Wednesday, June 10, 2009

[ac-i] Press rilis: Seminar & Pameran Seni Rupa "Wong Jawa Ilang Jawane", Solo



BALAI SOEDJATMOKO

Jl. Slamet Riyadi 284, Solo

______________________________________

"Wong Jawa Ilang Jawane"

Seminar dan Pameran Seni Rupa

Solo, 14 – 23 Juni 2009

 

Balai Soedjatmoko di Solo bekerja sama dengan House of Danar Hadi (HDH) pada Minggu 14 Juni 2009 akan mengadakan Seminar bertema "Wong Jawa Ilang Jawane", bersamaan dengan Pameran Seni Rupa juga bertema "Wong Jawa Ilang Jawane" yang akan berlangsung mulai 14 Juni hingga 23 Juni 2009, di Balai Soedjatmoko (TB Gramedia Solo) dan gadri belakang Pendapa House of Danar Hadi.

Seminar "Wong Jawa Ilang Jawane" akan diadakan di Pendapa HDH atau yang dahulu lebih dikenal sebagai Ndalem Wuryaningratan, pada 14 Juni 2009 mulai pukul 11.00 WIB. Adapun pembicara yang akan tampil adalah Dr S Margana (UGM Yogyakarta), MT Arifin (budayawan Solo), dan Suparto Brata (sastrawan dari Surabaya).

Pameran Seni Rupa dengan tema "Wong Jawa Ilang Jawane", dibuka Minggu 14 Juni 2009, pukul 10.00 di Balai Soedjatmoko, dan akan berlangsung hingga 23 Juni 2009, sedang di House of Danar Hadi. Pameran bersama ini diikuti 37 perupa dari Solo, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. Beberapa nama terkenal yang ikut di antaranya, Djoko Pekik, Jeihan, Teguh Ostenrik, Nasirun, Heri Dono, Ivan Sagito, Ipong Purnomosidhi, Samuel Indratma. Sejumlah pelukis dari Solo yang akan ikut serta, di antaranya Hasyim Katamsi, Dani Iswardana, Enggar Yuwono, Ki Gedhe Solo.

Latar

Ungkapan "Wong Jawa Ilang Jawane" sampai sekarang masih tetap aktual dan mendapatkan banyak tafsir. Ungkapan ini memang terkesan mengandung kontradiksi dan ambiguitas untuk memahami: siapa yang disebut "wong Jawa" itu?

Kita mungkin memahami bahwa dari ungkapan itu seakan ada idealitas "wong Jawa" dalam berbagai dimensi. Apakah "wong Jawa" itu memiliki kriteria-kriteria yang baku atau permanen? -- di samping tidak tertutup kemungkinan terjadi proses akulturasi dengan peradaban dari suku-suku bangsa lain.

Penetapan idealitas "wong Jawa" itu juga memiliki kemungkinan secara ekslusif atau inklusif dalam menghadapi arus serta spirit zaman yang berubah.

Lantas, apa maksud "ilang Jawane"? Apakah yang hilang itu otensitas kepribadian dan totalitas serta konstruksi kebudayaan Jawa? Para ahli memiliki pelbagai argumentasi untuk memahami masalah ini, meskipun selalu dalam tafsir yang tak selesai.

Franz Magnis Suseno menilai bahwa memahami "wong Jawa" akan mengena jika memakai parameter etika. Seseorang dianggap "(wong) Jawa" jika memenuhi tatanan etis kejawaan. Orang yang belum sanggup untuk menerima, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai etis Jawa biasanya disebut sebagai "durung Jawa" (belum Jawa).

Penilaian "durung Jawa" ini juga menjadi fokus dari Dennis Lombard – ahli sejarah komprehensif asal Perancis -- tapi dengan pemahaman konteks kebudayaan yang lebih kompleks. Kita akan mengalami kesulitan jika melanjutkan pembahasan atas wacana "Wong Jawa Ilang Jawane", sebab dalam konteks sejarah masih tertutupi oleh tabir politis dan filosofis.

Bagaimana orang menyadari bahwa ada idealitas atas realitas kejawaan?

Kejawaan apa yang masih mungkin dikenali dengan bukti-bukti memadai?

Kejawaan niscaya memiliki akar historis yang mengandung otensitas dan derivasi dari pola akulturasi terhadap berbagai peradaban yang masuk ke Jawa. Pelacakan atas otentisitas kejawaan itu merepotkan, tetapi jejak-jejaknya mungkin tampak dari proses dan hasil dari indianisasi, arabisasi, chinasisasi, dan pembaratan yang terjadi sekian abad.

Ikhtiar untuk mencari dan merumuskan "wong Jawa" dengan kejawaan itu dilakukan dengan tendensi pada sisi-sisi substantif yang berbeda.

Kejawaan itu antara lain dipahami dalam konteks laku kebatinan, pemahaman atas kekuasaan, konstruksi kebudayaan elite (keraton), resistensi kaum pinggiran, penciptaan dan munculnya simbol (gaya busana, arsitektur rumah, seni rupa), identifikasi diri terhadap tokoh dan kisah wayang, komodifikasi kejawaan melalui naskah-naskah tekstual (literatur), sinkretisme dengan pengaruh dari berbagai agama (Hindu, Buddha, Islam, Kristen), penerimaan kejawaan melalui folklor, serta desain kolonialisme.

Barangkali yang menarik untuk dibahas pada saat ini adalah membaca serta menafsirkan ungkapan "Wong Jawa Ilang Jawane" dalam konteks pelanggengan stereotipe dan klise kebudayaan.

Konteks perbandingannya adalah mempersoalkan makna munculnya identitas kejawaan yang selalu berubah sesuai dengan tegangan lokal maupun global dalam wacana mutakhir.

Pendekatan yang mungkin dilakukan adalah melakukan tafsir atas pandangan dan laku "wong Jawa" dalam bidang ekonomi, politik, etika, agama, pendidikan, seni, teknologi, dan kebudayaan.

Balai Soedjatmoko Solo sengaja mengusung tajuk "Wong Jawa Ilang Jawane" lebih sekadar sebagai titik tolak untuk membuat kajian secara berkelanjutan dan mendalam tentang Kebudayaan Jawa – dengan asumsi itu sebagai satu konsep yang utuh – namun dengan menyadarinya sebagai kebudayaan yang dinamis. Yaitu, kajian terhadap berbagai aspek maupun fenomena yang (pernah) ada dan terjadi di dalam Kebudayaan Jawa, yang niscaya amat kompleks dan tak akan habis diwacanakan.

Sekali lagi, tajuk "Wong Jawa Ilang Jawane" sebatas frasa yang diharapkan bisa jadi magnet yang menggoda orang untuk terlibat bersama melakukan telaah dan kajian tentang aspek-aspek kebudayaan (Jawa). Entah itu menyangkut definisi tentang "Jawa" atau Kebudayaan Jawa, yang di dalamnya antara lain mencakup filsafat, etika, adat-istiadat, kearifan sosial, bahasa, sastra dan aksara, karya-karya budaya dan seni, dan lain sebagainya.

Balai Soedjatmoko memiliki komitmen untuk menggali berbagai persoalan yang berhubungan dengan fenomena perubahan atau transformasi yang terjadi – secara terus menerus – yang dialami Kebudayaan Jawa, sehingga kajian ini akan menjadi studi yang berkelanjutan tentang Kebudayaan Jawa. Oleh karena itu, seminar bertajuk "Wong Jawa Ilang Jawane" ini akan berlangsung secara "serial", berlanjut secara terjadwal, mungkin dua bulan sekali dengan topik bahasan yang berbeda.

Ada harapan bahwa kajian tersebut akan menghasilkan butir-butir "mutiara" yang diharapkan bisa diaktualisasi dalam konteks Kebudayaan Indonesia masa kini.

