Sunday, May 2, 2010

[ac-i] MAKING LOVE : Duel Musik ALEXART vs GIWANG TOPO And Friends

 

Making Love

Duel Musik ALEXART vs GIWANG TOPO And Friends

Auditorium LIP, 14 Mei 2010 | 19.00 WIB

 

 

          Di Jogja yang berjubel jutaan anak muda dan ratusan band "ganteng", menonton band indie adalah hal yang bisa dibilang biasa-biasa saja. Tidak hanya peristiwa menontonnya yang biasa-biasa saja, tetapi sayangnya musik yang dimainkan pun biasa-biasa saja. Sementara itu, hal yang tidak biasa akan Anda temukan dalam duel MAKING LOVE di Auditorium LIP 14 Mei jam 19.00 WIB mendatang.

Ada beberapa hal yang membuat pertunjukan ini layak tonton. Judul acara yang menyebut "duel" ini jelas menunjukkan bahwa akan ada setidak-tidaknya dua kelompok yang akan saling menunjukkan kehebatan masing-masing. Adalah ALEXART, sebuah band indie baru di Jogja yang dikomandani Alex Suhendra, pemuda kelahiran Cirebon yang selama ini lebih banyak berkutat di bidang teater. Keistimewaan ALEXART adalah gaya mereka yang menerjemahkan aliran Indie sebagai sebuah konsep musik, bukan semata masalah label distribusi. Indie bagi mereka adalah "merdeka", tidak disetir oleh siapapun alias "semau gue". Kedengarannya liar dan "norak", tapi bukankah yang demikian itu lebih sexy?.

Meski "semau gue" dan tidak peduli dengan gaya pop yang sedang lazim beredar, ALEXART tetap bicara cinta (tentu saja cinta yang semau gue). "Ini bukan karena mengejar selera pasar, ini semata karena dorongan jiwa muda. Dan karena pasar juga terdiri dari jutaan jiwa muda, kami ga takut musik kami ga laku. Pasti ada yang suka, dan malahan bisa jadi semua suka." tutur Alex Suhendra, pentolan sekaligus pencipta seluruh lagu ALEXART ini dengan sangat yakin. 

Kelompok satu lagi yang akan menandinginya adalah GIWANG TOPO And Friends. Nama ini barangkali belum banyak dikenal. Mereka memang bukan sebuah kelompok band Indie yang sedang mengejar popularitas atau berulah demi memancing lirikan label. Tapi jangan dulu menganggap enteng. Apakah berarti musik mereka "berat"? tidak juga. Dari namanya jelas kelompok ini intinya adalah Giwang Topo yang didukung oleh pemain tambahan lain pada bagian musik. Giwang Topo juga mencipta sendiri lagu-lagunya. Tema yang diangkat lebih kepada tema-tema sosial, potret kemanusiaan dan cinta yang lebih universal. Akibatnya, lagu-lagu Giwang Topo terdengar lebih naratif tetapi dengan balutan musik yang ia sebut sebagai ilustrative rock ini, kita akan seperti mendengarkan puisi kemanusiaan yang sangat menyentuh. Konsep musik ini bukannya mengada-ada atau mengejar beda, karena Giwang Topo memang dibesarkan dalam suasana kerja musik ilustrasi. Sejak tahun 90-an ia aktif dalam berbagai kelompok teater kampus dan independen sebagai ilustrator musik. Juga pada proyek-proyek audio visual di studio PUSKAT.

          Meski dari segi taste dan soundscape keduanya berbeda, baik ALEXART maupun GIWANG TOPO sama-sama mengalunkan musik dengan sentuhan yang kaya akan emosi. Tidak sekedar menjual susunan chord dan tampang, tetapi keduanya berangkat dari sebuah prinsip bahwa lagu adalah suatu maksud atau perasaan yang dituangkan dalam syair dan nada. Anda akan merasakan bahwa syair dan musik benar-benar menyatu menjadikan lagu-lagu mereka terasa berharga. Mendengarkan lagu-lagu ALEXART atau GIWANG TOPO And Friends, seperti meraih kembali kekayaan musik sebagaimana tahun 80-90-an yang mampu membuat jantung Anda turut bergetar tidak hanya sesaat.

