Wednesday, June 10, 2009

[ac-i] Profile Seniman



Kawan-kawan perupa,

Bila berkenan, buatlah profil anda selengkap mungkin disertai foto diri/ beberapa foto karya lalu diserahkan dalam bentuk CD ke Bentara Budaya Yogya untuk kami gunakan menambah/ mengupdate profil seniman di web Bentara Budaya. (silakan lihat contoh profilnya di http://www.bentarabudaya.com/seniman.php)

Atas kerjasama dan bantuan Anda ini kami mengucapkan terima kasih.

Salam Budaya
Hari Budiono


Yahoo! Mail Sekarang Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya!

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
New web site?

Drive traffic now.

Get your business

on Yahoo! search.

Y! Messenger

Want a quick chat?

Chat over IM with

group members.

Yahoo! Groups

Mom Power

Discover doing more

for your family

.

__,_._,___

Tuesday, June 9, 2009

[ac-i] Selembar Daun Jati Kering



Selembar Daun Jati Kering
 
 
Ada ungkapan dalam bahasa Jawa: luwih aji godhong jati aking... masih lebih berfaedah selembar daun jati kering. Dari ungkapan itu bisa diartikan bahwa selembar daun jati kering adalah sesuatu yang kurang atau hampir tak berguna sama sekali. Meski demikian apa yang kurang atau tidak berguna itu bisa menjadi sesuatu yang berfaedah, bahkan memiliki arti yang sangat mulia. Saya pernah menyaksikan hal ini sendiri.
 
Suatu ketika saya bermain ke rumah kawan saya yang tinggal di sebuah rumah yang sederhana. Tak ada kemewahan apapun di dalamnya... mungkin hanya sebuah pesawat televisi berwarna yang ada di ruang tamu, kalau itu bisa disebut sebagai suatu kemewahan.
 
Saya sudah biasa main ke rumah itu dan sudah biasa bagi saya untuk blusukan sampai ke dalam ruang makan atau ruang dapur. Bahkan saya pun kadang makan di situ.
Suatu ketika saya masuk ke dalam dapur: dapur berlantai tanah dengan kayu bakar sebagai sumber apinya. Meski berlantai tanah dapur itu disapu bersih sehingga tidak nampak jorok. Di atas meja dapur yang lebar terletak semua peralatan dapur: alat-alat masak, bumbu-bumbu dapur, beberapa piring dan gelas. Dan di antara pernak-pernik dapur tersebut terletak dengan tenang dan anggun sehelai daun jati kering.
 
Aku mengamati daun jati itu cukup lama: betapa sederhana ia, betapa biasa bentuk dan warnanya... dan betapa seringkali kita memandangnya sebagai sesuatu yang tidak berharga saat kita melihatnya di kebun belakang rumah atau di pinggir jalan. Namun di dalam sebuah dapur yang sederhana, di rumah yang sederhana... dalam sebuah keluarga yang sederhana dan harmonis... sehelai daun jati kering ternyata memiliki arti yang mulia.
 
Mau tidak mau saya merenung dalam: apa yang membuat sehelai daun jati kering tersebut bisa menjadi berarti? Mungkin karena ada Cinta di dalam keluarga tersebut. Cinta sang ibu pada anaknya, cinta sang nenek pada cucunya, cinta sang suami pada istrinya dan anaknya yang masih kecil...  Sehingga sesuatu yang sangat sederhana seperti sehelai daun jati kering pun menjadi begitu berharga: ia bisa digunakan untuk menyalakan api dapur, memasak bubur untuk si kecil dan membuat hati ibunya merasa bahagia...
 
Sementara di tempat lain, ada begitu banyak kekayaan yang tidak berguna, yang menjerat pemiliknya ke dalam berbagai masalah dan kesusahan.
 
Salam,
ys

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
New web site?

Drive traffic now.

Get your business

on Yahoo! search.

Y! Messenger

Want a quick chat?

Chat over IM with

group members.

