Monday, May 3, 2010

[ac-i] Press Release: Architects Under Big 3 [1 Attachment]

 
[Attachment(s) from Riri Prabandari included below]

PRESS RELEASE

 

 

Nama kegiatan : Architects Under Big 3

Jenis kegiatan : Presentasi dan diskusi

Hari/ tanggal : Jumat, 7 Mei 2010

Waktu : 19:00 WITA – selesai

Lokasi : Danes Art Veranda

Alamat : Jl. Hayam Wuruk No. 159, Denpasar 80235 Bali Indonesia

Telefon : 62 361 242659

Fax : 62 361 242588

Contact person : 62 856 3815 117 (Erika Dyah)

Email : architect@popodanes.com, thegallery@popodanes.com

 

 

Perbedaan kultur dan paradigma didasari oleh cara pandang dalam masyarakat yang seiring waktu mempengaruhi cara berpikir tiap generasi. Perubahan dalam proses berpikir suatu generasi dipengaruhi periode mereka dalam mempelajari arsitektur serta daya tangkap dalam memahami lingkungannya, yaitu perubahan identifikasi dalam paradigma para pelaku dunia arsitektur.

 

Memahami hal tersebut, Popo Danes Architect merancang sebuah agenda rutin pada hari Jumat pertama tiap bulan -dimulai bulan ini- bertajuk Architects Under Big 3. Kegiatan ini dipersembahkan untuk arsitek muda usia dibawah 30 tahun. Dalam kegiatan ini arsitek muda diberi kesempatan untuk mempresentasikan karya arsitektur beserta pemikiran mereka pada publik melalui presentasi non formal yang diteruskan dengan diskusi santai ditemani snek ringan dan minuman hangat. Melalui pendekatan ini, arsitek beserta ide dan karya arsitekturnya berkesempatan untuk mendapatkan ruang berkomunikasi dengan khalayak yang lebih luas, baik khalayak awam arsitektur maupun khalayak arsitektur.

 

Arsitek muda pertama yang bekesempatan membuka acara ini adalah Mohammad Raditya Perdana yang akan berbagi konsepnya mengenai arsitektur, serta perjalanannya ke Waerebo, Flores baru-baru ini.

 

Tentang Mohammad Raditya Perdana:

Mohammad Raditya Perdana atau biasa dipanggil Yayak lahir di Pekanbaru, 17 Februari 1986. Menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Universitas Gajah Mada pada tahun 2007 dan kini melanjutkan studi di Kajian Lingkungan Binaan Etnik Program Magister Arsitektur Universitas Udayana. Yayak yang hijrah ke Bali pada tahun 2008 saat ini bekerja di Mamo Studio.

 

Acara ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya

 

* Kami menunggu dengan berbahagia lamaran arsitek muda selanjutnya untuk tampil pada Architect Under Big 3 bulan Juni.

 

 

 

Event name : Architects Under Big 3

Event type : Presentation and discussion

Day/ date : Firday, May 7, 2010

Time : 7pm – end

Location : Danes Art Veranda

Address : Jl. Hayam Wuruk No. 159, Denpasar 80235 Bali Indonesia

Phone : 62 361 242659

Fax : 62 361 242588

Mobile : 62 856 3815 117 (Erika Dyah)

Email : architect@popodanes.com, thegallery@popodanes.com

 

 

The difference between culture and paradigm is based on people's perspective, which is by time, determines the way of thinking of each generation. Today, changes in the process of thinking of a generation is influenced by their period in learning architecture as well as their perspective in understanding its environment that is identification changes within the paradigm of architecture agents.

 

Understanding this matter, Popo Danes Architect creates a routine agenda on the first Friday of every month –starting this month- titled Architects Under Big 3. This activity is dedicated to young architects under age 30 years. In this program, a young architect is given opportunity to bring up their idea and works of architecture to the public through non-formal presentation followed by casual discussion accompanied with snacks and warm drinks. Through this approach, the young architect gets a space to communicate with a wider audience, both lay audiences of architecture and architectural audience. 

