Monday, May 3, 2010

[ac-i] Sie Jin Kwie, Potret Lelahnya Mengolah Teater

 


Sie Jin Kwie, Potret Lelahnya Mengolah Teater

Oleh: Roy Thaniago


Teater Koma, sebagai salah satu kelompok teater di Indonesia yang punya umur panjang ini, berulah lagi. Kali ini ulahnya dikasih judul 'Sie Jin Kwie'. Pentas yang digelar di Graha Bhakti Budaya pada 5-21 Februari 2010 ini menjadi produksi ke-119 dalam usia 33 tahun Teater Koma.

 

LAKON Sie Jien Kwie, yang mengambil latar di Cina ketika pemerintahan Dinasti Tang (618-907), memang menjadi pilihan cerita yang menggembirakan di tengah berlangsungnya euforia perayaan 'kembalinya' masyarakat Cina di Indonesia. Bahwa terhitung sejak tahun 2000, di mana pemerintah mencabut Inpres 14/1967 tentang pelarangan hal-hal yang berbau Cina, kelompok etnis masyarakat ini kembali patut turut dicatat dalam sejarah sebagai salah satu elemen yang membentuk Indonesia sebagai sebuah bangsa. Rupanya Teater Koma pun turut ingin mencatatnya, sekaligus terlibat dalam perayaan ini. Dan tahun ini tepat 1 dekade, di mana pemaknaan perayaan ini menjadi makin mesra. Makin manis. Akankah lakonnya pun turut manis?

 

Mungkin iya. Banyak penonton yang riang, dan semua media meliput dengan girang, seolah tidak ada yang perlu dipersoalkan. Kenyataannya, tidaklah harus demikian. Pujian yang berlebihan, hanya melahirkan seniman yang mapan. Padahal, seniman harus terus gelisah, harus terus mencari. Ketika ia berhenti mencari, ia sudah selesai sebagai seniman.

 

Bukan mencari-cari penyakit kalau tulisan ini mengambil sikap berbeda dibanding ulasan-ulasan lain yang bergenit eluan tentang pementasan Sie Jin Kwie. Pasalnya, di samping banyak hal positif (konsistensi berteater, manajemen kelompok, regenerasi, kemampuan mengembangkan penonton, dan produktivitas), demikianlah yang ada: pementasan ini memperlihatkan Teater Koma yang kehabisan energi artistik. Inilah pementasan Teater Koma yang usang dan tampak kelelahan.

 

Sie Jin Kwie Sebagai Sejarah

 

Menyaksikan Sie Jin Kwie berarti membaca sejarah. Khususnya sejarah bangsa Cina di jaman kerajaan. Sie Jin Kwie adalah seorang jendral perang paling terkenal dari Dinasti Tang. Kisah tentangnya sudah menjadi cerita klasik di Tiongkok, bahkan lebih sering dipahami sebagai mitos akibat dipopulerkan lewat cerita fiksi yang didramatisir.

 

Sie Jin Kwie dalam dialek Mandarin dilafal Xue Ren Gui. Di Indonesia, yang banyak dihuni pengucap berlidah Hokkian, ia dikenal sebagai Sie Jin Kwie. Pada awalnya di Tiongkok, kisah ini ditulis oleh Tio Keng Jian, dan kemudian disunting oleh Lo Koan Chung.

 

Adalah penerbit Kho Tjeng Bie yang punya andil dalam mengenalkannya ke masyarakat Indonesia. Dan Siauw Tik Kwie, yang punya nama lain Ki Oto Swastika, karena usahanya dalam menyebarkan filsafat Ki Ageng Suryo Mentaram, semakin mempopulerkannya sebagai komik dengan judul Sie Djin Koei yang dimuat secara bersambung di majalah Star Weekly pada 1950-an. Pun di era 1990-an, Markus Aceng Setiawan kembali mengangkat kisah Sie Jin Kwie untuk masyarakat Indonesia. Oleh N. Riantiarno, sutradara Sie Jin Kwie, cerita ini ditulis ulang untuk kemudian ia sutradarai.

 

Pementasan lakon Sie Jin Kwie yang digelar Teater Koma kali ini, adalah salah satu bagian dari trilogi yang kedua bagian lainnya akan dipentaskan pada tahun-tahun pementasan berikutnya. Lakon berdurasi sekitar 4 jam ini, mengisahkan Sie Jin Kwie (Rangga Riantiarno), seorang pemuda dari keluarga miskin yang akhirnya termashyur menjadi panglima perang dari Dinasti Tang.

