Wednesday, June 10, 2009

[ac-i] berpikir bersama bahasa



berpikir bersama bahasa
Share
Mon at 1:56pm | Edit Note | Delete

berpikir adalah berpikir dengan bahasa.
berpikir bersama bahasa.

tiap kali kita memakai pikiran dalam ruang sadar, selalu benda abstrak atau benda konkret yang muncul. kata memiliki jenis dan bentuk - kata dalam bahasa - tapi jenis dan bentuk kata, selalu mengacu kepada benda dalam ruang sadar kita. benda yang mengacu kepada makna.

sebuah peristiwa sejarah melintas dan kita mungkin terkenang kepada sukarno atau hamka. sukarno menghukum hamka dan itu adalah peristiwa. tapi sukarno dan hamka sendiri adalah benda, adalah materi.

maka tak ada peristiwa tanpa benda. maka peristiwa adalah benda dengan sifat sifatnya.

dalam penjaranya hamka menulis tafsir qur'an berjilid jilid dan itu adalah benda, materi. yakni buku yang memuat tafsir atas kitab suci. maka kitab suci yang terkandung dalam kata, terkandung dalam bahasa, semisal dosa dan pahala, bahagia atau menderita, itu adalah benda. benda abstrak yang memiliki sifat sifatnya sendiri.

jeruji besi tempat hamka di baliknya berdiam adalah benda. badan terkurung dan kebebasan tubuh berhenti. kebebasan itu adalah benda - makna abstrak dari ketiadaan daya dari benda, tubuh itu, untuk bergerak leluasa di luar penjara.

maka dalam dunia hanya ada benda, materi.

datang dari roh, apa yang kita sebut dengan kebebasan. sebagaimana dengan kebahagiaan atau penderitaan, adalah suatu rasa jiwa, suatu rasa dari roh yang menderita. suatu zat. sebagaimana tuhan sendiri adalah zat - zat yang maha suci.

tuhan adalah zat yang maha suci.
manusia adalah zat yang telah tercemari.

yang ada hanya benda. benda konkret dan benda abstrak.

materi adalah benda konkret. roh adalah zat yakni benda abstrak. yang turun dan mengeram dalam tubuh, materi tubuh; perasaan dan pikiran - ruang kesadaran kita itu - adalah benda abstrak bernama zat - sebagaimana tuhan sendiri itu adalah zat.

maka bahasa adalah sekaligus benda konkret berbentuk lambang beserta medium lambang, serta benda abstrak zat berserta madium zat yang berdiam di dalam lambang.

eter itu kini telah terperangkam ke dalam lambang dari suatu bahasa.

bahasa adalah lambang konkret dan lambang abstrak dari situasi kemanusian. dari situasi tuhan. tuhan membentuk universe dalam enam masa. lalu membentuk adam dari tanah liat hitam. tanah yang membentuk tiap jenis dan bentuk benda, atau bumi itu, bekerja sama dengan matahari untuk menumbuhkan dan menghidupkan.

begitulah segala jenis dan bentuk benda tumbuh dan bersemi, tumbuh dan mati, di bawah langit dan di bawah bumi. langit dan bumi yang memanggil manggil kita kembali. mendatangkan keharuan dan kerinduan. semacam kerinduan kita kepada kampung halaman. kita yang dari tanah dan dipanaskan matahari, yang ditumbuhkan oleh bumi melalui makanan bumi, kini membayarnya dengan rasa rindu-dendam di hati.

bumi adalah ibu semua manusia. tapi bumi berasal dari roh tuhan kita. dan roh tuhan kita berasal darimana?

dan di sinilah labirin maha misteri itu berhenti: darimana gerangan zat tuhan itu berasal? tak darimana mana. maka suatu ateisme sangat mungin menjadi godaan pada manusia. sebagaimana suatu teisme adalah hal yang niscaya.

semuanya adalah soal panggilan hati. dan panggilan hati adalah misteri.

bukan tugas kamu menjadikan manusia beriman.
tugas kamu hanyalah memberi peringatan.
dan peringatan janganlah datang dengan
mengayunkan pedang.
bukan tugas kamu mengayunkan pedang.

tugas siapakah yang mengayunkan pedang?
tak siapa siapa.
karena kita hanyalah mahluknya yang
telah tercemar dalam dunia.
terbelah dalam sebuah paradoks
baik dan buruk.
tinggi dan rendah
sebagaimana bahasa itu
sendiri: baik dan buruk
tinggi dan rendah.
tapi bukan benar atau salah.

aku yang mengalami bahasa adalah aku yang mengalami benda. aku yang hidup di alam benda. maka pada awal mulanya bukanlah kata tapi benda. maka menulis puisi bukanlah membebaskan kata kata tapi mendekatkan kata kata kepada benda. kepada jenis dan bentuk benda. maka kata pertama bukanlah mantra tapi benda.

bagaimana kita hendak mengoperasikan perspektif bahasa dalam pengertian baru seperti ini? perspektif yang tak dijangkau oleh orang orang seperti saussure atau chomsky? mengoperasikannya ke dalam bahasa puisi, atau seni atas kata kata pada umumnya.

adalah tugas seniman kata kata untuk menjawabnya. melalui aktifitas saling menulis dan saling membaca.

ai asyiknya.

hudan hidayat
tuhan kata kata, kaisar kata kata
presiden negara sastra
idih hihi

Written on Sunday · Comment · LikeUnlike
You, Camelia Camel Dananjaya, Priatna Ahmad Budiman, Triwibs Kanyut and 18 others like this.
Camelia Camel Dananjaya, Priatna Ahmad Budiman, Triwibs Kanyut and 18 others like this.
Hudan HidayatHudan
Camelia Camel DananjayaCamelia
Priatna Ahmad BudimanPriatna
Triwibs KanyutTriwibs
Imron TohariImron
Ersta AndantinoErsta
Senja Aditya FajarSenja
Kurniawan YuniantoKurniawan
Niratisaya NisayatariNiratisaya
Gusti RezaGusti
M Aan MansyurM Aan
See all...

Nur Jehan at 2:08pm June 8

berfikir bersama bahasa
berfikir bersama rasa
rasa dalam bahasa

Sandra Palupi at 2:29pm June 8

meniupkan nafas kehidupan pada segala benda menjadi rentetan kata dalam puisi. ternyata, puisi itu ajaib ya.

Poncowae Lou at 2:31pm June 8

nah ini lebih terasa dibanding waktu baru 3 paragraf tadi.

hmm
bagaimana kita hendak mengoperasikan perspektif bahasa dalam pengertian baru seperti ini? perspektif yang tak dijangkau oleh orang orang seperti saussure atau chomsky? mengoperasikannya ke dalam bahasa puisi, atau seni atas kata kata pada umumnya.
... Read More
wah berarti ada kelanjutanya nih

aku menyimak saja dah, ilmuku masih cethek
hehe

Cepi Sabre at 3:49pm June 8

menambahkan saja.

teori mekanika kuantum.
menurut mekanika kuantum segala sesuatu tersusun oleh partikelpartikel seperti elektron, proton dan neutron ditambah meson yang saling bertukaran antar neutron dalam menciptakan gaya inti - yang semuanya selalu bergerak sehingga partikelpartikel penyusun orang yang sedang duduk itu sebenarnya selalu berganti-ganti sifat dari materi ke gelombang dan sebaliknya secara terus menerus.
... Read More
saya pikir bahasa pun sebagai materi tidak akan diam, selalu bergerak. dan pertukaran antar neutron akan selalu terjadi selama manusia berbahasa - berdialog. begitupun bahasa sebagai seni. seperti catatan dinding bang hudan : 'tiap hari udah nulis sastra. tinggal saling menulis dan membaca.'

hanya menulis yang saya tau.

salam.

