 8:25am June 5

ha..ha..ha..
mungkin dibalik kali ya, mbak... "masak sih luna maya ga kenal mas hudan?" "apa bener ahmad dhani ga kenal mas GM? - goenawan mohamad"

Madiana Havidz
Madiana Havidz at 9:07am June 5

gak komentar...ini sudah PUNCAK

Juman Rofarif
Juman Rofarif at 9:10am June 5

puncak apaan, bu'e?

Ery Wibowo
Ery Wibowo at 9:29am June 5

mungkin
Madiana Havidz

Madiana Havidz at 9:40am June 5

Puncak pesona kecantikanmu Jum...!

Juman Rofarif
Juman Rofarif at 9:48am June 5

@ mas ery:
mungkin ya?
mungkin tidak?

@ bu'e:... Read More
kalo yang di potoprofile itu bener-bener mirip luna maya... cantik sekali kan... mas hudan hidayat ajah sampe takjub...

Madiana Havidz
Madiana Havidz at 10:07am June 5

Iya aku gak salah menilaimu...bener2 kaya Luna Maya.

Juman Rofarif
Juman Rofarif at 10:09am June 5

ck..ck..ck..

Rizlynn Qaimyra
Rizlynn Qaimyra at 10:29am June 5 via Facebook Mobile

Oh luna maya...dmnkah dikau? Juman lg narsiz neh...qiqiqi^^

Juman Rofarif
Juman Rofarif at 10:30am June 5

kamu kenal luna maya, lyn?

Rizlynn Qaimyra
Rizlynn Qaimyra at 10:34am June 5 via Facebook Mobile

Ga.. Siapa luna maya? Ustadzah ya?

Juman Rofarif
Juman Rofarif at 10:41am June 5
i
ya.. ustadzah sangat alim, pandai ilmu agama, solehah... cantik pula...

Rizlynn Qaimyra
Rizlynn Qaimyra at 10:45am June 5 via Facebook Mobile

Ha ha tampak bgt kau bodohin aq... Ganbatte juman...

Juman Rofarif
Juman Rofarif at 10:51am June 5

bagus...

Nurul Akbari
Nurul Akbari at 11:15am June 5

aku kenalnya maya viva. dia adik perempuanku :P

Juman Rofarif
Juman Rofarif at 11:41am June 5

ga kenal...

oke deh.. salam ajah..

---------------------------------------------

seni populer tentu berbeda dengan seni yang disebut orang sebagai pop art, walau sesama memakaikan kata seni. saya tertarik mengamati perbincangan juman rofarif di statusnya ini, karena membawa suatu dikotomi antara seolah seni populer dan seni sastra, dengan menghadapkan dua tokohnya dalam elaborasi di tubuh sebagai penjelas di status itu - penjelas yang sudah melibatkan orang banyak - massa populer.

benarkah seperti itu? tapi kemarin malam saya melihat suatu penampilan "debat kecil" antara penyanyi dan penyair kita trie iie utami dengan pengarang silfia hanani syafei, akan soal ambalat itu, dan sejujurnya saya terkesan dengan paragraf paragraf sarat sastra dari kata kata trie iie utami.

saya kutipkan kata kata trie iie utami.

Trie 'iie' Utami
Trie 'iie' Utami at 2:49pm June 6...

"demikianlah, seniman dalam kapasitasnya adalah tukang cuci birokrat, laundry service.. pendekatan budaya adalah hal yang terbaik yang bisa dilakukan bangsa ini, karena sudah tak punya yang lain.. budaya adalah alat penetrasi paling tajam yang dimiliki manusia, terlalu banyak peristiwa tragis menimpa budaya, banyak yang tidak di munculkan ke permukaan sehingga masyarakat tidak tahu tragedi2 itu nyata ada di banyak lapisan.. budayawan, seniman bekerja di ruang kapasitasnya, mereka punya banyak sekali kebijakan namun sayang mereka tidak punya wewenang untuk memutuskan.. kalau saja pemerintah atau siapa saja, masih melakukan kehidupan dengan berbudaya... ( maaf saya agak gatal ikut nimbrung...)"

"menurut hemat saya, siapapun yang melakukan apapun seyogyanya berbudaya, pertanyaannya : kenapa sekarang jadi parsial? sebab budaya dikategorikan kesenian dkk, padahal budaya sendiri adalah segala sesuatu yang menyangkut kehidupan, kata budaya sendiri sudah dipisahkan menjadi bagian tersendiri, seharusnya tidak, bukankah semua manusia harus punya budi pekerti? kalau masih punya artinya masih jadi manusia berbudaya. kalau persoalan kebangsaan tidak pernah selesai ya maklum saja, habis orang2 yang bertugas nggak tahu apa itu makna budaya, peradaban saja mencatatnya sbg entitas yang terpisah..."

"relaitanya : kekuatan bangsa kita hari ini adalah kebudayaan, karena masih banyak orang2 yang sadar budaya, seniman penulis dan para pelaku lain.. tak ada pendekatan terbaik untuk mencuci kesalahan petinggi negeri, hanya gerakan budaya yang bisa.. sejarah juga sudah mencatat itu."

saya akan kutipkan juga pendapat pengarang habibi habibah yang menyebut dirinya sebagai lampu senja di milis apresiasi sastra, masih dalam hubungan dengan soal debat itu, yang dipicu oleh kata kata silfia hanani syafei.

"mungkin kata 'nyindir' itu kurang tepat. tulisan2 hung hudan sebelumnya itu intinya mengajak kita untuk damai bersama-sama saling mencintai baik dengan jiran kita atau pun kita sendiri. jadi lebih tepat itu dinamakan 'ajakan'. masalahnya bukan pada pendekatan budaya atau pada buaya yang mendekati kita hehe. tapi sindir itu kan arti lainnya mengejek dalam tulisannya hung hudan tidak terkesan mengejek kok. jadi its oke. ini salah hapam aja kayaknya hihi. salam piss love n respect. hung hihi ah. neo kapan pulang hung?"

debat itu sendiri dipicu oleh kata kata silfia, yang nampaknya telah memakaikan kata kata nyindir keluar dari koteks soalnya.

saya kutipkan juga pendapat silfia di sini, dengan suatu konteks latarnya.