 

Dinasti Tang yang dikaisari oleh Lisibin (Prijo S. Winardi) ini ditantang perang oleh Kerajaan Kolekok, yang merupakan salah satu daerah kekuasaan Dinasti Tang. Tantangan perang ini dipimpin oleh Jendral Kaesobun (Paulus Simangunsong), yang setelah sebelumnya melakukan kudeta dari Raja Kolekok (Budi Suryadi). Dalam ancaman perang ini, Sie Jin Kwie hadir sebagai pahlawan penyelamat dalam mimpi Lisibin, sang kaisar. Maka, segala cara Lisibin tempuh untuk bisa bertemu dengan Sie Jin Kwie. Dari sinilah lika-liku perjalanan Sie Jin Kwie memasuki istana menjadi pokok cerita yang disajikan.

 

Usang dan Lelah

 

Lakon ini, oleh Teater Koma, disajikan dengan alur yang amat lambat dan bertele-tele. Ada kesan ingin menampilkan semua bagian cerita secara lengkap, sehingga sungkan membuang adegan-adegan yang tidak perlu. Namun pilihan ini rupanya menampakkan sajian lakon yang terengah-engah. Banyak adegan yang hanya memanjangkan durasi, tapi tidak menambah esensi cerita. Pun bila dimaksudkan untuk memperkaya cerita, strategi bertuturnya lebih banyak yang tidak berhasil.

 

Misalnya saja, keterengahan itu tampak dari pilihan plot yang dibawakan dalam alur maju yang sangat kronologis. Penguasaan akan cerita baru hadir ketika Sie Jin Kwie, sang tokoh utama, masuk panggung. Namun, Sie Jin Kwie justru baru masuk belakangan setelah penonton diombang-ambingkan pada penceritaan awal yang bertele-tele. Strategi bertutur ini sebenarnya bisa lebih luwes kalau saja mencoba dalam alur maju mundur, juga mengetengahkan Sie Jin Kwie lebih personal dan ditempatkan lebih awal pada mula-mula cerita.

 

Tawaran bertutur di atas timbul karena dalam lakon ini terdapat dua peristiwa yang berjalan (seakan) bersamaan: kisah kehidupan istana Dinasti Tang dengan tetek bengeknya ditambah mimpi Lisibin, dan kisah hidup Sie Jin Kwie sejak kelahirannya menuju dewasa hingga kemudian bersinggungan dengan spektrum kisah Dinasti Tang. Jadi, seperti ada dua garis yang otonom lantas bertemu pada satu titik karena beberapa alasan, salah satunya mungkin takdir. Masalahnya, peristiwa bertemunya dua garis ini, dalam lakon Sie Jin Kwie, terjadi terlalu larut.

 

Sebenarnya ada usaha untuk mengantisipasi masalah bercerita atau bertutur tadi. Salah satunya adalah dengan melibatkan narasi dalang yang diaktori oleh Budi Ros dan juga melalui media wayang yang dinamai Wayang Tavip – karena nama pencipta dan dalangnya adalah Tavip. Cara ini, memang terbukti mampu meringkas cerita, sekaligus merekatkan potongan-potongan kisah yang tercecer, ditambah memberi kesegaran di tengah-tengah kesesakan adegan-adegan yang monoton. Tapi entah mengapa, konsistensi ini tidak terjaga hingga ujung cerita. Tugas penceritaan yang semulanya diemban dalang, malah berpindah ke pemain-pemain lain, seakan tergesa-gesa dan kikuk menghadapi durasi. Ini terlihat jelas terutama di adegan-adegan akhir di mana sesekali Sie Jin Kwie atau pemain lain menjadi narator baru.

 

Keusangan paling jelas dari pementasan ini adalah sisi keaktorannya. Tidak ada greget yang cukup menonjol dari pemain-pemain yang ada. Namun pengecualian untuk Prijo S. Winardi dan Paulus Simangunsong yang berperan sebagai Lisibin dan Kaesobun, karena bermain baik. Terutama Prijo yang sangat kharismatik di atas panggung. Sedang yang lain, seperti menjadi karakter usang yang hanya berganti baju dan judul lakon. Tak pelak penonton yang setia mengamati pementasan Teater Koma beberapa tahun terakhir, akan mendapati karakter akting yang sudah-sudah dan tak berkembang. Lakon berubah, tapi cara ungkapnya sama.