Dadan N Ramdan at 4:12pm June 8

menerjemahkan bahasa pikiran

Zuraidah Abdul Aziz at 4:31pm June 8

bahasa yang dituturkan ato ditulis? kasian sama si bisu. hiks

Samsudin Adlawi at 5:08pm June 8

rasa bahasa, bahasa dalam pikiran, bahasa dalam hati, bagaimana mencapainya mas hudan...

Priatna Ahmad Budiman at 6:10pm June 8

Bahasa itu kuman dari kesadaran yang siap menular, menginkubasi, menginfeksi atau beranak pinak, bahkan bermutasi di inang berikutnya.

Pringadi Abdi at 6:17pm June 8

sejak saya bergelut di bahasa
(menulis dan mengajar bahasa indonesia)
rasanya memang
ada dua macam istilah
yang mengusik imaji... Read More

logika bahasa dan bahasa logika

keduanya memang harus disatukan

Jehan Syauqi at 9:13pm June 8

saya terus menyimak-

Avie Dewanto at 11:57pm June 8

cuma manusia yang patut diagungkan dari semua makhluk, perintah Sang Pencipta. kenapa? lantaran Sang Pencipta membekali manusia dengan keterampilan meramu bahasa.

nah, kalau ada manusia dan belum mampu meramu bahasa tentulah patut dibawa ke haribaan tuhan hudan. sebab kemampuan berbahasa itulah yang membedakan tuhan, hudan dan saya.

sebagaimana dikatakannya :... Read More
tiap kali kita memakai pikiran dalam ruang sadar, selalu benda abstrak, atau benda konkret, muncul. kata memiliki jenis, bentuk - kata dalam tata bahasa - tapi jenis, bentuk, dari kata, selalu mengacu kepada benda dalam ruang sadar kita. benda yang mengacu kepada makna.

itulah bahasa.

Imron Tohari at 8:02am June 9

aku menyimak mas Hudan "Presiden Negara Sastra Maya" Hidayat

Salam lifespirit!

Antok Serean at 8:12am June 9

seringkali bahasa tak sanggup mengungkapkan "sesuatu" yang ingin mengungkapkan dirinya dari dalam diri. aduh, stres kalau sudah begitu.

Camelia Camel Dananjaya at 2:02pm June 9

(duduk manis dan mnyimak, bang...^^)

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Need traffic?

Drive customers

With search ads

on Yahoo!

Y! Messenger

Group get-together

Host a free online

conference on IM.

Check out the

Y! Groups blog

Stay up to speed

on all things Groups!

.

__,_._,___

[ac-i] nada yang hidup kembali - kenangan akan iwan simatupang



nada yang hidup kembali - kenangan akan iwan simatupang
Share
Mon at 5:06am | Edit Note | Delete

seorang kawan yang telah meninggal, menulis tentang nada bertingkah mati. saya mengambil tulisannya dari buku kebebasan pengarang dan masalah tanah air, yang dieditori oleh oyon sofyan dan frans m. farera, di halaman 65.

bahwa nada bertingkah mati itu, adalah suatu paradoks: nada, bunyi bunyi, irama tentang indahnya hidup dan tarikan maut: mati itu sendiri.

dari sajak sajak poe, melandai gema sebuah lirik dari sebalik bukit bukit kematian, katanya mengutip seorang penulis - andrew lang.

dan apa kata poe - penyair besar pemabuk dan terbelit utang utang dalam hidupnya itu?

"hidupku adalah suatu denyut, rangsang, suatu idaman akan keheningan, suatu cemooh akan semua kekinian dan suatu hasrat yang keras akan ke akanan."

dan kawan saya yang mengutip poe itu, yang kini telah meninggal, dalam praktek hidupnya dan dalam semua kerja sastranya, adalah gemuruh dari nada yang bertingkah mati dan nada bertingkah hidup kembalii - ia cemooh harta dunia dalam merahnya merah. ia cemooh rasa bahagia dalam novelnya ziarah. ia pergi ke kubur istrinya meletakkan bunga bunga, dan setelah itu, ia pun menjadi pemabuk yang memanggil tuhannya keras keras, untuk menangis keras keras, dan menatapi matahari untuk sekedar apakah ia akan membanting langkah kakinya ke kanan, atau ke kiri.

poe sendiri seolah terancam dalam hidupnya, dan menuliskan ancaman itu dalam sebuah cerpen yang karena apungan tanda tanyanya, karena sugestinya, karena tertafsirkannya semua tarikan mati dan tarikan hidup di sana, saya lebih nyaman memperlakukannya sebagai sebuah puisi. puisi akan di balik indahnya hidup ada kematian yang mengancam.

kematian yang datang dari ancang ancang yang unik itu, diletakkan poe dalam sebuah lambang tentang mata seorang lelaki. mata yang selalu, mengganggu kenyamanan hidupnya. puisi terletak di sudut aneh seperti itu, adalah saat ia seolah alam yang riang menawarkan aneka kebahagiaan, tapi bersama itu pula, mata yang awas seakan melihat sebalik cahaya gelap dari awan kematian. selalu, di setiap saat hidup, kematian itu hadir dan melambai kepada kita.

poe yang peka menangkap lambaian kemataian itu, melekatnya ke dalam dunia cerita, dengan memasangnya sebagai mata yang selalu mengganggu hidupnya.

saat saya mengetikkan esai ini, ayah saya sedang melantunkan ayat ayat kitab suci. itu adalah kebiasaan dalam hidupnya yang tua. ia tak masuk ke dalam nada yang bertingkah mati, tapi ia peluk nada yang bertingkah hidup kembali: suatu perasaan bahwa beginilah hidup, bahwa hidup memang menunggu mati, dan di antara kematian, ia merayakan kehidupan dengan iman. iman yang datang dari moral normatif.

tak ada salahnya. sebab itu varian dari paradoksnya tarikan hidup dan tarikan maut. itu adalah watak dari kebanyakan kita. sebaliknya watak poe, watak kawan saya itu, adalah sebuah celah aneh yang tak biasa. celah di mana seseorang seolah ditakdirkan tuhan untuk mengambil posisi mengendap. posisi menunggu, mengintai, akan rangsang hidup dan rangsang maut.

tuhan memberikan kekayaan dirinya ke dalam watak tiap orang. ke dalam watak tiap kecenderungan zaman. nyanyian riang dan nyanyian muram, bergema dari abad abad yang lalu. sampai juga ke abad kita kini. dan kelak akan bergema menjadi sesuatu yang niscaya di abad abad setelah kita mati.

paradoks itu adalah suatu takdir abadi.

tuhan abadi dengan kematiannya.
sebagaimana tuhan abadi dengan kehidupannya.

tak soal kita siap untuk hidup, atau tak siap untuk hidup, kematian dan kehidupan telah menjadi tubuh dan jiwa kita sendiri.

terbaca dalam zarathustra, lagu tarian kedua.

