Tuesday, October 13, 2009

[ac-i] Kemenangan Qory Sandioriva Dan Polemik Yang Menyertainya

 

Tiga hari tidak membuka internet tiba-tiba halaman facebook saya dipenuhi kontroversi soal terpilihnya wakil Aceh, Qory Sandioriva, menjadi Puteri Indonesia 2009.

Bagi saya pribadi, ajang pemilihan Puteri Indonesia, Miss Universe dan sejenisnya tidak lain hanyalah kontes adu keindahan daging (fisik) yang dibungkus dengan kemasan yang membuatnya seolah-olah juga merupakan kontes kemampuan intelektual. Bagi saya ini tidak lebih dari sekedar urusan selangkangan yang dibungkus dengan segala gemerlap dunia pertunjukan. Ajang semacam ini sama sekali tidak pernah menarik perhatian saya.

Pandangan pribadi saya terhadap kontes adu keindahan daging yang dilabel dengan nama pemilihan Puteri Indonesia ini sama sekali tidak berubah, meskipun kali ini yang dinobatkan menjadi pemilik daging terindah mengaku sebagai wakil Aceh, daerah asal saya. Bahkan lebih khusus lagi, konon lagi katanya si pemilik daging indah yang bernama Qory ini adalah orang Gayo, sama seperti saya.

Selama ini saya tidak pernah kenal nama Qory dan juga nama kedua orang tuanya, saya baru tahu ada seorang manusia bernama Qory Sandioriva ketika berita kemenangannya membuat heboh dimana-mana. Meskipun jika kemudian orangtuanya bertemu dengan saya dan menanyakan silsilahnya pasti langsung ketemu entah siapanya punya hubungan entah apa dengan salah satu kerabat saya. Itu terjadi karena orang Gayo jumlahnya memang sedikit sekali di planet ini, hanya sekitar 300 ribu orang saja. Jadi antara satu orang Gayo dengan orang Gayo lainnya biasanya selalu ada hubungan kekerabatan.

Intinya penobatan Qory Sandioriva, menjadi Puteri Indonesia 2009 kemarin sama sekali tidak membawa pengaruh apapun bagi saya baik pribadi saya sebagai seorang individu maupun pribadi saya sebagai bagian dari orang Aceh dan lebih khusus lagi Gayo. Kemenangan Qory Sandioriva dalam kontes adu keindahan daging kemarin sama sekali tidak membuat saya sebagai orang Gayo merasa bangga atau terhina, biasa saja!

Yang menjadi masalah adalah, hanya sedikit sekali orang Aceh dan orang Gayo yang memiliki sikap seperti saya yang menganggap remeh masalah selangkangan.
Bagi kebanyakan orang Aceh dan juga orang Gayo, masalah selangkangan ada di urutan tertinggi dalam daftar moralitas yang harus diatur dengan ketat dan sungguh-sungguh. Sampai saat ini tidak sedikit orang Aceh yang percaya kalau Tsunami yang meluluh lantakkan Aceh yang terjadi tahun 2004, bisa terjadi akibat orang Aceh tidak bisa menjaga selangkangan.

Bahkan hanya beberapa hari yang lalu seorang perempuan asal Gayo, putri seorang pejabat tinggi di pemda Aceh Tengah yang mengenyam gelar sarjana teknik sipil dan selalu berjilbab menulis di statusnya di 'facebook'. "Mungkin Allah sengaja membakar gunung-gunung di sekitar danau Laut Tawar karena Allah marah bukit-bukit itu dijadikan tempat berkhalwat".

Sebagaimana para penyembah berhala di segala zaman yang selalu menggambarkan Tuhan seperti sosok dirinya. Orang Gayo yang menulis status di facebook inipun menggambarkan Tuhan yang dia sebut dengan nama yang sama seperti nama Tuhan dalam setiap ibadah yang saya lakukan ini pun persis seperti sosok dirinya yang merasa begitu pentingnya urusan selangkangan. Tuhan dia gambarkan sebagai sosok yang cepat sekali marah dan emosi melihat ada orang yang tidak mampu menjaga selangkangan, tapi punya segudang alasan dan pemakluman untuk berbagai kasus korupsi dan penyalahgunaan jabatan oleh penguasa. Bahkan bisa memaklumi pejabat yang menjual dan ulama yang menyetujui penjualan Mesjid dan Panti Asuhan. Sosok Tuhan di statusnya ini tampak persis seperti fotocopy diri perempuan ini sendiri.

Apa yang saya ceritakan di atas adalah gambaran tentang begitu pentingnya urusan selangkangan ini di dalam masyarakat Aceh dan Gayo. Sehingga ketika Qanun Syari'at Islam dibuat dan diterapkan di negeri ini pun, masalah yang paling banyak diatur dalam Qanun (undang-undang) ini adalah urusan selangkangan.