 

The first Architects Under Big 3 will be opened by Mohammad Raditya Perdana who will shares his concept of architecture as well as his trip to Waerebo, Flores recently.

 

About Mohammad Raditya Perdana

Mohammad Raditya Perdana or Yayak was born in Pekanbaru on February 17, 1986. He graduated from Architecture Faculty Gajah Mada University in 2007 and now continuing Ethnic Study of Built Environment Master of Architecture Udayana University . Yayak who moved to Bali in 2008 is currently working at Studio Mamo.

 

The event is open for public and free of charge

 

*We await happily for the next application from any young architects for Architects Under Big 3 in June 2010 agenda.


 


__._,_.___

Attachment(s) from Riri Prabandari

1 of 1 Photo(s)

BIG
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

[ac-i] Lucunya Mantera Si Hantu Tangan

 

Lucunya Mantera Si Hantu Tangan
Tuesday, 04 May 2010
Image
Cover mobile comic volume ke 08 karya Noera
Setelah ditinggal Pajidat, Rama Noera dan kawan hantunya kebingungan... Pintu raksasa perpustakaan Negeri Iblis masih tertutup. Pintu yang sudah tidak pernah terbuka selama 500 tahun! Ck... Ck...Dan ternyata pintu itu cuma bisa dibuka dengan mantera yang masih menjadi rahasia. Rama Noera harus menebak mantera pembuka pintu tersebut dengan batas tiga mantera saja... Apa yang akan dilakukan Rama dan teman-teman hantunya?... Bagi pengguna Indosat, Telkomsel, dan XL bisa langsung mengakses katalognya secara gratis melalui hape, alamatnya ada di: http://wap.keren.mobi/komik/comiccatalog.php. Atau pelanggan Indosat bisa mengetik sms REG KOMIK kirim ke 6767. Dan bisa juga untuk pelanggan Telkomsel dengan mengakses di *268# pilih 3 pilih 5 pilih 7.
Tentang komik dan cerita lainnya ada di: www.pragatcomic.com


Terima kasih


 
ahmadzeni

http://pragatcomic.com/new/images/banners/masterheadmix.jpg
Bersenang-senang dengan komik...
Di www.PragatComic.com
Info Prakarya & Cergam


__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

[ac-i] Pers Release Homage

 

H O M A G E
Tujuh Bintang Art Space
8 - 23 Mei 2010

Artists :
ACHMAD BASUKI | AGUNG SANTOSA | CIPTO PURNOMO | DANNY IRAWAN | ERIANTO | FERRY GABRIEL | HASTO EDI SETIAWAN | I KADEK AGUS ARDIKA | I WAYAN UPADANA | KHUSNA HARDIYANTO | M.WIRA PURNAMA | MIRANTI MINGGAR TRILIANI | NAWIR MC PITT | NUGROHO WIJAYATMO | ROCKA RADIPA
RONALD EFENDI | RONI AMMER | RUDI HENDRIATNO | WIBAWA ADI UTAMA | WIBAWA ADI UTAMA | YUDI IRAWAN

Curator :
Netok Sawiji_Rusnoto Susanto

Homage to Maestro ditafsir sebagai sebuah sikap penghormatan terhadap proses pencapaian terpuncak para maestro kita. Karena pemikiran-pemikiran dan kreativitas maestro itulah spirit kreatif dipicu, subject matter diurai/diartikulasikan, wacana seni rupa digulirkan dan seni rupa diperjuangkan nilai estetikanya. Maetro-maestro kita memperjuangkan sekaligus menegaskan kembali ideologi estetika semenjak masa perjuangan, revolusi, kemerdekaan hingga seni rupa kontemporer hiruk-pikuk kini menempatkannya pada pencapaian-pencapaian derajat sekaligus nilai inovatifnya. Bagaimana sejarah seni rupa kita dipertunjukkan di hadapan kita ketika mereka merepresentasikan ketajaman intuisinya dengan perspektif individual yang tetap merespon jiwa jaman atas nilai-nilai local genius.