"akhir akhir ini aku pandang matamu, O kehidupan: aku lihat emas berkelipan dalam mata malammu - jantungku berhenti berdetak karena kegirangan:

aku melihat sebuah sampan keemasan berkelipan di atas air hitam, sebuah sampan keemasan yang terayun ayun tenggelam, maju, timbul lagi!

pada kakiku, kakiku yang tergila gila tari, engkau melemparkan lirikanmu, sebuah lirikan yang terayun ayun, tertawa tawa, bertanya tanya, membuat lemas kakiku:

hanya dua kali engkau mengangkat castanet di tangan tanganmu yang mungil - serentak kaki kakiku sudah berloncatan dalam tarian yang menggila.

tungkai tungkai terangkat sendiri. jari jari kakiku menanti nanti apa yang akan engkau katakan: karena penari memasang telinganya - di jari jari kakinya!

apakah nietzsche yang berlari memeluk kudanya dan gila itu masih teringat kata katanya sendiri? apakah "O kehidupan" yang telah ditarikan dan dinyanyikan dalam hidupnya masih terngiang di telinganya saat ia telah sepenuhnya buta dan hilang kesadarannya?

kita tidak tahu. kita hanya tahu bahwa lelaki hebat ini telah menerapkan kata kata poe itu - "hidupku adalah suatu denyut, rangsang, suatu idaman akan keheningan, suatu cemooh akan semua kekinian dan suatu hasrat yang keras akan ke akanan."

denyut dan rangsang yang telah dimainkannya sedemikian rupa dalam hidupnya. tapi lihatlah satu sisi dari poe, yakni "hasrat yang keras akan ke akanan", telah diputarnya sepenuhnya menjadi "cemooh akan semua kekinian". kekinian dari apa apa yang melilit dan merantai setiap mata kaki dan mata jiwanya. ia hendak putuskan semua itu. ia hendak terbang sendiri sebagaimana larik dari chairil: aku ini binatang jalang yang terbuang.

terbuang dari peradaban dari suatu kebudayaan yang dibentukkan oleh eropa yang tentram dengan gereja-nya. oleh suatu pemikiran yang tentram dalam dirinya sendiri.

kini sang rajawali hendak terbang, hendak ke laut dengan membakar semua tali temali dan layar kapal kapalnya. seolah hendak berkata: biarlah tubuhku menjadi kapal mungil dan biarlah gelombang alam kehidupan mengayun ngayunkan kapal mungil tubuhku. sebab aku hendak mereguk pengalaman hidup ini sampai kering. sebab hanya hidup inilah yang nyata bagiku.

ke akan an? benarkah ada keakanan itu? suatu surga yang diceritakan oleh kitab kitab suci akan hidup yang abadi, bagi nietsche seolah sebuah lamunan dari suatu mimpi. lamunan dan mimpi yang hendak ia tolak. hendak ia berantakkan karena ia hanya ingin hidup di bumi ini. hidup dan tak lari dari buminya sendiri. bumi yang bernama derita dan bahagia. bahagia dan derita. derita dan bahagia yang akhirnya membawa kematian bagi dirinya.

dalam suatu arti itu baik. tapi dalam arti yang lain itu sebuah absurditas yang tak alang kepalang: apakah dengan memeluk bumi ini saat ini, seolah adalah segalanya? nietsche jelas datang dari tradisi gereja. atau katakanlah ia datang dari tradisi masjid, orang seperti nietsche tetap akan terlempar dalam kehampaan akan suatu ke akan an yang banyak dikisahkan dalam kitab kitab.

tapi kehendaknya untuk mendayakan segenap kemampuannya untuk memeluk hidup, itu adalah suatu upaya luar biasa dari seorang yang ditakdirkan dalam suatu posisi mengendap, mengintai dalam suatu ruang sempit dari hati kirinya yang paling jauh. lagi pula semua itu, adalah bagian dari misteri tuhan, misteri yang ia serakkan ke dalam segenap wajah wajah dan watak dunia dan siisinya.

tak hendak kita memakaian kata kata bersalah atau dosa, di sini, di hidup yang merentang rentangkan sebuah paradoks baik dan buruk tak berkesudahan. kita hanya menghayati dalam suatu perayaan dari suatu sudut sempit yang lain. sudut yang menjadi bagian dari posisi mengendap dan mengintai itu sendiri.

baik dan buruk, benar dan salah, dosa dan pahala, baiklah kita telunjukkan saja kepada sang pencipta paradoks abadi itu sendiri - tuhan yang jauh di sana. yang mungkin senyum dan mungkin tertawa melihat segala salto dari kehidupan yang dibuat oleh manusianya.

manusia tak hendak menyarah kepada tuhan.
tapi manusia pun menyerah kepada tuhan.
ikhlas dalam kitab kitabnya.
ikhlas dalam bimbingan telunjuk tangan dunianya.

adalah doa dari nabi yunus yang saya ambil dari kitab injil, sebuah doa dari ia yang sedang mengalami momen momen sakratul maut, bukan momen sakratul maut yang berjalan seolah film yang diputar panjang dalam hidup semisal orang seperti nietsche. tapi momen sakratul maut dalam satu hitungan detik di mana nyawa dan kematian bisa merenggutkan seseorang di detik itu juga.

dalam alkitab halaman 997 (2207), terbentanglah doa orang dalam sakratul maut itu.

"berdoalah yunus kepada tuhan allahnya, dari dalam perut ikan itu, 2 katanya:

dalam kesusahan aku berseru
kepada tuhan,
dan ia menjawab aku,
dari tengah tengah dunia orang
mati aku berteriak,
dan kau dengarkan suaraku

3 telah kau lemparkan aku ke tempat
yang dalam,
ke pusat lautan,
lalu aku terangkum oleh arus air;
segala gelora dan gelombangmu
melingkupi aku.

4 dan aku berkata: telah terusir aku
dari hadapan mata-Mu
mungkinkah aku memandang
lagi baitmu yang kudus?

5 segala iar telah mengepung aku,
mengancam nyawaku;
samudera raya merangkum aku,
lumut lautan membelit kepalaku

6 di dasar gunung gunung
aku tenggelam ke dasar bumi;
pintunya terpalang di belakangku
untuk selama lamanya.
ketika itulah engkau naikkan
nyawaku dari dalam liang kubur,
ya tuhan allahku.

7 ketika jiwaku letih lesu di dalam aku,
teringatlah aku kepada tuhan,
dan sampailah doaku kepadamu
ke dalam baitmu yang kudus.

8 mereka yang berpegang teguh pada
berhala kesia siaan,
merekalah yang meninggalkan dia,
yang mengasihi mereka dengan
setia.

9 tetapi aku, dengan ucapan syukur
akan kupersembahkan korban
kepadamu;
apa yang kunazarkan akan kubayar
keselamatan adalah dari tuhan!"

10 lalu berfirmanlah tuhan kepada ikan
itu, dan ikan itu pun memuntahkan
yunus ke darat

saya tahu itu kitab suci. saya tahu itu firman yang turun ke nabi nabi. dalam kitab quran pun cerita yunus adalah cerita orang yang sakratul maut, dan yang sama indahnya dengan kitab injil ini - ekspresi orang yang sakratul maut itu. yunus berkata dalam kutipan yang saya bahasakan sendiri:

"ya tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri. sedang engkau adalah maha penyayang dari segala yang penyayang."

dua ekspose akan pengalaman sakratul maut itu, bagi saya sama indahnya dari sudut bahasa. keindahan dari muram lain yang riang. muram dan riang karena kita tahu bahwa sang aku di sana sedang dan tengah bergantung dengan tuhannya. aku memang ditempatkan seolah di atas udara, dengan tali genting yang hendak putus. tubuh berayun ayun di udara, dan hanya sedikit dorongan angin tali putus dan tubuhpun meluncur ke bawah. batu batu tajam dan besar akan menerima tubuh yang terayun itu.

tapi tuhan datang dengan penyelamatan.
tapi tuhan tak datang kepada orang seperti nietsche dengan penyelamatan.