Yahoo! Groups

Everyday Wellness Zone

Check out featured

healthy living groups.

.

__,_._,___

[ac-i] Nanti Malam Menkominfo Nonton 'Presiden Balkadaba' [1 Attachment]

[Attachment(s) from hanif nashrullah included below]

Salam Budaya!

Menkominfo, M.Nuh, dijadwalkan hadir menyaksikan pentas musik-puisi 'Presiden Balkadaba' oleh Emha Ainun Nadjib dan Kelompok Kiai Kanjeng di Gedung Utama Balai Pemuda, Jl. Gubernur Suryo 15 Surabaya, nanti malam, Rabu (10/6).
------------------------------
Laporan selengkapnya tentang liputan pementasan Presiden Balkadaba yang telah berlangsung tadi malam, Selasa (9/6), salah satunya bisa dibaca di link (tanpa spasi) http://surabaya.detik.com/read/2009/06/09/234429/1145175/466/presiden-balkadaba-benar-benar-menyihir. Berikut ini kutipannya:

Selasa, 09/06/2009 23:44 WIB
'Presiden Balkadaba' Benar-benar Menyihir
Steven Lenakoly - detikSurabaya

Surabaya
- Kritik pedas terhadap pemerintahan disajikan secara lugas dan apik oleh Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun. Kritik yang cukup tajam itu pun berubah menjadi tawa yang menggelitik.

Dalam pagelaran Musik Puisi 'Presiden Balkadaba' yang disajikan oleh Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Balai Pemuda, Surabaya, Selasa malam (9/6/2009), sarat dengan kritikan. Perilaku pejabat maupun para pemimpin negeri yang tak memedulikan nasib rakyat diblejeti dengan kemasan yang membuat penonton tersihir.

Cak Nun dengan apik membawakan tiap syair puisi yang dibuatnya dengan aroma yang santai namun serius. Sehingga ratusan penonton tak terasa cukup menikmatinya selama pertunjukan yang berlangsung 2 jam ini.

Pagelaran ini menceritakan tentang sebuah kisah perjalanan seseorang dalam mencari jati dirinya. Perjalanan itulah yang menjadi inti kritik pedas bagi pemerintahan sekarang. Perhatikan penggalan puisi Emha berikut ini, "Di negeri ini satu bisa dianggap dua, tiga atau empat...Dua bisa diundang-undangkan menjadi tiga atau empat...Di negeri ini satu tidak pasti satu, dua tidak benar-benar dua..". Penggalan ini gamblang menyampaikan bahwa di Indonesia segala sesuatu bisa dirubah asal ada kesepakatan bersama antara penguasa.

Ada pula puisi yang menggelitik, "Mbah Sodron aku rindu ilermu yang keluar dari sudut bibir sebelah kiri..". Mbah Sodron menggambarkan tempat peraduan seorang anak manusia atau tempat mengeluh.

Serta ada pula puisi yang bernada satir yang ditujukan kepada para pejabat. Penggalan puisi itu yakni, "Darahku mendidih melihat pejabat-pejabatnya... Mereka tidak layak duduk di kursinya..". Puisi ini terlihat jelas bahwa muaknya melihat perilaku pejabat.

Cak Nun tidak hanya apik membawakan puisi namun juga sangat luar biasa menata alunan musik pengiringnya. Musik yang disajikan Kiai Kanjeng adalah alat musik gabungan antara alat musik modern berupa gitar listrik dan bass dengan alat musik tradisional berupa gamelan.

Perpaduan ini membawakan melodi irama yang menarik. Musik yang dibawakan juga tidak melulu musik ritmis namun diselingi dengan alunan musik jazz, pop hingga irama dangdut. Tata suara juga pas di telinga dan memenuhi seluruh ruangan.

Pertunjukan jenis puisi bertutur dengan iringan musik yang didukung detiksurabaya.com ini akan dipentaskan selama dua hari, 9-10 Juni 2009. Dan pagelaran yang sama juga akan digelar kembali di Gedung Kesenian Jakarta tanggal 20 Juni 2009 dalam rangka Anniversary Festival VII-2009.