----------------------------------------
Hudan Hidayat

apa maksudmu dengan nyindir itu silfia? coba tunjukkan di mana nyindirnya? dua kali bicara nyindir itu, apa maksudnya? di mana bagian yang nyindir?

2:19pm · Comment · LikeUnlike · Show Feedback (12)Hide Feedback (12)
You and Ai Ali like this.
Ai Ali likes this.

Silfia Hanani Syafei
Silfia Hanani Syafei at 2:30pm June 6

bung hudan; hmmm...saya setuju cara bung hudan...untuk menyatakan cara damai yang dengan gaya seperti itu, gaya filsafat bahasa yang "keren" itu yang saya maksudnya nyindir. Itu dapat dipafahami dengan perasaan yang halus. Tapi ada saya tidak sepakat, masalah tidak bisa selesai dengan pendekatan budaya saja.

Silfia Hanani Syafei
Silfia Hanani Syafei at 2:36pm June 6

Bagaimana bung hudan, bisa diterima maksud saya?

----------------------------------------

kita melihat kata kata yang meluncur dari trie iie utama, adalah sebuah pilihan kata yang jarang kita dapati oleh mereka pelaku budaya populer. bagi saya itu sebuah esai sastra selebaran daun tangan. sebuah dunia kata kata yang indah susunannya dan berisi dalam gagasannya.

popular telah bergerak ke arah sastra. dan kalau kita menyimak sebuah dunia seni yang utuh dari trie iie utami ini, maka akan kelihatan bahwa walau ia berdiam di kubu dunia pupular, sebenarnya jiwanya adalah dunia yang, secara proporsional sebagai pelawan dunia popular itu, saya pakaikan saja "pop art" agar mudah membuat perbandingan.

lihatlah puisi trie iie utami. dari puluhan puisi yang terpajang di notenya, dengan pemakaian judul judul besar illumina, violet sampai indigo, saya kira pembaca bisa diyakinkah bahwa semua kerja seni kata kata seperti itu, bukanlah sebuah kerja yang biasa kita jumpai pada mereka yang menggeluti kerja popuar tapi abai pada pembangunan dunia kata kata.

saya kutipkan satu sajaknya berjudul illumina 1.2

disisinya ada sunyi yang kelam
dihatinya ada kelam yang sunyi
kenapa dia..
begitu larat menghamba duka

warnanya pias
tak ada pelangi dilembahnya
sebab airmata kesengsaraan
terjun dari bukit tertinggi
menghantam duka
sampai kedasar yang terdalam
kenapa dia..
begitu cemas akan kematian

suaranya sepi
tak ada bunyi apa-apa
sebab tenggorokannya tersumbat kata
yang dihamburkan keseluruh sudut semesta
liar tak terkendali
kenapa dia..
begitu lara hela nafasnya

sunyi, sepi, kematian, kesendirian, adalah sebuah dunia yang penuh saat orang melakukan perenungan atas diri yang teronggok dalam dunia. suasana yang bisa menjelmakan keindahan kata kata bagi mereka yang intens dengan perasaan sombre semacam itu.

"kenapa dia..." adalah sebuah kunci yang berjatuhan di setiap hati orang yang datang kemudian. kunci yang saya temui juga dalam sebuah puisi yang menjadi titik tolak juman rofarif yang memicu tulisan saya ini. yakni saat ia menghadirkan kesedihan nabi musa dengan tuhannya yang tak nampak itu. tuhan yang tak nampak yang membuat tiap jenis kesedihan yang telah melahirkan kata kata, kenapa kita semua ini di atas dunia. dalam kata kata trie utama tadi: kenapa dia, itu.

saya kutipkan sajak juman - mata hati.

Mata:
Sungguh tak terbayang bagaimana
jika saat itu Tuhan benar-benar kalah oleh hasrat Musa,
kemudian Musa merekam dalam memorinya
wajah Tuhan yang pernah nyata.
Lalu, dari tutur Musa tersebarlah berita rupa
Tuhan di tengah umat manusia,
turun temurun kepada umat selanjutnya,
selanjutnya, dan selajutnya hingga masa ini kita ada.
Maka, tidakkah kau kasihan kepada orang buta?!

catatan pertama atas sajak juman, bahwa mata, hati, di sajaknya yang seolah menjadi penjelas itu, juga tanda seru di ujung larik akhir, tak perlu kita pasang. pembaca akan menikmati sebuah sajak sambil menghidupkan ruang sendiri - tidakkah pembaca mahfum belaka apa yang menjadi hasrat, dengan misteriusnya tuhan itu? yang di dalam sajak juman bait pertama itu telah menemui keindahan sebuah sajak dalam pemancingan terhadap imaji dan asosiasi akan tuhan. bahwa tuhan yang nampak kelak akan menimbulkan sebuah penurunan kualitas ketuhanan. dengan padanan orang buta yang tak kan bisa melihat keindahan wajah tuhan yang nampak. dalam kehendak tetap menyembunyikan diri, maka tuhan bergaung, atas misterinya kepada mahluknya.

tuhan yang seolah dara di balik tirai, kata amir hamzah, dan tuhan yang dengan bernasnya kembali hadir sebagai "tuhan yang tak kasihan kepada orang buta", dalam sajak juman rofarif.

biarlah tuhan lepas dan tak usah dipasang dengan tangkapnya. lepas tangkap juga dalam peristiwa yang melanda seluruh umat manusia, yang kemarin telah direkatkan oleh nisa diani yang terbaca dalam laporan sastra arif gumantia, sebagai sebuah kisah berlambang: sook, sang bayi suci yang pandai bicara, yang mengingatkan kita pada kisah tua dalam cerita nabi nabi.