nabi dan manusia sama sama pengemban wahyu tuhan. tapi wahyu tuhan turun kepada nabi sebagai jalan penyelamatan, sebagai suatu medium untuk menguakkan misteri misteri semesta dalam sisi kanan jauhnya. sedang manusia hanya menguakkan wahyu tuhan dalam sisi sisi muramnya. muram yang kelam dari sebuah jalan yang ditempuh oleh semisal nietsche, poe atau iwan simatupang. yang bergerak ke sisi sisi kiri jauhnya dari hatinya sendiri.

tapi lihatlah sisi riang dan sisi muram itu dalam penampilan bahasa. bahasa tuhan dan bahasa manusia. bahasa tuhan yang turun ke dalam hati sebagai wahyu yang terpendam mendadak di hati. bahasa manusia yang turun ke dalam dirinya sendiri sebagai akibat dari suatu pergulatan hidup. hidup yang berdarah dan penuh luka. hidup yang bersunyi sepi sampai ke puncaknya. sunyi terjauh dari hidup seorang nietsche yang berakhir gila dengan memeluk seekor kuda.

kuda kehidupan kini seolah membalik dan membanting tubuh sang manusia pereguk hidup. membantingnya dan menginjaknya dengan kaki kuda hidup itu sendiri. menyeret dan melemparkan sang penunggang kuda kehidupan ke dalam jurang tak bertepi. ke dalam jurang tak berkeselamatan lagi.

kebahagiaan pada bahasa adalah ketika bahasa itu seolah menuntun kita untuk menguakkan pendaman pendaman dalam tubuh kita sendiri. memancing tiap jenis perasaan dalam diri untuk bangkit dalam kenangan akan diri sendiri, atau dalam pertalian imajinasi kepada orang lain. seperti yang diserakkan oleh wahyu tuhan dalam ucapan yunus.

kalau kita menempatkan cerita yunus dalam alkitab itu sebagai suatu wahyu, maka kita akan menerima kenyataan bahwa tuhan pun maha pandai dalam berbahasa. indah dalam bahasa. dalam bahasa yang entah bagaimana caranya, bahasa itu masuk ke dalam tubuh dan jiwa yunus yang berada di dalam lautan di perut ikan, menjadi ucapan dan pegangan yunus agar selamat dari situasi yang tengah dihadapinya.

rangkaian kata kata itu - doa yunus itu - masuk sebagai bukan dari ia yang tengah dan sedang mempraktekkan pelajaran sastra, apalagi tulisan sastra, tapi ia yang sedang berjuang dengan hidupnya agar tak mati. tapi mengapa doa itu, begitu kita letakkan dalam suatu perspektif bahasa, adalah kesusastraan yang demikian tinggi mutunya?

yunus jelas bukan sastrawan, tapi doa yang dilantunkannya dari dalam perut ikan adalah sebuah paragraf sastra yang bukan main kuatnya, dalam memperdengarkan nada dan irama kehidupan. bahasa dengan nada dan irama seperti itu, kalau kita perhatikan baik baik, adalah bahasa dengan nada dan irama dari mereka yang sedang dan tengah memeluk sisi muram dalam kehidupan. bahasa dari doa yunus itu, tak lagi bisa kita bedakan dari bahasa semisal nietsche yang telah menggubah buku besar, dari seorang yang mengendap dalam sisi muram hidup manusia - zarathustra.

hudan hidayat

Written on Sunday · Comment · LikeUnlike
You, Eri Irawan, Kurniawan Yunianto, Cavita Jamie and 11 others like this.
Eri Irawan, Kurniawan Yunianto, Cavita Jamie and 11 others like this.
Hudan HidayatHudan
Eri IrawanEri
Kurniawan YuniantoKurniawan
Cavita JamieCavita
Zuraidah Abdul AzizZuraidah
Samsudin AdlawiSamsudin
Cepi SabreCepi
M Aan MansyurM Aan
Jehan SyauqiJehan
Deasy 'Elang' NDeasy
Utami Diah KusumawatiUtami
See all...

Nani Mariani at 5:54am June 8

oooo.Pres Hud Hud, penjelasan mu sekali ini agak ber " seram " , krn ber bau menantikan ke " mati ' an, apakah kalo sdh menjadi tua hrs mengisi waktu hanya dgn membaca Kitab Suci? Menanti mati?. Mungkin bagiku ke"mati"an itu sama dengan menanti " jodoh". klo sdh tiba waktunya, tak ada yg bisa menolak. thank you very much anyway, bagus saling mengingatkan perjalanan di dunia. aku suka..Pres Hud Hud..

Deasy 'Elang' N at 6:53am June 8

Suguhan yang mantab tuk pagiku!

Sandy Riku at 7:14am June 8

wah anda rajin sekali Pak, pagi-pagi sudah memberi pencerahan buat masyarakat maya yang tak kenal luna maya, ya?
essay ini menarik, saya baca dulu Pak Hudan.

Helga Worotitjan at 8:27am June 8

I wish I could know Iwan Simatupang more from his owesome writing.....

Segaris katakata pernah aku tulis setelah siuman dr koma 4 hari di sebuah rs di bontang-kaltim :

kau tuhan, sungguh tak bersandar pada rinduku... Read More
bermalam-malam kutunggui hangat tubuhmu di peraduan sunyiku
bermimpi merasai bungkusan kulit cintamu yang selama ini hanya dapat kusurati lewat doadoa senyap yang makin lenyap

Mas Hudan, sungguh, ke'akan'an adalah kerinduan yg kadang memilukan, menakutkan namun jg sebuah kecanduan! I do thank You for this great essay :)

Helga Worotitjan at 8:31am June 8

I wish I could know Iwan Simatupang more from his owesome writing.....
Segaris katakata pernah aku tulis setelah siuman dr koma 4 hari di sebuah rs di bontang-kaltim :

kau tuhan, sungguh tak bersandar pada rinduku... Read More
bermalam-malam kutunggui hangat tubuhmu di peraduan sunyiku
bermimpi merasai bungkusan kulit cintamu yang selama ini hanya dapat kusurati lewat doadoa senyap yang makin lenyap

Mas Hudan, sungguh, ke'akan'an adalah kerinduan yg kadang memilukan, menakutkan namun jg sebuah kecanduan! I do thank You for this great essay :)

Cepi Sabre at 9:45am June 8

iwan simatupang : mantab.

Priatna Ahmad Budiman at 9:51am June 8

Seperti pepatah para filsuf, "kami berfilsafat ketika rumah kami roboh". Mungkin begitulah banyak puisi, prosa indah lahir dari hati yang "desperate', sedih, pilu, teraniaya. Apalagi dekat kematian kayak mbak helga.

Dunia yang gelap, murung dan sendu. Dunia scophenhauer, nietzche, iwan simatupang, mungkin juga dunia sudi ono :-P. Dunia yang ... Read Morebermakna meskipun dekat mati ala victor frankl-(kamp auschwitz).atau malah penuh dinamika hidup ala pram (pulau buru) dan agresifitas seperti papillon (penjara devil-island)

Dari situ filsafat dan makna dengan ibu bahasa, berbapak hati lahir

Samsudin Adlawi at 12:13pm June 8

sumber puitika yang mahaindah adalah kitab suci yang berisi firman Tuhan. Dan, manusia tak kan sanggup menyandinginya. meski menggunakan 7 gunung sebagai pena dan 7 samudra sebagai tintanya tak cukup untuk menuliskan satu huruf dari puisi Tuhan. apalagi selarik puisi...

Kurniawan Yunianto at 9:25pm June 8

akan kubaca lagi .. terimakasih bung hudan

Magdalena Elisabeth Pusung at 10:58pm June 8

Pppuuuaaaannnjjjaaannggg bgt....
'kematian', akhir dari kehidupan lama dan awal dari kehidupan baru...so, enjoy it..hehehehe
Write a comment...