Alasan-alasan semacam inilah bingkai kuratorial ini intens di matangkan untuk meretaskan berbagai pemikiran-pemikiran segar dari para perupa peserta pameran dalam mendedikasikan proses perenungan, pemikiran dan olah kreatif sebagai representatif penghormatan terhadap maestro. Artikulasi visual dalam konteks ini tentu tidak secara permukaam ditafsir, namun dicermati sebagai wujud persembahan nilai-nilai estetika untuk avant garde seni rupa kita.

Pameran ini diikuti beberapa peserta nominator dan pemenang Tujuh Bintang Art Awards 2009 yang lalu, dalam paket pameran ini secara berkala digelar di Tujuh Bintang Art Space sebagai serangkaian penghormatan dan penghargaan setingi-tingginya utk para maestro. Yang tak kalah pentingnya adalah pameran ini sebagai bentuk penghargaan kami kepada para peserta nominator Tujuh Bintang Art Awards 2009. Terima kasih kami sampaikan kepada para peserta pameran semoga dapat mempersembahkan karya-karya terbaiknya.

Silakan diapresiasi

More info :
www.tujuhbintang.com
blog.tujuhbintang.com

__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

[ac-i] Group Exhibition "SOCCER FEVER", 10 - 22 Juni 2010, Galeri Canna

 

Galeri Canna
mengundang anda pada sebuah pameran seni rupa bersama:


"SOCCER FEVER"



Di buka oleh:
Bp. Dr. Andi Mallarangeng
Menteri Pemuda dan Olahraga


pembukaan:
Kamis, 10 Juni 2010,
19.00 / 7.00 pm


Kurator:

Afnan Malay & Wahyudin


di
Galeri Canna
Jl. Boulevard Barat Raya Blok LC 6
No.33-34 Kelapa Gading
Jakarta Utara 14240.
p. (62-21) 4522536, 4526429, 4534666
f. (62-21) 4534667
e. galeri.canna@yahoo.com, canna@cbn.net.id
www.galeri-canna.com




OPEN HOURS
Monday - Saturday 10 am - 6 pm.
Sunday 11 am - 4 pm. Public holiday CLOSED
This exhibition will be held until 22 June 2010




Galeri Canna
Jl. Boulevard Barat Raya Blok LC 6
No.33-34 Kelapa Gading
Jakarta Utara 14240.
p. (62-21) 4522536, 4526429, 4534666
f. (62-21) 4534667
e. galeri.canna@yahoo.com, canna@cbn.net.id
www.galeri-canna.com

OPEN HOURS
Monday - Saturday 10 am - 6 pm.
Sunday 11 am - 4 pm. Public holiday CLOSED
This exhibition will be held until 3 March 2010

 

Jakarta Art District (JAD)
East Mall, Lower Ground
Grand Indonesia Shoping Town
Jl. MH. Thamrin No. 1 Jakarta .

OPEN HOURS
Monday - Sunday 10 am -10 pm











--
AGSI (Asosiasi Galeri Seni Rupa Indonesia) Secretariat.
(Art Galleries Association- AGA) Indonesia
GRAND INDONESIA SHOPPING TOWN, East Mal, LG, JAKARTA ART DISTRICT AREA
Jakarta 10310
Ph: +62 21 2358 1035
www.agsindonesia.com

__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

[ac-i] SIGIarts cordially invites you to the solo exhibition of Gede Mahendra Yasa, May 12th 2010 [2 Attachments]

 
[Attachment(s) from Asosiasi Galeri Senirupa Indonesia included below]





Discussion will be on May 22th 2010
Starts at 12 noon (lunch is provided)


Speaker:
Enin Supriyanto
Gede Mahendra Yasa
Bambang Sugiharto


--
SIGIarts Gallery
Jl. Mahakam 1 No. 11
Jakarta 12150
Ph: + 62 21 7260949
Fax: + 62 21 7261017
Mob: +62 852 85945170



--
AGSI (Asosiasi Galeri Seni Rupa Indonesia) Secretariat.
(Art Galleries Association- AGA) Indonesia
GRAND INDONESIA SHOPPING TOWN, East Mal, LG, JAKARTA ART DISTRICT AREA
Jakarta 10310
Ph: +62 21 2358 1035
www.agsindonesia.com

__._,_.___

Attachment(s) from Asosiasi Galeri Senirupa Indonesia

2 of 2 Photo(s)

Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

[ac-i] PURI GALLERY: JAKARTA ART DISTRICTSubsiding Memories. SOLO Exhibition by JONI RAMLAN, 7th May'10 @7.30PM [1 Attachment]

 
[Attachment(s) from Asosiasi Galeri Senirupa Indonesia included below]







UNDANGAN JONI RAMLAN  fix copya by you.