Atau, dengan kata lain, potensi-potensi positif yang ada di dalam Kebudayaan Jawa di masa lalu (dan kini) diharapkan bisa memberikan sumbangan bagi peradaban dan kemanusiaan, baik di tingkat lokal, nasional maupun global.

Pameran Seni Rupa

14- 23 Juni 2009

bertempat di Balai Soedatmoko dan House of Danar Hadi

Pembukaan:

14 Juni 2009, pk. 10.00 wib

di Balai Soedjatmoko, Jl. Slamet Riyadi 284, Solo

Peserta Pameran Seni Rupa

Suwaji, Heri Dono, VA. Sudiro, Djoko Pekik, Yogi Setiawan, Ivan Sagito, Nurkholis, Nasirun, Agus Burhan, Ong Hari Wahyu, Dona Prawita, Samuel Indratma, Laksmi Shitaresmi, S.Teddy D., Wedhar Riyadi, Dyan Anggraeni, Kokok Suratmoko, Teguh Ostentrik, Muhammad Yusuf, Ipong Purnomosidhi, Nano Warsono, Jeihan, Iwan Widjoyo, Wara Anindya, Andre Tanama, Gigih Wiyono, Barata Sena, Jaya Adi, Muncang, Dani Iswardana W., R. Rudy Yanto, Ki Gede Solo, Hasyim Katamsi, Enggar Yuwono, Florish Sekarjati, Fajar Sutardi, Wiwin Dwiyanto, Aries BM, Koni Herawati

 
Seminar Wong Jawa Ilang Jawane

Pembicara: MT. Arifin, S. Margana, Suparto Brata

14 Juni 2009, pk. 11.00 wib

di House of Danar Hadi

Jl. Slamet Riyadi No. 261, Solo

contact person

:

Antok 0852 9332 6766

Heru Prasetya 0816675808

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Need traffic?

Drive customers

With search ads

on Yahoo!

Y! Messenger

Group get-together

Host a free online

conference on IM.

Yahoo! Groups

Auto Enthusiast Zone

Discover Car Groups

Auto Enthusiast Zone

.

__,_._,___

[ac-i] manipulasi teori dalam seni



manipulasi teori dalam fiksi

Share
Monday, December 1, 2008 at 3:56pm | Edit Note | Delete

manipulasi teori dalam fiksi

kebutuhan sastra akan struktur, yang meletakkan diri pada grama dalam bahasa, seolah padanan anggota tubuh yang rindu akan rohnya, yang memancar dengan tenaga mekanik, dalam fungsi tiap serat anggota tubuh. Atau, bisa dibalik: roh yang hendak bereksistensi, meruang dalam tubuh.

Badan bahasa, atau yang disebut Saussure sebagai penanda, itulah anggota tubuh dalam badan manusia. Sedang ruh manusia adalah makna yang terpancar oleh badan bahasa, ke dalam dunia yang ditandai.

Dalam struktur ini, kita menarik kehadiran sastra ke dalam pelbagai konsep sastra, atau konsep bahasa. Menarik sastra juga ke dalam konsep yang datang dari dunia lain: filsafat. Juga ilmu. Ke dalam kerja intertekstualitas.

Struktur sebuah karya sastra, bukanlah sifat dan unsur yang bergerak mutlak dalam dirinya. Ia akan berguncang ketika disentuh oleh dunia lain – dunia pembaca. Resepsi dan interpretasi, adalah hal yang niscaya yang membuat genre sebuah karya sastra berguncang dan saling menyeberang, saling menidakkan. Struktur tiba-tiba menjadi tak utuh lagi. Ketarik dan ditarik oleh pembacanya sendiri, dalam ramainya dunia pemaknaan pembaca. Tapi oleh pengarangnya juga.

Kritikus sastra Katrin Bandel, menunjukkan struktur sebuah karya yang terguncang dan menyeberang itu. Dalam kajiannya terhadap novel supernova, ia meletakkan fenomena struktur yang terguncang itu, dengan penyebutan "Karya sastra sebagai taman bermain".

"Apa yang akan terjadi seandainya tokoh sebuah novel tiba-tiba melepaskan diri dan meloncat keluar dari karya sastra itu, lalu berkeliaran dengan bebas, tanpa bisa dikontrol lagi oleh pengarang yang menciptakannya?"

Itulah pengelihatan Katrin saat ia menemukan novel Supernova yang diletakkan ke dalam wadah lain – wadah respon pembaca novel Supernova di dunia maya, di mana pembaca menjadi partisipan bebas untuk memaknai dunia novel Supernova.

Kita bisa menyebut respon pembaca sebagai aspek demokratisasi sastra oleh sang pembaca novel. Bahwa novel kini bukanlah milik sang pengarang lagi, tapi sudah menjadi bagian dunia publik yang ramai, yang hendak menarik novel ke dalam situasi domestiknya sendiri. Atau dalam kalimat Katrin, "… rangkaian tulisan di bawah judul Thanks From Me (wadah novel supernova dalam dunia maya itu – hh) merupakan semacam tanggapan pembaca atas novel Supernova. Pembaca bereaksi bukan dengan memberi komentar, seperti yang biasanya dilakukan kritikus atau orang awam setelah membaca sebuah karya sastra."

Apa yang menarik dalam esai Katrin yang sangat jernih dan penuh kontrol ini, adalah saat ia mengambil Sartre dalam soal aktivitas membaca, bahwa membaca adalah sebuah kegiatan untuk menciptakan kembali.

"Agaknya pandangan Sartre", tulis Katrin, "bahwa `membaca adalah menciptakan yang terarah' terbukti benar pada mereka, hanya saja apa yang sudah diciptakan dalam benak mereka itu tidak rela mereka tinggalkan pada waktu menutup halaman terakhir, melainkan mereka jadikan titik tolak untuk terus mencipta, dengan mengambil alih cerita dan tokoh-tokoh Supernova."

"Mengambil alih tokoh-tokoh Supernova", itulah saat di mana struktur dalam sebuah karya sastra (novel) itu berguncang dan menyeberang, tak lagi menjadi struktur dalam dirinya sendiri. Bermakna dalam dirinya sendiri – dalam makna yang tunggal.

Guncangan seperti ini, sebenarnya terjadi tidak hanya di dalam ranah struktur sebuah karya. Tetapi di ranah pembaca juga sebagai manusia yang menghadapi bacaan. Menghadapi bacaan, sang pembaca pada dasarnya membentuk struktur kognitif yang disadari, menjadi sebuah konsep bagaimana cara dia memandang dunia. Atau tenggelam dan terbenam menjadi sebuah gerak dan gerik dalam diri, psiko dalam term freud. Kelak tiba masanya di mana struktur yang berproses mencari bentuk itu, atau yang "tenggelam", meledak ke luar sebagai respon manusia atas dunia yang tengah dihadapinya.
Proses seperti itulah yang diceritakan Sartre, dalam renungan metaforik di perpustakaan kakeknya saat ia masih kanak, dalam bukunya yang konon telah mengantarkannya mendapat hadiah nobel yang ditolaknya itu – Kata-Kata.

"Perpustakaan laksana dunia yang terjerat dalam cermin; tebalnya tak terhingga, beraneka, juga tak terduga. Aku terjun dalam petualangan yang luar biasa: menaiki kursi, meja, meski dengan resiko membuat semua roboh jatuh di atasku. Buku-buku di rak paling atas lama di luar jangkauanku. Ada buku lain, baru kutemukan, yang dengan mudah dapat kuambil; tetapi ada juga yang bersembunyi: yang ini pernah kuambil, bahkan mulai kubaca, dan aku yakin sudah kukembalikan, tetapi nyatanya aku perlu waktu seminggu untuk menemukannya kembali. Ada penemuan-penemuan mengerikan: kubuka buku tebal, tahu-tahu halaman berwarnanya kudapati penuh dikerubuti serangga-serangga memualkan. Berbaring di permadani, kulakukan perjalanan-perjalanan yang berat ke tengah karya-karya Fontenelle, Aristophanus, dan Rebelais: kalimat-kalimat berkutat di hadapanku seperti benda-benda hidup; mereka harus kuamati; aku mengelilinginya, pura-pura kujauhi dan tiba-tiba kembali agar bisa mengagetkan mereka di saat lengah: pada umumnya kalimat-kalimat itu tidak membuka rahasia dirinya."