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

[ac-i] Warisan Literer Bernama Tetralogi Laskar Pelangi




Warisan Literer Bernama Tetralogi Laskar Pelangi
---Anwar Holid

Baru saja saya menemukan kartu voucher isi ulang seri Laskar Pelangi keluaran sebuah operator telepon selular. Gambarnya sama dengan versi poster film tersebut. Begitu melihat kartu itu, angan-angan saya mencari tahu, produk apa saja yang sudah memanfaatkan merchandise dari turunan karya ini? Apa sudah ada cangkir dan handuk bergambar Laskar Pelangi? Mendadak saya membatin, "Kalau sudah begitu berhasil menyelusup ke banyak celah kehidupan, apa buku itu pantas disebut sebagai warisan literer bangsa Indonesia?"

Pertanyaan ini seakan-akan terasa "grandeur", tapi entah kenapa saya tergoda untuk menemukan jawabannya. Boleh jadi karena meledaknya tetralogi Laskar Pelangi membuat saya mengira bahwa novel ini merupakan contoh sempurna dari teori "Black Swan" (Angsa Hitam), yakni sesuatu yang muncul secara mendadak, kebetulan, namun pengaruhnya mampu meruntuhkan pandangan dunia sebelumnya.

Saya mengeksplorasi sejumlah komentar terhadap tetralogi tersebut. Cukup banyak komentar tersedia, bahkan sebuah situs mencuplik pendapat saya sendiri terhadap Laskar Pelangi, yakni berasal dari kolom Selisik (Republika), pada 30 Januari 2006: "Laskar Pelangi nyata-nyata mampu menarik perhatian publik dan membuat banyak orang merasa terlibat." Waktu itu saya menghadiri talkshow di Galeri Soemardja, ITB beberapa minggu setelah novel itu terbit. Orang-orang membahas isu pendidikan di dalamnya. Salah satu aspek menonjol yang lahir dari fenomena Laskar Pelangi ialah betapa tetralogi ini mampu menjadi bahan pembicaraan banyak orang terutama dalam hal pendidikan dan berhasil memenuhi selera massa yang begitu besar---meski golongan yang resisten juga terus-menerus mempertanyakan ada apa di balik fenomena tersebut.

Saya butuh pendapat yang relevan dan cukup menguatkan bahwa tetralogi ini memang pantas untuk dinisbatkan sebagai warisan literer Indonesia, kira-kira setara bila kita dengan bangga menyebut-nyebut bahwa sebuah buku tertentu pantas masuk dalam kategori masterpiece (adikarya)? Adakah syarat tertentu yang membuat sebuah buku bisa dianggap sebagai warisan literer? Atau boleh semata-mata dilihat dari penerimaan publik?

Misal pada kasus gambar kartu voucher isi ulang tadi. Operator telepon selular memilih mengeluarkan kartu voucher seri para pesohor jelas karena alasan dan sasaran khusus, di antaranya ialah mempertimbangkan faktor popularitas. Seperti dulu saya pun pernah mengambil kartu voucher bergambar Coldplay, grup rock asal Inggris yang mendunia. Karena image mereka sudah begitu familiar, operator berharap massa bisa dengan mudah menyerap komoditas tersebut. Di sisi lain, produser merasa telah mengeluarkan sesuatu yang berharga, collectible (pantas dikoleksi dan dicari-cari), dan membanggakan buat pangsa pasarnya.

Begitu juga halnya dengan Laskar Pelangi. Sebagai komoditas, dikemas lewat berbagai media Laskar Pelangi tetap mampu menarik minat banyak orang. Berbagai produk turunan dari sana pun tetap diserbu pembeli, bahkan berpotensi menjadi fetish. Itu menunjukkan mereka sama-sama merasa ikut memiliki atas sebuah produk. Ingin menjadi bagian dari budaya massa.

Komentar Riri Riza (sutradara) dan Mula Harahap (pelaku penerbitan) terhadap novel tersebut mungkin cukup bisa menggambarkan kekuatan kandungan sosio-kultur di dalamnya. Kata Riri, "Andrea Hirata memberi kisah indah tentang keragaman dan kekayaan tanah air, sekaligus memberi pernyataan keras tentang realita politik, ekonomi, dan situasi pendidikan kita. Tokoh-tokoh dalam novel ini membawa saya pada kerinduan menjadi orang Indonesia." Sementara Mula berkomentar, "Cerita-cerita yang dituturkan oleh Andrea Hirata ini menjadi menarik karena ia diletakkan dalam setting Magai yang terpencil itu, tempat budaya Melayu berinteraksi dengan budaya Cina Khek, dimana ekonomi nelayan berinteraksi dengan ekonomi perusahaan tambang timah, dan nilai moral Islami berinteraksi dengan nilai modern yang dekaden."

Lepas dari sejumlah bocel yang diperlihatkan oleh para pengkritik untuk membuktikan kelemahan kisah tersebut, tetralogi Laskar Pelangi menyimpan banyak daya tarik. Begitu kuat dayanya, hingga bisa mempengaruhi keluarga-keluarga yang
awalnya boro-boro mau belanja buku selain buku wajib untuk sekolah anaknya, akhirnya rela membelikan novel itu dengan harapan agar anaknya terinspirasi oleh Ikal dan kawan-kawan.

Kritik yang paling menarik minat saya terhadap tetralogi tersebut ialah kajian sisi poskolonialisme di dalamnya. Topik ini mula-mula muncul dari esai Heru Hikayat---yang lebih terkenal sebagai kurator seni rupa daripada kritikus buku---untuk diskusi lain Laskar Pelangi di sebuah universitas. Persoalan itu muncul lagi dari esai "Mengantar dari Luar" (Puthut E.A.) dan buku LASKAR PEMIMPI; Andrea Hirata, Pembacanya dan Modernisasi (Nurhadi Sirimorok). Ketiga orang ini penasaran, kenapa Ikal begitu terpikat pada Jakarta, sementara masyarakat kaumnya menganggap bahwa Jawa merupakan simbol peradaban, kemudian saat dewasa menilai Eropa sebagai jantung kemajuan umat manusia. Mereka menemukan ternyata Ikal inferior terhadap budaya sendiri, dan kerap menjadikannya sebagai bahan olok-olok. Ironi yang menghibur. Kritik Puthut E.A. masuk akal: "Semoga akan ada banyak karya yang mengkritisi isi produk sastra kita; semoga ada yang punya waktu luang, kesabaran dan
keberanian untuk membeberkan dimensi politik dan ekonomi sastra kita. Tanpa pengetahuan soal itu, para pelaku sastra ibarat bermain pedang di lanskap gelap."

Di Maryamah Karpov (Bentang, 2009)---novel terakhir tetralogi Laskar Pelangi---olok-olok itu sangat terasa, sampai menghabiskan hampir seperempat bagian isi buku. Meski begitu, Ikal kembali pada akarnya, menggali dan mengagungkan kekuatan budaya setempat, menggunakan warisan leluhurnya. Dia berani menanggalkan atribut kebanggaan setelah merantau amat jauh dari luar pulau untuk menyadari betapa kaumnya sendiri memiliki sesuatu yang pantas dibanggakan.

Sebagai produk budaya, tetralogi Laskar Pelangi cukup universal, ia bisa dinikmati baik oleh orang dewasa dan anak-anak. Isu utama yang muncul dari komoditas produk tersebut ialah soal pendidikan, warisan budaya, identitas, dan penghormatan pada orangtua. Rupanya, publik juga menerima strategi tersebut dengan antusias. Ini terlihat dari reaksi para guru, orangtua, murid-murid, pembaca buku, juga penonton film. Produk turunannya boleh dibilang selalu mereka tunggu. Seperti sekarang, ketika film Sang Pemimpi sedang dalam tahap proses produksi.