 

Seperti beberapa produksi sebelumnya, Teater Koma dikenal 'royal' dalam mengolah sisi artistik panggung. Poin ini pun tetap hadir dalam pementasan Sie Jin Kwie. Mata penonton dimanjakan dengan visualisasi kehidupan Cina di zaman lampau. Dari tata panggung yang detil nan megah, properti yang esensial, hingga kostum dan tata rias. Terlihat ada usaha berbasis riset terhadap gaya Opera Cina yang dilakukan Rima Ananda dan Sena Sukarya, Penata Busana dan Penata Rias pementasan ini.

 

Sayang, usaha yang sama kurang digarap di sisi musik yang dikomandani Idrus Madani. Pendalaman akan musik tradisi Cina hanya menyentuh kulit-kulitnya saja, yang cukup diwakili oleh tangga nada pentatonik Cina (dalam teori musik barat: la-do-re-mi-sol) atau bunyi perkusi berbahan logam khas Opera Cina atau pola tabuhan beduk. Itu pun tidak membalur sepenuhnya karena sebagian besar musik lainnya ditampilkan secara biasa saja. Namun, Idrus sangat piawai dalam mengisi ilustrasi musik yang bukan lagu. Ia, dengan beragam senjatanya yang bersifat perkusif, mampu mengisi ruang yang meningkahi gerak lakon dari para pemain. Idrus pun peka untuk mengurangi porsinya atau menambal porsinya dengan sigap.

 

Teater Koma adalah teater penuh kejutan. Selain karena beberapa kali berurusan dengan pihak yang berwajib karena pementasannya yang kritis terhadap pemerintah, mereka juga dikenal dengan penonton yang loyal. Dan tiap tahun, daftar penggemarnya tampak bertambah. Tak terkecuali pementasan kali ini yang berhasil mengundang penonton-penonton baru dengan karakteristik yang berbeda dari yang sudah-sudah. Maka, dengan segala hormat dan tanpa mengurangi peran Teater Koma dalam memasyaratkan teater lebih luas, harus diakui, pementasan ini menjadi potret bagaimana lelahnya mengolah teater. Yakni sebuah jalan budaya yang berliku, tapi penuh kedalaman ketika berhasil sampai di ujung sana.

Roy Thaniago

Peminat  masalah seni dan budaya,

bergiat di Agenda 18

__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

Sunday, May 2, 2010

[ac-i] MAKING LOVE : Duel Musik ALEXART vs GIWANG TOPO And Friends

 

Making Love

Duel Musik ALEXART vs GIWANG TOPO And Friends

Auditorium LIP, 14 Mei 2010 | 19.00 WIB

 

 

          Di Jogja yang berjubel jutaan anak muda dan ratusan band "ganteng", menonton band indie adalah hal yang bisa dibilang biasa-biasa saja. Tidak hanya peristiwa menontonnya yang biasa-biasa saja, tetapi sayangnya musik yang dimainkan pun biasa-biasa saja. Sementara itu, hal yang tidak biasa akan Anda temukan dalam duel MAKING LOVE di Auditorium LIP 14 Mei jam 19.00 WIB mendatang.

Ada beberapa hal yang membuat pertunjukan ini layak tonton. Judul acara yang menyebut "duel" ini jelas menunjukkan bahwa akan ada setidak-tidaknya dua kelompok yang akan saling menunjukkan kehebatan masing-masing. Adalah ALEXART, sebuah band indie baru di Jogja yang dikomandani Alex Suhendra, pemuda kelahiran Cirebon yang selama ini lebih banyak berkutat di bidang teater. Keistimewaan ALEXART adalah gaya mereka yang menerjemahkan aliran Indie sebagai sebuah konsep musik, bukan semata masalah label distribusi. Indie bagi mereka adalah "merdeka", tidak disetir oleh siapapun alias "semau gue". Kedengarannya liar dan "norak", tapi bukankah yang demikian itu lebih sexy?.

Meski "semau gue" dan tidak peduli dengan gaya pop yang sedang lazim beredar, ALEXART tetap bicara cinta (tentu saja cinta yang semau gue). "Ini bukan karena mengejar selera pasar, ini semata karena dorongan jiwa muda. Dan karena pasar juga terdiri dari jutaan jiwa muda, kami ga takut musik kami ga laku. Pasti ada yang suka, dan malahan bisa jadi semua suka." tutur Alex Suhendra, pentolan sekaligus pencipta seluruh lagu ALEXART ini dengan sangat yakin. 