Apa itu balkadaba? Balkadaba adalah salah satu binatang yang ikut serta masuk dalam rombongan perahu Nabi Nuh untuk berlindung dari banjir besar akibat pencairan kutub selatan yang kemudian mengubah dataran sangat luas dari timur Afrika hingga Papua menjadi archipelago atau kumpulan ribuan pulau-pulau.

Namun Iblis, makhluk Tuhan yang sangat dahsyat kekuatan dan kemampuannya, serta yang penuh rahasia dan kontraversi tugas-tugasnya, diam-diam menyelundupkan dirinya ikut masuk ke perahu Nabi Nuh dengan 'gandholan' di ekornya Balkadaba. (gik/gik)

--------------------------------
Nanti malam, Rabu (10/6), pementasan yang sama (sekaligus yang terakhir) di Gedung Utama Balai Pemuda, Jl. Gubernur Suryo 15 Surabaya, akan berlangsung mulai pukul 20.00. Bagi yang belum menyaksikan, kami persilahkan datang berbondong-bondong untuk nonton bareng Menkominfo, M. Nuh. :)

Surabaya, 10 Juni 2009

Hormat Kami,
a/n Dewan Kesenian Surabaya
Hanif Nashrullah



__._,_.___

Attachment(s) from hanif nashrullah

1 of 1 Photo(s)

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
New business?

Get new customers.

List your web site

in Yahoo! Search.

Y! Messenger

All together now

Host a free online

conference on IM.

Yahoo! Groups

Cat Zone

Connect w/ others

who love cats.

.

__,_._,___

Re: [ac-i] Bahasa Ibu, Penyerahan Hadiah Sastra Yayasan Rancagé dan diskusi panel/Erasmus huis [1 Attachment]

[Attachment(s) from bambang hidayat included below]

Pak Paul Peters Yth.,
Biasanya saya menghadiri acara Rancage-nya Pak Ayip Rosidi. Saya hormati sekali usaha2 beliau yang konsisten membina bahasa Sunda (terutama) dan bahasa Ibu lainnya. Bersama ini saya kirim tulisan saya sehubungan dengan usia beliau ke 70 2 tahun yang lalu. Kiranya berkenan menerimanya.
Salam, dan sampai bertemu tanggal 24-06 yad.
B.Hidayat.



__._,_.___

Attachment(s) from bambang hidayat

1 of 1 File(s)

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

[ac-i] BODYSCAPE - Pameran Tunggal Ugy Sugiarto, Seniman Otodidak asal Wonosobo [1 Attachment]

[Attachment(s) from kapri yojo included below]

UNDANGAN

Kami undang Anda pada
Pembukaan Pameran Tunggal Ugy Sugiarto

BODYSCAPE

Mon Decor Art Space
City Plaza UG 08, Wisma Mulia
Jl. Gatot Soebroto No. 42, Jakarta 12710

Sabtu, 13 Juni 2009
Pukul 13.00 WIB (jam 1 siang)
Dibuka oleh Bapak Syakieb A. Sungkar

Penghadiran karya-karya perupa Ugy Sugiarto dalam pameran tunggalnya yang pertama ini membawa dua hal penting yang layak untuk dipercakapkan. Pertama, Ugy muncul dengan cukup istimewa sebagai semacam "anomali" dalam pelataran seni rupa Indonesia kini karena dia "hanya" berangkat dari seniman yang belajar secara otodidak dan berasal dari kota kecil Wonosobo, Jawa Tengah. Realitas ini tentu berseberangan dengan kecenderungan menyeruaknya mayoritas para perupa Indonesia—terutama di level menengah dan atas—yang berangkat dari ranah akademis dan berproses di kawasan-kawasan (yang masih dianggap paling) penting dalam seni rupa, yakni Yogyakarta, Bandung, dan Bali. Perupa ini berjarak dari kecenderungan tersebut: Ugy "hanya" lulusan Sekolah Menengah Umum, bukan dari Sekolah Menengah Seni Rupa atau apalagi pernah menenggak pendidikan di Fakultas Seni Rupa, dan "sekadar" berproses kreatif di kawasan yang tak tertilik bahkan mungkin "ahistoris" dalam percaturan seni rupa di Indonesia.