waktu berjalan, dan kisah kisah terus berjatuhan ke dalam hati manusia. ke dalam "gedung jiwa manusia" seperti dalam puisi sang maestro: eimonds esya - si penyair.

hudan hidayat
presiden negara sastra
um cumcug ug
i aku tak cumcug jeffo o
hehe

de dor!
de duar!
bakar! bakar!
hiks

hay mr morrison selamat pagi sayang kerinduan hudan
i rindunya kupadamu kau pun kan a haha
sehatkah di neraka sana haha

sapa bawak setun ka' bandungngng kang deddy i hihi
de yang lagi onani o o o
crot haha halo adiezzzz

Written on Saturday · Comment · LikeUnlike
You, Kurniawan Yunianto, Dedik Priyanto, Nina Yuliana and 6 others like this.
Kurniawan Yunianto, Dedik Priyanto, Nina Yuliana and 6 others like this.
Hudan HidayatHudan
Kurniawan YuniantoKurniawan
Dedik PriyantoDedik
Nina YulianaNina
Juman RofarifJuman
Camelia Camel DananjayaCamelia
Dhidi Cahyani Pdhidi
Nani MarianiNani
Endang TirtawatiEndang
Nurdin A ZakyNurdin

Nurdin A Zaky at 7:59am June 7

wah tanggapan dan puisinya keren..hmm..
slurp..slurp....akhirnya ada kopi yang bisa di minum pagi ini, manis dengan pahitnya menyatu...Manstabs!

Endang Tirtawati at 8:18am June 7

Sastra terkadang membingungkan, mencengangkan, mempesonakan dan yg terpenting mengasyik kan...hidup sastrawan Indonesia, mas hudan dan teman2 ya...salam manis dri aku..

Nani Mariani at 8:49am June 7

ini baru komplit deh, puisi sama kuatnya dengan komen bahkan tanggapan.., asseeekkkkkk.., makasih...

Dhidi Cahyani P at 8:55am June 7

duh !! HEBAT......pencerahan dipagi minggu tanpa isi TV yg tak pasti....mengenyangkan jiwa...terimakasih Pak Hudan dan sastra yg memesona

Camelia Camel Dananjaya at 9:07am June 7

met pagi, bang Hud...pmbahasan yg spt biasa....sangat menarik dan berguna...jalan terus, bang! hehehehe....

Nur Jehan at 9:33am June 7

Pagi Bang Pres
Pagi-pagi sudah di dar der dor ni.
Btw, kebangetan deh kalo Luna Maya gak kenal Mas Hudan, harus di dar der dor juga kayaknya.
Pagi ini sudah dapat santapan rohani 2x dari Mas Hudan, lanjut mas.

Jehan Syauqi at 9:36am June 7
ah ah ah setuju dengan tanggapan yang diatas tas tas
trimkas sudah di tag om huds..

Pakar Dukun at 11:09am June 7

ahaahh.., kalaupun dijejer foto itu artis yang kudengar namanya di tivi tetangga, pasti aku tak tahu juga mana yang namanya luna maya hihihi kesiaan deh aku ini..!

kembali ke topik iie:

aku melihat kelucuan juga membaca itu. satu sisi dalam hal budaya, peradaban manusia dalam segala aspeknya adalah budaya, aku setuju itu. satu sisi pernyataan lagi menyebut: pengarang, penulis seniman.. ahhh apa pula itu? budaya tentunya (menurutku) adalah sebagaimana peradaban itu sendiri, tak harus selalu dikaitkan dengan orang-orang yang berlabel seniman, pengarang dan segala macamnya itu. aku pun, teman-temanku pun, sahabat-sahabatku pun, para juru gambar, para desainer, para kuli proyek, para tukang las pipa, pun pelaku budaya, pun mereka adalah bagian dari para penggerak peradaban. ahh.., jika budaya dan peradaban itu hanya milik para penulis dan seniman, tentunya aku dan sahabat-sahabatku para kuli proyek, juru gambar, petani, nelayan, hanyalah manusia-manusia tak berbudaya tak beradab! hahah..

Eimond Esya at 11:54am June 7

haiah, ini pembahasan top. kreen. tapi batal kreen karena namaku dsebut. heheheheeee bikin malu aja Um Hudan ini, namaku dikaitkan pula. Puisi gedung jiwa itu blum segitunya Umm.. maluu aku. hiks. palagi dibandingkan dengan yg seri ilumina mba iie yg dahsyat2 itu. kalah segala2nya.

Early Rahmawati at 2:09pm June 7

seru seru !!:)

Juman Rofarif at 2:56pm June 7

sajak dan puisi akan mati jika tidak ada orang yang memaknai...

makasih, mas hud, telah 'menghadirkanku'...

Antok Serean at 3:39pm June 7

aku bingung mau komen apa.

kemarin ada acara kumpul2 gay di surabaya, aku lempar pertanyaan pada kawan2 komunitas,"tahu nggak hudan hidayat?" ada yang nyeletuk,"sapa sih? namanya kok asing banget. politikus ya." aku langsung nggondok.

Priatna Ahmad Budiman at 6:44am June 8

@Anto': Om hudan kelamaan jadi kepompong di jerman dan jurnal wanita to' he he he he. Di Media Indonesia lama saya mengenal tulisan beliau. Salam juga buat juman, membaca karya juman adalah membuka seal khazanah masa lalu.

~Back to Luna Manja~

Kadang kita membutuhkan "bahasa yang sama", yang lebih populis, merekat. Penetrasi lewat sastra, musik, atau seni yang lain.

Seperti kata siapa aduh lupa, penyair adalah tukang kebun di taman bunga sastra. Berharap semua datang mengagumi, memetik bahkan ikut menanam disana. Kemudian sama sama berkeliling dan berkata "Aih kawanku, lihat apa yang telah kita buat di taman kecil kita ?"
Bukan taman di negara A, B, bukan milik golongan C, D.
Tapi taman kita semua.

Juman Rofarif at 7:40am June 8

masa lalu memang lestari hingga kita bisa menyebutnya masa lalu

salam hangat juga priatna...