"Aku mengelilinginya, pura-pura kujauhi dan tiba-tiba kembali agar bisa mengagetkan mereka di saat lengah", adalah pelukisan guncangan terhadap bacaan, yang ditemukan Katrin terhadap realitas pembaca novel Supernova, yang kini menjadikan novel Supernova sebagai milik bersama.

Saya baru menyadari pendapat Katrin ini, ketika memikirkan esai-esai saya sendiri, semacam ideologi dalam mencipta, yang dituang ke dalam bentuk novel, bahwa dunia novel adalah sebuah dunia di mana kebutuhan mengacak-ngacak dan membentuk kembali struktur, adalah proses yang berjalan bolak-balik dalam dunia penciptaan. Penciptaan bukanlah sebuah kawasan yang bisa dan harus dijumudkan, tapi adalah dunia terbuka dimana, seperti kata-kata Sartre, "kalimat-kalimat" yang "tak membuka rahasia dirinya" justru harus diminta terbuka, dikuak untuk dijelajahi. Seakan tangan pengarang memegang serenteng kunci, untuk masuk ke dalam kamar rahasia dari kalimat-kalimat serupa itu. Kini pengarang bebas dalam dirinya sendiri, bebas pula dalam dunia. Tapi kebebasan mutlak sang pengarang, adalah kebebasan mutlak pula bagi sang pembaca sebuah karangan.

Ilmu memang hendak membuat klasifikasi, menentukan sifat-sifat umum dan sifat-sifat khusus, tapi pengarang dan pembaca "bisa terbebas" dari tuntutan ilmu. Ilmu bisa dijadikan panduan, pegangan, atau semacam tongkat untuk bertopang. Selanjutnya dalam pengembaraan memasuki lorong-lorong bahasa sebagai jalan memasuki lorong-lorong jiwa manusia, maka sebuah patokan yang hendak ditancapkan, menjadikan seorang pengarang atau pembaca tergagap. Ia serupa kuda yang laju berpacu, tapi tali kekang memperlambat laju sang kuda. Tapi kemanakah kuda hendak berlari kalau horizon terjauh tanpa peta?

Maka nampak kita ditarik ke dalam dunia ilmu kembali. Seolah ilmu adalah tali kekang, menjadi suar ke mana sang pengarang dan pembaca hendak berlabuh, atau mendekat atau menjauh. Tapi bisa juga sebaliknya: ilmu ditarik oleh jiwa pengarang yang tak hendak diblog oleh ilmu.

Dalam dunia tarik menarik semacam itu, dunia di mana kebutuhan membentuk struktur sama besarnya dengan kehendak untuk menghancurkan struktur, maka cerita, atau bahasa, menjadi kawasan penuh kemungkinan, dan nyaris tak ada patokan untuk membentuk sebuah bahasa atau sebuah cerita. Termasuk juga untuk mengintodusir teori dalam sastra, atau membelokkannya.

Konvensi, terbuka untuk sebuah pelanggaran bahasa, dengan atau tanpa kesadaran. Seperti yang diparafrasakan oleh sebuah novel: bahasa juga berhak mendapatkan kesalahannya. Seperti anting dan tato di tubuhmu.

Semacam impuls yang berdenyut dari dalam jiwa sang pengarang – dari jiwa sang pembaca juga, kini mengintip di tiap tubuh si aku-lirik atau si aku-prosaik. Mengintip juga pada pencipta kritik. Maka eksplosifisisme, kini bukan hanya sebuah dugaan tapi telah dan bisa menjadi sebuah program.
Hidup memang seolah menggenggam air dalam tangan. Dan air selalu merucut ke balik tangan. Begitulah struktur dan antistruktur itu bekerja dalam jiwa sang pengarang dan sang pembaca. Untuk kemudian meletus dalam ledakan kreatif. Ada tali hendak mengekang lajunya ledakan, tapi putus oleh desakan dalam diri yang tak terbendung lagi. Kehendak untuk memblog bahasa, terkulai oleh kehendak bebas jiwa yang ingin mengembara.

Seperti yang saya lihat dalam puisi penyair Maulana Achmad (dan pastilah penyair lain juga), yang memainkan tarikan-tarikan semacam itu dalam puisinya berjudul "Ketika Nanti". Tarikan dari sebuah kegetiran, tapi tak terucapkan, dan tak terkatakan – kegetiran apakah itu? Darimana datangnya dan kemana ia hendak menuju? Tapi dalam puisi yang bernas ini, tarikan-tarikan itu bukanlah menampakkan kebutuhan mengacak struktur bahasa, tapi sebuah fenomena dari batin dari aku yang terbelah – batin yang menerima tapi hendak menjauh, menolaknya, menjadikan dirinya sebagai bayangan.

Ketika nanti,
Aku dan dedaunan sulit diurai
Sebaiknya kau keduk sesudu kami
Hiduplah! sebatas mampumu saja
: bila baik langkahmu, aku kan membentuk bayang

Dunia puisi yang menalikan manusia ke dalam dunia benda, ke dalam sebuah majas tentang kesedihan, dalam puisi Maulana "pakcik" Achmad ini, akhirnya sampai juga ke dalam pengacakan struktur "jiwa" benda yang menyatukannya ke dalam jiwa manusia. Itulah saat di mana sang penyair menyebut pengacakan itu sebagai "aku dan dedauan sulit diurai", di mana daun sebagai benda mati, kini di tangan penyair, menjadi hidup seolah hatinya sendiri. Penyair "merusak" fungsi struktur daun – benda mati itu. Konon, Newton cemas, bahwa Tuhan menambah satu kemampuan lagi terhadap dunia benda, yakni pikiran, sehingga dunia fisika tidak bisa menjadi mekanika utuh.

Dalam puisi Maulana itu, benda belum, atau tidak, berbicara berkonsonan, atau bervokal, tapi seolah berjiwa, dan jiwa itulah yang dihimpitkan oleh pakcik ke dalam motif asosiatif. Maka makna tak hanya datang dari relasi sintaktik dan semantik dalam puisi, apalagi dari permainan bunyi-bunyi, tapi keluar dari imajinasi penyair yang menali dirinya ke dalam dunia benda.

"Biarkan surai kisah kami menampar wajahmu.
Mungkin angin kelak kan ceritakan sedikit
: pernahkah aku, daun dan angin hidup

Daun, angin, tebing, sampai juga kepada kita menari-narikan kesedihannya, seolah manusia yang bersedih hati yang mengucapkan kesedihannya ke dalam dunia kata-kata – dunia puisi.
Puisi tak hendak masuk ke dalam dirinya sendiri. Ia meningkap di dahan peristiwa, di luar bahasa, sebelum bahasa. Menjadi gerak dan gerik dalam peristiwa. Dalam momen, momentum peristiwa menguar, membentuk bahasa ucapan seorang penyair. Entahlah fiksi entahlah fakta, momen ulang tahun sang istri dihadiahi oleh penyair dengan dunia kata. Kata, sebagai puncak piramida waktu, kini berkumpul dalam peristiwa ulang tahun istri sang penyair Hasan Aspahani.