Kedua, Ugy membawa banyak pesan dalam "tubuhnya". Publik bisa menyimak bahwa—lewat karya-karyanya—Ugy tengah memperlihatkan "taji" kreativitasnya dengan menampilkan kepiawaian melukis secara hiper-realistik. Ini sebuah kecenderungan kreatif yang klasik namun tidak banyak digeluti oleh banyak perupa di Indonesia, bahkan dari mereka yang berangkat dari dunia akademis. Kecenderungan kreatif semacam ini membutuhkan ketrampilan teknis berikut akurasi dan ketelitian yang cukup langka digeluti oleh para seniman pada kurun waktu mutakhir. Dan lebih dari itu, dalam karya-karyanya banyak bermukim "politik tubuh" yang disodorkannya tidak sekadar tubuh dalam kerangka perbincangan personalitas Ugy, namun lebih jauh dari itu, tubuh sebagian representasi perbincangan ihwal isu sosial kemasyarakatan.

Ugy, dengan kapasitas kreatifnya yang telah memadai, tak luput dari keterpengaruhan budaya di luar dirinya beserta pola tafsirnya untuk mengonstruksi tubuh-tubuh dalam lukisannya menjadi tidak otonom. Kalau menyimak karya-karya Ugy, tubuh-tubuh dan potret diri yang dikemukakannya begitu berkait erat—dan berlangsung secara hilir-mudik—antara problem yang personal dan yang sosial. Tubuh yang bermukim dalam kanvas ditempatkan tidak hanya sebagai perangkat tanda visual atas realitas dirinya sendiri, melainkan (bisa sekaligus) berposisi sebagai cermin(an) atas realitas yang lain. Dan bisa jadi, tubuh dikonstruksi secara arbitrer ("sewenang-wenang") untuk menyoal problem dan kepentingan di luar realitas tentang tubuh. Di sini publik bisa berasumsi bahwa tubuh dalam "realitas kanvas" adalah tubuh tempat bersarangnya segala kemungkinan praktik kuasa, baik kuasa bahasa, politik, sosial, ekonomi, atau budaya secara umum. Semuanya berebut untuk menubuh dalam tubuh, mengambil peran dalam pola representasi ats tubuh tersebut.

Hal penting yang bisa menggarisbawahi nyaris semua karya Ugy ini adalah bahwa sesungguhnya dalam representasi tubuh tak hadir sekadar sebagai dirinya sendiri namun muncul sebagai tanda. Maka makna gambaran tubuh yang nampak sebagai dirinya itu adalah juga soal ingatan tentangnya, termasuk berbagai makna metaforik yang mengiringinya. Dalam penggambaran tubuh, seorang seniman tak sepenuhnya bisa mengontrolnya, selain mencari dan menetapkan batas-batasnya lewat penggunaan konteks tertentu, menentukan pembatasan ujud nampaknya, serta cara penampakannya secara estetik (yang sering disebut sebagai style).

Tema Bodyscape tidak berangkat dalam tinjauan yang ketat secara teoritik seperti konsep ethnoscape-nya Arjun Appadurai. Namun lebih sebagai upaya peminjaman istilah yang kemudian dialih-ubah untuk mendekatkan pemahaman yang melekat atas "pemandangan tubuh". Dalam pameran ini, tubuh-tubuh yang ditawarkan oleh Ugy tidak sekadar tubuh yang otonom, yang bebas nilai, namun telah disentuh oleh banyak problematika di seputar dan di luar problem ketubuhan itu sendiri. Ini merupakan bentuk lanskap tersendiri yang bisa dibaca lebih jauh dan komprehensif dengan melampaui pembacaan atas problem tubuh an sich. Tubuh, bagi Ugy, bisa menjadi penampang atas pemandangan dirinya di masa lampau ataupun masa tertentu dengan beragam konteks-konteks sosial kemasyarakatan yang melingkupinya.


