Monday, June 8, 2009

[ac-i] Bahasa Ibu, Penyerahan Hadiah Sastra Yayasan Rancagé dan diskusi panel/Erasmus huis



Message from Paul Peters, Director Erasmus Huis

 

Bahasa Ibu, Presentation of the Literature Award and panel discussion

Right-click here to download pictures. To help protect your privacy, Outlook prevented automatic download of this picture from the Internet.

Wednesday, 10 June 2009, 14.00 - 17.00, Erasmus Huis, Jl. HR. Rasuna Said Kav. S-3, Kuningan 12950, Jakarta, 021 - 524 1069

Free admission/Gratis

 

Bahasa Ibu, Presentation of the Literature Award and panel discussion

Language: Indonesian

Yayasan Kebudayaan Rancagé dedicates itself to the preservation of the (local) mother tongues of Indonesia and awards those who in a particular year best deserve to be credited for creating literature in their mother tongue. In 2009 the awards will be presented to authors using Sundanese, Javanese and Balinese.

To complement this ceremony the Erasmus Huis organizes with Yayasan Rancagé a panel discussion, featuring introductory lectures by Dr Dick van der Meij (researcher at the Center for the Study of Religion and Culture van de Universitas Islam Negeri Syarif  Hidayatullah, Jakarta) and Prof. Dr. Chaédar Alwasilah (Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung). Dr Ajip Rosidi will act as the moderator. The speakers will describe the role of the mother tongue in the past as well as in presentday Indonesia.

The Sundanese musical band of Nano S will grace the session with their performance.

 

Bahasa Ibu, Penyerahan Hadiah Sastera Yayasan Rancagé dan diskusi panel

Dalam bahasa Indonesia

Yayasan Kebudayaan Rancagé memberikan hadiah sastera buat para sasterawan yang dianggap besar karyanya dalam bahasa ibu setiap tahunnya. Tahun ini pada pertemuan ini hadiah akan diberikan kepada penulis sastra dari daerah Sunda, Jawa dan Bali.

Dalam rangka ini Erasmus Huis bersama Yayasan Rancagé mengorganisir diskusi panel dengan ceramah oleh Dr. Dick van der Meij (sekarang bekerja di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta) dan Prof. Dr. Chaédar Alwasilah,  (Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung). Dr. Ajip Rosidi yang akan menjadi moderator.  Ceramah-ceramah memberi informasi megenai peran bahasa – bahasa ibu di masa lalu dan masa kini di Indonesia.

Pertemuan akan diramaikan oleh kelompok musik Nano S (Sunda).

 

Bahasa Ibu, Uitreiking Rancagé Literatuur Prijs en paneldiscussie

Voertaal: Indonesisch

Yayasan Kebudayaan Rancagé zet zich in voor het behoud van de (lokale) moedertaal in Indonesië en geeft jaarlijks de Rancagé literatuur prijs voor diegene die zich in zijn of haar moedertaal via literatuur dat jaar het meest verdienstelijk heeft gemaakt. Dit jaar, tijdens de bijeenkomst, zullen de prijzen naar auteurs van de taalgebieden Sunda, Java en Bali gaan. 

In dit kader organiseert het Erasmushuis met Yayasan Rancage een paneldiscussie met lezingen door Dr. Dick van der Meij (thans werkzaam bij the Center for the Study of Religion and Culture van de Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah,  Jakarta) en Prof. Dr. Chaédar Alwasilah (met een aanstelling aan de Universitas Pendidikan Indonesia in Bandung). Dr. Ajip Rosidi zal optreden als moderator.

De lezingen zullen informatief ingaan op de rol van de moedertaal in het verleden en in het huidige Indonesië.  De bijeenkomst wordt opgeluisterd met muziek door de groep van Nano S (Sunda).

 

 

 

_,_._,___

Help save paper! Do you really need to print this email?