Menilik pada kenyataan itulah maka sayapun sama sekali tidak merasa heran ketika kemenangan Qory Sandioriva dalam kontes adu keindahan daging yang baru lalu manarik atensi dan menimbulkan pro kontra di semua kalangan.

Di kalangan ulama dan para pendukung Syari'at Islam dan para moralis jelas, Qory yang tidak berjilbab yang memenangi kontes adu keindahan daging se Indonesia dalam kapasitasnya sebagai wakil negeri mereka ini adalah sebuah tamparan. Sebaliknya bagi yang menentang penerapan syari'at ini menjadi bahan baru untuk melakukan perlawanan.

Tidak ketinggalan para oportunis yang ingin mendirikan provinsi baru di Aceh yang sempat beberapa lama mati suri karena isu usang yang mereka usung tidak lagi mendapat tanggapan memadai dengan dengan sigap memanfaatkan momen terpilihnya Qory Sandioriva dalam kontes adu keindahan daging ini untuk membangkitkan sentimen keGayo-an yang berbeda dengan Aceh.

Pejabat pemerintah dengan segala keterbatasan wawasan, keterbatasan kecerdasan dipadu dengan keluguan dan kenaifannya mencoba menyangkal 'Keacehan' Qory melalui status kependudukannya yang tidak ber KTP Aceh. Ini sangat lucu karena jika standar yang coba dibuat oleh si pejabat ini tentang 'keacehan' seseorang yang dinilai dari status kependudukan di KTP ini benar-benar diterima sebagai standar resmi untuk menilai kadar keacehan seseorang. Maka saya yang lahir dan besar di Aceh dari ibu dan bapak asli Gayo akan menjadi bukan orang Aceh. Tgk. Hasan Tiro, Mentro Malik dan Surya Paloh yang tidak memiliki KTP Aceh juga tiba-tiba menjadi BUKAN ORANG ACEH. Sebaliknya justru si Pinem, Hutabarat, Surono, Paiman dan A Hong yang ber KTP Aceh adalah orang Aceh yang asli.

Soal karena tidak ber-KTP Aceh tapi malah mewakili Aceh di sebuah ajang. Dulu waktu saya masih duduk di bangku SD juga ada seorang atlit lempar lembing bernama depan Tati kalau tidak salah yang berKTP Jawa Barat tapi dalam PON selalu memilih mewakili Aceh dan menyumbangkan emas untuk provinsi ini, saat itu tidak ada polemik seperti ini. Tidak ada satupun orang Aceh yang meragukan dan mempermasalahkan keacehannya meskipun dalam kapasitasnya sebagi atlet lempar lembing dia tidak berjilbab dan malah berpakaian minim.

Jadi sebenarnya urusan KTP seperti yang disinyalir oleh pejabat lugu yang kurang cerdas ini bukanlah masalahnya.

Pasca kemenangan Qory Sandioriva,seorang teman saya yang bekerja sebagai wartawan mengamati fenomena obrolan yang terjadi di warung-warung kopi yang merupakan pusat peradaban di Aceh.

"Para penonton di warung tersebut dengan tekun mengikuti wawancara di layar kaca tersebut. "Qory bukan orang Aceh" kata seorang tamu di warkop tersebut dalam bahasa Aceh. Tapi kemudian seorang tamu lainnya nyeletuk, "bagaimana dengan kondisi Aceh sekarang dan penampilan artis-artis asal Aceh lainnya, apa sudah sesuai Syar'at Islam," belasan tamu di warkop tersebut terdiam.", begitu tulis teman saya ini dalam laporannya.

Soal polemik Qori ini, saya juga membaca berbagai blog milik sebuah media terbitan Medan lengkap dengan berbagi komentar pembacanya.

Blog itu memuat sebuah kalimat yang menggambarkan tentang Qory seperti di bawah ini.

Sebagai seorang wanita keturunan Aceh Gayo, Qory mengaku mengidolakan Tjut Nya' Dhien, tokoh pahlawan wanita Aceh yang mampu bersikap Islami dalam keseharian walaupun tidak menggunakan jilbab. "Dialah panutan saya selama ini. Selain dengan sikapnya yang heroik, Tjut Nya' Dhien merupakan tokoh pahlawan wanita Islami, walaupun dalam kesehariannya, dia tidak menggunakan jilbab," ujar Qory.

Ucapan Qory ini langsung memantik reaksi kemarahan banyak orang. Ada yang menyebut "tentang gambar cut nyak dien yg tak berjelbab tu adalah gambar ilustrasi penjajah". Yang lain malah langsung menegasikan 'kegayoa-an' Qory "Dia bkan awak Gayo' tpi dia jema sunda. Jelas. . Jdi gw juga gk sependapt dgn ucpan pling atas." begitu menurut komentator kedua. Yang lain mengatakan "siapa bilang pahlawan aceh cut nyak dhien tidak pakai jilbab..!!jangan liat yang di film2 donk..membenarkan kesalahan kamu dengan memfitnah orang..."