Kelompok satu lagi yang akan menandinginya adalah GIWANG TOPO And Friends. Nama ini barangkali belum banyak dikenal. Mereka memang bukan sebuah kelompok band Indie yang sedang mengejar popularitas atau berulah demi memancing lirikan label. Tapi jangan dulu menganggap enteng. Apakah berarti musik mereka "berat"? tidak juga. Dari namanya jelas kelompok ini intinya adalah Giwang Topo yang didukung oleh pemain tambahan lain pada bagian musik. Giwang Topo juga mencipta sendiri lagu-lagunya. Tema yang diangkat lebih kepada tema-tema sosial, potret kemanusiaan dan cinta yang lebih universal. Akibatnya, lagu-lagu Giwang Topo terdengar lebih naratif tetapi dengan balutan musik yang ia sebut sebagai ilustrative rock ini, kita akan seperti mendengarkan puisi kemanusiaan yang sangat menyentuh. Konsep musik ini bukannya mengada-ada atau mengejar beda, karena Giwang Topo memang dibesarkan dalam suasana kerja musik ilustrasi. Sejak tahun 90-an ia aktif dalam berbagai kelompok teater kampus dan independen sebagai ilustrator musik. Juga pada proyek-proyek audio visual di studio PUSKAT.

          Meski dari segi taste dan soundscape keduanya berbeda, baik ALEXART maupun GIWANG TOPO sama-sama mengalunkan musik dengan sentuhan yang kaya akan emosi. Tidak sekedar menjual susunan chord dan tampang, tetapi keduanya berangkat dari sebuah prinsip bahwa lagu adalah suatu maksud atau perasaan yang dituangkan dalam syair dan nada. Anda akan merasakan bahwa syair dan musik benar-benar menyatu menjadikan lagu-lagu mereka terasa berharga. Mendengarkan lagu-lagu ALEXART atau GIWANG TOPO And Friends, seperti meraih kembali kekayaan musik sebagaimana tahun 80-90-an yang mampu membuat jantung Anda turut bergetar tidak hanya sesaat.

          Duel mereka ini akan dipermanis dengan kehadiran Chanceria String Kwartet  yang terdiri 4 mahasiswa jurusan musik Universitas Negeri Yogyakarta. Untuk menyaksikan duel musik ini, panitia memberi bandrol tiket seharga Rp 10.000,00. pemesanan tiket bisa dilayani Adib - 085643186242.

 

 

ALEXART

Awalnya adalah Alex Suhendra (vokal) dan Artina (gitar). Sepakat bermusik bersama pada 14 Februari 2009. kemunculan pertama di depan publik mereka lakukan di program Senin Jogja Akustik di Djambur Coffee. Desember 2009 bergabunglah musisi lain Joshua (drum), Dwi Haryanto (Bass) dan kemudian Maday (gitar).  Lagu-lagu diciptakan oleh Alex Suhendra yang mengaku banyak dipengaruhi oleh grup-grup lawas seperti Led Zepellin dan Nirvana. Sebagai aktor teater, Alex Suhendra menilai bahwa sebuah band seharusnya memiliki pukauan yang apik sebagaimana sebuah teater yang mampu membuat penonton berpikir dan tidak sekedar menikmati lagu. Beberapa penampilan publik yang perlu dicatat dalam perjalanan ALEXART adalah menjadi juara I dalam Indie Famous #3 di Caesar Cafe (Desember 2009), Jogja Clothing Attack di GOR UNY. ALEXART juga tampil sebagai band pembuka konser GEISHA di Caesar Cafe (2010) dan tampil dalam Carnaval SCTV di Alun-alun utara Jogja 1 Mei 2010.

 

GIWANG TOPO.

Lahir di Gunung Kidul 10 April 1974. dibesarkan pada masa kejayaan musik era 90-an. Pernah membentuk band pada tahun 90an dan gagal di tengah jalan. Ia kemudian terjun ke dunia teater melalui Teater Soekma ABA YIPK Jogja. Sejak 1993 – 2000 Giwang Topo terlibat dalam ilustrasi musik untuk banyak pertunjukan teater baik bersama Teater Soekma maupun kelompok lain seperti Teater Gema (STIE Kerjasama), Teater Dokumen (Univ Widya Mataram), Teater ADA (ABA YO, sekarang FSB UTY), Teater Garasi (semasa masih di FISIPOL UGM), Teater Lobby Dua (STPMD APMD) dan sebagainya. Pernah juga bergabung dalam komunitas Sanggar Bambu 97-99. Sejak tahun 2000-2008 ia banyak terlibat dalam proyek-proyek di Studio Audio Visual PUSKAT dan mengerjakan lebih dari 150 musik ilustrasi untuk video-video produksi PUSKAT. Selain itu, Giwang Topo adalah seorang animator freelance untuk program kampanye FAO di Indonesia. Sejak Februari 2010 lalu ia bergabung dengan Dreamlight World Media sebagai petugas Audio Bank dan menyiapkan lab Audio Visual di Rumah Produksi Dreamlight.  Giwang Topo meyakini konsep musiknya adalah akustik ilustrative rock. Ia banyak terpengaruh oleh grup-grup seperti Deep Purple, God Bless, Uriah Heep, Yes, Rush dan White Snake.