Dit bericht kan informatie bevatten die niet voor u is bestemd. Indien u niet de geadresseerde bent of dit bericht abusievelijk aan u is toegezonden, wordt u verzocht dat aan de afzender te melden en het bericht te verwijderen. De Staat aanvaardt geen aansprakelijkheid voor schade, van welke aard ook, die verband houdt met risico's verbonden aan het elektronisch verzenden van berichten.

This message may contain information that is not intended for you. If you are not the addressee or if this message was sent to you by mistake, you are requested to inform the sender and delete the message. The State accepts no liability for damage of any kind resulting from the risks inherent in the electronic transmission of messages.

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

[ac-i] Sekali Lagi, Resensi Buku Asian Godfathers [Media Indonesia]




HTML clipboard

 

Membongkar Rahasia Kekayaan Godfather Asia

 

Resensi Buku Asian Godfathers (Joe Studwell)

Media Indonesia | Sabtu, 06 Juni 2009 | Oleh M. Iqbal Dawami*

 

 

 

Pada 1996, setahun sebelum krisis finansial Asia mengubah wajah ekonomi, majalah Forbes dalam rilis tahunannya tentang individu-individu terkaya mendaftar delapan pengusaha Asia Tenggara di antara 25 teratas dunia dan 13 di antara 50 teratas.

 

Inilah barisan terdepan para godfather Asia, yang masing-masing memiliki harta pribadi lebih dari US$4 miliar. Mereka mampu menyumbang sepertiga dari dua lusin orang terkaya di planet ini, dan merekalah pengendali utama roda perekonomian di kawasan Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, Hong Kong, dan Filipina.

 

Siapa sejatinya mereka? Dan bagaimana mereka bisa seperkasa itu?

 

Buku Asian Godfather: Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan penguasa menjawab kedua pertanyaan tersebut. Inilah buku tentang sekelompok kecil orang-orang yang sangat kaya—para miliarder Asia—yang muncul dan mendominasi ekonomi kawasan mereka di era pasca Perang Dunia II.

 

Untuk keperluan pembahasan buku ini, Asia Tenggara didefinisikan sebagai lima negara anggota asal Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN)—Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Filipina—plus Hong Kong, sebuah tempat yang secara tradisional jadi pusara sehingga memungkinkannya jadi bagian dari 'China Raya' dan Asia Tenggara, sesuai dengan kepentingan dirinya.

 

Keenam entitas itulah yang menentukan cerita ekonomi kawasan mereka. Mereka menjadi kontributor di kawasan tenggara yang pada 1993 mendapat julukan sebagai 'Keajaiban Asia Timur' dari Bank Dunia. Adapun godfather (para miliarder Asia) yang dimaksud di antaranya Li Ka-shing, Robert Kuok, Dhanin Chearavanont, Liem Sioe Liong, Tan Yu, dan Kwek Leng Beng.

 

Berpengalaman sebagai reporter selama belasan tahun di kawasan Asia, Joe Studwell, penulis buku ini, melukiskan secara detail potret diri dan lakon bisnis para godfather: keberanian, kekejaman, kedermawanan, kelihaian, keculasan, kehidupan seksual, pergulatan membangun kongsi, serta komitmen dan pengkhianatan terhadap politisi, preman, juga triad dan sindikat.

 

Penggunaan istilah godfather dalam buku ini bertujuan merefleksikan tradisi-tradisi paternalisme, kekuasaan laki-laki, penyendirian dan mistik yang benar-benar jadi bagian dari kisah para taipan Asia. Adapun inspirasi judul buku ini bersumber dari novel dan film Mario Puzo, dengan judul yang sama, the Godfather.

 

Berdasarkan pengamatan Studwell, para godfather Asia adalah elite yang tidak khas, sebuah aristokrasi ekonomi dari orang luar yang bekerja sama setengah hati dengan kalangan elite lokal. Secara kultural, para godfather Asia adalah para bunglon yang cenderung berpendidikan bagus, kosmopolitan, berbahasa lebih dari satu dan sepenuhnya terisolasi dari perhatian membosankan dari orang-orang yang dianggap sanak mereka. Lebih dari itu—dan berlawanan dengan prasangka umum—para taipan di kawasan tersebut jauh dari sifat kechinaan. Hanya minor yang benar-benar China dengan afiliasi kultural serta linguistik yang kuat pada China.