Nah, apakah publik akan benar-benar menganggap rangkaian buku Laskar Pelangi ini sebagai warisan budaya atau semata-mata komoditas, bisa jadi bergantung pada penilaian masing-masing orang, terutama seberapa berharga makna buku tersebut buat dirinya.[]

ANWAR HOLID, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Bekerja sebagai editor & penulis freelance. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

Copyright © 2008 oleh Anwar Holid

Informasi lebih banyak di:
http://www.klub-sastra-bentang.blogspot.com
http://www.mizan.com

***
Sudilah mengunjungi link ini, ada lebih banyak hal di sana:
http://www.goethe.de/forum-buku
http://www.rukukineruku.com
http://ultimusbandung.info
http://www.visikata.com
http://www.gramedia.com
http://halamanganjil.blogspot.com

Come away with me and I will write you
---© Norah Jones

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

[ac-i] SMK Seni Sarasvati



SMK Seni Sarasvati


SMK Seni  Sarasvati bekerja sama denganRoyal Academy of Fine Arts, Design, Music and Dance - Den Haag menyelenggarakan pendidikan seni tingkat menengah. 


Untuk tahun ajaran 2009-2010 hanya membuka jurusan musik. Ijasah yang dikeluarkan setelah lulus dari SMK Seni Sarasvati setara dengan ijasah yang dikeluarkan oleh Hogeschool van Beeldende Kunsten, Muziek en Dans - Den Haag, Netherlands. 

Selain  itu Ijasahnya dapat juga dipergunakan untuk melanjutkan diperguruan tinggi lainnya yang non seni, karena kurikulum yang sesuai dengan ketentuan kurikulum nasional.

 

Pendaftaran dibuka mulai tanggal :

1 Juni – 20 Juni 2009

 

Tes Masuk pada tanggal :

20 Juni – 27 Juni 2009

Pkl. 09.00 – 16.00 WIB

 

 

Formulir pendaftaran dapat diambil di :

 SMK Seni Sarasvati

Jl. Pacuan Kuda no. 1-5, Pulomas

Jakarta Timur

Telf. (021) 4756939

email: osia@cbn.net. id


 

atau

 

Dapat dikirimkan melalui email

 

 

 



__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

PC-to-PC calls

Call your friends

worldwide - free!

Search Ads

Get new customers.

List your web site

in Yahoo! Search.

Y! Groups blog

The place to go

to stay informed

on Groups news!

.

__,_._,___

[ac-i] jeda dalam puisi, kasus puisi sutardji, sudi ono cs, dan rontoknya ilmu sastra



jeda dalam puisi - kasus puisi sutardji, sudi ono, deasy nahtalia dan widyawati dewi (bagian 1)

Share
Yesterday at 4:46pm | Edit Note | Delete

jeda dalam puisi tak tentu maknanya. dalam puisi ia bisa menjadi gerak yang relatif. kadang puisi dapat kita luruskan tipografinya ke dalam seolah kalimat dalam prosa, tanpa kehilangan arti puisi yang disusun oleh seorang penyair. tapi memang ada puisi yang tak bisa dipenggal semena mena. maka jeda dalam puisi seolah arbitrer dalam bahasa. mana suka atau sesukanya saja. seperti kita berucap akan diri di sini dengan "aku", dan di sana dengan "me". saya dan i am, adalah arbitrer dalam bahasa, seperti jeda dalam puisi.

puisi sutardji calzoum bachri, "dapatkau", adalah sebuah puisi yang bisa disusun tanpa jeda dengan larik larik yang jatuh ke bawah. saya kutipkan puisi itu dalam susunan sang raja mantra seperti yang disematkan kritikus sastra maman s mahayana kepada sutardji.

"dapatkau nyeberangkan sungai
ke negeri asal
tempat diam
melahirkan gerak?"

saya telah menyusun puisi itu dengan menggesernya ke samping pada setiap larik lariknya. tapi apa boleh buat mesin facebook mendorongnya kembali ke tepi seperti yang kita baca ini. dan saya tak bisa mengakali mesin facebook. jadi mari kita bayangkan tiap larik puisi tardji, mulai dari larik ke dua sampai dengan larik ke empat bergeser semua ke samping dengan tiap tepinya lebih menjurai dari tepi larik di atasnya.

dan kini bagaimana kalau puisi dengan amanat yang amat dalam ini, alamat yang datang dari sebuah pembalikan dalam bahasa yang manusia kenal - bukankah kita yang mestinya menyerberang di sebuah sungai? tapi dalam bahasa sutardji ia menjadi di balik: dapatkau nyeberangkan sungai. sebuah pembalikan yang datang dari ia yang bisa melihat sisi sisi terayun ayunnya benda benda dalam hidup. benda benda yang diayunkan sehingga kita bisa mengatakan apa yang tak bisa dikatakan - tepatnya diimajinasikan - oleh orang awam. semisal fungsi sungai yang sudah berganti dengan kita yang menyeberangkan sungai itu.

kini saya susun puisi sutardji itu dengan susunan sebuah prosa. larik lariknya yang menjurai itu saya tarik kembali. saya bentukkan ke dalam sebuah prosa. maka ia menjadi sebuah kata kata yang memanjang sebagaimana sebuah hamparan kalimat.

"dapatkau nyeberangkan sungai ke negeri asal tempat diam melahirkan gerak?"

lihatlah kedua tipografi puisi itu tak mengubah makna puisi. kita bukan hanya masih tapi kita menyerap makna puisi itu tetap sebagai pembalikan dalam bahasa: sebuah pertanyaan yang mendadak terlontar, seperti kita terkejut saat menghadapi sebentang sungai, akan diamnya, akan misterinya, lalu mendadak saja terloncat dari mulut kita: dapatkau nyeberangkan sungai ke negeria asal tempat diam melahirkan gerak?

bagi saya sebaris puisi itu, atau puisi yang berjatuhan ke bawah itu, adalah sebuah godaan akan manusia yang datang dari penyair: dapatkau membuat kehidupan ini?

kita dapat mematikan kehidupan ini. tapi membuat kehidupan? membuat gerak gerak arus sungai? membuat kehidupan apa yang hidup dalam sungai?

maka kurangilah dentam dentam laras senjata. perbanyaklah gurat gurat pena. sebab seperti yang telah dituliskan sutardji yang amanattnya harus kita petik dalam bahasa tinggi - sebuah alamat yang diselinapkan sang penyair ke dalam acuan holistik kehidupan, kita tak pernah dapat membuat kehidupan. atau kita tak pernah dapat nyeberangkan sungai.

nyeberangkan sungai ke mana? bagaimana mengangkutnya dengan kedua tangan kita? kita ambil alat alat canggih dan alat alat itu kita pasangi kabel kabel serta monitor komputer. tapi ke mana tujuan sebentang sungai itu hendak kita bawa? ke mana ia harus menyeberang?

tapi kita tahu sungai itu adalah kehidupan ini sendiri. "dapatkau nyeberangkan sungai" adalah dapatkah kau mempercepat berakhirnya dunia yang sudah niscaya umurnya ini. sesuatu yang tak mungkin. karena hanya tuhan sendirilah yang tahu kapan kiamat itu.