Kukumpulkan daun daun kamboja itu…

Maka tampak sang penyair mengaduk harapan dan kematian: bukankah kamboja, lambang yang kita kenal sebagai bunga kuburan. Paradoks seperti ini, adalah jejak yang diucapkan oleh sang penyair, dari perjalanan fakta yang akhirnya menemukan dirinya ke dalam dunia fiksi – dunia puisi.
Kematian dalam wajahnya yang inheren dalam asosiasi puisi: matahari, daun yang luruh, jam memberat, senja yang tiba, muncul dalam puisi goenawan Mohamad yang sarat dengan pasti dan ragu (hari terakhir seorang penyair, suatu siang). Seolah pasti dan ragu, hendak menjadi permainan penundaan makna dalam semangat Derrida – mati (siapa yang mati?), atau dalam bahasa lain: kematian itu sebagai momen puitik dari kematian yang hendak "ditunda-tunda" oleh si aku-lirik.

Goenawan memasangnya dalam situasi bahasa yang berlirik prosa. Tapi apakah batasnya lagi dunia prosa dan dunia puisi, di tengah perjalanan bolak-balik yang amat cepat tiap peristiwa, atau tiap peristiwa dalam pikiran manusia, yang intensitas tiap unsur-unsurnya telah mencapai puncak kedalaman dan pengasingan, di mana pengimajian dalam puisi, yang dengannya si aku-lirik dalam puisi menyembunyikan dirinya ke dalam lirik dan bait-bait puisi, berpadanan dengan totalitas hidup yang terus berdenyut dalam ruang-ruang absurd. Sebagai lirik dan bait raksasa dalam ruang dunia di labirin lautan benda dan makna di kota-kota, atau lautan benda dan makna di dalamnya lautan, dan ruang juga di dalam kumparan laku manusia dalam dunia.

Kalau intensitas sebagai suatu proses penulisan puisi diperluas cakupannya, ditransendir ke fenomena kehidupan dalam totalitasnya serupa itu, maka cukup alasan untuk mengatakan bahwa kehidupan ini sendiri adalah puisi, yang kerap ditulis ke dalam bahasa prosa. (Ini sebuah puisi, gumam seorang lelaki tua membuka novel putu wijaya: stasiun). Tapi ditulis juga ke dalam bahasa puisi itu sendiri.
Sampai di sini, intensitas sebagai cara menuliskan puisi, bisa dibaca sebagai puisi yang sedang melonggarkan dirinya ke dalam permainan yang memberikan ruang, bagi pembaca puisi untuk berfantasi. Fantasi yang mengintensifkan tiap larik dalam puisi, tapi sekaligus melambatkannya, agar ruang dalam diri pembaca tercipta. Dan itu terjadi saat si aku lirik dalam puisi goenawan menggumamkan nama benda-benda, yang membuat kita membayangkan sebuah lanskap. Menghitungnya seolah manusia menyebut-nyebut kematiannya, menunda-nunda waktu kematiannya.

Kuhitung pohon satu-satu. Ada matahari yang lewat mengendap, dan bumi yang jadi lain: daun pun luruh, lebih bisu

Permainan puisi dalam prosa atau prosa sebagai puisi ini, seperti kelak kita lihat dalam novel-novel mutakhir Indonesia, telah berselang-seling, mengambil pelanginya sendiri dalam lirik yang hadir bergaya prosa. Tapi puisi "hari terakhir seorang penyair, suatu siang", nampak bagi saya bukanlah sekedar puisi yang menjelma prosa dan prosa yang menjelma puisi dalam tenik, juga dalam ciri. Tapi puisi yang berbicara tentang hidup yang merentang maut: maut hendak ditolak dalam keraguannya, atau ketakutannya. Seolah sang penyair hendak menawar maut yang pasti datang itu, dengan melambatkannya melalui kenangan akan benda-benda. Maka intensitas berfungsi bukan sekedar penguat makna puisi, tapi mencipta dan memandu ke dalam ruang-ruang yang lain.

Dalam pengimajian, puisi tak hanya menunjuk pada maut yang menjadi temanya, tapi juga pada pengenalan benda-benda yang muncul – gejala alam yang membawakan suasana kematian. Puisi membawakan kepada kita suasana yang "kelak hendak hilang" (dan hari menunggu/Segala akan lengkap, segala akan lengkap, Tuhanku). Dan pengenalan benda di sana bukan merujuk kepada sesuatu yang terlihat untuk dipelajari, tapi sebagai suasana untuk mendekat kepada tema puisi. Sang penyair memakainya sebagai sarana, sebagai kanal, bagi perasaan yang merambat pada dirinya. Ia mengalirkan perasaannya pada dunia benda. Seni memiliki daya tular, kata Tolstoi, dan daya tular itu nampak, bukan hanya dari alam kepada manusia sebagai inti pikiran mimesis.

Puisi (itu) masih taat pada tipologi, tapi majas di sana dihadirkan ke dalam unsur alur seperti dalam teks naratif, dan alur, bukanlah alur yang berumpu pada peristiwa dan jalinan peristiwa seperti dalam dunia prosa, dan puisi, bukanlah karya seni tanpa beralur, tapi alurnya puisi adalah balok-balok benda yang ditautkan, dalam kesan seorang penyair, yang hadir sebagai bahasa alam matahari, pohon, daun, sebagai asosiasi bagi sebuah kematian yang akan tiba itu. Sebagai benda-benda yang disebut dalam puisi. Di sana, alur menyembunyikan dirinya ke balik gejala. Di mana ruang dan waktu, berjejak dalam masa silam sang penyair dan sang pembaca puisi.

Di sana makna dibentuk oleh unsur-unsur mataporik (aku yang merenungi daun yang luruh) sekaligus metonimik (hadirnya matahari lewat mengendap, jam memberat, dan hari menunggu, dalam relasi dengan aku-lirik yang menjemput mati).

Alur yang hadir dalam larik yang menautkan diri dalam benda alam, menciptakan asosiasi tentang mati. Ada rima di sana, tapi rima diseling oleh penyair ke dalam asosiasi benda alam yang lain. Di mana konsonan dan vokal hadir bersama benda alam, mengesankan mati yang menunggu, seperti kematian dalam hidup ini sendiri pun adalah menunggu. Dengan begitu mati menjadi kehadiran yang datang selapis-selapis, seperti lapisan-lapisan roh yang ketarik, keluar dari tubuhnya selapit-selapit.

Di siang suram bertiup angin. Kuhitung pohon satu-satu
Tak ada bumi yang jadi lain: daun pun luruh, lebih bisu
Ada matahari lewat mengendap, jam memberat
Dan hari menunggu

Segala akan lengkap, segala akan lengkap, Tuhanku

Kemudian Engkau pun tiba, menjemput sajak yang tak tersua

Kemudian hari pun rembang dan tanpa cuaca
Siang akan jadi dingin, Tuhan, dan angin telah sedia
Biarkan aku hibuk dan cinta berangkat dalam rahasia

Larik-larik maju, membentuk dua bait dalam puisi, tapi tak bercerita tentang tubuh yang telentang dan mati, tapi menggesernya ke dalam sentuhan sang aku lirik terhadap fenomena benda. Benda yang dalam puisi menjadi pembentuk tema puisi. Maka puisi diselipi sepi, atau sepi merangkak ke celah puisi. Tapi awal puisi dan isi larik dalam bait-bait, membuat kita tersadar: ada efonik yang menyanyikan lagu akhir seorang penyair.

(hudan hidayat)

Written about 6 months ago · Comment · LikeUnlike
You, Cesillia Cesi, Khrisna Pabichara, Muhammad Sirul Haq and 7 others like this.
Cesillia Cesi, Khrisna Pabichara, Muhammad Sirul Haq and 7 others like this.
Hudan HidayatHudan
Cesillia CesiCesillia
Khrisna PabicharaKhrisna
Muhammad Sirul HaqMuhammad
Nur JehanNur
Endang TirtawatiEndang
Kwek Li NaKwek
Mh PoetraMH
Nani MarianiNani
Susy AyuSusy
Imron TohariImron

Nuruddin Asyhadie at 8:24pm December 1, 2008

hudan ki ketokane makin suwi semangkin cerdas. swearrrr!

fahmi faqih

bukannya jenius cak?