 

Para taipan lain memang benar-benar China, tapi telah kehilangan banyak afiliasi kultural mereka. Banyak dari mereka orang Eurasia, meski garis darah non-China kadang-kadang dipandang sebagai sumber kerendahan martabat dan dinistakan. Bahkan, ada pula godfather yang sama sekali bukan China.

 

Buku ini menunjukkan, perilaku mayoritas etnis China di kalangan taipan tidak berbeda secara substantif dari para taipan Inggris atau Skotlandia di Hong Kong, godfather etnis Spanyol di Filipina atau orang terkaya di Malaysia, yang merupakan orang Tamil Sri Lanka. Mereka didefinisikan, pertama, dalam konteks ke-godfather-an dan, kedua, berdasarkan ras.

 

Dalam bagian awal, Studwell berusaha mengemukakan struktur organisasi tiap negara atau tiap godfather. Dia mengorganisasinya dengan tema-tema. Sementara itu, bagian dua, yang berjudul "Bagaimana Menjadi Godfather Pascaperang", menggambarkan bagaimana para godfather mengembangkan aliran kas inti, membangun organisasi yang tepat dan mengembangkan kapabilitas perbankan, dengan contoh-contoh untuk mendukung setiap pernyataannya.

 

Studwell mengemukakan fakta dan pendapatnya bahwa penciptaan kekayaan riil mestinya menaikkan produk domestik bruto (PDB). PDB di Asia Tenggara sangat terkait dengan nilai ekspor dari tahun ke tahun. Sayang, para godfather tidak memainkan peran dalam sektor bisnis ekspor karena kompetisi yang sangat ketat, beda halnya dengan sektor monopoli yang tanpa persaingan. Dalam hal ini, menurut Studwell, mereka tidak memiliki kontribusi terhadap perkembangan ekonomi dalam suatu wilayah; lemahnya pemerintahan-lah yang membuat mereka tetap meneruskan monopoli mereka terhadap aset-aset yang mereka kelola.

 

Pada akhirnya, Studwell menolak pandangan bahwa menjadi orang China memberikan potensi ajaib untuk mendapatkan kesuksesan dalam ekonomi. Studwell menunjukkan bahwa pre-dominasi etnis China di antara para godfather sebenarnya berasal dari masa kolonial dan pola-pola emigrasi dan bukan dari sifat genetis.

 

* M. Iqbal Dawami, staf pengajar STIS Magelang

_____________________________

 

DATA BUKU

Judul                : ASIAN GODFATHERS

Penulis            : Joe Studwell

Penerjemah     : Yanto Musthofa

Editor               : Julie Indahrini

Penerbit           : Alvabet, Jakarta

Genre              : Ekonomi-politik

Cetakan           : I, Maret 2009

Ukuran             : 15,5 x 23 cm

Tebal               : xli + 387 (termasuk indeks)

ISBN                  : 978-979-3064-63-5

Harga              : Rp. 85.000,-



==========================================
Pustaka Alvabet
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl. Ir. H. Juanda No. 5A, Ciputat
Jakarta Selatan Indonesia 15411
Telp. +62 21 7494032,
Fax. +62 21 74704875
www.alvabet.co.id


__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

[ac-i] Warta Komunitas Kreatif Bali # 32



Sahabat,
Barangkali ada pertanyaan kemana saja beberapa minggu ini menghilang. Beribu maaf kami bermasalah dengan email database, sehingga baru kali ini baru dapat menyapa kembali. Namun kabar-kabar anyar tetap seperti biasa tersaji untuk Anda semua. Selain di edisi yang terbaru ini, silakan cek pula berita lampau nan tetap inspiratif. Dari Bali salam untuk hari-hari yang lebih baik...