Muhamad Sulhanudin at 7:48am June 8

saya kerap menemani ponakan saya bermain. beberapa kali saya takjub menemukan kata-kata yang keluar dari mulutnya. wuih itu puisi.

saya juga masih ingat ucapan seorang kawan yang tengah putus asa. kepada saya dia bilang begini:

"bunuh diri bukan suatu dosa besar ketika kita tahu kehidupan selanjutnya tak lebih baik."

ucapan trie utamai itu keluar, saya kira, dari sebuah proses personal, yang mungkin dilakukan dan terjadi di luar dunia yang dugeluti yang dikenal banyak orang. ketika ia mengucapkan itu, mungkin ia tak peduli dengan bentuk, seperti penyair misalnya, tapi ketika dicermati ternyata bangunan kalimatnya kuat.

ini seperti perdebatan dalam dunia sastra, apakah setiap karya populer itu buruk secara mutu. tentu saja tidak. dia punya ukuran sendiri, masing-masing penulis juga punya prosesnya sendiri.

sebaliknya, apakah semua karya yang disebut serius itu pasti bagus. ya tentu saja ada yang jelek. hehe...

Arif Gumantia at 9:44am June 8

GM itu rugi kalo nggak kenal aku..coba kalo kenal aku nggak perlu mendukung Budiono kalo pengen jadi Menteri kebudayaan...malah pasti aku jadikan Presiden...
Presiden di lakon Kethoprak tapi..huahhahahha..hahhahahhahaha..hehhehehheeh
salam kentir dari madiun

Arif Gumantia at 9:45am June 8

GM disini Goenawan Muhamad lho bukan Bakmi Gajah mada..hahhaha..hhehee
Write a comment...

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

[ac-i] laju bahasa: dari prosa ke puisi, dalam prosa kafka, borges, dan melati van java



(naskah sastra dari dunia maya facebook)

Sat 10:31pm | Edit Note | Delete

laju bahasa bisa kita ibaratkan seolah tubuh yang jatuh ke jurang: saat sebatang pohon terjulur dari tepi jurang tak satu pun yang muncul, sehingga tubuh meluncur mulus membentur batu besar di bawah jurang.

sebatang pohon penahan tubuh yang meluncur itu, dalam bahasa, adalah fungsi dalam bahasa yang bertukar tempat, misal pertukaran posisi dari watak prosa ke watak puisi. sebuah karya sastra masih menjadi cerita naratif, tapi kalimat kalimatnya telah membentuk imaji seolah puisi. telah bergerak seolah larik puisi dalam bentuk kalimat prosa.

tapi laju bahasa dalam pertukaran fungsi seperti itu, bisa hanya terjadi karena pergeseran huruf dalam sebuah kata (kata kata). saya akan mengutip cerita berjudul surapati hakim pengadilan, yang ditulis oleh f wiggers atau melati van java, yang saya ambil dari buku tempo dulu, antologi sastra pra-indonesia yang disusun oleh pramudya ananta toer.

"kraton pasoeroewan baguoes, besar dan pantas djadi astana karadjaan yang berkoewasa. doeloe tempat kadoedoekannya ngabehi ongo djoijo, maka radja ini dioesir oleh soeropati."

bagi saya ejaan lama itu, dengan memakaikan gabungan huruf oe untuk huruf u, adalah sebuah bahasa yang tak laju alias tertahan. di mulut saya, dulu yang dibentuk menjadi doeloe itu, adalah memperlambat pembacaan. sehingga saya seolah terhenti, untuk menselaraskan pembacaan oe untuk u itu.

tapi kemudian segera saya sadari, bahwa cara menyusun huruf seperti itu menimbulkan kesan lucu. lucu dari ketidak familiaran saya baik dalam bacaan maupun dalam ucapan. pastilah bagi orang dulu, pembentukan u dengan oe itu adalah hal yang biasa. biasa karena telah menjadi tulisan dan ucapan sehari hari. maka suatu kesimpulan bisa kita peroleh, bahwa laju bahasa, yang dalam hal ini tertahannya sebuah bahasa, yakni u yang dibentukkan dari oe itu, tergantung konteks tempat dan konteks waktu. tempat dan waktu di mana sebuah bahasa hidup, bisa jadi akan membawa persoalan bahasa bagi orang yang datang kemudian.

bagaimana laju bahasa yang tertahan dengan perpindahan watak prosa ke watak puisi? untuk ini saya akan mengambil contoh cerita panjang kafka yang diterjemahkan oleh novelis eka kurniawan, yakni metamorfosa. saya kutipkan paragraf pertama cerita yang amat mencengkam itu.

"ketika gregor samsa terbangun di suatu pagi dari mimpi yang buruk, ia menemukan dirinya berubah di atas tempat tidur menjadi semacam kutu yang besar sekali."

lihatlah kalimat itu seolah kalimat prosa, seolah denotatif. hanya sebuah prosa yang dimulai dengan sebuah informasi: ketika gregor samsa...

tapi kalau kita simak secara seksama, betapa kata "mimipi, kutu," telah membawa kalimat semacam itu bergerak ke wilayah puisi, menjadi sebuah larik yang konotatif sifatnya: masihkah "terbangun" di sana ada dalam bingkai mimpi? - bahwa gregor samsa itu terbangun dari tidurnya di dalam mimpinya. dan kutu, adalah penguat dari dugaan semacam itu: dalam sebuah realisme, keadaan seperti itu pastilah halusinasi, yang kelak sang tokoh, gregor samsa, akan kembali ke alam nyatanya. tapi tidak: sang samsa terus mengikuti ayunan dari berubahnya tubuh manusianya menjadi kutu atau kecoa. dan sampai selesainya cerita ini, keadaan kutu atau kecoa itu tak pernah berubah.