Nuruddin Asyhadie at 11:05pm December 1, 2008

astagfirullahaladzim. iya, iya, khilaf aku!

Hudan Hidayat
Hudan Hidayat at 10:05am December 2, 2008
rak no aku ki mentelengi esaimu sebelum prosa dan kulihat memang kita berjajar di sana nur: sepakat menolak konvensi alias konvensi adalah tawa kita sendiri seperti yang sering kau dan aku dan fah dan kawan kawan lain cekikikan di milis sebakat dan ajaib kita itu iya gak akmal wawan dan nas hehe

idih ziyi hehehe

Teguh Setiawan Pinang at 10:59am December 2, 2008

wong kok pada pinter2 gini ni pakanane apa se?

Hudan Hidayat at 11:06am December 2, 2008

puisimu keren kawan. adakah di fbmu puisimu? diletakkan di mana ya? nanya beneran ini hehe belum tahu soalnya

Teguh Setiawan Pinang at 11:11am December 2, 2008

diletakkan di sini lho kang: http://www.titiknol.com

Hudan Hidayat at 12:16pm December 2, 2008

oh iya ts pinang. yang penting mudah membukanya. tadi kucoba kubuka eh mental dia: internetnya terputus, maksudku.

Frances Polly at 10:39am January 11

kita memang memerlukan " tubuh" yang hidup, agar "ruh" menjadi niscaya. niscaya memaknai tanda-tanda. menjelajahinya, mengaduknya (mungkin) menjadikan semacam sintesa dan anti-tesa..

Hudan Hidayat at 12:11am March 23

aku membaca lagi tulisanku ini, untuk menyimak suara hatiku yang lain.

Jun Nizami at 12:51pm March 23

Gusti pangeran!! Essei2 tuhan ini dalam2 sangat. aku kuyup.

Hudan Hidayat at 1:09pm March 23

gusti an nizami terima kasih ya. sangat dalam perasaanmu terkuak di sms mu di atas ini hehe

Jun Nizami at 3:37pm March 23

Woah..terlalu dalam,hingga kedalaman itu tak lagi bernama..hahaha

Imron Tohari at 8:25am May 26

aku serasa berenang di kolam susu mas, tinggal iso opo ora aku nyruputnya. Hiks.

Salam lifespirit!

Camelia Camel Dananjaya at 8:28am May 26

hwaduh...sampe nahan napas bacanya...takut ada yg ga terserap...nice notes...nambah wawasan...makasieh...:)

Susy Ayu at 8:36am May 26

Sangat disarankan untuk membaca essay ini berulang ulang, karena tiap kalimatanya padat berisi seperti tubuh perempuan/laki2 sexy yang gak hanya dinikmati satu kali..halah..! Tapi ini serius, berulang ulang agar jgn sampai ada yang luput dr pikiran kita untuk mengolahnya. salam hangat ya Mr. President.

Nani Mariani at 8:42am May 26

ketika kita membaca kita mengeluarkan suara. Seakan-akan itu suara guruku, adalah kamu, bang, tks..

Seiska Handayani at 8:51am May 26

aku sudah membacanya, tapi aku harus membacanya lagi...berkali-kali sepertinya :)
tq pak pres...

Mh Poetra at 9:05am May 26

Ya mas..
Sangat padat disetiap kalimat maupun per paragrafnya.. Harus benar-benar jeli membacanya..

Salut!
... Read More
Trimakasih dah mau berbagi ilmu yang sangat2 berharga ini mas..

Salam hormatku

Maghie Oktavia at 10:04am May 26

aku membacanya sambil mengangguk-anggukan kepala.. bkn krn aku ngantuk disebabkan blm tdr dr smlm :P
tp krn aku terkagum-kagum Pak Pres,lalu aku membacanya lagi...dan lagi...lalu mengangguk-angguk lagi...
hmmm..kira2 boleh gak ya semua tulisanmu yg penuh azimat berharga ini aku copy ke usb lalu aku baca dan baca dan baca sampai terserap ilmu2nya,bang Huds? :)

Kwek Li Na at 10:12am May 26

Dasyaturaiainya...

ilmuyangsangatbergunaa...

thanksBangHudan,ilmuyangsangatbermanfaat:)

Arif Gumantia at 10:14am May 26

hehehheheh..de dor...aku ketawa aja...
soalnya mulai kemarin tembakan njenengan tambah menggelegar...hahahhahahhahahhahah...hehheheh
ayo..tembak lagi...biar yang di luar terdengar...hihihihi
salam dari madiun

Nani Mariani at 10:28am May 26

sekali baca aku binun.., pusing.. , blom ngerti, baca lagi.., baca lagi..,, aku print aja deh, biar asseeek bisa dipegang sekalian kemanapun.., bauss bener ilmu yang kau curahkan.
sentuhan-sentuhan halus. terima kasih Pak Pres Hud Hud..

Eimond Esya at 10:30am May 26

tumben Um HH persis Ilmuwan di sini, hehe. biasanya kan ilmunya di sampaikan pake ulasan nyeni bin lucu. hehe terbukti kan! tapi kebayang pasti lagi bikinnya perasaan Um HH ga se fun gaya yg satunya. Ga bisa masukin kata 'ndut-ndutan' soalnya. heheh

Rini Asmoro at 11:17am May 26

kureguk ilmunya ni : glek....habis tandas...!
salam hormatku !

Endang Tirtawati at 11:42am May 26

mas hudan....andai mas hudan dekat aku pasti tiap hari datang ke padepokan mas hudan bwt belajar face to face deh...sukses selalu ya mas....:)

Abdullah Sajad at 2:31pm May 26

iya. memang keren sekali tulisan ini, membedah sastra indonesia. hehe.

Nur Jehan at 3:06pm May 26

Disini jelas sekali paparan mas hudan tentang prosa dan puisi apalagi dilengkapi dengan contoh2nya. Dikenalkan dengan isitilah seperti tipologi, majas, bagaimana memaknai sajak, bagaimana prosa. Serasa ingin lagi dan lagi membacanya biar nancep di hati dan otak.

Sudi Ono at 3:21pm May 26

tulisan yang bergelora seperti samudra tanpa batas, hanya lahir oleh kritikus sastra yang jenius dan berhati baik....

Hudan Hidayat at 4:37pm May 26

idih ih hihi

ndut ndut an yuk hahahaha

Kurniawan Yunianto at 12:50am May 27

hehe, aku sampek semlengeren, iya sudi yang penting berhati baik itu .. tuhkan dia sudah ngajak ndutndutan hahaha

Hudan Hidayat at 1:48am May 27

haha mangsudnya makan nasi goreng sambil goyang goyang bandung gitu lo kurniawan aa haha

baca hung huethu hehua hihu hoh haha

Cesillia Cesi at 5:00am May 27

membaca note den don hu dan satu persatu, duh aku jadi tambah pandai, sekolah lagi dengan gratis tis cukup punya koneksi internet atau dari warnetpun bisa dapat ilmu yang kalau masuk kuliah lagi berapa bayarnya kan?

terima kasih den don hu dan dedikasi ilmumu tidak akan sia sia ku yakin itu.

Faradina Izdhihary at 7:22am May 27

aku sama dengan mbak ces. setiap lihat notes mas hh, entah di tag entah gak... lalap aja. kuliah gratis.
Write a comment...