          Duel mereka ini akan dipermanis dengan kehadiran Chanceria String Kwartet  yang terdiri 4 mahasiswa jurusan musik Universitas Negeri Yogyakarta. Untuk menyaksikan duel musik ini, panitia memberi bandrol tiket seharga Rp 10.000,00. pemesanan tiket bisa dilayani Adib - 085643186242.

 

 

ALEXART

Awalnya adalah Alex Suhendra (vokal) dan Artina (gitar). Sepakat bermusik bersama pada 14 Februari 2009. kemunculan pertama di depan publik mereka lakukan di program Senin Jogja Akustik di Djambur Coffee. Desember 2009 bergabunglah musisi lain Joshua (drum), Dwi Haryanto (Bass) dan kemudian Maday (gitar).  Lagu-lagu diciptakan oleh Alex Suhendra yang mengaku banyak dipengaruhi oleh grup-grup lawas seperti Led Zepellin dan Nirvana. Sebagai aktor teater, Alex Suhendra menilai bahwa sebuah band seharusnya memiliki pukauan yang apik sebagaimana sebuah teater yang mampu membuat penonton berpikir dan tidak sekedar menikmati lagu. Beberapa penampilan publik yang perlu dicatat dalam perjalanan ALEXART adalah menjadi juara I dalam Indie Famous #3 di Caesar Cafe (Desember 2009), Jogja Clothing Attack di GOR UNY. ALEXART juga tampil sebagai band pembuka konser GEISHA di Caesar Cafe (2010) dan tampil dalam Carnaval SCTV di Alun-alun utara Jogja 1 Mei 2010.

 

GIWANG TOPO.

Lahir di Gunung Kidul 10 April 1974. dibesarkan pada masa kejayaan musik era 90-an. Pernah membentuk band pada tahun 90an dan gagal di tengah jalan. Ia kemudian terjun ke dunia teater melalui Teater Soekma ABA YIPK Jogja. Sejak 1993 – 2000 Giwang Topo terlibat dalam ilustrasi musik untuk banyak pertunjukan teater baik bersama Teater Soekma maupun kelompok lain seperti Teater Gema (STIE Kerjasama), Teater Dokumen (Univ Widya Mataram), Teater ADA (ABA YO, sekarang FSB UTY), Teater Garasi (semasa masih di FISIPOL UGM), Teater Lobby Dua (STPMD APMD) dan sebagainya. Pernah juga bergabung dalam komunitas Sanggar Bambu 97-99. Sejak tahun 2000-2008 ia banyak terlibat dalam proyek-proyek di Studio Audio Visual PUSKAT dan mengerjakan lebih dari 150 musik ilustrasi untuk video-video produksi PUSKAT. Selain itu, Giwang Topo adalah seorang animator freelance untuk program kampanye FAO di Indonesia. Sejak Februari 2010 lalu ia bergabung dengan Dreamlight World Media sebagai petugas Audio Bank dan menyiapkan lab Audio Visual di Rumah Produksi Dreamlight.  Giwang Topo meyakini konsep musiknya adalah akustik ilustrative rock. Ia banyak terpengaruh oleh grup-grup seperti Deep Purple, God Bless, Uriah Heep, Yes, Rush dan White Snake.

Giwang Topo menggelar mini konser Giwang Topo and Friends bertajuk Kepada Sang Waktu di Lab Seni Pertunjukan UNY pada bulan Mei 2009 dibantu musisi dari Gamblank Musikal Teater. Kali ini GT akan dibantu oleh Juand (gitar), Beni (Drum), Ibnu (Bass) dan Lina (Vokal). 