Giwang Topo menggelar mini konser Giwang Topo and Friends bertajuk Kepada Sang Waktu di Lab Seni Pertunjukan UNY pada bulan Mei 2009 dibantu musisi dari Gamblank Musikal Teater. Kali ini GT akan dibantu oleh Juand (gitar), Beni (Drum), Ibnu (Bass) dan Lina (Vokal). 



SEKOLAH SENI YOGYAKARTA
Acting | Sulap | Gamelan | Tembang Jawa | MC Jawa | Skenario Film | Buku Non Fiksi | Biola | Gitar Elektrik.
http://sekolahsenijogja.blogspot.com

Sindikat Daya Guyub
http://dgprojogja.blogspot.com
http://www.Jali.Tokopedia.com
http://teatergmt.blogspot.com
http://paguyubanslenk.blogspot.com
http://jogjateater.blogspot.com

__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

Saturday, May 1, 2010

[ac-i] Akankah Terjadi Benturan?

 

Akankah Terjadi Benturan?

Jumat, 27 Agustus 2004

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid


Beberapa hari yang lalu, saat perjalanan pulang ke Ciganjur setelah tiba di Cengkareng dari Surabaya, penulis mendengarkan sebuah percakapan sangat menarik dalam sebuah siaran radio swasta, antara penyiar dengan Bambang Sulistomo. Ia adalah "orang berani" yang menyatakan pendapat secara terbuka. Ia tentu terkait dengan asal usul biologisnya, sebagai anak pejuang tak kenal kompromi, Bung Tomo. Sejak jaman pemerintahan Orde Baru ia melancarkan kritik terbuka ke alamat para penguasa yang tidak memperhatikan keadilan. Kali ini, ia berbuat demikian pula dengan mengkritik segala hal salah dalam cara kerja pemerintah kita. Tetapi kritik utamanya dialamatkan kepada pelaksanaan pemilihan umum kita tahun ini dari Undang-Undangnya, hingga sikap berbagai pihak terhadap Komisi Pemilihan Umum (KPU) disorotinya dengan tajam.


Sistem pemilu kita tahun ini, di matanya tidak lain adalah upaya mempertahankan status quo, di antara para aktor yang ingin melestarikan kekuasaan. Jadi bukannya untuk menciptakan sistem politik baru, yang bersemangat demokratis. Bahkan ada ucapanya yang benar-benar menimbulkan keprihatinan, karena pihak calon Presiden Megawati Soekarnoputri didukung oleh Polri, ia memperkirakan TNI yang aktif akan membela Susilo Bambang Yudoyono (SBY) mati-matian. Kalau pemihakan ini berujung pada pertentangan fisik secara horizontal, maka apa jadinya negeri kita dalam suasana seperti itu? Kesimpulan logis dari Bambang Sulistomo, sebagai peringatan dini yang disampaikan secara terbuka itu, mau tidak mau tentu menggelisahkan kita. Bagaimana kita akan menjaga integritas negara kita, baik secara fisik maupun secara spritual.


Tidak hanya penulis, sang penyiar yang bernama Hendro, juga merasakan kekhawatirkan seperti itu. Pandangan di atas tidak hanya dapat dinilai sebagai argumentasi psikologis belaka, melainkan juga oleh kaitannya yang kuat dengan kenyataan yang kita lihat sehari-hari. Apalagi sesampai di rumah, penulis mendapatkan cerita bahwa semalam sebelumnya, layar televisi menayangkan bagaimana Mendagri Hari Sabarno mengingatkan para kepala desa dan lurah di seluruh negara, agar jangan lupa "membela" Presiden Megawati dalam pemilu putaran kedua tanggal 20 September 2004 kelak. Ini jelas merupakan pelanggaran Undang-Undang (UU) yang dilakukan oleh seorang Menteri. Kalau memang ini tidak ditindak, jelas bahwa pelanggaran itu disetujui oleh Presiden.