__._,_.___

Attachment(s) from kapri yojo

1 of 1 Photo(s)

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Search Ads

Get new customers.

List your web site

in Yahoo! Search.

Yahoo! Green

Make It Green

Propose ideas to

better our planet

Y! Messenger

Want a quick chat?

Chat over IM with

group members.

.

__,_._,___

[ac-i] Re: Kenapa Pram Menolak Wayang?



 
Pengarang atau sastrawan adalah juga manusia biasa. Dan sebagai manusia biasa seorang pengarang bisa tidak suka sate Padang atau tidak suka gudeg atau tidak suka nonton doger atau tidak suka pantun Melayu umpamanya. Untunglah Pram seorang pengarang dari etnis Jawa yang berani mengatakan tidak suka wayang. Kalau dia umpamanya dari suku lain, berani bilang tidak suka wayang...walla hu alam bissawab...mungkin kepengarangannya segra batal. Dan barangkali hanya seorang Pram-lah yang berani secara terbuka mengatakan sesuatu yang tidak positif atau kurang antusias tentang sesuatu yang Jawa atau budaya Jawa. Untuk pemikiran Indonesia saat ini, memang adalah logis. Bagaimanapun etnis Jawa tetap dianggap sebagai etnis yang memegang supremasi dalam segala bidang. Orang tidak bisa keluar dari realitas semacam itu. Tapi Pram memang lain. Dia sebagai salah satu dari etnis terbesar dan pemegang supremasi itu, tidak mau terbelenggu oleh kebesaran fiktif etnisnya sendiri. Dia ingin keluar dari budaya feodalisme Jawa dengan  segala risiko pengadilan dari etnisnya sendiri. Jelas bagi setiap orang, bagi Pram kata <Indonesia> bukan sekedar basi-basi, bukan kata demagogi apalagi sebuah kata yang sekedar untuk memenangkan Pemilu atau Pilpres.
 
Dan justru <Indonesia> dalam pengertian Pram, telah membawa karya -karya sastranya ke arena Internasional, go International dan hanya seorang Pram sendiri yang berhasil berada di arena tsb dengan segala respek dan kekaguman yang diberikan masyarakat sastra Internasional secara luas. Bacalah karya-karya Pram, apakah semua buku-bukunya diberati dengan kata-kata Jawa yang tidak dimengerti etnis-etnis lainnya. Pram tidak memaksa diri mengisi buku-bukuya dengan muatan berat sesuatu yang yang bersifat antropologis etnisnya sendiri yang bagi pembaca bangsa lain cumalah bumbu-bumbu pedas dan kelewat manis bagi usus pembaca Internasional. Tapi juga Pram menceritakan tentang bangsanya, etnisnya tanpa takut dituduh tidak patriotik, tidak Jawa dan tidak Indonesia. Dan pembaca Internasional bisa menghargai Pram, menikmati karya-karya Pram. Masyarakat sastra Internasional dapat menerima selera Indonesia pada karya-karya Pram tanpa Pram sendiri harus mengibarkan panji-panji :"Pengarang dari tetesan Mahabarata atau Ramayana" sebagai pewaris sastra dunia. Pembaca Internasional tidak bisa diajari, apalagi cuma diajari oleh orang Indonesia.
Dan  sebagai manusia, mengapa Pram tidak boleh menolak wayang. Apakah wayang itu sudah menjadi agama orang Jawa dan Pram sebagai orang Jawa harus masuk agama wayang itu yang bila tidak dia dianggap murtad.
Saya sendiri sebagai atau kebetulan dari suku Melayu, tapi saya tidak suka akan watak umum bangsa Melayu yang mudah ekstrim tapi juga mudah kompromis. Suka atau tidak suka adalah juga dalam perlindunga hak azasi manusia. Dalam masyarakat manusia moderen sekarang ini tidak ada keharusan atau kewaajiban harus suka atau harus tidak suka.
asahan.
 