SEKOLAH SENI YOGYAKARTA
Acting | Sulap | Gamelan | Tembang Jawa | MC Jawa | Skenario Film | Buku Non Fiksi | Biola | Gitar Elektrik.
http://sekolahsenijogja.blogspot.com

Sindikat Daya Guyub
http://dgprojogja.blogspot.com
http://www.Jali.Tokopedia.com
http://teatergmt.blogspot.com
http://paguyubanslenk.blogspot.com
http://jogjateater.blogspot.com

__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

Saturday, May 1, 2010

[ac-i] Akankah Terjadi Benturan?

 

Akankah Terjadi Benturan?

Jumat, 27 Agustus 2004

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid


Beberapa hari yang lalu, saat perjalanan pulang ke Ciganjur setelah tiba di Cengkareng dari Surabaya, penulis mendengarkan sebuah percakapan sangat menarik dalam sebuah siaran radio swasta, antara penyiar dengan Bambang Sulistomo. Ia adalah "orang berani" yang menyatakan pendapat secara terbuka. Ia tentu terkait dengan asal usul biologisnya, sebagai anak pejuang tak kenal kompromi, Bung Tomo. Sejak jaman pemerintahan Orde Baru ia melancarkan kritik terbuka ke alamat para penguasa yang tidak memperhatikan keadilan. Kali ini, ia berbuat demikian pula dengan mengkritik segala hal salah dalam cara kerja pemerintah kita. Tetapi kritik utamanya dialamatkan kepada pelaksanaan pemilihan umum kita tahun ini dari Undang-Undangnya, hingga sikap berbagai pihak terhadap Komisi Pemilihan Umum (KPU) disorotinya dengan tajam.


Sistem pemilu kita tahun ini, di matanya tidak lain adalah upaya mempertahankan status quo, di antara para aktor yang ingin melestarikan kekuasaan. Jadi bukannya untuk menciptakan sistem politik baru, yang bersemangat demokratis. Bahkan ada ucapanya yang benar-benar menimbulkan keprihatinan, karena pihak calon Presiden Megawati Soekarnoputri didukung oleh Polri, ia memperkirakan TNI yang aktif akan membela Susilo Bambang Yudoyono (SBY) mati-matian. Kalau pemihakan ini berujung pada pertentangan fisik secara horizontal, maka apa jadinya negeri kita dalam suasana seperti itu? Kesimpulan logis dari Bambang Sulistomo, sebagai peringatan dini yang disampaikan secara terbuka itu, mau tidak mau tentu menggelisahkan kita. Bagaimana kita akan menjaga integritas negara kita, baik secara fisik maupun secara spritual.


Tidak hanya penulis, sang penyiar yang bernama Hendro, juga merasakan kekhawatirkan seperti itu. Pandangan di atas tidak hanya dapat dinilai sebagai argumentasi psikologis belaka, melainkan juga oleh kaitannya yang kuat dengan kenyataan yang kita lihat sehari-hari. Apalagi sesampai di rumah, penulis mendapatkan cerita bahwa semalam sebelumnya, layar televisi menayangkan bagaimana Mendagri Hari Sabarno mengingatkan para kepala desa dan lurah di seluruh negara, agar jangan lupa "membela" Presiden Megawati dalam pemilu putaran kedua tanggal 20 September 2004 kelak. Ini jelas merupakan pelanggaran Undang-Undang (UU) yang dilakukan oleh seorang Menteri. Kalau memang ini tidak ditindak, jelas bahwa pelanggaran itu disetujui oleh Presiden.