GARAGE SALE GELARAN DENPASAR BALI SUNDAY MARKET
Barangkali banyak diantara kita yang belum mengetahui bahwa di Denpasar telah ada komunitas yang menggelar acara Garage Sale setiap minggunya. Komunitas yang menamakan dirinya Denpasar Bali Sunday Market ini tidak hanya melakukan aktifitas jualan setiap hari Minggunya. Namun juga melakukan kegiatan social dengan mengunjungi dan memberikan donasi kepada Panti Asuhan. (more…)
 
International Young Creative Entrepreneur Competition
Daftarkan sekarang juga diri Anda di ajang IYCE dan jadilah duta Indonesia ke Inggris (more…)
KREATIVITAS UNTUK MENINGKATKAN DAYA SAING DAN MENCAPAI KEMANDIRIAN BANGSA
Pembangunan yang berbasis pengetahuan harus didukung oleh sumber daya
manusia yang kreatif dan inovatif sehingga dapat meningkatkan daya saing
negara dan mencapai kemandirian bangsa. Salah satu contoh adalah India. (more…)
DESIGN CONFERENCE PERTAMA TERLENGKAP DAN TERBESAR DI INDONESIA
30 Juli, 31 Juli dan 1 Agustus 2009. Pukul 10.00—17.00 WIB. Cendrawasih Room, Jakarta Convention Center.

SEBUAH PERAYAAN INSAN KREATIF-INTELEKTUAL INDONESIA
Adgi’ INDONESIA DESIGN CELEBRATION 2009 adalah sebuah acara design conference yang merayakan semangat kebersamaan komunitas kreatif dan sumber daya insan kreatif Indonesia untuk saling menginspirasikan kegairahan dalam membangun keunggulan kompetitif industri kreatif Indonesia. (more…)

PELATIHAN TEKNOLOGI INFORMASI ALA BBC
Jari-jari Ni Kadek Kristina, 9 tahun, bergerak di keyboard laptop HP 8 inchi
itu. Dia terlihat agak kagok. Untuk mengetik hruf “a” ketika menulis
“petani”, siswa kelas III SD 1 Guwang ini harus lebih dulu mencari-cari
huruf “A” di keyboard. (more…)


ANTUSIASME KOMUNITAS MEMBUAT "OBRAL" PERDANA SUKSES
Ternyata banyak hal terungkap dari acara OBRAL yang digelar Bali Creative Community, Selain peserta yang sangat beragam dari mahasiswa, pekerja kreatif, insan pariwisata, ekspatriat dan tentu saja dari komunitas-komunitas yang ada di Bali. Memang ini bukan sembarang obral. “Obrolan Rabu Malam” ini dilakukan sebagai ajang ngumpul antar komunitas di Bali mengupayakan interaksi untuk membangun jejaring perkawananan yang guyub, kreatif dan produktif. (more…)

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Need traffic?

Drive customers

With search ads

on Yahoo!

Y! Messenger

Group get-together

Host a free online

conference on IM.

Yahoo! Groups

Mental Health Zone

Bi-polar disorder

Find support

.

__,_._,___

[ac-i] Kenapa Pram Menolak Wayang?



Kenapa Pramoedya Menolak Wayang?
Pramudya Ananta Toer
    Selasa, 9 Juni 2009 | 00:59 WIB

    oleh Asep Sambodja

    Ada pernyataan Pramoedya Ananta Toer yang membuat saya masygul. Dalam buku Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir (Depok: Komunitas Bambu, 2008), Pramoedya Ananta Toer mengatakan kepada Kees Snoek bahwa sejak berumur 17 tahun, dirinya sudah menolak wayang, karena wayang pada dasarnya hanya omong kosong belaka.

    Kenapa Pramoedya menilai wayang hanya omong kosong belaka? Menurut Pram, masyarakat Jawa dibesarkan oleh kisah Mahabarata dan mendapatkan inspirasi darinya. Dan, klimaks Mahabarata adalah pembantaian yang dilakukan saudaranya sendiri. Jadi, Pram menyimpulkan, pendidikan budaya Jawa terdiri dari perang saudara. "Oleh karena itu, orang Indonesia tidak pernah akan menang melawan bangsa asing," katanya.