Entah dari ikhwan PKS mana si komentator ini dapat data itu, dan entah sejak kapan dia pernah tinggal di Aceh sehingga bisa membuat statement semacam itu. Karena saya yang sejak lahir tinggal di Aceh yang sempat tinggal dengan Datu Anan (ibu dari kakek saya) yang lahir di tahun 1800-an (pada zaman Cut Nyak Dhien masih hidup) sama sekali tidak pernah melihat Datu saya tersebut dan perempuan-perempuan Gayo seangkatannya mengenakan jilbab. Malah ibu-ibu dan gadis-gadis Gayo yang menggeraikan rambut di depoan pintu menggosip sambil mencari kutu adalah pemandangan umum yang saya saksikan setiap hari di seantero kampung saya. Kemudian pakaian adat yang dikenakan perempuan Aceh dan Gayo-pun sama sekali tidak dilengkjapi Jilbab (bayangkan bagaimana sulitnya memasang 'kepies' di atas Jilbab).

Cara pandang Islam yang ketat dan kaku sebenarnya baru dikenal di Gayo pada masa-masa pengujung kekuasaan Belanda melalui para Teungku yang kembali dari belajar agama di tanah Minang, dan paham seperti itu sama sekali tidak familiar bagi perempuan Aceh generasi Cut Nyak Dhien dan generasi Datu Anan saya.

Tapi meskipun tidak berjilbab, bukan berarti orang Aceh dan Gayo juga menolerir pemakaian bikini. Budaya Aceh dan juga Gayo punya batasan sendiri soal kepantasan dan kepatutan berpakaian perempuan, yaitu tidak berpakaian ketat apalagi sampai menampakkan dada dan paha. Batasan ini bertahan sampai generasi saya. Saat saya masih kuliah, meskipun tidak berjilbab, teman-teman saya tidak satupun yang pernah saya lihat mengenakan rok pendek. Jangankan rok mini, bahkan sekedar yang mengenakan rok yang menutupi lutut seperti rok anak SMA pun tidak ada. Jika saya perhatikan sikap teman-teman saya it, saya lihat mereka tidak merasa nyaman dan merasa menjadi objek seksual jika mengenakan pakaian ketat apalagi rok mini yang menampakkan paha. Semasa kuliah, yang sering saya lihat berpakaian ketat nan menantang cuma cewek-cewek anak ekonomi yang tampaknya berusaha keras agar berpenampilan seperti anak Jakarta. Tapi seberani-beraninya anak ekonomi tidak ada yang sampai berani memaki rok mini.

Laki-laki Aceh sendiri meski tentu saja tergiur dan suka melihat cewek seksi memakai rok mini, tapi pada dasarnya laki-laki Aceh juga tidak merasa nyaman melihat perempuan Aceh mengenakan rok mini. Di masa saya kuliah dulu, bisa saya pastikan tidak seorangpun teman saya yang merasa nyaman menggandeng pacar seksi yang menggunakan rok mini di depan teman-temannya apalagi orangtua.

Beberapa waktu yang lalu saat saya berada dalam ferry dari Jawa menuju Bali saya melihat sebuah foto yang dimuat di koran Jawa Pos.

Foto ini adalah foto sensasional karya seorang fotografer jempolan sekaligus degil, dalam foto ini terlihat seorang model cantik yang difoto telanjang di atas kereta api di tengah padatnya penumpang. Dalam foto itu terlihat betapalaki-laki dari berbagai kalangan dan usia melotot dan membelalak tergiur meyaksikan pemandangan segar di depan mata. Foto itu diambil ketika si model yang mengenakan jas panjang tiba-tiba melepas jasnya dan tidak mengenakan apa-apa di baliknya. Proses ini berlangsung hanya 35 detik saja tapi cukup menggambarkan bagaimana reaksi para pria yang berada dalam kereta api untuk berangkat kerja ketika disuguhi pemandangan indah tubuh wanita.

Ketika diwawancarai soal ini dan si pewawancara menanyakan, apakah si fotografer tidak berniat membuat foto yang sama dengan model pria ditengah para penumpang wanita. "Tidak" jawab si fotografer. "pria berbeda dengan wanita, kalau pria tersenyum dan tertawa melihat perempuan telanjang, sebaliknya wanita akan menjerit karena merasa diintimidasi jika melihat laki-laki menunjukkan kemaluannya, bisa -bisa saya malah dituntut dan masuk penjara", begitu komentar si fotografer.