Tetapi itu tidak aneh, karena keseluruhan proses pemilu tahun ini penuh dengan kecerobohan, kecurangan, manipulasi yang menguntungkan pihak-pihak yang ingin mempertahankan status quo. Kalau terjadi perbenturan antara pihak-pihak yang akan mendukung para calon tertentu, bisa saja terjadi adanya revolusi sosial yang kita takuti itu. Inilah yang ditakuti Bambang Sulistomo, dan juga oleh umunya para warga negara kita. Persoalannya dapatkah kita benar-benar menghindarkan hal itu? Penulis tidak merasa optimis dengan jawaban yang dapat dikemukakan. Bukankah KPU sendiri melanggar UU dan dibiarkan saja oleh semua pihak? UU No. 23/1992 tentang Kesehatan, No.4/1997 tentang Penyandang Cacat, No. 12/2003 tentang Pemilu Legislatif dan No.23/2003 tentang Pemilu Presiden, semuanya dilanggar oleh KPU, tanpa ada tindakan apa-apa dari seluruh negara.


Mendengar kegelisahan Bambang Sulistomo itu, penulis hanya dapat mengajukan sebuah pertanyaan: seriuskah ia dengan pernyataannya itu, ketika ia "melupakan berbagai pelanggaran atas UU yang dikemukakan di atas? Dengan kata lain, reaksi sporadis terhadap apa yang dilakukan. Karenanya, konsentrasi perlawanan haruslah ditekankan pada penolakan tindakan –tindakan pelanggaran hukum. Walaupun elit politik dan DPR sebagai alat mereka yang selalu diperalat untuk membuat UU pemilu yang ada, bagaimanapun juga berpegang pada UU masih lebih baik dari berbagai pelanggaran yang dilakukan terhadapnya.


Itulah esensi dan permulaan dari berbagai jenis penolakan atas UU pemilu yang ada. Decorum menghasilkan pemilihan umum yang demokratis, bagaimanapun juga tidak dapat ditinggalkan oleh berbagai Undang-Undang itu. Jika kita bersatu menghadapinya atas dasar hal-hal minimum yang dapat dicapai, tentu akan memberikan hasil demi hasil awal yang kita ingini. Dalam hal itu berlaku kesediaan saling mengalah antara berbagai pihak menjadi sangat menentukan. Kita justru tidak harus meniru langkah-langkah yang diambil oleh mereka yang ingin menjaga status politik dan kekuasaan yang ada. Semua memiliki ambisi politik pribadi masing-masing, tapi hal itu dilakukan dengan cara "memperhatikan kepentingan bersama".


Ada sesuatu yang sangat ironis, ketika pemelihara status quo kekuasaan dapat bersatu, padahal kepentingan mereka sangat bertengangan satu sama lain. Sedangkan pihak yang ingin membawa sistem politik yang baru justru tidak pernah bersatu dalam hal apapun. Bukankah mereka lalu akan dikalahkan terus menerus oleh pihak-pihak yang ingin melestarikan sistem politik yang ada saat ini. Hal ini tidaklah aneh, karena sepanjang sejarah manusia selalu terjadi demikian. Karena itu bangsa kita harus sadar betul akan "kenyataan sejarah" ini, kalau kita memang ingin benar-benar merubah sistem politik yang ada, dan menggantikannya dengan sistim politik baru yang demokratis, tentulah "cara berjuang' yang dipergunakan selama ini harus dirubah.


Pada waktu Bung Tomo dkk melawan bala tentara Sekutu di Surabaya, mereka tidak pernah meninggalkan peranan para ulama yang bergabung dalam Markas Besar Oelama Djawa-Timur, yang bertugas mengatur lini logistik dari para pemuda pejuang itu. Komandan dan Kepala Staff markas besar, KH. A. Wahab Chasbullah dan KH.M. Bisri Syansuri, tiap hari mengumpulkan logistik berupa makanan, alat-alat perang, selimut dan tikar untuk para pejuang itu. Dengan kerjasama yang rapi itu, mereka berhasil membendung pendaratan tentara sekutu. Setelah itu, mereka semua kembali ke tugas masing-masing. Bahwa ada yang meneruskan karier pribadi di bidang politik, tentu saja dapat dimengerti, atau yang meneruskan karier di bidang semula seperti para kyai itu, juga dapat dimengerti.