    Pernyataan Pram yang singkat, padat, dan menyesakkan bagi pencinta wayang ini tidak lepas dari interpretasi seorang Pramoedya terhadap Mahabarata dan wayang itu sendiri. Tentu saja dalam menginterpretasikan hal itu pengalaman Pramoedya yang demikian sarat dan berat turut melatarbelakanginya. Penangkapan dan penahanan dirinya selama bertahun-tahun tanpa proses pengadilan di zaman Orde Baru merupakan sebagian saja dari siksaan yang dialaminya.

    Kalau yang menjadi dasar pijakan Pram adalah klimaks Mahabarata, maka apa yang dikatakannya sangat berdasar, bahkan sangat mendasar, yakni adanya pembantaian akibat perang saudara. Dilihat dari perspektif manapun, perang Kurusetra adalah pembantaian sesama saudara. Tapi, kalau kita berupaya mengeksplorasi karya itu, maka yang ditemukan di dalamnya adalah mengenai kehidupan itu sendiri.

    Benar bahwa dalam karya itu digambarkan ada perang. Namun, dalam karya sastra berbentuk epos di manapun di dunia pasti ada digambarkan peperangan, meskipun tidak selalu perang saudara. Bahkan dalam cerita-cerita nabi di Alquran pun ada peperangan. Bagaimana dengan kenyataan seperti ini? Jadi, menurut saya, tidak masalah ada perang dalam karya sastra berbentuk epos, asalkan saja peristiwanya bisa tergambar dengan asyik. Bahkan dalam karya sastra modern pun, seperti dalam Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma tergambar adanya peperangan.

    Lalu, kenapa wayang dikatakan sebagai omong kosong? Tentu saja saya tidak sependapat dengan Pramoedya. Mahabarata dan juga Ramayana adalah karya sastra yang diimpor dari India, sementara wayang merupakan seni pertunjukan dalam bentuk yang lain sama sekali dengan karya sastra itu. Banyak anasir yang saling melengkapi dalam pertunjukan wayang, sehingga yang dinikmati masyarakat bukan hanya pesan dari cerita yang disampaikan dalang, melainkan gamelannya, suara sinden, sabetan dan cara dalang bercerita, dan sebagainya.

    Karena itu, pernyataan Pram tentang wayang sebagai nonsens sangat tidak berdasar.

    Dalam buku itu pula, Pramoedya mengakui bahwa hal yang positif dalam budaya Jawa adalah gamelan, musik polifonik yang dapat disetarakan dengan musik Eropa. "Musik zaman sekarang hanyalah ritme yang monofonik. Dibandingkan dengan gamelan, musik pop Barat tidak ada artinya," tegas Pram.

    Sanjungan Pram itu hanyalah pemanis saja, karena kita tahu bahwa Pram sangat antifeodalisme. Dan itu tercermin dalam budaya Jawa. Selain penggunaan bahasa Jawa yang berlapis-lapis itu, yang menunjukkan posisi penuturnya, Pram juga menolak sistem pemerintahan yang berdasarkan pada budaya Jawa. "Jika budaya Jawa dipakai sebagai ukuran, hanya ada satu orang di tempat teratas yang dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi. Itulah dasar dari budaya Jawa," katanya.