Tetapi itu tidak aneh, karena keseluruhan proses pemilu tahun ini penuh dengan kecerobohan, kecurangan, manipulasi yang menguntungkan pihak-pihak yang ingin mempertahankan status quo. Kalau terjadi perbenturan antara pihak-pihak yang akan mendukung para calon tertentu, bisa saja terjadi adanya revolusi sosial yang kita takuti itu. Inilah yang ditakuti Bambang Sulistomo, dan juga oleh umunya para warga negara kita. Persoalannya dapatkah kita benar-benar menghindarkan hal itu? Penulis tidak merasa optimis dengan jawaban yang dapat dikemukakan. Bukankah KPU sendiri melanggar UU dan dibiarkan saja oleh semua pihak? UU No. 23/1992 tentang Kesehatan, No.4/1997 tentang Penyandang Cacat, No. 12/2003 tentang Pemilu Legislatif dan No.23/2003 tentang Pemilu Presiden, semuanya dilanggar oleh KPU, tanpa ada tindakan apa-apa dari seluruh negara.


Mendengar kegelisahan Bambang Sulistomo itu, penulis hanya dapat mengajukan sebuah pertanyaan: seriuskah ia dengan pernyataannya itu, ketika ia "melupakan berbagai pelanggaran atas UU yang dikemukakan di atas? Dengan kata lain, reaksi sporadis terhadap apa yang dilakukan. Karenanya, konsentrasi perlawanan haruslah ditekankan pada penolakan tindakan –tindakan pelanggaran hukum. Walaupun elit politik dan DPR sebagai alat mereka yang selalu diperalat untuk membuat UU pemilu yang ada, bagaimanapun juga berpegang pada UU masih lebih baik dari berbagai pelanggaran yang dilakukan terhadapnya.


Itulah esensi dan permulaan dari berbagai jenis penolakan atas UU pemilu yang ada. Decorum menghasilkan pemilihan umum yang demokratis, bagaimanapun juga tidak dapat ditinggalkan oleh berbagai Undang-Undang itu. Jika kita bersatu menghadapinya atas dasar hal-hal minimum yang dapat dicapai, tentu akan memberikan hasil demi hasil awal yang kita ingini. Dalam hal itu berlaku kesediaan saling mengalah antara berbagai pihak menjadi sangat menentukan. Kita justru tidak harus meniru langkah-langkah yang diambil oleh mereka yang ingin menjaga status politik dan kekuasaan yang ada. Semua memiliki ambisi politik pribadi masing-masing, tapi hal itu dilakukan dengan cara "memperhatikan kepentingan bersama".


Ada sesuatu yang sangat ironis, ketika pemelihara status quo kekuasaan dapat bersatu, padahal kepentingan mereka sangat bertengangan satu sama lain. Sedangkan pihak yang ingin membawa sistem politik yang baru justru tidak pernah bersatu dalam hal apapun. Bukankah mereka lalu akan dikalahkan terus menerus oleh pihak-pihak yang ingin melestarikan sistem politik yang ada saat ini. Hal ini tidaklah aneh, karena sepanjang sejarah manusia selalu terjadi demikian. Karena itu bangsa kita harus sadar betul akan "kenyataan sejarah" ini, kalau kita memang ingin benar-benar merubah sistem politik yang ada, dan menggantikannya dengan sistim politik baru yang demokratis, tentulah "cara berjuang' yang dipergunakan selama ini harus dirubah.


Pada waktu Bung Tomo dkk melawan bala tentara Sekutu di Surabaya, mereka tidak pernah meninggalkan peranan para ulama yang bergabung dalam Markas Besar Oelama Djawa-Timur, yang bertugas mengatur lini logistik dari para pemuda pejuang itu. Komandan dan Kepala Staff markas besar, KH. A. Wahab Chasbullah dan KH.M. Bisri Syansuri, tiap hari mengumpulkan logistik berupa makanan, alat-alat perang, selimut dan tikar untuk para pejuang itu. Dengan kerjasama yang rapi itu, mereka berhasil membendung pendaratan tentara sekutu. Setelah itu, mereka semua kembali ke tugas masing-masing. Bahwa ada yang meneruskan karier pribadi di bidang politik, tentu saja dapat dimengerti, atau yang meneruskan karier di bidang semula seperti para kyai itu, juga dapat dimengerti.