Jadi, antara pengabdian dan upaya menuntut karier haruslah dipisahkan dan jangan dicampur-adukan. Inilah pesan terpenting yang dapat diambil dari dialog antara Hendro dan Bambang Sulistomo tersebut. Kesimpulan itu memang tidak dikemukakan oleh kedua orang itu, tetapi penulis memberanikan diri untuk merumuskannya. Kalau penyimpulan penulis itu ada gunanya, penulis sudah merasa sangat bersyukur. Kalau tidak itu adalah bagian dari upaya terus menerus untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini" Benarkah akan terjadi perbenturan? Bukan itu yang harus dijawab melainkan, apa yang harus diperbuat menghadapi perbenturan kepentingan antara pihak Kepolisian dan pihak TNI itu? Tentunya kita tidak ingin terjadi, tapi bukankah itu hal yang mudah dikatakan, namun sulit dilakukan?


Jakarta, 20 Agustus 2004


__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

[ac-i] Launching MEDIA TK SENTRA [1 Attachment]

 
[Attachment(s) from yudhistira massardi included below]

Pada Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2010 ini
Siska dan Yudhistira ANM Massardi
Dengan bangga mempersembahkan untuk bangsa:
Edisi Perdana
MEDIA TK SENTRA
Majalah panduan para Guru TK/RA/PAUD & Orangtua

Kami bekerja di garis depan
Melaksanakan Paradigma Baru Pendidikan di Indonesia
Membangun Karakter dan Budi Pekerti
Memuliakan anak sebagai ciptaan Tuhan paling sempurna
Dengan Metode Sentra dari Sekolah Al-Falah Jakarta
Metode asal Amerika yang dijiwai Asmaul Husna
Kualitas internasional dengan jiwa-mulia Islam
Sudah teruji, sudah terbukti!

Bapak, Ibu
Sayangi anak-anakmu
Ketahui kebutuhan mereka
Pahami cara memberikannya
Media TK Sentra Panduannya

__._,_.___

Attachment(s) from yudhistira massardi

1 of 1 File(s)

Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

[ac-i] SIARAN PERS: Teater Layar di Rutan Klas I Medaeng [1 Attachment]

 
[Attachment(s) from hanif nashrullah included below]

Salam Budaya,

 

Lakon "Rasanya Baru Kemarin" oleh narapidana/ penghuni Rutan Klas I Medaeng yang tergabung dalam Kelompok Teater Layar diangkat berdasarkan pengalaman para pemainnya itu sendiri. Mereka, terpidana berbagai kasus, yang tergabung dalam kelompok teater ini, ada yang baru sekali masuk sel tahanan dan ada yang berkali-kali, bahkan ada yang lebih dari lima kali.

Sutradara asal Teater Bengkel Muda Surabaya, Zainuri, menggarapnya dalam seni pertunjukan yang empirik sehingga pertunjukan ini bagian dari terapi penyadarannya. Namun para pemain beranggapan bahwa ini bukan teater melainkan bagian dari media untuk mengungkap isi perasaan yang selama ini dirasa tidak bisa keluar, sekaligus mengeluarkan air mata yang lama sudah tidak bisa keluar atau bahkan dirasa sudah habis.

Lakon ini akan dipentaskan, Kamis, 6 Mei 2010, pukul 13.00, di lingkup Rutan Klas 1 Medaeng, Jl. Letjen Sutoyo, Medaeng, Waru, Sidoarjo. Sayangnya tertutup untuk umum karena pihak keamanan Rutan belum siap mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk, semisal kemungkinan tahanan yang berupaya melarikan diri saat acara berlangsung.