Beberapa kaum feminis kesiangan pernah mengaitkan masalah pamer fisik ini ketidak adilan jender. "Puteri Indonesia berpakaian minim dipermasalahkan, kenapa Ade Rai pamer otot tidak pernah dipermasalahkan?" kata si feminis kesiangan ini. Padahal seperti yang dikatakan si fotografer di atas, bukan soal ketidak adilan, tapi dalam urusan rangsangan seksual saat melihat tubuh lawan jenis, laki-laki memang berbeda dengan perempuan.

Dikaitkan dengan polemik kemenangan Qory di ajang kontes adu keindahan daging kemarin, yang saya lihat dari fenomena pro dan kontranya kemenangan Qory ini bukanlah karena Qory terpilih sebagai puteri Indonesia dan tidak mengenakan jilbab pada saat penobatannya. Tapi lebih kepada keikut sertaan Qory nantinya di ajang Miss Universe yang mengharuskan pesertanya mengenakan bikini. Ketidaknyamanan orang Aceh dan sebagian orang Gayo atas kemenangannya dalam kontes adu keindahan daging ini adalah ketidak nyamanan ketika orang Aceh membayangkan ada seorang perempuan yang mengaku sebagai wakil ACEH mengenakan bikini memamerkan paha dan dadanya dan menjadi objek seksual di depan jutaan pasang mata.

Lebih jelasnya, menurut saya masalah Qory Sandioriva menjadi polemik bukanlah soal status keacehannya atau apa. Tapi karena Qory yang mengaku mewakili Aceh menang dalam sebuah lomba yang identik dengan urusan SELANGKANGAN. Urusan yang merupakan urutan tertinggi dalam daftar moralitas masyarakat Aceh dan Gayo.

Aceh sanggup mempertahankan keharmonisannya dengan Gayo ketika hubungan Aceh-Gayo diterpa isu ketidakadilan pembangunan, isu pilih kasih soal jabatan, isu pembajakan budaya (mirip seperti hubungan Indonesia-Malaysia). Tapi jujur saja, saya ragu keharmonisan hubungan Aceh-Gayo ini bisa bertahan ketika berurusan dengan isu SELANGKANGAN.

Untuk Qory sendiri dan juga keluarganya saya berharap mereka tidak cukup bodoh untuk tidak mempertimbangkan resiko yang telah mereka tempuh dengan memberanikan diri mengikuti kontes adu keindahan daging mewakili Aceh. Dengan keberanian Qory mengikuti ajang ini dengan mewakili Aceh dan direstui pula oleh keluarganya, saya berasumsi bahwa Qory dan keluarganya sudah mempertimbangkan semua hal termasuk mempetimbangkan kenyataan tentang betapa sebagian sangat besar masyarakat yang telah dengan berani dia wakili itu masih sangat konservatif terhadap nilai-nilai tradisional. Yang bisa sangat marah dan emosi dan mungkin akan melempari rumah dan mengintimidasi keluarga Qory.

Dalam kasus ini kita tidak bisa menyebut apa yang dilakukan Qory adalah hak pribadi untuk menjalankan agamanya, mengekspresikan dirinya sesuai dengan nilai dan pemahaman agama yang dia akui.

Wassalam

Win Wan Nur
Orang Gayo

www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

[ac-i] Bangkai Sejarah

 

Bangkai Sejarah
Oleh: Roy Thaniago




Beberapa tahun lalu, di bangku SMU, seorang guru sejarah melempar tanya di kelas, "Soeharto dan Hitler, mana yang lebih jahat?". Seisi kelas senyap tak ada suara. Satu-satunya suara datang dari alat pendingin ruangan.


SEORANG lain bernama Jozef Goebbels berkata demikian: "Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya". Pak Cik Goebbels yang merupakan mentri propaganda Nazi ini benar. Di negeri ini, Indonesia, sejarah dituliskan dengan mengulang-ulang kebohongan, hingga akhirnya dianggap sebagai sebuah kebenaran.


Dalam sejarah Indonesia, peristiwa 30 September 1965 merupakan suatu kejadian paling penting. Dianggap penting bukan saja karena di masa ini 500 ribu sampai 1 juta jiwa dibantai secara keji, yang menandai bahwa kita punya ingatan kolektif mengenai kebiadaban, tapi juga menyoal awalan suatu rezim kediktatoran yang sekaligus menandai dimulainya kegiatan bohong terbesar yang pernah ada di muka bumi.