 
 
 
 
 
----- Original Message ---
 
 
 
 
 
 
From: sunny
Sent: Tuesday, June 09, 2009 10:53 AM
Subject: [HKSIS] Re: [nasional-list] Kenapa Pram Menolak Wayang?

Mungkin saja Pramoedja itu tidak biasa dengan entertaiment, sebab 90% atau 99% entertaiment itu penuh omong kosong,  cerita fantasi, kelakar, cerita ngao-ngaco disusun rapih untuk menghibur penonton. 
 
Untung saja Pramoedja tidak berpaham Talibanisme, sebab kalau berpaham demikian sudah dikutuk  wayang sebagai  maksiat dalam tulisan-tulisannya. Bukankah begitu?
 
----- Original Message -----
From: Lusi
Sent: Monday, June 08, 2009 8:47 AM
Subject: Re: [nasional-list] Kenapa Pram Menolak Wayang?

Sayapun tertarik dengan makhalah yang dikemukakan ini. Untuk analisa dan melihat saling hubungan yang dipermasalahkan, apakah Bung Bismo bisa memperkenalkan tulisan Pram yang menjadi topik pembicaraan ini selengkapnya? Eh, siapa tahu kita bisa menyelenggarakan seminar layarkaca, semacam lanjutan seminar zaman PPI-se-Eropa dulu lagi.
Salam.
Lusi.-


Am 22:08 08.06.2009 schrieb BDG KUSUMO:


Kenapa Pramoedya Menolak Wayang?
[]  
istimewa
Pramudya Ananta Toer
/
Selasa, 9 Juni 2009 | 00:59 WIB

oleh Asep Sambodja

Ada pernyataan Pramoedya Ananta Toer yang membuat saya masygul. Dalam buku Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir (Depok: Komunitas Bambu, 2008), Pramoedya Ananta Toer mengatakan kepada Kees Snoek bahwa sejak berumur 17 tahun, dirinya sudah menolak wayang, karena wayang pada dasarnya hanya omong kosong belaka.

Kenapa Pramoedya menilai wayang hanya omong kosong belaka? Menurut Pram, masyarakat Jawa dibesarkan oleh kisah Mahabarata dan mendapatkan inspirasi darinya. Dan, klimaks Mahabarata adalah pembantaian yang dilakukan saudaranya sendiri. Jadi, Pram menyimpulkan, pendidikan budaya Jawa terdiri dari perang saudara. "Oleh karena itu, orang Indonesia tidak pernah akan menang melawan bangsa asing," katanya.

Pernyataan Pram yang singkat, padat, dan menyesakkan bagi pencinta wayang ini tidak lepas dari interpretasi seorang Pramoedya terhadap Mahabarata dan wayang itu sendiri. Tentu saja dalam menginterpretasikan hal itu pengalaman Pramoedya yang demikian sarat dan berat turut melatarbelakanginya. Penangkapan dan penahanan dirinya selama bertahun-tahun tanpa proses pengadilan di zaman Orde Baru merupakan sebagian saja dari siksaan yang dialaminya.

Kalau yang menjadi dasar pijakan Pram adalah klimaks Mahabarata, maka apa yang dikatakannya sangat berdasar, bahkan sangat mendasar, yakni adanya pembantaian akibat perang saudara. Dilihat dari perspektif manapun, perang Kurusetra adalah pembantaian sesama saudara. Tapi, kalau kita berupaya mengeksplorasi karya itu, maka yang ditemukan di dalamnya adalah mengenai kehidupan itu sendiri.