 

Surabaya, 1 Mei 2010

 

Hormat Kami,

a/n Panitia

Hanif Nashrullah

 


__._,_.___

Attachment(s) from hanif nashrullah

1 of 1 File(s)

Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

[ac-i] UU KIP Multiinterpretasi

 

Penegak hukum tidak bisa langsung menyatakan seluruh proses pemeriksaan sebagai rahasia.PEMBERLAKUAN Un dang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) yang hari ini mulai diberlakukan masih mengandung sejumlah problem. Sebab, masih ada pasal-pasal yang bersifat multiinterpretasi.

"Prinsipnya UU itu adalah menjamin hak publik atas informasi, sehingga prinsipnya adalah jangan sampai UU itu justru membatasi atau mengurangi akses publik atas informasi," tegas Ketua Umum Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Nezar Patria di Jakarta, kemarin.

Ia menyoroti ancaman pasal pidana dalam UU tersebut yang hanya mengurangi peluang wartawan melakukan investigasi. "Pers sudah ditakuti dengan ancaman pidana," katanya.

Demikian juga mengenai pengecualian kebebasan informasi dalam bidang hukum, seperti bunyi Pasal 17 huruf a.
"Aparat penegak hukum jangan menggunakan pasal itu justru untuk menutup-nutupi informasi seperti pemeriksaan atau penahanan," katanya.

Anggota Dewan Pers Agus Sudibyo mengingatkan, tidak semua penanganan perkara tertutup bagi publik. Penegak hukum, menurutnya, terlebih dulu harus membuktikan seberapa penting informasi tersebut sehingga sebaiknya tidak diungkap ke publik.

Menurut dia, kasus-kasus yang termasuk pengecualian harus melalui uji kompetensi dan uji kepentingan publik terlebih dahulu. "Penegak hukum harus bisa membuktikan, jika informasi dibuka akan mengganggu proses penegakan hukum. Jadi harus melalui proses uji, tidak bisa langsung mengatakan informasi ini rahasia."

Ketua Komisi Informasi Pusat Ahmad Alamsyah Saragih seusai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjelaskan, dengan pemberlakuan UU tersebut, masyarakat tidak bisa mendapatkan informasi soal penanganan kasus hukum yang masih berjalan.

"Yang paling sering terjadi, informasi berkaitan dengan proses penegakan hukum. Selama proses hukum berjalan, penanganan perkara tersebut tidak bisa diakses," katanya.

Kecuali, sambungnya, kasus hukum itu sudah masuk ke proses dakwaan di pengadilan.
"Kalau itu kan terbuka untuk umum, jadi enggak apa-apa," kata Alamsyah.

Kemarin pagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima tujuh anggota Komisi Informasi Pusat didampingi Menko Polhukam Djoko Suyanto, Mensesneg Sudi Silalahi, Sekretaris Kabinet Dipo Alam, dan Men- kominfo Tifatul Sembiring, Selain Ahmad, anggota Komi- si Informasi Pusat yang hadir adalah Abdul Rahman Ma'mun, Aminudin, Ramli Amin Sim- bolon, Henny S Widyaningsih, Do no Prasetyo, dan Usman Abdhali Watik.

Ahmad juga mengingatkan kepada seluruh badan publik untuk berhati-hati dalam mem- berikan informasi. "Badan pub- lik mulai sekarang harus mengi- dentifi kasi yang mana diberikan kepada masyarakat mana yang dikecualikan," ujarnya.

ada ekses dan penyalahgunaan undang-undang yang mulia ini.

Oleh karena itu, kami berharap komisi bisa menjalankan tugas dengan baik," kata Presiden.

Mengenai kebutuhan aturan mengenai rahasia negara yang bia sanya menjadi pasangan UU Keterbukaan Informasi, Pre siden mengatakan beberapa peraturan tentang rahasia ne- gara sudah tercakup dalam UU Keterbukaan Informasi.

"Dalam UU ini juga tercakup ada chapter tentang sebuah in- formasi, kepentingan militer dan kepentingan rahasia nega- ra tidak bisa dibuka. Sehingga UU ini pun bila dijalankan de- ngan benar, semua kepenting- an, kepenting an negara dan kepentingan ma syarakat, bisa dipenuhi," ka tanya.