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

Bls: [ac-i] berpikir bersama bahasa



boleh dong Asa balas dengan
Gumam Asa
judulnya ya sederhana saja:
TUBUH DI HUTAN HUTAN
salam hangat selalu ya


Dari: hudanhidayat <HudanHidayat@yahoo.com>
Kepada: artculture-indonesia@yahoogroups.com
Terkirim: Rabu, 10 Juni, 2009 18:05:06
Topik: [ac-i] berpikir bersama bahasa

berpikir bersama bahasa
Share
Mon at 1:56pm | Edit Note | Delete

berpikir adalah berpikir dengan bahasa.
berpikir bersama bahasa.

tiap kali kita memakai pikiran dalam ruang sadar, selalu benda abstrak atau benda konkret yang muncul. kata memiliki jenis dan bentuk - kata dalam bahasa - tapi jenis dan bentuk kata, selalu mengacu kepada benda dalam ruang sadar kita. benda yang mengacu kepada makna.

sebuah peristiwa sejarah melintas dan kita mungkin terkenang kepada sukarno atau hamka. sukarno menghukum hamka dan itu adalah peristiwa. tapi sukarno dan hamka sendiri adalah benda, adalah materi.

maka tak ada peristiwa tanpa benda. maka peristiwa adalah benda dengan sifat sifatnya.

dalam penjaranya hamka menulis tafsir qur'an berjilid jilid dan itu adalah benda, materi. yakni buku yang memuat tafsir atas kitab suci. maka kitab suci yang terkandung dalam kata, terkandung dalam bahasa, semisal dosa dan pahala, bahagia atau menderita, itu adalah benda. benda abstrak yang memiliki sifat sifatnya sendiri.

jeruji besi tempat hamka di baliknya berdiam adalah benda. badan terkurung dan kebebasan tubuh berhenti. kebebasan itu adalah benda - makna abstrak dari ketiadaan daya dari benda, tubuh itu, untuk bergerak leluasa di luar penjara.

maka dalam dunia hanya ada benda, materi.

datang dari roh, apa yang kita sebut dengan kebebasan. sebagaimana dengan kebahagiaan atau penderitaan, adalah suatu rasa jiwa, suatu rasa dari roh yang menderita. suatu zat. sebagaimana tuhan sendiri adalah zat - zat yang maha suci.

tuhan adalah zat yang maha suci.
manusia adalah zat yang telah tercemari.

yang ada hanya benda. benda konkret dan benda abstrak.

materi adalah benda konkret. roh adalah zat yakni benda abstrak. yang turun dan mengeram dalam tubuh, materi tubuh; perasaan dan pikiran - ruang kesadaran kita itu - adalah benda abstrak bernama zat - sebagaimana tuhan sendiri itu adalah zat.

maka bahasa adalah sekaligus benda konkret berbentuk lambang beserta medium lambang, serta benda abstrak zat berserta madium zat yang berdiam di dalam lambang.

eter itu kini telah terperangkam ke dalam lambang dari suatu bahasa.

bahasa adalah lambang konkret dan lambang abstrak dari situasi kemanusian. dari situasi tuhan. tuhan membentuk universe dalam enam masa. lalu membentuk adam dari tanah liat hitam. tanah yang membentuk tiap jenis dan bentuk benda, atau bumi itu, bekerja sama dengan matahari untuk menumbuhkan dan menghidupkan.

begitulah segala jenis dan bentuk benda tumbuh dan bersemi, tumbuh dan mati, di bawah langit dan di bawah bumi. langit dan bumi yang memanggil manggil kita kembali. mendatangkan keharuan dan kerinduan. semacam kerinduan kita kepada kampung halaman. kita yang dari tanah dan dipanaskan matahari, yang ditumbuhkan oleh bumi melalui makanan bumi, kini membayarnya dengan rasa rindu-dendam di hati.

bumi adalah ibu semua manusia. tapi bumi berasal dari roh tuhan kita. dan roh tuhan kita berasal darimana?

dan di sinilah labirin maha misteri itu berhenti: darimana gerangan zat tuhan itu berasal? tak darimana mana. maka suatu ateisme sangat mungin menjadi godaan pada manusia. sebagaimana suatu teisme adalah hal yang niscaya.

semuanya adalah soal panggilan hati. dan panggilan hati adalah misteri.

bukan tugas kamu menjadikan manusia beriman.
tugas kamu hanyalah memberi peringatan.
dan peringatan janganlah datang dengan
mengayunkan pedang.
bukan tugas kamu mengayunkan pedang.

tugas siapakah yang mengayunkan pedang?
tak siapa siapa.
karena kita hanyalah mahluknya yang
telah tercemar dalam dunia.
terbelah dalam sebuah paradoks
baik dan buruk.
tinggi dan rendah
sebagaimana bahasa itu
sendiri: baik dan buruk
tinggi dan rendah.
tapi bukan benar atau salah.

aku yang mengalami bahasa adalah aku yang mengalami benda. aku yang hidup di alam benda. maka pada awal mulanya bukanlah kata tapi benda. maka menulis puisi bukanlah membebaskan kata kata tapi mendekatkan kata kata kepada benda. kepada jenis dan bentuk benda. maka kata pertama bukanlah mantra tapi benda.

bagaimana kita hendak mengoperasikan perspektif bahasa dalam pengertian baru seperti ini? perspektif yang tak dijangkau oleh orang orang seperti saussure atau chomsky? mengoperasikannya ke dalam bahasa puisi, atau seni atas kata kata pada umumnya.

adalah tugas seniman kata kata untuk menjawabnya. melalui aktifitas saling menulis dan saling membaca.

ai asyiknya.

hudan hidayat
tuhan kata kata, kaisar kata kata
presiden negara sastra
idih hihi

Written on Sunday · Comment · LikeUnlike
You, Camelia Camel Dananjaya, Priatna Ahmad Budiman, Triwibs Kanyut and 18 others like this.
Camelia Camel Dananjaya, Priatna Ahmad Budiman, Triwibs Kanyut and 18 others like this.
Hudan HidayatHudan
Camelia Camel DananjayaCamelia
Priatna Ahmad BudimanPriatna
Triwibs KanyutTriwibs
Imron TohariImron
Ersta AndantinoErsta
Senja Aditya FajarSenja
Kurniawan YuniantoKurniawan
Niratisaya NisayatariNiratisay a
Gusti RezaGusti
M Aan MansyurM Aan
See all...

Nur Jehan at 2:08pm June 8

berfikir bersama bahasa
berfikir bersama rasa
rasa dalam bahasa

Sandra Palupi at 2:29pm June 8

meniupkan nafas kehidupan pada segala benda menjadi rentetan kata dalam puisi. ternyata, puisi itu ajaib ya.

Poncowae Lou at 2:31pm June 8

nah ini lebih terasa dibanding waktu baru 3 paragraf tadi.

hmm
bagaimana kita hendak mengoperasikan perspektif bahasa dalam pengertian baru seperti ini? perspektif yang tak dijangkau oleh orang orang seperti saussure atau chomsky? mengoperasikannya ke dalam bahasa puisi, atau seni atas kata kata pada umumnya.
... Read More
wah berarti ada kelanjutanya nih

aku menyimak saja dah, ilmuku masih cethek
hehe

Cepi Sabre at 3:49pm June 8

menambahkan saja.

teori mekanika kuantum.
menurut mekanika kuantum segala sesuatu tersusun oleh partikelpartikel seperti elektron, proton dan neutron ditambah meson yang saling bertukaran antar neutron dalam menciptakan gaya inti - yang semuanya selalu bergerak sehingga partikelpartikel penyusun orang yang sedang duduk itu sebenarnya selalu berganti-ganti sifat dari materi ke gelombang dan sebaliknya secara terus menerus.
... Read More
saya pikir bahasa pun sebagai materi tidak akan diam, selalu bergerak. dan pertukaran antar neutron akan selalu terjadi selama manusia berbahasa - berdialog. begitupun bahasa sebagai seni.. seperti catatan dinding bang hudan : 'tiap hari udah nulis sastra. tinggal saling menulis dan membaca.'

hanya menulis yang saya tau.

salam.