(maha suci tuhan yang telah melimpahkan orang seperti fadjroel rachman dengan kemampuan menulis seni puisi, seni kata kata atas politik kemanusiaan yang hendak ditegakkannya.

hehe ketawa dikit ah serius mulu ni i de mar comce cih)

saya kutipkan penuh puisi sutardji - dapatkau, itu.

dapatkau nyeberangkan sungai ke negeri asal tempat diam melahirkan gerak?
dapatkau sampaikan sayap lepas ke negeri tanah tempat langit memulai jejak?
dapatkau pulangkan resah ke negeri tetap tempat ayah memulai anak?

siapa dapat kembalikan sia pada mula sia pa da sia pa sia tinggal?

sebaliknya misalnya dalam puisi sudi ono, laki laki pemilik senja, jeda nampaknya mutlak harus ada. enyambemen dalam puisi tak terhindarkan.

"Senja di selembar daun dibajak para lanun
Gores kulitnya luka
Belati iris matahari jadi keping dua
Tak ada tempat sembunyi selain di wajahmu sendiri"

huruf kapital tiap awal larik di sana seolah pengganti fungsi tanda baca titik di tiap akhir larik yang tak dicecahkan oleh sang penyair. puisi ini salah satu puisi yang menggoda setiap saya membacanya. seolah kata kata tergelincir, seperti air yang tergelincir di daun keladi. tak dapat saya membayangkan ruang dalam puisi, seandainya struktur puisi itu dituliskan dalam struktur kalimat. bukan saja tiap larik lariknya adalah sebuah stop dalam puisi. sebuah larik yang selesai. sehingga pembentukan larik larik itu menjadi kalimat dalam prosa tak bisa jalan.

saya akan turunkan penuh puisi yang menggoda saya ini, karena aspek kekerasan yang telah begitu rupa diasosiasikan sang penyair ke dalam dunia benda. sehingga bukanlah sang aku lirik yang tersembunyi yang bicara dalam puisi. tapi benda benda itu sendiri yang meriwayatkan sebuah momen kekerasan dalam larik lariknya. larik larik yang bertalian secara ketat ke dalam dunia benda benda itu.

senja di selembar daun

Senja di selembar daun dibajak para lanun
Gores kulitnya luka
Belati iris matahari jadi keping dua
Tak ada tempat sembunyi selain di wajahmu sendiri

Kelebat bayang hitam melayang di dahan
Punggungnya amis mesiu senapan
Cakrawala roboh dalam satu bidikan
Ufuk jadi lapuk, senja remuk

Para lanun hampar jubah hitam di darat-lautan
Ada bau ngeri juga cekam
Gulita, pelita enggan nyala
Lawa memekik jatuh di dinding gua
Oh bedil dikokang teror mengambang

Tidur lah nak, seru ibu kepada anak
Pergilah ke mimpimu lekas
Mereka mencabut nyawa tanpa belas

Malam itu kudengar dor
Pintu digedor melayang satu pelor

Para lanun membunuhnya
Ia laki-laki pemilik senja

atau seperti puisi deasy nathalia yang baru saya baca barusan tadi: masih ingatkah siapa aku. sebuah judul puisi yang tak cukup puitik untuk mendukung isi puisi.

"Berderai engkau layaknya gerimis pada malamku", adalah sebuah larik yang berdiri sendiri. yang tak bisa, atau yang harus diberi jeda. dan jeda di puisi deasy ini, sebagaimana jeda di puisi sudi ono, adalah sebuah masa istirahat dalam bahasa puisi dengan kembali tanpa titik. jeda di sana menjadi larik yang berhenti tanpa titik. pemakaian huruf kapital di tiap larik awal, adalah sebuah start dari larik baru dalam puisi.

bagi saya puisi ini adalah sebuah puisi pengungkap hati yang begitu sarat nada - bunyi bunyi dalam puisi. bunyi yang kelak akan saya coba bahasakan dalam konteks ruang dalam puisi. ruang kosong yang dikehendaki oleh priatna dan direspon susy ayu ... (susy ayu yang saya kenalkah itu?), dengan segenap permainan tehnik bahasa dalam bahasa puisi.

ada dua komentar yang menarik saya yang dialamatkan kepada puisi deasy nathalia ini. pertama komentar dari erwan setiawan, yang merespon puisi deasy dengan indah, dalam dua kalimat yang menurut saya adalah dua larik puisi itu sendiri. larik puisi dari hubungan antara "perempuan yang pintar menyembukan sesuatu", yang kita kaitkan dengan "namun teriakan itu menggugah para binaraga yang menganga".

binaraga yang menganga, membuat saya terkejut dengan kalau kita hubungan kepada sang aku lirik yang sedang meneriakkan sesuatu di sana - sesuatu yang dibalutkannya ke dalam dirinya seolah garam, seolah dendam.

komentar kedua datang dari penyair dhidi cahyani p, yang merespon puisi deasy dengan telak, melalui ucapan "Dia tak pernah tau, bila ulu hati mengharap rindu terbalut sembuh....hanya terus direjam nya hingga merasuk rusuk....duuuuhh !!"

bagi saya dua kalimat itu adalah larik puisi karena keindahan pengungkapan perasaan sang dhidi dalam menanggapi perasaan deasy.

"bila ulu hati mengharap rindu terbalut sembuh/hanya terus direjamnya hingga merasuk rusuk", adalah ungkapan hati yang tak harus kalah dengan larik larik deasy dalam puisi yang sedang kita bicarakan ini.

saya kutipkan puisi deasy.

"Garam Dendam"

Berderai engkau layaknya gerimis pada malamku
Mengembun, buramkan kebeningan yang begitu bisu
Sebarkan dingin yang memeluk batinku sungguh
Hingga sakit terasa menggigit sendisendi pada rapuh

Kau tahu, aku hanya punya satu malam
Tapi mengapa kau sebarkan garam begitu dendam
Ini luka masih butuh waktu tuk di anyam hingga rapat
Haruskah asin tubuhmu menindihku hingga cacat?

Aku bukan pelacur!
dan aku masih inginkan hatimu mengucur begitu jujur

kalau deasy nathalia seolah berseru di larik akhir puisinya: aku bukan pelacur!, maka seruan ini dijawab oleh penyair widyawati dewi dengan larik yang tak kalah lantangnya, tapi dengan nada yang dibalik: jadikan aku pelacurmu!

tapi saya tak hendak mengutip puisi itu. saya sangat terpukau dengan sebuah puisi widyawati dewi yang lain. yakni "pilar retak". sebuah puisi yang meneriakkan sebuah kesakitan ke dalam dunia lambang: pilar. pilar yang retak sebagaimana hidup itu sendiri adalah retakan. retakan yang memang niscaya karena telah menjadi paradoks dalam dunia.

lagi pula pada puisi ini saya bisa mengetengahkan sebuah contoh yang unik, betapa dalam sebuah puisi jeda dan tiada jeda berhimpitan dalam bait bait dalam puisi.

"pada pilar - pilar yang menjulang dengan keindahannya pada pilar - pilar yang terbangun oleh merdunya nyanyian burung gereja" adalah sebuah dua larik yang dipisahkan oleh titik titik yang diletakkan oleh sang penyair. tapi seandainya kita menghapus titik titik itu dan lalu menyambung larik "pada pilar pilar yang terbangun oleh merdunya nyanyian gereja", maka pada di puisi ini akan bertemu langsung dengan "pada pilar pilar yang menjulang dengan keindahannya", sehingga menjadi larik puisi yang telah saya sambung seperti di atas itu. pertemuan larik yang menurut saya tidak menghilangkan makna dari bait puisi yang disusun oleh widyawati dewi.

pemakaian kata keterangan "pada" di sana, dua "pada", apakah ia membunuh "ruang kosong" di dalam puisi? sehingga puisi widyawati dewi berhenti menjadi interval dalam sebuah nyanyian seperti yang dibayangkan oleh susy ayu, yang kita kehilangan saat untuk beristirahat dalam puisi, karena penuhnya kata, karena puisi telah diisi oleh kata yang berdesakan (olah kata pada yang kedua itu, dengan lanjutan larik dalam puisi).

apakah seperti itu? tidak juga. segera "pada" yang ke dua di sana hadir sebagai sebuah pengulangan yang justru menjadi nyanyian itu sendiri. yakni nyanyian akan pilar pilar yang dihuni oleh burung gereja. di mana pilar dan burung gereja menjadi satu kesatuan larik dalam puisi. pada di sana, seolah ngiau dalam puisi amuk sutardji. bisa dibaca sebagai jeda dalam puisi, pada, atau ngiau itu, tapi bisa juga menjadi semacam interval pelompat untuk puisi mengayunkan laju nadanya.

sebaliknya pada bait kedua puisi pilar dan burung gereja ini, masih tak bisa kita sambungkan dengan sempurna. sebab penyambungan seperti itu akan mematahkan dua pernyataan dalam puisi. maka jeda tanpa tanda baca yang lain, memang menjadi sebuah masa istirahat dalam puisi.