Koordinator Divisi Investi gasi Indonesia Corruption Watch (ICW) Agus Sunaryanto berha- rap UU KIP bisa memberi in- formasi publik dan mengurangi praktik korupsi. "Selama ini ICW begitu sulit mendapat in formasi publik dari institusi publik.

Informasi kami dapatkan dari whistle blower," ungkap Agus.

Mantan Ketua Panitia Kerja DPR RUU KIP Arief Mudatsir Mandan mengatakan UU KIP sebagai alat masyarakat un- tuk melawan ketertutupan bi- rokrasi. (Ken/Rin/Mar/*/P-1)


http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2010/05/01/ArticleHtmls/01_05_2010_002_020.shtml?Mode=0

__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

[ac-i] File - Data Anggota ACI

 


Mohon abaikan bagi Anda yang sudah pernah mengisi....

=================================================================

Pecinta seni budaya yang budiman,

Milis ACI (Art & Culture Indonesia), ajang tukar menukar gagasan,
informasi, dan pemikiran-pemikiran positif lainnya, terutama yang berkaitan dengan pengembangan seni budaya dan juga kegiatan-kegiatan kreatif di Indonesia.

Untuk menjadi anggota ACI mohon diisi data sebagai berikut:
(mohon abaikan apabila pernah mengisi)

Nama lengkap:

Nama panggilan:

Profesi:

Domisili (Kota/Negara):

Tanggal lahir:

No telp/HP:

E-mail:

Website:

Weblog:

Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih atas partisipasinya.....

Salam ACI!

Moderator

__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

Thursday, April 29, 2010

[ac-i] Pemprov DKI Daftarkan Makam Mbah Priok Jadi Cagar Budaya DKI

 

                                                                  http://www.KabariNews.com/?34853



Pasca bentrok Koja (14/4) yang menelan korban tiga tewas dan ratusan luka-luka masih menyisakan sedih bagi pihak-pihak keluarga korban. Namun disamping beberapa peristiwa berdarah yang memilukan, Pemerintah Provinsi (pemprov) DKI Jakarta kini menunjukan kepeduliannya terhadap makam Mbah Priok, yang menjadi sumber permasalah antara warga setempat dengan Satuan Polisi Pamongpraja yang dimandat untuk menertibkan area disekitar makam Mbah Priok.

Kepeduliannya Pemprov DKI diwujudkan dengan mendaftarkan makam Mbah Priok sebagai salah satu cagar budaya milik DKI Jakarta. Dan untuk mewujudkannya ada beberapa syarat yang harus diajukan, salah satunya yaitu pemohon harus mengajukan permohonan bangunan menjadi cagar budaya ke Dinas Pariwisata.

Pengajuan tersebut bisa diwakilkan oleh ahli waris, LSM (Lembaga Sosial Masyarakat), dan pemerintah. Pemohon pun diminta untuk melampirkan bukti kepemilikan lahan yang sah atas bangunan makam Mbah Priok yang terletak di Jl. TPU Dobo, Koja, Jakarta Utara.


"Bukti itu kita perlukan sebagai penentu batas-batas objek yang nantinya akan menjadi cagar budaya tersebut. Ini kita sebut bukti fisik lengkap dengan struktur dan kondisi bangunannya," kata Arie Budhiman, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, sepeti dilansir situs resmi DKI Jakarta, Kamis (29/4).

Tidak hanya bukti fisik saja yang dilampirkan, bukti sejarah bangunan pun harus dilampirkan dalam permohonan. Bukti tersebut akan memperkuat dasar bahwa objek makam Mbah Priok agar pantas menjadi cagar budaya. Jika semua bukti diatas sudah lengkap terlampir, maka Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI akan mengirimkan Tim Penasihat Pelestarian Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya untuk mengkaji lebih lanjut makam Mbah Priok.


__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___