*We're sorry for any cross posting*



--
Puri Art Gallery
Showroom:
Jakarta Art District No. 5
Grand Indonesia Shopping Town - East Mall, Lower Ground #17-29
M.H. Thamrin No. 1 Jakarta
Mobile: +62 21 3264 3830/ +62 8788 2258 773
Fax. +62 21 5297 1259
Email. puriartgallery@gmail.com
Web. www.puriartgallery.com






__._,_.___

Attachment(s) from Asosiasi Galeri Senirupa Indonesia

1 of 1 Photo(s)

Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

[ac-i] Sie Jin Kwie, Potret Lelahnya Mengolah Teater

 


Sie Jin Kwie, Potret Lelahnya Mengolah Teater

Oleh: Roy Thaniago


Teater Koma, sebagai salah satu kelompok teater di Indonesia yang punya umur panjang ini, berulah lagi. Kali ini ulahnya dikasih judul 'Sie Jin Kwie'. Pentas yang digelar di Graha Bhakti Budaya pada 5-21 Februari 2010 ini menjadi produksi ke-119 dalam usia 33 tahun Teater Koma.

 

LAKON Sie Jien Kwie, yang mengambil latar di Cina ketika pemerintahan Dinasti Tang (618-907), memang menjadi pilihan cerita yang menggembirakan di tengah berlangsungnya euforia perayaan 'kembalinya' masyarakat Cina di Indonesia. Bahwa terhitung sejak tahun 2000, di mana pemerintah mencabut Inpres 14/1967 tentang pelarangan hal-hal yang berbau Cina, kelompok etnis masyarakat ini kembali patut turut dicatat dalam sejarah sebagai salah satu elemen yang membentuk Indonesia sebagai sebuah bangsa. Rupanya Teater Koma pun turut ingin mencatatnya, sekaligus terlibat dalam perayaan ini. Dan tahun ini tepat 1 dekade, di mana pemaknaan perayaan ini menjadi makin mesra. Makin manis. Akankah lakonnya pun turut manis?

 

Mungkin iya. Banyak penonton yang riang, dan semua media meliput dengan girang, seolah tidak ada yang perlu dipersoalkan. Kenyataannya, tidaklah harus demikian. Pujian yang berlebihan, hanya melahirkan seniman yang mapan. Padahal, seniman harus terus gelisah, harus terus mencari. Ketika ia berhenti mencari, ia sudah selesai sebagai seniman.

 

Bukan mencari-cari penyakit kalau tulisan ini mengambil sikap berbeda dibanding ulasan-ulasan lain yang bergenit eluan tentang pementasan Sie Jin Kwie. Pasalnya, di samping banyak hal positif (konsistensi berteater, manajemen kelompok, regenerasi, kemampuan mengembangkan penonton, dan produktivitas), demikianlah yang ada: pementasan ini memperlihatkan Teater Koma yang kehabisan energi artistik. Inilah pementasan Teater Koma yang usang dan tampak kelelahan.

 

Sie Jin Kwie Sebagai Sejarah

 

Menyaksikan Sie Jin Kwie berarti membaca sejarah. Khususnya sejarah bangsa Cina di jaman kerajaan. Sie Jin Kwie adalah seorang jendral perang paling terkenal dari Dinasti Tang. Kisah tentangnya sudah menjadi cerita klasik di Tiongkok, bahkan lebih sering dipahami sebagai mitos akibat dipopulerkan lewat cerita fiksi yang didramatisir.