inilah suatu keadaan surealisme tubuh yang sedang diderita oleh gregor samsa. sebuah keadaan di mana tubuh telah diatasi, bukan menjadi tubuh yang biasa kita kenal. tapi tubuh yang telah diangkat, atau terangkat, menjadi tubuh imaji dari suatu hasil mimpi. suatu hasil kayalan sang pengarang. tubuh gregor samsa bukanlah tubuh prosa lagi, tapi telah menjadi tubuh puisi.

berhadapan dengan alinia itu, kita tak bisa lagi seolah dalam keadaan bahasa yang melaju. seolah semuanya telah kita mengerti dalam bahasa yang denotatif sifatnya. tapi bahasa kita telah tertahan. ditahan kafka melaui prosanya yang dibelokkannya ke dalam puisi. ke dalam suatu imajinasi surealis yang diimajikannya kepada tubuh tokohnya - gregor samsa.

kafka sendiri mungkin tidak menyadarinya. sebab sang pengarang sedang dilanda ledakan dalam bahasa.

maka satu hal yang hendak saya katakan, bahwa hukum atau batasan puisi dan prosa, atau prosa dan puisi, tak bisa lagi kita pertahankan secara ketat dengan mendefinsikan bahasa prosa sebagai pemakaian kalimat atau kata yang denotatif sifatnya, sedangkan puisi memakai bait atau larik yang konotatif.

definisi rontok tanpa kita sadari, melalui karya seniman yang datang diam diam. tapi sebuah mata yang awas menemukannya dalam terapan pada suatu karya sastra.

apa yang terjadi dengan cerita kafka, berulang kembali di dalam cerita borges dalam buku labirin impian yang dialih bahasakan oleh hasif amini, penjaga rubrik budaya koran kompas itu. dalam cerita pertama di buku itu, ibn hakkan al bokhari, mati di dalam labirinnya sendiri, puisi datang dari suatu setting alam yang dinarasikan oleh narator.

"bintang bintang berkabut, orang orang moor yang muram, lautan, bukit bukit pasir, bangunan besar tua yang hampir ambruk," adalah suatu puisi ketika dihubungkan oleh kehendak sang dunraven untuk menggambarkan tanah leluhurnya. puisi dari sebuah penceritaan yang bukan lagi bisa kita nilai berdasar dalil prosa tentang "apa adanya", tapi telah menjadi asosiasi akan sesuatu yang "memang ada" itu - tanah leluhur dunraven, melalui pemakaikan kata "seakan, seraya" di sana.

denotatif prosa telah diputar menjadi konotatif puisi oleh borges melalui sang narator.

"ini," kata dunraven, dengan kedua belah tangan mengembang seakan hendak merengkuh bintang bintang berkabut seraya menampung orang orang moor yang muram, lautan, bukit bukit pasir, serta sebuah bangunan besar tua yang hampir ambruk dan mungkin berubah menjadi kandang setelah lama tak berpenghuni, "inilah tanah leluhurku."

dengan cara membaca seperti itu, maka masihkah kita harus berkutat dengan pengertian dan batasan batasan dalam sastra?

tidak ya.

hudan hidayat
tidak pakai presiden karena sudah malam i hihi
mabuk ni ye a haha

Written on Saturday · Comment · LikeUnlike
You, Deasy 'Elang' N, Icha Chemplon, Dhidi Cahyani P and 10 others like this.
Deasy 'Elang' N, Icha Chemplon, Dhidi Cahyani P and 10 others like this.
Hudan HidayatHudan
Deasy 'Elang' NDeasy
Icha ChemplonChemplon
Dhidi Cahyani Pdhidi
Nani MarianiNani
Rien Al AnshariRien
Angga WijayaAngga
Pratiwi SetyaningrumPratiwi
Widyawati Soetego PoetriWidyawati
Zuraidah Abdul AzizZuraidah
Maya Larasati UnguMaya
See all...

Purwono Nugroho Adhi at 12:19am June 7

kadang saya berefleksi, laju bahasa ini, keterpisahan layar monitor dengan ruang kita, mengibaratkan puisi di facebook bukan untuk dibacakan. Kata dalam posting menjadikan puisi sebagai komoditas kata, ia bermakna bukan karena dibaca, tetapi karena mengajak kita memahami makna. Penggalan kata seakan nisbi untuk ditampilkan dalam pembacaan, memang inilah yang mungkin terputus bagi sastrawan konvensional. Mungkin, ilustrasinya, sama dengan musikalisasi puisi yang diliarkan menjadi "performance art". Posting puisi facebook adalah gagasan, bukanlagi puisi. maaf, jika ini melebar dan tak terarah, pada intinya diskusi ini ingin mengajak pada sebuah kajian baru, betapa sastra mendapatkan gaya barunya yang luar biasa kuat dan masif

Maya Larasati Ungu at 12:20am June 7

laju melaju...

Kurniawan Yunianto at 12:30am June 7

iya tampaknya dunia katakata ini telah begitu mencapai tataran yang tak terkira, aku bayangkan betapa sulitnya para musisi untuk menggabungkan nada diatonis dengan gending 'pelog' dan sampai saat ini menurut mereka sulit menghasilkan sebuah harmony. merujuk pada uraian mas pur tadi sepertinya .. tak ada lagi yang bisa menghambat laju sebuah perjalanan bahasa ini, bahkan mungkin bidangseni lainnya juga. dan uraian bung hudan semacam pemicu terbukanya sebuah hijab yang selama ini menjadi pembatas yang kokoh untuk bisa masuk ke dunia kata yang penuh misteri itu .. hmmm saluut

salam & senyum mesra .. para kekasih .. hehe

Niken Probo Sutanti at 1:25am June 7

pada tahun 1979, di majalah SISWA, terbitan Yogyakarta, ada rubrik yang memuat sajak2, berikut saran dari pengasuhnya. di majalah itulah pertamakali aku membaca sajak yang penulisannya seperti prosa. tapi setelah itu aku tak lagi mengikuti perkembangan dunia sastra. Teori pelajaran kesusastraan memang mengajarkan tentang jenis2 karya sastra lama (... Read Moregurindam, pantun dll), baru (puisi, prosa, narasi, kalo ndak salah lho ini), akan tetapi.... pada prakteknya sepertinya ndak bisa dibendung perkawinan atau peleburan masing2 jenis itu, hingga menghasilkan 'ras' baru. Tak jauh beda dg musik. He he.. mohon ampyun kalo salah pak Pres.. hiks..