Bohong tersebut dilancarkan lewat penyelewengan fakta sejarah yang menyusup ke benak setiap warga Indonesia, bahkan hingga ke generasi mudanya. Saya ingat ketika sekolah dulu, di mana setiap tahunnya persis tanggal 30 September, harus melawan kantuk demi tugas sekolah untuk menonton film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer. Lewat film itu, beserta catatan sejarah lain yang tersebar di berbagai buku, hingga buku pelajaran sejarah di Sekolah Dasar, masyarakat awam kadung meyakini militer sebagai pahlawan karena menumpas komunisme. Saat itu juga, rezim Soeharto dengan propagandanya berhasil menebar kebencian terhadap komunis dan siapa pun yang punya hubungan dengannya. Alhasil, suara lain mengenai peristiwa 1965 dibisukan, sehingga sejarah versi Orde Baru-lah yang lebih dikenal.


40 Years of Silence, sebuah film dokumenter karya Robert Lemelson, malah memecah kesunyian yang terjaga selama berpuluh-puluh tahun tersebut. Film ini mencoba menuliskan kembali ingatan mengenai peristiwa 1965 dari sisi korban. Pada 23 Juli 2009, film ini diputar di Goethe Haus, Jakarta, untuk pertama kalinya bagi publik Indonesia.


Film ini mengisahkan empat keluarga yang menjadi korban tragedi 1965-1966. Keluarga Lanny di Jawa Tengah, Budi di Yogyakarta, Degung dan Kereta di Bali. Keempat tokoh utama ini menguak masa lalu mereka yang mengerikan karena stigma komunis. Mereka meyaksikan sendiri bagaimana salah seorang anggota keluarga ditangkap, disiksa, atau bahkan mati. Ingatan kengerian masa lalu ini sangat mendalam sehingga terus membekas dan menghantui hingga sekarang. Mereka didiagnosa menderita Posttraumatic Stress Disorder (PSD).


Lanny, seorang perempuan baya keturunan Tionghoa, ketika 1965, bapaknya adalah ketua Baperki, sebuah organisasi masyarakat kaum Tionghoa yang berkaitan dengan PKI. Alex, bapaknya, dieksekusi di depan mata Lanny. Umur 13 ia waktu itu.


Peristiwa 1965 telah lewat beberapa dekade, tapi tidak menjadi jaminan bahwa teror stigmatisasi sudah usai. Hal ini kemudian turut melukai kehidupan Budi, seorang remaja di Yogyakarta yang lahir jauh hari setelah 1965. Bapaknya adalah mantan tahanan politik yang menyebabkan keluarganya dikucilkan di lingkungan tempat mereka tinggal. Bahkan Kris, kakaknya, dihina dan dianiaya, yang menghancurkan masa depannya sekaligus. Kris lari ke jalan, dan besar di sana. Budi menyimpan amarah dan dendam atas tragedi yang menimpa keluarganya itu. "Saya ingin membunuh mereka! Saya ingin mereka merasakan apa yang mereka lakukan pada keluarga saya!", geram Budi berulang-ulang.


Dua tokoh lain, Degung dan Kereta, pun mengalami hal yang hampir serupa. Kedua ayah mereka dibunuh karena label komunis. Setelah itu, Degung lari ke Surabaya dan dibesarkan oleh pelacur. Ia kembali ke Bali saat remaja, menjadi aktivis, dan hidup dalam kesadaran akan trauma yang dialaminya dahulu. Sedang Kereta, hidup dalam rasa takut berkepanjangan. Dia merasa ada roh-roh yang terus membuntutinya. Itu sebabnya, tatkala takut, ia kenakan helm dan celana bermotif loreng-loreng tentara untuk menghalaunya


Lemelson, sang sutradara, adalah seorang antropolog asal Amerika yang meneliti masalah-masalah kejiwaan. Maka tak heran, film ini tidak tergoda untuk bermain dalam wilayah pro-kontra sejarah peristiwa 1965. Lemelson berfokus menyorot habis-habisan dampak kejiwaan seseorang akibat trauma. Ia mengikuti perkembangan kejiwaan keempat tokoh utama selama bertahun-tahun. Semua itu ia tampilkan dengan halus, tidak menggebu, namun sangat mendalam dan kuat.


Kalau biasanya film dokumenter identik dengan citra kaku, bosan, dan datar, 40 Years of Silence sepanjang pemutaran justru tampil menawan dan menyentuh, seperti tidak mengizinkan penonton untuk merasakan kantuk. Sang editor, Pietro Scalia, pemenang dua penghargaan editing terbaik Academy Award, tahu betul bagaimana memasukkan adegan-adegan yang bernas dan merampas perhatian. Bayangkan, 400 jam lebih materi yang terekam, tapi diperas dalam video berdurasi yang "hanya" 86 menit!


Walau berfokus pada 4 tokoh utama sebagai korban, film ini tetap berusaha merangkai konteks sejarah agar kisah bisa dipahami oleh mereka yang buta akan peristiwa 1965. Usaha itu telihat dari caranya menyulam pecahan demi pecahan keping sejarah yang berserakan dengan meminjam mulut narasumber.