Jadi, antara pengabdian dan upaya menuntut karier haruslah dipisahkan dan jangan dicampur-adukan. Inilah pesan terpenting yang dapat diambil dari dialog antara Hendro dan Bambang Sulistomo tersebut. Kesimpulan itu memang tidak dikemukakan oleh kedua orang itu, tetapi penulis memberanikan diri untuk merumuskannya. Kalau penyimpulan penulis itu ada gunanya, penulis sudah merasa sangat bersyukur. Kalau tidak itu adalah bagian dari upaya terus menerus untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini" Benarkah akan terjadi perbenturan? Bukan itu yang harus dijawab melainkan, apa yang harus diperbuat menghadapi perbenturan kepentingan antara pihak Kepolisian dan pihak TNI itu? Tentunya kita tidak ingin terjadi, tapi bukankah itu hal yang mudah dikatakan, namun sulit dilakukan?


Jakarta, 20 Agustus 2004


__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

[ac-i] Launching MEDIA TK SENTRA [1 Attachment]

 
[Attachment(s) from yudhistira massardi included below]

Pada Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2010 ini
Siska dan Yudhistira ANM Massardi
Dengan bangga mempersembahkan untuk bangsa:
Edisi Perdana
MEDIA TK SENTRA
Majalah panduan para Guru TK/RA/PAUD & Orangtua

Kami bekerja di garis depan
Melaksanakan Paradigma Baru Pendidikan di Indonesia
Membangun Karakter dan Budi Pekerti
Memuliakan anak sebagai ciptaan Tuhan paling sempurna
Dengan Metode Sentra dari Sekolah Al-Falah Jakarta
Metode asal Amerika yang dijiwai Asmaul Husna
Kualitas internasional dengan jiwa-mulia Islam
Sudah teruji, sudah terbukti!

Bapak, Ibu
Sayangi anak-anakmu
Ketahui kebutuhan mereka
Pahami cara memberikannya
Media TK Sentra Panduannya

__._,_.___

Attachment(s) from yudhistira massardi

1 of 1 File(s)

Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

[ac-i] SIARAN PERS: Teater Layar di Rutan Klas I Medaeng [1 Attachment]

 
[Attachment(s) from hanif nashrullah included below]

Salam Budaya,

 

Lakon "Rasanya Baru Kemarin" oleh narapidana/ penghuni Rutan Klas I Medaeng yang tergabung dalam Kelompok Teater Layar diangkat berdasarkan pengalaman para pemainnya itu sendiri. Mereka, terpidana berbagai kasus, yang tergabung dalam kelompok teater ini, ada yang baru sekali masuk sel tahanan dan ada yang berkali-kali, bahkan ada yang lebih dari lima kali.

Sutradara asal Teater Bengkel Muda Surabaya, Zainuri, menggarapnya dalam seni pertunjukan yang empirik sehingga pertunjukan ini bagian dari terapi penyadarannya. Namun para pemain beranggapan bahwa ini bukan teater melainkan bagian dari media untuk mengungkap isi perasaan yang selama ini dirasa tidak bisa keluar, sekaligus mengeluarkan air mata yang lama sudah tidak bisa keluar atau bahkan dirasa sudah habis.

Lakon ini akan dipentaskan, Kamis, 6 Mei 2010, pukul 13.00, di lingkup Rutan Klas 1 Medaeng, Jl. Letjen Sutoyo, Medaeng, Waru, Sidoarjo. Sayangnya tertutup untuk umum karena pihak keamanan Rutan belum siap mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk, semisal kemungkinan tahanan yang berupaya melarikan diri saat acara berlangsung.

 

Surabaya, 1 Mei 2010

 

Hormat Kami,

a/n Panitia

Hanif Nashrullah

 


__._,_.___

Attachment(s) from hanif nashrullah

1 of 1 File(s)

Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

[ac-i] UU KIP Multiinterpretasi

 

Penegak hukum tidak bisa langsung menyatakan seluruh proses pemeriksaan sebagai rahasia.PEMBERLAKUAN Un dang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) yang hari ini mulai diberlakukan masih mengandung sejumlah problem. Sebab, masih ada pasal-pasal yang bersifat multiinterpretasi.

"Prinsipnya UU itu adalah menjamin hak publik atas informasi, sehingga prinsipnya adalah jangan sampai UU itu justru membatasi atau mengurangi akses publik atas informasi," tegas Ketua Umum Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Nezar Patria di Jakarta, kemarin.

Ia menyoroti ancaman pasal pidana dalam UU tersebut yang hanya mengurangi peluang wartawan melakukan investigasi. "Pers sudah ditakuti dengan ancaman pidana," katanya.

Demikian juga mengenai pengecualian kebebasan informasi dalam bidang hukum, seperti bunyi Pasal 17 huruf a.
"Aparat penegak hukum jangan menggunakan pasal itu justru untuk menutup-nutupi informasi seperti pemeriksaan atau penahanan," katanya.