Dadan N Ramdan at 4:12pm June 8

menerjemahkan bahasa pikiran

Zuraidah Abdul Aziz at 4:31pm June 8

bahasa yang dituturkan ato ditulis? kasian sama si bisu.. hiks

Samsudin Adlawi at 5:08pm June 8

rasa bahasa, bahasa dalam pikiran, bahasa dalam hati, bagaimana mencapainya mas hudan...

Priatna Ahmad Budiman at 6:10pm June 8

Bahasa itu kuman dari kesadaran yang siap menular, menginkubasi, menginfeksi atau beranak pinak, bahkan bermutasi di inang berikutnya.

Pringadi Abdi at 6:17pm June 8

sejak saya bergelut di bahasa
(menulis dan mengajar bahasa indonesia)
rasanya memang
ada dua macam istilah
yang mengusik imaji... Read More

logika bahasa dan bahasa logika

keduanya memang harus disatukan

Jehan Syauqi at 9:13pm June 8

saya terus menyimak-

Avie Dewanto at 11:57pm June 8

cuma manusia yang patut diagungkan dari semua makhluk, perintah Sang Pencipta. kenapa? lantaran Sang Pencipta membekali manusia dengan keterampilan meramu bahasa.

nah, kalau ada manusia dan belum mampu meramu bahasa tentulah patut dibawa ke haribaan tuhan hudan. sebab kemampuan berbahasa itulah yang membedakan tuhan, hudan dan saya.

sebagaimana dikatakannya :... Read More
tiap kali kita memakai pikiran dalam ruang sadar, selalu benda abstrak, atau benda konkret, muncul. kata memiliki jenis, bentuk - kata dalam tata bahasa - tapi jenis, bentuk, dari kata, selalu mengacu kepada benda dalam ruang sadar kita. benda yang mengacu kepada makna.

itulah bahasa.

Imron Tohari at 8:02am June 9

aku menyimak mas Hudan "Presiden Negara Sastra Maya" Hidayat

Salam lifespirit!

Antok Serean at 8:12am June 9

seringkali bahasa tak sanggup mengungkapkan "sesuatu" yang ingin mengungkapkan dirinya dari dalam diri. aduh, stres kalau sudah begitu.

Camelia Camel Dananjaya at 2:02pm June 9

(duduk manis dan mnyimak, bang...^^)



Akses email lebih cepat.
Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis)

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

[ac-i] kematian dalam bahasa - ping tardji



kematian dalam bahasa
Share
Today at 1:39pm | Edit Note | Delete
1

bahasa bisa meninggal sebagaimana manusia bisa meninggal. meninggal adalah kosa kota dari hilangnya diri dari indera indera yang kita kenal. lesap ke dalam alam lain yang tak kita kenali. mati.

bahasa meninggal kalau lambang lambang grafis dilenyapkan, atau lambang lambang vokal ujaran ditidurkan. pada saat seperti itu tak ada bahasa lagi. saat perang misalnya, di mana lambang lambang bahasa dibakar, dan yang tinggal hanya lambang dalam ucapan lisan seseorang. akustik yang meluncur dari mulut.

atau saat manusia tidur itu sendiri. bahasa mungkin masih bekerja dalam alam mimpi, yang tercetus ke dalam igauan seseorang. tapi pada dasarnya, bahasa yang memiliki logika dan sintaktik itu, telah menemui kuburnya dalam momen itu. tak bisa lagi beroperasi sebagaimana fungsi sebuah bahasa.

dalam keadaan seperti itulah bahasa telah meninggal - mati.

sering orang berkata, hidup enggan mati tak mau. yang artinya seseorang sudah tak ada lagi gairah untuk hidup. tapi untuk mati pun tak pula ia niatkan, misalnya dengan membunuh dirinya sendiri. segalanya jadi serba kacau. orang tak lagi tak produktif. jalannya seolah layang layang tak putus - talinya masih ada - nyawanya masih mengendap di badan - tapi angin telah membawanya seolah arbitrer dalam bahasa.

bahasa bergoyang goyang tanpa memproduksi makna apapun. bahasa menari dan bernyanyi tanpa makna apapun.

dalam sebuah puisi bahasa bisa meninggal kalau seorang pembaca menerapkan kebebasannya atas suatu teks (puisi) secara sekehendaknya sendiri. atau sang penyairnya sendiri yang mencabut sebuah larik dari puisinya sendiri.

pada manapun yang dipilih dari kedua situasi itu, akhirnya adalah kematian dalam bahasa sebuah puisi.

puisi sutardji yang dijadikan contoh ignas kleden, dalam menerobos makna dalam bahasa, ping di atas pong/pong di atas ping (dstnya), cabutlah larik "sembilu jarakMu merancap nyaring, apakah kode leksikal di sana masih bermakna? sajak itu akan jatuh ke dalam pelukan kegelapan. menjadi sajak gelap yang, mungkin, penyairnya sendiri tak tahu apa maknanya.

begitulah meninggalnya bahasa, atau kematian bahasa, adalah kegelapan bahasa karena tak tentu maknanya. tapi soalnya, apakah kematian bahasa, apakah meninggalnya suatu bahasa yang jatuh ke dalam lubang kegelapan itu, adalah benar tak bermakna sama sekali?

dengan kata lain, apakah setiap bahasa harus menemukan dirinya tergelar dalam logika sintaktik dan semantik maknanya harus tersedia bagi manusia pengguna bahasa?

manusia pengguna bahasa, barangkali di sinilah soalnya.

seorang presiden, atau seorang pemimpin perusahan, barangkali harus disuguhi atau menyuguhi bahasa yang jelas logikanya. harus sesuai struktur dalam bahasa kubi. agar komunikasi bisa berlangsung dengan baik dan benar. sebab bayangkan kalau seorang presiden, dalam mengelola memakaikan bahasa penuh perlambangan (seperti orde baru itu), maka apa jadinya tafsir bahasa itu dalam kenyataan (seperti orde baru itu).

sebaliknya untuk kaum seniman dalam dunia kata kata - kata kata haraplah dibaca sekedar sastra, tapi juga musik, film, atau terater bahkan lukisan serta gerak badan - kegelapan bahasa adalah suatu hal yang niscaya, tak perlu ditakutkan jatuh ke dalam bahasa yang tak bisa dimengerti.

atau mungkin soalnya adalah cara untuk mengerti bahasa yang gelap itu.

cara mengerti bahasa yang gelap itu, bisa kita dampitkan ke dalam jiwa kita sendiri. yakni jiwa kita yang gelap dan penuh impulsitas hati. penuh paradoks yang akan mencabik cabik tiap motif diri. mencabik dan meluluhlantakkan tiap simpul dan ikatan moral.

perang misalnya, atau kasus kekerasan yang lain.

perang dan kekerasan, tidakkah itu adalah kegelapan dalam bahasa? di mana diri merasuk dan menghamburkan keluar, tanpa kontrol sintaktik, abai semantik, alpa logika norma moral, tapi telah tercekat saat pisau cukur di tangan kita telah mengiris nadi di pergelangan tangan kita sendiri.

atau kita membuka katup bom dengan riang. menjatuhkan bom dengan hati senang.