John Roosa, Geoffrey Robinson, dan Baskara T. Wardaya. Mereka adalah sejarawan yang aktif meneliti peristiwa 1965. Lewat mulut merekalah konteks sejarah diurai, kemudian direkatkan oleh Lemelson dengan amat pas.


Film yang digarap dalam kurun waktu 1997-2007 ini amat pas hadir di masa reformasi sekarang. Karya ini diharapkan bisa memicu masyarakat untuk keluar dari kebungkamannya terhadap sejarah. Rekonsiliasi dan rehabilitasi situasi sosial suatu masyarakat, dipercaya Lemelson, dapat terjadi ketika masyarakatnya memahami latar belakang sebuah peristiwa atau penyebab sakitnya suatu masyarakat.


Di Bali, kawanan bangau bertengger di pohon setiap sore dan selalu menghadap ke lokasi yang diyakini sebagai kuburan massal korban tragedi 1965. Mereka dipercaya oleh penduduk setempat sebagai roh para korban pembantaian. Adegan penutup film ini semakin menguatkan bahwa tragedi 1965 meninggalkan perasaan perih, luluh lantak, dan emosional tak terkira menyaksikan kebiadaban suatu rezim terhadap masyarakatnya sendiri.


Sekarang saya paham mengapa Hitler kalah jahat dibanding Soeharto. "Karena yang Soeharto bunuh adalah bangsanya sendiri", jawab guru sejarah saya tersebut atas pertanyaannya sendiri. Dan kelas kembali senyap.


Dimuat di Majalah Gong edisi September 2009

--
Posted By Roy Thaniago to Saung Kata at 10/13/2009 07:38:00 PM


Nikmati chatting lebih sering di blog dan situs web
Gunakan Wizard Pembuat Pingbox Online

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Search Ads

Get new customers.

List your web site

in Yahoo! Search.

Y! Messenger

Group get-together

Host a free online

conference on IM.

Cat Fanatics

on Yahoo! Groups

Find people who are

crazy about cats.

.

__,_._,___

[ac-i] Menimbang Sitor Situmorang - 85 Tahun Sitor Situmorang

 

Message from Paul Peters, Director Erasmus Huis, Jakarta


 

Menimbang Sitor Situmorang - 85 tahun Sitor Situmorang

Right-click here to download pictures. To help protect your privacy, Outlook prevented automatic download of this picture from the Internet.

Erasmus Huis bekerja sama dengan Penerbit Komunitas Bambu

mengundang Anda untuk menghadiri acara:


Menimbang Sitor Situmorang

85 Tahun Sitor Situmorang


Sitor Situmorang adalah sasterawan Indonesia yang memikat dan lincah dalam pelbagai lapangan kegiatan budaya. Sajak, drama, cerita pendek, cerita film, esei dan kritiknya dianggap memberikan sumbangan penting bagi pencerahan, pembaruan dalam alam seni-kebudayaan Indonesia. Terutama karya sasteranya bukan saja isi, tema, kata-kata, dan irama yang baru, api juga membawakan kekayaan batin dari pemikiran-pemikiran. 85 tahun Sitor Situmorang dirayakan dengan sejumlah acara yang dipusatkan di Erasmus Huis Jakarta pada Rabu, 14 Oktober 2009, mulai pukul 14.00–21.00 WIB.


Registrasi: Sdri Lulus. Email: lulus.yunindiah@minbuza.nl


Premiere Pemutaran Film Biografis Sitor Situmorang

14.00 “Van Indie tot Indonesie, Hidup dan Karya Sitor Situmorang”

Sutradara John Albert Jansen, 2009

Bahasa: Belanda dengan teks bahasa Inggris


15.00“Tongkat di Atas Batu”

Sutradara Afrizal Malna, 2004


Sitor Situmorang dan Dunia Batak

Pembawa Acara: Ratna Sarumpaet


16.00Pembukaan oleh Paul Peters, Direktur Erasmus Huis


Peluncuran Buku

Toba Na Sae: Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII – XX

Karya Sitor Situmorang

Diskusi Panel:

  1. Sitor dan Kajian Batak, oleh Dr. Johann Angerler, Universitas Leiden

  2. Sitor Situmorang Mewariskan Kerja-Budaya Batak yang Comprehensive dan Complicated, oleh Prof. Dr. Bungaran A. Simanjuntak, Universitas Negeri Medan

  3. Tanya Jawab

Moderator: Ratna Sarumpaet, Teater Satu Merah Panggung

    1. Pementasan Cuplikan drama “Pulo Batu” Karya Sitor Situmorang oleh Thompson HS (Direktur Pusat Latihan Opera Batak)

Maestro Opera Batak:

Zulkaidah Harahap dan Alister Nainggolan, Iringan musik gondang oleh Tarzan Simamora