    Pernyataan Pram memang keras. Sekeras orangnya. Padahal, Pram sendiri lahir di Blora, Jawa Tengah. Apakah Pram bukan manusia Jawa? "Tidak, saya merasa sebagai orang Indonesia. Saya berpikir dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa Jawa," jawabnya.
    Demikianlah Pram. Jujur tanpa tedeng aling-aling. ***

    Citayam, 7 Juni 2009



    Akses http://m.kompas.com dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.
    Nilai 2 A A A
    Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
    Stefano Pramono @ Selasa, 9 Juni 2009 | 02:07 WIB
    Saya tidak setuju anda bilang sanjungan Pram terhadap gamelan itu hanya pemanis belaka. Gamelan memang tidak ada bandingannya. Tingkat kompleksitas yang dimainkan sebuah grup gamelan tinggi sekali, membuat musik modern kelihatan terlampau dasar. Umpama musik itu makanan, maka gamelan itu Gulai Kambing (atau taruhlah makanan favorit anda disini), dan musik modern itu hanya nasi garam. Poli-ritme, bukan poli-fonik. Kompleksitas gamelan ada di saling lapis yang terjadi antara ritme2 beda.
    tan jo @ Selasa, 9 Juni 2009 | 01:53 WIB
    Arah perjuangan pak Pram gak jelas, apa yang di bela dan apa yang diperjuangkan. Yang ada hanya rasa ketidaksukaan kepada sesama.

    __._,_.___
    blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

    -----------------------
    Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
    Recent Activity
    Visit Your Group
    Ads on Yahoo!

    Learn more now.

    Reach customers

    searching for you.

    Group Charity

    Hands On Network

    Volunteering has

    never been so easy

    Support Group

    Lose lbs together

    Share your weight-

    loss successes.

    .

    __,_._,___

    [ac-i] EMAK, TANAH, PILPRES, FACEBOOK, DAN PUISI



    Salam dari Rumah Dunia #1:

    EMAK, TANAH, PILPRES, FACEBOOK, DAN PUISI

     Oleh Gola Gong


    "Jika politik kotor, puisilah yang membersihkannya!' (John F Kennedy, mantan Presiden Amerika yang terbunuh)

    ***

    Rumah emakku persis di belakang panggung Rumah Dunia. Tadi sore (Senin, 8 Juni) aku duduk di teras rumah Emak. Di depan rumah Emak ada jalan kecil seluas 2,5. Persis di seberangnya ada tanah kosong milik penduduk. Nah, setelah tanah kavling itulah terbentang tanah yang sedang Rumah Dunia incar, seluas 2873 m2. Persis di depan jalanan kampong Ciloang. Andai tanah itu berhasil kami bebaskan, di atasnya akan kami bangun WC umum untuk warga yang masih memanfaatkan irigasi untuk nyuci dan buang hajat, gedung kesenian, hedung perpustakaan, kios jajanan kampong, ruang pameran, lapangan basket.

    BERUNTUNG
    "Sudah berapa meter?" Tanya Emak. yang selalu kangen kepada Bapak. Di sela-sela itu, Emak sering merindukan Bapak yang wafat Desember 2007, duduk di sore hari menikmati kicauan burung, persis seperti yang kami lakukan sore itu.

    "Sudah 525 meter persegi, Mak…"
    "Subhanallah. Kamu beruntung, orang-orang percaya sama kamu. Bersyukurlah kamu kepada Allah…"
    Ya. Aku beruntung. Setiap saat pula aku bersyukur atas apa yang sudah Allah berikan. Aku bercerita kepada Emak, sejak proyek tanah ini digulirkan 20 April lalu, tanah seluas 2873 meter persegi seolah mimpi yang berada di langit. Sulit kami jangkau. Seperti tidak mungkin.

    "Kita serahkan semuanya kepada Allah," kataku kepada para relawan. "Kita punya niat baik. Percayalah, orang baik ada di mana-mana. Dan yang menyumbang kepada Rumah Dunia, adalah orang yans betul-betul terpilih. Allah yang mengerakkan hati mereka. Betul-betul ikhlas."

    Aku tahu, dengan caranya masing-masing, orang-orang menyumbang ke Rumah Dunia. Do'a, tenaga, pikiran, dan materi, semua mengalir ke Rumah dunia. Di berbagai mailing list, face book, blog, dan segala macam rupa, aku lepaskan rasa malu ini, agar tanah seluas 2873 m2 itu berhasil dibebaskan.