Benar bahwa dalam karya itu digambarkan ada perang. Namun, dalam karya sastra berbentuk epos di manapun di dunia pasti ada digambarkan peperangan, meskipun tidak selalu perang saudara. Bahkan dalam cerita-cerita nabi di Alquran pun ada peperangan. Bagaimana dengan kenyataan seperti ini? Jadi, menurut saya, tidak masalah ada perang dalam karya sastra berbentuk epos, asalkan saja peristiwanya bisa tergambar dengan asyik. Bahkan dalam karya sastra modern pun, seperti dalam Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma tergambar adanya peperangan.

Lalu, kenapa wayang dikatakan sebagai omong kosong? Tentu saja saya tidak sependapat dengan Pramoedya. Mahabarata dan juga Ramayana adalah karya sastra yang diimpor dari India, sementara wayang merupakan seni pertunjukan dalam bentuk yang lain sama sekali dengan karya sastra itu. Banyak anasir yang saling melengkapi dalam pertunjukan wayang, sehingga yang dinikmati masyarakat bukan hanya pesan dari cerita yang disampaikan dalang, melainkan gamelannya, suara sinden, sabetan dan cara dalang bercerita, dan sebagainya.

Karena itu, pernyataan Pram tentang wayang sebagai nonsens sangat tidak berdasar.

Dalam buku itu pula, Pramoedya mengakui bahwa hal yang positif dalam budaya Jawa adalah gamelan, musik polifonik yang dapat disetarakan dengan musik Eropa. "Musik zaman sekarang hanyalah ritme yang monofonik. Dibandingkan dengan gamelan, musik pop Barat tidak ada artinya," tegas Pram.

Sanjungan Pram itu hanyalah pemanis saja, karena kita tahu bahwa Pram sangat antifeodalisme. Dan itu tercermin dalam budaya Jawa. Selain penggunaan bahasa Jawa yang berlapis-lapis itu, yang menunjukkan posisi penuturnya, Pram juga menolak sistem pemerintahan yang berdasarkan pada budaya Jawa. "Jika budaya Jawa dipakai sebagai ukuran, hanya ada satu orang di tempat teratas yang dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi. Itulah dasar dari budaya Jawa," katanya.

Pernyataan Pram memang keras. Sekeras orangnya. Padahal, Pram sendiri lahir di Blora, Jawa Tengah. Apakah Pram bukan manusia Jawa? "Tidak, saya merasa sebagai orang Indonesia. Saya berpikir dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa Jawa," jawabnya.
Demikianlah Pram. Jujur tanpa tedeng aling-aling. ***

Citayam, 7 Juni 2009


Akses http://m.kompas.com dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.
Share on Facebook   [] Share on Twitter
[] [] [] [] [] Nilai 2 - Beri Rating Artikel - ---------- Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang A A A [] []
Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Stefano Pramono @ Selasa, 9 Juni 2009 | 02:07 WIB
Saya tidak setuju anda bilang sanjungan Pram terhadap gamelan itu hanya pemanis belaka. Gamelan memang tidak ada bandingannya. Tingkat kompleksitas yang dimainkan sebuah grup gamelan tinggi sekali, membuat musik modern kelihatan terlampau dasar. Umpama musik itu makanan, maka gamelan itu Gulai Kambing (atau taruhlah makanan favorit anda disini), dan musik modern itu hanya nasi garam. Poli-ritme, bukan poli-fonik. Kompleksitas gamelan ada di saling lapis yang terjadi antara ritme2 beda.
tan jo @ Selasa, 9 Juni 2009 | 01:53 WIB
Arah perjuangan pak Pram gak jelas, apa yang di bela dan apa yang diperjuangkan. Yang ada hanya rasa ketidaksukaan kepada sesama.


__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Need traffic?

Drive customers

With search ads

on Yahoo!

Y! Messenger

PC-to-PC calls

Call your friends

worldwide - free!

Group Charity

i-SAFE

Keep your kids

safer online

.

__,_._,___