Anggota Dewan Pers Agus Sudibyo mengingatkan, tidak semua penanganan perkara tertutup bagi publik. Penegak hukum, menurutnya, terlebih dulu harus membuktikan seberapa penting informasi tersebut sehingga sebaiknya tidak diungkap ke publik.

Menurut dia, kasus-kasus yang termasuk pengecualian harus melalui uji kompetensi dan uji kepentingan publik terlebih dahulu. "Penegak hukum harus bisa membuktikan, jika informasi dibuka akan mengganggu proses penegakan hukum. Jadi harus melalui proses uji, tidak bisa langsung mengatakan informasi ini rahasia."

Ketua Komisi Informasi Pusat Ahmad Alamsyah Saragih seusai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjelaskan, dengan pemberlakuan UU tersebut, masyarakat tidak bisa mendapatkan informasi soal penanganan kasus hukum yang masih berjalan.

"Yang paling sering terjadi, informasi berkaitan dengan proses penegakan hukum. Selama proses hukum berjalan, penanganan perkara tersebut tidak bisa diakses," katanya.

Kecuali, sambungnya, kasus hukum itu sudah masuk ke proses dakwaan di pengadilan.
"Kalau itu kan terbuka untuk umum, jadi enggak apa-apa," kata Alamsyah.

Kemarin pagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima tujuh anggota Komisi Informasi Pusat didampingi Menko Polhukam Djoko Suyanto, Mensesneg Sudi Silalahi, Sekretaris Kabinet Dipo Alam, dan Men- kominfo Tifatul Sembiring, Selain Ahmad, anggota Komi- si Informasi Pusat yang hadir adalah Abdul Rahman Ma'mun, Aminudin, Ramli Amin Sim- bolon, Henny S Widyaningsih, Do no Prasetyo, dan Usman Abdhali Watik.

Ahmad juga mengingatkan kepada seluruh badan publik untuk berhati-hati dalam mem- berikan informasi. "Badan pub- lik mulai sekarang harus mengi- dentifi kasi yang mana diberikan kepada masyarakat mana yang dikecualikan," ujarnya.

ada ekses dan penyalahgunaan undang-undang yang mulia ini.

Oleh karena itu, kami berharap komisi bisa menjalankan tugas dengan baik," kata Presiden.

Mengenai kebutuhan aturan mengenai rahasia negara yang bia sanya menjadi pasangan UU Keterbukaan Informasi, Pre siden mengatakan beberapa peraturan tentang rahasia ne- gara sudah tercakup dalam UU Keterbukaan Informasi.

"Dalam UU ini juga tercakup ada chapter tentang sebuah in- formasi, kepentingan militer dan kepentingan rahasia nega- ra tidak bisa dibuka. Sehingga UU ini pun bila dijalankan de- ngan benar, semua kepenting- an, kepenting an negara dan kepentingan ma syarakat, bisa dipenuhi," ka tanya.

Koordinator Divisi Investi gasi Indonesia Corruption Watch (ICW) Agus Sunaryanto berha- rap UU KIP bisa memberi in- formasi publik dan mengurangi praktik korupsi. "Selama ini ICW begitu sulit mendapat in formasi publik dari institusi publik.

Informasi kami dapatkan dari whistle blower," ungkap Agus.

Mantan Ketua Panitia Kerja DPR RUU KIP Arief Mudatsir Mandan mengatakan UU KIP sebagai alat masyarakat un- tuk melawan ketertutupan bi- rokrasi. (Ken/Rin/Mar/*/P-1)


http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2010/05/01/ArticleHtmls/01_05_2010_002_020.shtml?Mode=0

__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

[ac-i] File - Data Anggota ACI

 


Mohon abaikan bagi Anda yang sudah pernah mengisi....

=================================================================

Pecinta seni budaya yang budiman,

Milis ACI (Art & Culture Indonesia), ajang tukar menukar gagasan,
informasi, dan pemikiran-pemikiran positif lainnya, terutama yang berkaitan dengan pengembangan seni budaya dan juga kegiatan-kegiatan kreatif di Indonesia.

Untuk menjadi anggota ACI mohon diisi data sebagai berikut:
(mohon abaikan apabila pernah mengisi)

Nama lengkap:

Nama panggilan:

Profesi:

Domisili (Kota/Negara):

Tanggal lahir:

No telp/HP:

E-mail:

Website:

Weblog:

Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih atas partisipasinya.....

Salam ACI!

Moderator

__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___