Widyawati Soetego Poetri at 2:08am June 7

aku menyimak saja ... takut salah ngomong , karena aku gak begitu tahu banyak ttg ilmu sastra , sejauh ini aku byk belajar dr tulisan2 bang Hud dan kawan2 lainnya ...

terimakasih ... hiks

Zuraidah Abdul Aziz at 2:20am June 7

kalau pendapat zu sih begini...sebaik sesuatu teks sastra itu ditulis, perkiraan tentang improvisasi pragmatis karya sering menjadi soal kedua. teks masih tetap teks, mereka mengira begitu. padahal konotasi semantik emotif ternyata sulit disampaikan tepat kepada publik sekiranya ejaan tidak diambil kira. hiks

justeru teks sastra lama, beda sesuai dengan jaman pada waktu itu. rata-rata masyarakat suka bernazam dan bersyair. makanya naratif epos begitu sinonim dan relatif sekali kepada mereka ini. epik sejarah yang popular menggunakan naratif epos adalah Siti Nurbaya dan Marah Rusli. nonfiksi. teknis realis yang mempunyai pendekatan prosaik dan liris yang sederhana. apa pun sesuatu karya itu dan seperti karya, penerimaan publik tetap harus diambil kira gitu. weihh :p

Pratiwi Setyaningrum at 2:39am June 7

mmmmmmhhhh..... yap menyimak! ^o^)/

Pakar Dukun at 4:03am June 7

teks-histori

pergeseran makna, perubahan tata cara simbolisasi bunyi, perubahan gramatika, sepertinya akan tetap menjadi keniscayaan yang terjadi selama tidak ada aturan baku mengenainya. sedangkan pembakuan ini tentunya akan berhadapan dengan masalah kebebasan ekspresi dari penulis teks sebagai satu komponen pelaku bahasa yang seringkali merasa memiliki sebuah rasa 'aku bebas' yang demikian besar.

histori, membuktikan bahwa seringkali dalam perjalanan bahasa dari generasi ke generasi terdapat suatu diskontinuitas dimana ada kesulitan-kesulitan tertentu pada generasi yang datang belakangan dalam memahami teks yang dihasilkan oleh generasi terdahulu. dalam tataran ekstremnya mungkin bahkan akan menimbulkan sebuah diskontinuitas sastra, bahasa, bahkan peradaban itu sendiri.

saya sendiri lebih memandang bahwa teks adalah catatan-catatan pencapaian peradaban suatu generasi, yang ketika terjadi pergeseran, perubahan dan lain-lainnya itu, akan menyebabkan perkembangan suatu peradaban tidak berlangsung secara berkesinambungan. mnghasilkan diskontinuitas. tiap generasi akan membuat peradabannya sendiri dengan sebuah ketidakpedulian pada perjalanan besar peradaban manusia, masa lalu dan masa mendatang.

apakah akan kita jalankan roda histori ini dengan kontinuitas garis yang bersambung, ataukah tiap kali berganti generasi kita akan selalu menarik garis baru dari titik nol dengan berargumenkan kebebasan tanpa batas-batas? tentunya masing-masing kita mesti memilih satu di antara dua pilihan itu.

salam dari kuburan kalibata..

Rien Al Anshari at 6:04am June 7

numpang menyimak saja.... :O

Jehan Syauqi at 6:51am June 7

saya ikut menyimak, dari bahasan om huds dan paparan yg lain..
gemuk saya disini ;p

Kavellania Nona Pamela at 7:24am June 7

aq plg gk bsa mjdkan prosa ke puisi krn susah sekali utk bermain metafor. mkx aq salut sm tmn2 fb pda pinter bqn puisi ^^

Nur Jehan at 7:44am June 7

Selamat pagi semua, aku belajar banyak disini, betapa Mas Hudan dan teman2 disini sudah berbaik hati mau berbagi.
Salam untuk semua

Faradina Izdhihary at 8:37am June 7

Salam all, Mas Hudan... semoga senantiasa sehat. Trims kuliahnya. Aku juga tambah tambun nih, tapi seksi setelah baca esau mas hudan ma komentar teman2. aku ngangsu ilmu saja.

Nani Mariani at 8:41am June 7

terima kasih Pres Hud Hud.., aku bisa membaca pengarahan mu, makasih.., kembali lagi kpd si kembar siam itu, dua2nya ber inisial " P", dari ibunda tercinta. he he he.., bersyukurlah para sobat sobatku, pengarahan tidak pernah putus dan jemu dari Pres Hud Hud.., dermawan membagi Ilmu dan Rahasia menulis.., aminn., makasih makasih makasih... semangat!

Dhidi Cahyani P at 9:18am June 7

berbahagia rasanya mendapat segudang ilmu....terimakasih telah berbagi

Icha Chemplon at 9:34am June 7

akhirna dpt pelajaran lagi duwech saia...huwa pengap sekali kamar yg kutumpangi kmrn...gag enak dijamu ama dokter & sustel...enakan dsni dengerin mata kuliah dr presidencuw...hihihi

Deasy 'Elang' N at 5:43pm June 7

Ilmu lagi nih..senangnya aku. Biar kunikmati dengan pelan yaaaaaaaa

Dadan N Ramdan at 8:57pm June 7

terbaca. ikut menyimak. memaknai dan meleburnya. teks tetap teks. diluar itu...kita sama-sama tahu...

salam

Bamby Cahyadi at 10:09pm June 7

Mantrabs... sastra pembebasan, hidup pak pres!

Priatna Ahmad Budiman at 6:26am June 8

Prosa dan puisi adalah cara bertutur, essay diatas bisa jadi pembebasan sekat prosa menjadi puisi lewat imaji. metafor, konotatif makna. Tapi kadang saya juga melihat potensi pembebasan itu bisa lewat struktur jeda : tanda baca koma, alinea, spasi.
Hm..Mungkinkah ?
Write a comment...