"aku berdiri di antara empat pilar yang beratap hampir sempurna
masih bisa aku berlindung dari panas yang mengintip dan air hujan yang memercik"

dengan cara yang sama kita bisa berkata tentang bait akhir puisi widayawati dewi:

"pada pilar - pilar impian itu
kulihat ada retak oleh patukan tajam burung gereja yang ingin merusaknya
telak!"

saya kutipkan penuh pilar retak puisi widyawati dewi.

pada pilar-pilar menjulang keindahannya
pada pilar-pilar terbangun merdunya nyanyian burung gereja

aku berdiri di antara empat pilar
yang beratap hampir sempurna
berlindung dari panas yang mengintip
dan air hujan yang memercik

pada pilar - pilar impian itu
kulihat ada retak oleh patukan tajam burung gereja
yang ingin merusaknya

telak!

----------------------------
Written 22 hours ago · Comment · LikeUnlike
You, Maghie Oktavia, Jehan Syauqi, Dedik Priyanto and 13 others like this.
Maghie Oktavia, Jehan Syauqi, Dedik Priyanto and 13 others like this.
Hudan HidayatHudan
Maghie OktaviaMaghie
Jehan SyauqiJehan
Dedik PriyantoDedik
Susy Ayu RanadivaSusy
Abdullah SajadAbdullah
Kurniawan YuniantoKurniawan
Nur JehanNur
Deasy 'Elang' NDeasy
Nani MarianiNani
Cavita JamieCavita
See all...

Pakar Dukun at 5:08pm June 9

ahah.., bener bang gak bisa diakali, ingatku bisa diakali, sik musti dicari-cari lagi cara mengakali pesbuk ini..

Widyawati Soetego Poetri at 5:12pm June 9

hihi ... aku liat di email komennya PD gak gini .. kok aku buka jadi gini ... hiks

Widyawati Soetego Poetri at 5:13pm June 9

ternyata fesbuk lebih pintar dr manusia (???) hihi hehe

Fadjroel Rachman at 5:17pm June 9

mantap hidup hudanist

Pakar Dukun at 5:19pm June 9

hihhh semut..., tadi aku pake ngakali geser awalah baris dengan naruh | gitu loh.., soalnya ingetku pernah ngegeser baris dengan cara seperti itu.., lha ternyata diposting barisnya gak kegeser.., ya sudah dihapus lagi komennya.. hahaha.. :p

Widyawati Soetego Poetri at 5:22pm June 9

oooh ooh gitu to ..

Pakar Dukun at 5:30pm June 9

ho ohhh.., gitu dehh..

riatna Ahmad Budiman at 5:51pm June 9

Ini yang saya tunggu !, Jeda-ketat dengan tipografi alinea, spasi atau bahkan ruang kosong. Puisi sepatutnya mempunyai irama nafas, ruang untuk bergerak bersenandung, bernyanyi dan menari.

~please let me bow my head under my shoulder to HH, FR,SCB dan FBookers~

Susy Ayu Ranadiva at 6:30pm June 9

nah ini dia, puisi harus punya ruang untuk bergerak bersenandung, bernyanyi dan menari..ini dia yang belum mampu kubuat.

Deasy 'Elang' N at 8:03pm June 9

hahahaha, kau tahu saja kelemahanku bang, membuat judul. Duh kacau kacau! tapi lagi-lagi ini ilmu bagiku, sebentar yaaa, aku resapi sekali lagi. makasih! Maju terus bang!

Widyawati Soetego Poetri at 9:55pm June 9

hehee yang itu yaaa .. hiks jadi malu ...
puisi itu aku buat ketika aku merasa down sangat bang , Ingat itu , saat aku meminta nasehatmu ttg puisi2ku , yg kata org puisi2ku makin tak terarah & kosong ...

trus aku membuat puisi itu .. hiks .. sedih kalo ingat ..

Bamby Cahyadi at 11:00pm June 9

test comment...

Bamby Cahyadi at 11:02pm June 9

hehe udah bisa comment, asyik... puisi deasy memang luar biasa mas, sudi ono juga fiksinya mantrabs... Widyawati juga keren

Geger Riyanto at 11:42pm June 9

Jeda, Bang Hudan, hihi, nikmat...

Pada puisi Sudi Ono berikut:

Senja di selembar daun dibajak para lanun
Gores kulitnya luka
Belati iris matahari jadi keping dua
Tak ada tempat sembunyi selain di wajahmu sendiri

Kelebat bayang hitam melayang di dahan
Punggungnya amis mesiu senapan
Cakrawala roboh dalam satu bidikan
Ufuk jadi lapuk, senja remuk

Para lanun hampar jubah hitam di darat-lautan
Ada bau ngeri juga cekam
Gulita, pelita enggan nyala
Lawa memekik jatuh di dinding gua
Oh bedil dikokang teror mengambang

Tidur lah nak, seru ibu kepada anak
Pergilah ke mimpimu lekas
Mereka mencabut nyawa tanpa belas

Malam itu kudengar dor
Pintu digedor melayang satu pelor

Para lanun membunuhnya
Ia laki-laki pemilik senja

***

Dimana gerangan Bung Sudi Ono ini? Aku hanya ingin memberikan jempol, pada larik-larik mengandung metafora dahsyat setelah di langit tak menemukan tuhan, di bumi tak menemukan hutan: tak ada tempat sembunyi selain di wajahmu sendiri

Geger Riyanto at 11:52pm June 9

Di puisi tersebut jeda memberikan sifat prosaistik, interseksi waktu, entah berapa detik, atau menit, atau hari, atau bahkan tahun. Dan jeda yang diikuti pengurangan sepotong demi sepotong, permainan bentuk menjadi pesan kelam itu tersendiri... kian ke akhir, kian sedikit. Seperti tenaga yang habis, blackbox yang menuju akhir pesan, nyawa yang berakhir... dan jeda pun memperlihatkan tajinya.

Atau pada puisi Deasy, dimana jeda seperti menjadi setahun kesunyian pada satu malam. Memberikan penantian untuk keinginan "hatimu mengucur begitu jujur".

Atau pada esai ini, ada keheningan panjang sebelum kita tiba pada kolom komen. Benarkah itu, Bang Hudan? Ehe...

Maghie Oktavia at 12:05pm June 10

Jeda...ya ya
aku prnh bc komen di puisi tmn2 lain yg menyebutkan
"habis nafasku baca puismu". hmmm....apa itu maksudnya perlunya jeda pada puisi ya? biar pembaca pun tak terengah engah saat membacanya ??
*buat tmn2 diatas,tak perlu diragukan mmg kualitas puisinya :)

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___