    Keduaanakku; Bella (1) dan Abi (10), setiap hari selalu menayakan, "sudah berapa meter, Papah?' Istriku – Tias Tatanka, tiada lelah mengirimkan SMS, surat himbauan lewat pos, postingan di internet, undangan keikutsertaan di "Writing Cam : Bikin Novel dan Film, Yuk!", agar tiap hari selalu bertambah tanah yang terbebaskan. Para relawan juga bergerak semampu mereka. Seperti Sabtu (6/6) lalu, mereka menjilidi kupon.

    GOTONG ROYONG
    Dan selalu saja bertambah setiap harinya; 1 meter persegi, hingga 4 meter persegi. Seperti Minggu (7/6) siang itu. Seorang lelaki bernama AW, adik temannku yang seorang pemusik dan sudah almarhum, datang ke Rumah Dunia menyerahkan uang Rp. 1 jt. "Kami ikutan nyumbang, Mas Gong,." Katanya. Atau yang mengbarkan sudah mentransfer semester atau 2 meter persegi lewat SMS.

    Ada yang sudah aku kenal. Tapi, hampir kebanyakan rata-rata belum aku kenal. Mereka pembaca novel-novelku. Aku dipertemukan mereka di facebook. Luar biasa. Hanya saja, silaturahmiku dengan saudar-saudaraku di facebook tehenti sejenak, karena akunku dinon aktifkan. Aku sebetulnya sedang tune in, enjpy banget dengan akun Gola Gong yang sudah mencapai 5000-an teman. Untung aku memiliki akun yang lain; Balada Si Roy. Kata beberapa temanku, :"Tunggu seminggu. Biasanya aktif lagi."

    Emak menatapku, "Facebook? Apa itu?"
    "Semacam ruang pertemuan, Mak. Seperti Emak dulu biasa rapat. Bertemu dengan teman lama dan teman baru. Emak menceritakan rencana dan semua orang di ruangan rapat itu menyetujui, bahkan membntu Emak secara materil."
    "Subhanallah…"
    Aku menatap ke seberang rumah Emak. Tanah kosong itu…
    "Tapi, apa mungkin 5000 temanmu itu menyumbang semua?"
    "Tidak tahu, Mak. Apalagi sekarang fasebooknya dinon-aktifkan."
    "Kalau seorang menyumbang Rp. 50.000 atau Rp. 100.000,- saja…," Emak berandai-andai. "Seperti zaman dulu, gotong royong. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul…"

    Aku diam saja, mencoba menerawang ke orasi Guntur soekarnoputra pada acara ulang tahun Bung Karno di Rangasdengklok Karawang, 6 Juni lalu. Di orasinya Gintur mengatakan, "Ajaran Bung Karno adalah Marhaenisme, sosialisme yang berdasrkan Ketuhanan yang Maha Esa. Gootong royong, Itulah intinya ekonomi kerakyatan. Kita harus menghidupkannya lagi. Dan itu ada di Mega-Pro!"

    "Atau, kenapa kamu nggak minta ke Gubernur Banten saja?" kalimat Emak membuyarkan lamunanku.
    "Apa, Mak?"
    "Coba datang ke gubernur Bnten!"
    Aku terdiam.
    Emak juga.
    Beberapa saat sepi.
    Daun pohon mangga bergoyang-goyang. Udara sore dingin. Pukul 11.00 tadi hujan lebat mengguyur Rumah Dunia.

    "Katanya, haga kuda Prabowo Rp. 3 milyar?" kalimat ini makin mengagetkanku.
    Aku kini tersenyum.
    "Suruh saja Prabowo menjual kudanya dan sumbangkan ke Rumah Dunia. Nanti kamu suruh anak-anak Rumah Dunia nyoblos Mega-Pro."
    Emak ada-ada saja.

    "Di berita TV, uang puluhan milyar dibuang untuk pesta Pilpres," protes emak, yang pernah jadi Kepala Sekolah SKKPN (Sekolah Keputrian) dan jadi jurkam Golkar pada era 70-an di Serang.