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

[ac-i] Bikin Novel dan Film Sambil Nyumbang



Writing Cam Rumah Dunia:

SAATNYA  BIKIN NOVEL DAN FILM SAMBIL NYUMBANG!

 

Sejak Banten jadi provinsi pada tahun 2000, dunia informasi menjadi dekat di Banten. Biasanya kita hanya membaca berita orang lain, tiba-tiba saja berita tentang tetangga kita, guru kita, pemimpin kita, bahkan diri kita sendiri terhidang di pagi hari di koran lokal seperti Banten Raya Post. Semuanya menjadi begitu cepat dan tidak ada yang bisa disembunyikan lagi. Berita korupsi, kriminalitas, perselingkuhan, mutasi pejabat, dan pelajar yang tidal lulus UN menjadi menu sarapan sehari-hari. Hal ini pun seiring dengan pertumbuhan kios/lapak koran dan toko-toko buku. Dunia tulis-menulis meningkat sangat cepat. Minat baca warga Banten merangkak pelan-pelan,  Perpustakaan Provinsi Banten dan komunitas baca diserbu pelajar dan mahasiswa. Penulis-penulis lokal bermunculan. Dunia jurnalistik menggeliat. Bahkan UNTIRTA (Universitas Tirtayasa) dan STIKOM (Sekolag Tinggi Komunikasi) Wangsa Jaya pun mendirikan program studi FISIP dengan jurusan jurnalistik di dalamnya. Menyuul UNSERA (Universitas Serang Raya) yang langsung membuat in-house magazine.

 

NOVELIS

Selain dunia jurnalistik dengan melahirkan wartawan berita dan penulis essay lokal, para penulis cerpen dan puisi lokal juga bermunculan. Dua koran lokal berbasis di Serang menyediakan halaman puisi dan cerpen. Buku-buku kumpulan cerpen dan puisi bermunculan dan dibedah di kampus-kampus. Tapi, pernahkah kita berpikir, ketika sedang memilih-milih novel di rak-rak toko buku yang kini bertebaran di Serang, Cilegon, dan Rangkasbitung, salah satu novel yang berjejer itu adalah buah tangan kita?

Rumah Dunia yang peduli pada perkembangan dunia tulis-menulis menangkap kegelisahan itu.   Selain saya, beberapa nama yang bergumul di Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD) berhasil melahirkan buah karya novel sepanjang 2004 – 2009, yaitu Qizink La Aziva (Mizan) Endang Rukmana (Gagas Media), Ibnu Adam Aviciena (Beranda Hikmah), Najwa Fadia (Beranda Hikmah), Tias Tatanka (Senayan Abadi), Firman Venayaksa (MU:3), Bella (Mizan). Pada Juni 2009 ini lahir lagi penulis novel dari KMRD bernama Langlang Randhawa (Bentang).  Sedangkan di luar KMRD ada Wan Anwar dan Herwan FR dari komunitas Kubah Budaya.

Nah, pernahkah terlintas di benak Anda, atau putra-putri kita, ingin menjadi penulis novel?   Apa bisa? Ya, pasti bisalah!

 

FILM MAKER

Tanpa diduga, berkah lain dari terbentuknya Provinsi Banten adalah kehadiran TV lokal bernama Banten TV pada 2006. Bahkan ada 2 TV lokal lainnya yang akan mengudara; Radar TV Banten dan Baraya TV. Ini tentu mengembirakan bagi para pecinta film. Komunitas-komunitas film sudah bertumbuhan di Banten. Mereka secara otodidak belajar membuat film pendek. Untirta membuat UTV dan IAIN dengan IAIN TV. Rumah Dunia pun membuat lini Gong Media Cakrawala (GMC) yang bergerak di TV Program. Berita-berita Banten TV para kontributornya dari GMC. Bahkan beberapa pekerja kreatif Banten TV dari Kelas Film Rumah Dunia.

Nah, pernahkah terlintas di benak Anda, atau putra-putri kita, ingin menjadi  film maker? Setiap saat, ruang keluarga kita diserbu program-program TV; infotainment, berita, dan sinetron. Pertanyaannya, sanggupkan kita menjadi pembuatnya? Atau, cukup puaskah kita hanya sebagai konsumen saja? Memangnya, kita bisa sebagai produsen alias pembuat TV program? Padahal di Banten tidak ada lembaga pendidikan seperti Institut Keenian Jakarta yang mengajarkan cara membuat film.

Sekedar informasi, ya. Lihatlah di Banten TV. Dalam sekejap beberapa nama muda-mudi di Banten mulai ramai muncul di layar kaca. Para pejabat di lingkungan Banten mulai lancar mengeluarkan pendapat atau gagasannya. Dosen, mahasiswa, aktivis, dan rakyat Banten sudah terbiasa muncul di Banten Pagi sebagai nara sumber. Di program "Obor: Obrolan Rakyat", pejabat dan rakyat pun saling berbagi cerita. Komunitas-komunitas teater di Banten leluasa berekspresi di "Panggung: Teater Untuk Semua". Para budayawan Banten mengkristalkan gagasannya di "Jati Diri". Penyair dan pemusik berkolaborasi di "Bianglala; Dengan Musik Kita Bernyanyi".

Nah, sekali lagi, bisakah kita sebagai pembuatnya?

 

BELAJAR DAN MENYUMBANG

Jangan khawatir. Tidak perlu jauh-jauh belajar menulis novel dan membuat film dengan pergi ke Jakarta atau Bandung. Tidak perlu. Rumah Dunia tetap peduli pada hal itu; jurnalistik, sastra, dan film.

Ijinkan saya bercerita dulu. Agak berputar sedikit, ya. Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju Roma.