 

Sie Jin Kwie dalam dialek Mandarin dilafal Xue Ren Gui. Di Indonesia, yang banyak dihuni pengucap berlidah Hokkian, ia dikenal sebagai Sie Jin Kwie. Pada awalnya di Tiongkok, kisah ini ditulis oleh Tio Keng Jian, dan kemudian disunting oleh Lo Koan Chung.

 

Adalah penerbit Kho Tjeng Bie yang punya andil dalam mengenalkannya ke masyarakat Indonesia. Dan Siauw Tik Kwie, yang punya nama lain Ki Oto Swastika, karena usahanya dalam menyebarkan filsafat Ki Ageng Suryo Mentaram, semakin mempopulerkannya sebagai komik dengan judul Sie Djin Koei yang dimuat secara bersambung di majalah Star Weekly pada 1950-an. Pun di era 1990-an, Markus Aceng Setiawan kembali mengangkat kisah Sie Jin Kwie untuk masyarakat Indonesia. Oleh N. Riantiarno, sutradara Sie Jin Kwie, cerita ini ditulis ulang untuk kemudian ia sutradarai.

 

Pementasan lakon Sie Jin Kwie yang digelar Teater Koma kali ini, adalah salah satu bagian dari trilogi yang kedua bagian lainnya akan dipentaskan pada tahun-tahun pementasan berikutnya. Lakon berdurasi sekitar 4 jam ini, mengisahkan Sie Jin Kwie (Rangga Riantiarno), seorang pemuda dari keluarga miskin yang akhirnya termashyur menjadi panglima perang dari Dinasti Tang.

 

Dinasti Tang yang dikaisari oleh Lisibin (Prijo S. Winardi) ini ditantang perang oleh Kerajaan Kolekok, yang merupakan salah satu daerah kekuasaan Dinasti Tang. Tantangan perang ini dipimpin oleh Jendral Kaesobun (Paulus Simangunsong), yang setelah sebelumnya melakukan kudeta dari Raja Kolekok (Budi Suryadi). Dalam ancaman perang ini, Sie Jin Kwie hadir sebagai pahlawan penyelamat dalam mimpi Lisibin, sang kaisar. Maka, segala cara Lisibin tempuh untuk bisa bertemu dengan Sie Jin Kwie. Dari sinilah lika-liku perjalanan Sie Jin Kwie memasuki istana menjadi pokok cerita yang disajikan.

 

Usang dan Lelah

 

Lakon ini, oleh Teater Koma, disajikan dengan alur yang amat lambat dan bertele-tele. Ada kesan ingin menampilkan semua bagian cerita secara lengkap, sehingga sungkan membuang adegan-adegan yang tidak perlu. Namun pilihan ini rupanya menampakkan sajian lakon yang terengah-engah. Banyak adegan yang hanya memanjangkan durasi, tapi tidak menambah esensi cerita. Pun bila dimaksudkan untuk memperkaya cerita, strategi bertuturnya lebih banyak yang tidak berhasil.

 

Misalnya saja, keterengahan itu tampak dari pilihan plot yang dibawakan dalam alur maju yang sangat kronologis. Penguasaan akan cerita baru hadir ketika Sie Jin Kwie, sang tokoh utama, masuk panggung. Namun, Sie Jin Kwie justru baru masuk belakangan setelah penonton diombang-ambingkan pada penceritaan awal yang bertele-tele. Strategi bertutur ini sebenarnya bisa lebih luwes kalau saja mencoba dalam alur maju mundur, juga mengetengahkan Sie Jin Kwie lebih personal dan ditempatkan lebih awal pada mula-mula cerita.

 

Tawaran bertutur di atas timbul karena dalam lakon ini terdapat dua peristiwa yang berjalan (seakan) bersamaan: kisah kehidupan istana Dinasti Tang dengan tetek bengeknya ditambah mimpi Lisibin, dan kisah hidup Sie Jin Kwie sejak kelahirannya menuju dewasa hingga kemudian bersinggungan dengan spektrum kisah Dinasti Tang. Jadi, seperti ada dua garis yang otonom lantas bertemu pada satu titik karena beberapa alasan, salah satunya mungkin takdir. Masalahnya, peristiwa bertemunya dua garis ini, dalam lakon Sie Jin Kwie, terjadi terlalu larut.