2

ada makna absurd sebagaimana hidup yang absurd. hidup adalah absurd tapi kita bisa tetap bahagia dengan panorama dunia. begitu juga bahasa: bahasa absurd tapi kita bisa juga berbahagia dengan panorama bahasa.

ping di atas pong
pong di atas ping

bisa kita hilangkan jedanya dan kini kita bermain dengan laju bahasa yang tak ditahan oleh masa istirahat dalam bahasa - jeda itu. puisi itu bergerak cepat dalam citra lidah puisi - akustik itu: ping di atas pong pong di atas ping, dan titik (.) kita cabut lalu kita pasang langsung lariknya terus menyambung: ping ping bilang pong pong pong bilang ping.

maka kita dapati sebuah panorama lidah puisi atau citra akustik tadi, dalam lajur sebuah puisi yang membentuk makna seolah nyanyian dari dunia kata kata yang tak kita kenal - semacam lagu dalam bahasa inggris umpama kita tak pahami artinya, tapi nadanya menyambar ke dalam diri kita membawa keriangan, atau mungkin kesedihan dan keputusasaan.

"ping di atas pong pong di atas ping ping ping bilang pong pong pong bilang ping mau pong?"

jeda dalam bahasa, istirahat dalam larik puisi, enyambemen itu, adalah membuat kerjap mata kita berhenti, sejenak istirahat dalam tatapn huruf, dalam menatapi huruf, tapi kosong, lalu terbentuklah ruang kosong sejenak.

tapi ruang kosong ini, baik saya katakan, bukan hanya datang dari hanya jeda dalam bahasa. tapi datang dari citraan benda konkret dan benda abstrak dalam larik puisi itu sendiri. baik pula saya katakan, bahwa jeda dalam bahasa tidak hanya datang dari lambang bahasa seperti perhentian bahasa: titik, koma, titik koma; atau kata ngiau dalam puisi amuk sutardji. tapi juga dari larik yang membawa muatan ide dalam larik puisi itu sendiri.

hanya, ruang kosong, jeda dalam fungsi pemakaian tanda, hendak dan telah kita lompati dalam kasus puisi ping yang kita rebahkan menyamping terus menerus itu. sehingga kita mendapati panorama ruang yang penuh dari panorama bahasa itu sendiri. imaji dan asosiasi yang gelap, kecuali menimbulkan citraan musik dalam mulut, dalam teling dan dalam mata yang memandang.

bahasa yang melaju dengan kecepatan penuh itu akhirnya membentuk rap dalam puisi. muncullah rapper dalam diri sang penyair yang telah merontokkan batasan yang hendak dibangun oleh buku pengantar sastra yang diindonesiakan oleh dick hartoko tadi. atau pembaca telah bergerak menjadi rapper puisi.

kini puisi meloncat loncat, melengganglenggangkan tubuhnya seolah jenis musik rap itu sendiri. ping di atas pong pong di atas ping menjelma musik rap yang ia tak paham bahasa inggris disambarkan oleh dunia kata kata gelap dan dihentakkan kaki kaki puisinya dari irama puisi musik rap yang sedang menggoyang goyangkan tubuhnya.

hudan hidayat

Written 3 hours ago · Comment · LikeUnlike
You, Maghie Oktavia, Priatna Ahmad Budiman, Abdullah Sajad and 8 others like this.
Maghie Oktavia, Priatna Ahmad Budiman, Abdullah Sajad and 8 others like this.
Hudan HidayatHudan
Maghie OktaviaMaghie
Priatna Ahmad BudimanPriatna
Abdullah SajadAbdullah
Faradina IzdhiharyFaradina
Susy Ayu RanadivaSusy
Nur JehanNur
Nani MarianiNani
Yusni Amru GhazaliYusni
Timur Sinar SuprabanaTimur
Eva BudiastutiEva
See all...

Cavita Jamie
Cavita Jamie at 1:55pm June 10
entah apa namanya bila manusia telah mampu memenangkan peperangan yang paling akbar .. yaitu perang kpd diri sendiri maka kabut hati tak ada lagi...Pemancar antena sanubari pasti jernih... maka bisa saja bahasa verbal mungkin MATI... tapi bahasa kalbu makin berkembang maju...
gak perlu pake HP kita bicara, pake telepati hemat pulsa kan?? Salam Sobatku...

Samsudin Adlawi
Samsudin Adlawi at 1:58pm June 10
aku menyimak esai ini. jadi, bahasa pun harus tahu siapa dan kapan menggunakannya. empan papan, begitu kata orang jawa. alangkah lebih baik jika presiden (seperti dicontohkan mas hudan) menguasai bahasa sebagaimana ia menguasai rakyatnya, sehingga ia bisa menggunakan bahasa dalam kondisi dan situasi yang bagaimanapun tapi tetap komunikatif. Setidaknya spt beberapa dai, dia mengutip syair arab klasik lalu diterjemahkan sesuai interpretasinya.

Cavita Jamie
Cavita Jamie at 1:59pm June 10
hmm dunia ini pararel , quarkpun mampu menangkap pesan

Early Rahmawati
Early Rahmawati at 1:59pm June 10
keren analisisnya, thanks :)

Cavita Jamie
Cavita Jamie at 2:04pm June 10
@Samsudin... hmmm ruh bahasa telah melebur dalam jiwa pak pres kita ini...lihatlah kemampuannya menembus dinding kata masuk kejantungnya kata... lihatlah bahkan kata mungkin bercerita padanya he hee hud.. hud ihh

Samsudin Adlawi
Samsudin Adlawi at 2:07pm June 10
@Cavita: wah kalau presiden kita yang satu ini tak perlu diragukan soal itu. Dialah presiden yang ditubuhnya mengalir darah bahasa.

Nur Jehan
Nur Jehan at 2:07pm June 10
Mas Hudan, kadang aku mengalami dimana aku sendiri tidak tau apa yang aku tuliskan, semuanya mengalir saja. tapi ketika disampaikan kepada pembaca, merekalah yang memaknai, kalau itu termasuk apa ya mas, dan kadang melangggar semua logika kata yang ada. Mungkinkah pada keadaan tertentu alam bawah sadar yang bekerja sehingga kita mampu menuliskan semuanya.

Berat euy bahasannya.
Mohon penjelasan Pak PRes.

Weni Suryandari
Weni Suryandari at 2:16pm June 10
Beraaatt..beraaattt...hm, aku menyimak betul...meski masih sering merasa gagap saat menulis...

Samsudin Adlawi
Samsudin Adlawi at 2:26pm June 10
kalau itu aku tahu jawabannya jehan, tapi biar presiden kita sajalah yang menjawab. sebab, aku melihat aura yang sama antara jehan dan presiden hudan kita.

Faradina Izdhihary
Faradina Izdhihary at 3:20pm June 10
kalo sutarji, presiden penyair ind, maka bang hudan pres sastra fb

N'na Sastradihardja
N'na Sastradihardja at 3:40pm June 10
@ faradina: aq pun bljr dr catatan n tlsnanya kang hudan, mcoba menyimak, memaknai,
@weni: soal "gagap" sami wen bahkan jd terkekeh saat mbaca ulang qiqiqqiqiqi (naha bet ginie)

Abdullah Sajad
Abdullah Sajad at 4:15pm June 10
keren ini... pak pres.. :)

Abimardha Kurniawan
Abimardha Kurniawan at 4:59pm June 10
Menyimak kegelapan bahasa.... Saya rasa, sejak awal bahasa punya potensi yang kuat untuk menjadi gelap karena ia sendiri bukan representasi alamiah dari realita, melainkan sintetis alias rekayasa yang dikonvensikan (hingga akhirnya terkonvensikan). Kegoyahan komunikasi biasa terjadi bagi orang-orang yang ada di luar konvensi itu. Itu masih dalam ... Read Moreranah penggunaan bahasa sehari-hari, belum lagi kalau sudah jadi puisi. Wah, pasti ada beragam dinding konvensi yang musti ditembus. Mungkin begini, hehehehe

Akan saya pelajari lagi tulisan Sampeyan Tuhan Hudan, hehehe

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Ads on Yahoo!

Learn more now.

Reach customers

searching for you.

Find helpful tips

for Moderators

on the Yahoo!

Groups team blog.

Yahoo! Groups

Dog Group

Connect and share with

dog owners like you

.

__,_._,___