Makan Malam


Sitor Situmorang dan Budaya Politik

Pembawa Acara:Ratna Riantiarno


19.00 Pembukaan oleh Dr. Nikolaos van Dam, Duta Besar Kerajaan Belanda,

Peluncuran Buku esai Menimbang Sitor Situmorang

Sambutan oleh Guruh Soekarno Putra

Diskusi Panel

  1. Sitor, Pengaruh dan Kedudukannya dalam Sastera Indonesia, oleh Afrizal Malna (sastrawan)

  2. Sitor, Sukarno dan Sisingamangaraja, oleh JJ Rizal (editor sejumlah buku Sitor Situmorang)

  3. Sitor dan Politik Kebudayaan Indonesia, oleh Radhar Panca Dahana (sastrawan)

  4. Tanya Jawab

Moderator: John McGlyn (Yayasan Lontar)


Pembacaan Sajak Sitor Situmorang, oleh Ratna Riantiarno


Menghadiri seluruh acara atau salahsatunya tetap saja Anda akan mendapatkan keping kenangan kehidupan dan pengkaryaan Sitor yang kaya warna.

 Mohon klik undangan terlampir Right-click here to download pictures. To help protect your privacy, Outlook prevented automatic download of this picture from the Internet.
Adobe Acrobat PDF undangansitor-final.pdf (2200 Kb)



Help save paper! Do you really need to print this email?

Dit bericht kan informatie bevatten die niet voor u is bestemd. Indien u niet de geadresseerde bent of dit bericht abusievelijk aan u is toegezonden, wordt u verzocht dat aan de afzender te melden en het bericht te verwijderen. De Staat aanvaardt geen aansprakelijkheid voor schade, van welke aard ook, die verband houdt met risico's verbonden aan het elektronisch verzenden van berichten.

This message may contain information that is not intended for you. If you are not the addressee or if this message was sent to you by mistake, you are requested to inform the sender and delete the message. The State accepts no liability for damage of any kind resulting from the risks inherent in the electronic transmission of messages.

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

Monday, October 12, 2009

[ac-i] Grand Launching Media Berita & Radio Internet Voiceofbandung.com

 


numpang Mengundang:
Grand Launching Media Berita & Radio Internet Voiceofbandung.com

Kami dari Voiceofbandung.com
Mengundang Anda hadir dalam Grand Launching Media Berita & Radio Internet Voiceofbandung.com,
Pada, Senin 19 Oktober 2009 Pukul 19.00
Rumah Nenek Resto Bandung
Jl.Taman Cibeunying (Belakang Gedung Sate)

Yang mengundang



Aendra Medita
Chief Editor
081511860488

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

[ac-i] "MY BODY" Indonesian 43 Women Exhibition

 

"MY BODY" Indonesian 43 Women Exhibition


Andi Gallery cordially invites u to d'opening of "MY BODY" Indonesian Women Exhibition. 

The exhibition will be officiated by Mrs Dian M. Soedarjo, 

Wed, 14 Oct 09 on 19:30 PM 

@Grand Indonesia, Jakarta - INDONESIA. 


Curated by A. Anzieb & Hardiman.


Artists: Tiarma Sirait, Arrahmaiani, Indyra, Monika Ary Kartika, Neneng S. Ferrier, Tina Nuraziza, Iriantine Karnaya, Yani Mariani Sastranegara, Koniherawati, Dolorosa Sinaga, Cinanti (keni), Renny Emonk, Dian Anggraini, Bonita Margaret, Irene Agrivine, Caroline Rika, Titarubi, Theresia Agustina Sitompul, Tisa Granicia, Putriani Mulyadi, Dita Gambiro, Dona Prawita Arissuta, Octora Chan, Lelyana Kurniawati, Lashita Situmorang, Roeayah Diana, Herra Pahlasari Saefullah, Gilang Cempaka, Cipuk Setyawati, etc....


 
Tiarma Sirait
Komp. PPR - ITB Blok F no.10
Dago Bengkok
Bandung 40135
INDONESIA

POLENG STUDIO
Tel: +62 22 91760013
Fax: +62 22 2504013
email: polengstudio@yahoo.com
http://tiarma.multiply.com/


Tiarma Sirait / tiarma@gmail.com / +62 81931413838 (idn) / Tiarma Sirait (skype) / polengstudio (ym)

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

[ac-i] LEARNING With MEANING, Konferensi dan Lokakarya Pendidikan, 23-25 Okt 09 [1 Attachment]

 
[Attachment(s) from yudhistira massardi included below]

TAHUKAH ANDA BAGAIMANA MEMAKNAI SETIAP BENTUK KOMUNIKASI ANTARA ORANGTUA DAN ANAK, SERTA ANTARA MURID DAN GURU? ATAU, APAKAH ANDA SELAMA INI TELAH MENYIA-NYIAKAN KESEMPATAN EMAS YANG BISA MENYERDASKAN ANAK? JAWABANNYA ADA DI SINI:

Konferensi dan Lokakarya
Tema: "Learning with Meaning"

Pembicara:
Pamela Phelps, Ph.D.
(Creative Pre-School, Tallahassee, Florida, USA)
Laura Stannard, Ph.D.
(Creative Pre-School, Tallahassee, Florida, USA)
drg. Wismiarti
(Sekolah Al-Falah, Jakarta)

23, 24, 25 Oktober 2009
HOTEL LE'MEREDIEN
Jalan Jenderal Sudirman Jakarta Pusat

Investasi Rp 2,5 jt.

__._,_.___

Attachment(s) from yudhistira massardi

1 of 1 File(s)

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

[ac-i] Jejak Jejak Mitos

 

PERS RELEASE
Jejak Jejak Mitos
Bambang Darto Solo Exhibition

Kurator : Wicaksono Adi
Pembukaan : Minggu, 18 Oktober 2009 pukul 19:30
Tempat : Tujuh Bintang Art Space
Jl. Sukonandi 7 Yogyakarta 55166
Musik : Hadi Soesanto, SE
Pameran : Tanggal 18 - 31 Oktober 2009 - pukul 10:00 – 20:00
WIB
----------------------------------------------------------

Karya-karya Bambang Darto lebih dekat sebagai bentuk permainan visual
terbatas dari karya-karya yang telah menjadi klasik. Dan publik mungkin
tidak akan tahu dan tidak mengenali bahwa salah satu objek dalam lukisan
Bambang Darto adalah sosok si pelukisnya. Bahkan orang akan menyangka
bahwa karya-karya itu merupakan duplikat atau semacam reproduksi yang
prima, dengan perubahan di sana-sini, dari karya-karya klasik tersebut.
Jika dulu orang percaya pada otentisitas dan orisinalitas karya seni
sebagai buah cipta seorang genius, kini Bambang Darto justru melanggar
anggapan semacam itu. Dan cara yang ia lakukan tidak dengan merusak atau
mengacak-acak karya-karya klasik yang diagung-agungkan itu melainkan
dengan menciptakan ulang secara utuh.

Personalitas (potret diri) seorang pelukis tidak hadir dalam ruang
kosong melainkan hadir dalam haribaan berbagai karya yang sudah ada. Ia
dapat hadir dalam karya orang lain yang dapat diperlakukan sebagai karya
sendiri. Itulah cara yang ingin saya sebut sebagai permainan dalam
ketertiban teknikal dari disiplin konvensional rupawi yang sudah mapan.
Maka ia menjadi semacam rekonstruksi dari karya-karya besar sebagai
bentuk penghormatan sekaligus personifikasi terbatas terhadap
karya-karya tersebut. Dan memang, setelah dipublikasikan selama
bertahun-tahun atau berabad-abad, maka karya-karya besar itu pada
akhirnya telah menjadi milik publik. Milik sejarah.

Dan tanpa ragu-ragu Bambang Darto ingin hadir dalam sejarah itu. Dia
menyusup dengan cara yang halus sehingga orang lupa bahwa dirinya adalah
seorang penyusup. (Aku ada di sana, berada di dalam sejarah yang
diciptakan oleh orang-orang sebelum diriku). Dan sejarah yang diciptakan
oleh para maestro itu terkadang menjelma menjadi semacam mitos yang coba
diabadikan oleh generasi-generasi berikutnya sehingga menjadi semacam
"keabadian buatan" pula. Dan kini seorang pelukis bernama
Bambang Darto hendak ambil bagian dalam proses pengabadian mitos
tersebut dengan cara memain-mainkan lalu dan"menambahi"
bagian-bagian tertentu dari keabadian yang sudah baku tersebut.

Itulah personalitas yang dibuat samar-samar hingga nyaris tak terbaca.
Suatu cara yang sangat halus untuk membuat tafsir bebas terhadap mitos
yang coba terus diabadikan oleh para kreator di zaman yang dipenuhi oleh
replika segala hal. Berhadapan dengan karya-karya semacam itu kita
dibawa masuk pada berbagai sensasi eksotik dari replika keabadian yang
telah menjadi milik siapa saja. Si seniman tak berambisi untuk
menciptakan keabadian baru, karena ambisi semacam itu kini juga telah
menjadi mitos kosong. Yang ada hanyalah celah-celah kosong di mana orang
dapat menyusun ulang personalitas dirinya dalam jejak-jejak mitos.
Jejak-jejak sejarah yang terusun oleh berbagai elemen masa silam yang
jauh.

More info :
www tujuhbintang.com
http://blog.tujuhbintang.com

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___