Setelah bergulir 7 tahun, kegiatan-kegiatan di Rumah Dunia semakin banyak dan seolah menjadi taman budaya alternatif di Banten, bahkan secara nasional dijadikan rujukan komunitas baca yang  progresif. Sesuai dengan kebutuhan itu, kini Rumah Dunia sedang berusaha membebaskan tanah seluas 2873 meter persegi. Lokasinya persis di depan Rumah Dunia, tempat biasa dipergunakan parkir. Jika tanah itu berhasil dibebaskan dengan bantuan sedekah dari teman-teman, akan kami bangun gedung kesenian, WC umum bagi warga, kios jajanan kampung, ruang  pameran, gedung perpustakaan, panggung terbuka, galeri lukisan, dan lapangan basket.

Berbagai cara dilakukan untuk membebaskan tanah seluas 2873 meter persegi itu yang  dibatasi hingga 1 Juli 2009. Jika lewat batas waktu itu, pemilik tanah akan menjual ke pihak   lain.  Cara pertama yang kami lakukan dimulai dengan "Gerakan Sedekah Untuk  Kemuliaan Rumah Akherat Melalui Rumah Dunia" pada 20 April 2009, yang terus bergulir  dan sudah berhasil mengumpulkan sumbangan seluas 513 meter persegi per-30 Mei 2009.

Upaya lain untuk membebasan tanah itu, bekerjasama dengan Banten Raya Post, Radio Top FM  Cilegon, Penerbit Gagas Media, Suhud Media Promo, Banten TV, dan Rumah Produksi Indika Entertainment, Rumah Dunia menggelar kegiatan belajar sambil menyumbang berupa pelatihan novel dan fim dalam  acara bertajuk: "Writing Cam Rumah Dunia : Bikin Novel dan Film, Yuk!" yang akan berlangsung pada 26, 27, 28 Juni 2009, bertempat di Rumah Dunia.  

Dengan kegiatan 'writing Cam" ini, diharapkan bisa memberikan wawasan tentang bagaimana sebuah penerbitan buku menerima ide-ide cerita dari penulis, menambah wawasan tentang bagaimana industri perfileman di Indonesia, mengenal tips-tips mudah penulisan novel, skenario film, dan pembuatan film indie.

Para pembicara "Writing Cam" ini adalah orang-orang yang berkompeten di bidangnya, terdiri dari Gola Gong, penulis dari lebih 70 novel dan ratusan skenario film, dan pengelola Rumah Dunia. Tim Penerbit Gagas Media, Jakarta. Tim Kreatif Rumah Produksi Indika Entertainment, Jakarta. Fahri Asiza, penulis scenario sitcom OB di RCTI, pengarang novel dan Pimpinan CreatiFA,  lembaga kreatif pimpinan Fahri Asiza, tim kreatif Kepompong (SCTV), Super Men (SCTV), dan Bukan Romeo Juliet (ANTV). Fahri juga dikenal sebagai pengarang novel produktif. Pernah meraih penghargain sebagai penulis produkstif versi Islamic Book Fair, setahun menulis 24 novel (2005) dan Penulis Cerita Anak Terbaik (IBF 2006) lewat novel "Jas Hujan Buat Abi". Agres Setiawan, sineas muda lulusan IKJ, praktisi perfileman. Piter Tamba (sutradara Banten TV)

Pendaftaran berlaku sejak dikeluarkannya pengumuman ini hingga 25 Juni 2009.  Biaya yang dibutuhkan sebesar Rp. 2.500.000,- (Dua Juta Lima Ratus Ribu). Dengan biaya itu peserta selain mendapatkan pelatihan, meninap di rumah penduduk, disuguhi menu khas Banten, pentas seni, pembuatan film pendek, juga akan mendapatkan souvenir berupa: Seminar kit, Sertifikat, CD album Ki Amuk, Buku "Jangan Gak Mau Nulis Seumur Hidup" karya Gola Gong. Selain itu, sebagaian uangnya akan disumbangkan ke rencana pembebasan tanah Rumah Dunia. per-5 Juni sudah 3 orang mendaftar; Ratih S Jatmiko (Jakarta), Ramli (Serang), Anis Diniyati Raksanegara (Jakarta)

Jadi, tidak rugi membayar investasi sebesar Rp. 2,5 jt. Nilai itu jadi tidak sebanding dengan materi-materi ilmu yang kita dapatkan langsung dari tangan pertama. Saya, Fahri Aziza, Penerbit Gagas Media, Indika Entertainment, adalah para praktisi yang berpengalaman di bidangnya masing-masing.

 

BELAJAR UNIK

Writing Cam Rumah Dunia tidak hanya sekedar belajar saja. Tapi juga saling berbagi. Uang investasi sebagain akan disumbangkan untk membebaskan tanah. Itu keunikannya. Dan hal uniknya tidak berhenti sampai di situ saja.

Belajarnya pun memakai metode active learning.

Bahkan diberi stimulus dengan pentas musikalisasi puisi Ki Amuk, divisi musik Rumah Dunia pimpinan Firman Venayaksa (Presiden Rumah Dunia), yang sudah membuat CD album berjudul "Mencari Pelangi" yang diproduseri Jaya Komarodin Cholic. Juga pembacaan Puisi Toto ST Radik, penasehat Rumah Dunia, peraih penghargaan Penyair Terbaik Komunitas Sastra Indonesia Award pada 1999 dengan antologi puisi "Indonesia Setengah Tiang". Monolog Dedi Setiawan, tutor teater Rumah Dunia, peraih penghargaan juara monolog se-Banten 2005, dan juara 2 monolog mahasiswa se-Indonesia di Kalimantan (2006). Pembuatan film pendek bersama tim kreatif Rumah Produksi India Entertainment. Dan "Xpresikan Dirimu", pentas seni dari peserta berupa pembacaan puisi, menyanyi, standing comedi, atau apa saja.

Nah, nunggu apa lagi?

Ayo, daftarkan segera di "Witing Cam"!

Dijamin jadi novelis dan film maker! (Gola Gong, penasehat Rumah Dunia dan Executive Produser Banten TV).

 

 


__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___