 

Sebenarnya ada usaha untuk mengantisipasi masalah bercerita atau bertutur tadi. Salah satunya adalah dengan melibatkan narasi dalang yang diaktori oleh Budi Ros dan juga melalui media wayang yang dinamai Wayang Tavip – karena nama pencipta dan dalangnya adalah Tavip. Cara ini, memang terbukti mampu meringkas cerita, sekaligus merekatkan potongan-potongan kisah yang tercecer, ditambah memberi kesegaran di tengah-tengah kesesakan adegan-adegan yang monoton. Tapi entah mengapa, konsistensi ini tidak terjaga hingga ujung cerita. Tugas penceritaan yang semulanya diemban dalang, malah berpindah ke pemain-pemain lain, seakan tergesa-gesa dan kikuk menghadapi durasi. Ini terlihat jelas terutama di adegan-adegan akhir di mana sesekali Sie Jin Kwie atau pemain lain menjadi narator baru.

 

Keusangan paling jelas dari pementasan ini adalah sisi keaktorannya. Tidak ada greget yang cukup menonjol dari pemain-pemain yang ada. Namun pengecualian untuk Prijo S. Winardi dan Paulus Simangunsong yang berperan sebagai Lisibin dan Kaesobun, karena bermain baik. Terutama Prijo yang sangat kharismatik di atas panggung. Sedang yang lain, seperti menjadi karakter usang yang hanya berganti baju dan judul lakon. Tak pelak penonton yang setia mengamati pementasan Teater Koma beberapa tahun terakhir, akan mendapati karakter akting yang sudah-sudah dan tak berkembang. Lakon berubah, tapi cara ungkapnya sama.

 

Seperti beberapa produksi sebelumnya, Teater Koma dikenal 'royal' dalam mengolah sisi artistik panggung. Poin ini pun tetap hadir dalam pementasan Sie Jin Kwie. Mata penonton dimanjakan dengan visualisasi kehidupan Cina di zaman lampau. Dari tata panggung yang detil nan megah, properti yang esensial, hingga kostum dan tata rias. Terlihat ada usaha berbasis riset terhadap gaya Opera Cina yang dilakukan Rima Ananda dan Sena Sukarya, Penata Busana dan Penata Rias pementasan ini.

 

Sayang, usaha yang sama kurang digarap di sisi musik yang dikomandani Idrus Madani. Pendalaman akan musik tradisi Cina hanya menyentuh kulit-kulitnya saja, yang cukup diwakili oleh tangga nada pentatonik Cina (dalam teori musik barat: la-do-re-mi-sol) atau bunyi perkusi berbahan logam khas Opera Cina atau pola tabuhan beduk. Itu pun tidak membalur sepenuhnya karena sebagian besar musik lainnya ditampilkan secara biasa saja. Namun, Idrus sangat piawai dalam mengisi ilustrasi musik yang bukan lagu. Ia, dengan beragam senjatanya yang bersifat perkusif, mampu mengisi ruang yang meningkahi gerak lakon dari para pemain. Idrus pun peka untuk mengurangi porsinya atau menambal porsinya dengan sigap.

 

Teater Koma adalah teater penuh kejutan. Selain karena beberapa kali berurusan dengan pihak yang berwajib karena pementasannya yang kritis terhadap pemerintah, mereka juga dikenal dengan penonton yang loyal. Dan tiap tahun, daftar penggemarnya tampak bertambah. Tak terkecuali pementasan kali ini yang berhasil mengundang penonton-penonton baru dengan karakteristik yang berbeda dari yang sudah-sudah. Maka, dengan segala hormat dan tanpa mengurangi peran Teater Koma dalam memasyaratkan teater lebih luas, harus diakui, pementasan ini menjadi potret bagaimana lelahnya mengolah teater. Yakni sebuah jalan budaya yang berliku, tapi penuh kedalaman ketika berhasil sampai di ujung sana.

Roy Thaniago

Peminat  masalah seni dan budaya,

bergiat di Agenda 18

__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___