    Aku diam saja. Aku teringat saat Emak berkampanye untuk Golkar di era 70-an. Suatu hari Emak tampak penuh beban. Beberapa hari kemudian, Emak mengundurkan diri jadi jukam dan dari organisasi Golkar.

    "Emak tahu, kamu tidak akan melakukan itu,"
    Aku menghela nafas.

    "Kamu yakin 1 Juli nanti uang akan terkumpul? Sekarang baru 525 meter persegi. Masih ada 2300-an meter lagi."
    "Hanya Allah yang tahu, Mak."

    "Kalau tidak terkumpul uangnya, bagaimana? Awas, itu uang amanah. Sepeser pun kamu jangan memakainya!"
    "Insya Allah tidak, Mak,"aku mengangguk, memberi jaminan.
    "Emak nyumbang 2 meter saja, ya. Katanya, akan ada gaji ke-13 Juni ini."
    "Terima kasih, Mak…"

    SORGA
    Suara adzan Mahgrib berkumandang. Aku beranjak, mencium punggung lengan Emak. Dulu, ketika aku remaja, setelah mencium punggungnya, biasanya aku pergi meningalkan Emak untuk beberapa waktu.atau ketika aku pulang dari bepergian. Kini, setiap ada kesempatan, aku selalu mengunjunginya, mencium punggung lengannya, menenamni hari-harinya yang sepi sepeninggal Bapak. Adikku kini yang menemani Emak, beserta istri dan ketiga anaknya. Rumahku dan rumah Emak hanya dibatasi Rumah Dunia. Rumahku di sebelah selatan dan rumah Emak di sebelah utara, persis di belakang panggung Rumah Dunia.

    "Kamu masih menulis puisi?" pertanyaan Emak mengagetkanku.
    Aku menggeleng.

    "Emak ingat, kamu pernah mengatakan, bahwa syarat utama istrimu harus bisa menulis puisi."
    Aku terenyum. Tias Tatanka – istriku, pandai menulis puisi.
    "Kamu meyakini, jika orang meulis puisi, hatinya jadi lembut dan mmiliki nurani."
    Aku mengangguk, walaupun sebetulnya banyak orang berhati lembut dan bernurani tidak pandai menulis puisi atau sebaliknya.

    Ketika aku meninggalkannya, walau hanya untuk pulang ke rumah yang jaraknya sekitar 50 meteran saja, hatiku selalu diliputi rasa penyesalan. Aku masih merasa belum mampu berbhakti kepadanya. Belum mampu membalas seluruh kebaikan hidupnya, yang diserahkan untuk anak-anaknya.

    Dan aku tahu, ada sorga di Emak.(*)

    *) Rumah Dunia, Kampung Ciloang, Serang – Banten
    *) 8 Juni 2009, pukul 19.05

    __._,_.___
    blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

    -----------------------
    Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
    Recent Activity
    Visit Your Group
    Give Back

    Yahoo! for Good

    Get inspired

    by a good cause.

    Y! Toolbar

    Get it Free!

    easy 1-click access

    to your groups.

    Yahoo! Groups

    Start a group

    in 3 easy steps.

    Connect with others.

    .

    __,_._,___

    Bls: [ac-i] penyair afrizal malna, sastrawan antok serean, dan usia semesta tak bertepi



    okey, mat menikmati sisa usia aja ya moga selalu bermanfaat dan selalu ada kejutan dalam perjalanan hidup inim salam ali syamsudin arsi


    Mencari semua teman di Yahoo! Messenger?
    Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang!

    __._,_.___
    blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

    -----------------------
    Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
    Recent Activity
    Visit Your Group
    Give Back

    Yahoo! for Good

    Get inspired

    by a good cause.

    Y! Toolbar

    Get it Free!

    easy 1-click access

    to your groups.

    Yahoo! Groups

    Start a group

    in 3 easy steps.

    Connect with others.

    .

    __,_._,___