Wednesday, May 5, 2010

[ac-i] The Art of Woo, Seni Menjual Gagasan dengan Persuasi Strategis

 

HTML clipboard

THE ART of WOO

Seni Menjual Gagasan dengan Persuasi Strategis

 

 

 

SINOPSIS

Ketika Napoleon Bonaparte masih seorang perwira pada penaklukan Toulon, dia merangkai sebuah senjata artileri di lokasi yang sangat terbuka dan berbahaya. Semua atasannya mengira dia tidak akan mendapatkan pasukan untuk mengoperasikan artileri itu. Bukannya memerintah atau menakut-nakuti para prajuritnya, Napoleon sendiri malah membuat plakat besar dan menempelkannya di samping meriam: "Senjata untuk Orang Tanpa Rasa Takut". Posisi itu pun dijaga prajurit siang dan malam.

Itulah yang disebut "woo": kemampuan mempengaruhi orang untuk mengikuti gagasan Anda tanpa memaksanya, melainkan menggunakan persuasi yang cerdas. The Art of Woo akan menunjukkan pada Anda bagaimana Charles Lindberg mengubah dirinya—dalam waktu kurang dari setahun—dari seorang pilot pengantar surat menjadi selebriti internasional, atau bagaimana Nelson Mandela menggunakan woo untuk mengambil hati para penjaga di penjaranya yang brutal dan menciptakan kembali sebuah bangsa. Buku ini juga menjelaskan bagaimana para pemimpin bisnis dari segala bidang menggunakan woo setiap hari untuk mencapai sasaran-sasaran mereka.

Tak peduli apakah Anda introvert atau ekstrovert, kompetitif atau kolaboratif, dari kalangan intelektual atau praktisi, Anda akan menemukan bahwa woo dapat menguatkan keterampilan persuasi Anda dalam setiap aspek kehidupan. Anda mungkin membutuhkan The Art of War-nya Sun Tzu untuk mengalahkan musuh. Tetapi jika Anda memilih untuk memenangkan hatinya, bacalah The Art of Woo. Inilah rahasia sukses dengan para kolega, klien, dan pelanggan.

____________________________

"Karya klasik Dale Carnegie, How To Win Friends and Influence People, hingga kini tetap menjadi standar bagi para penjual. … Tetapi buku ini jelas lebih ringan, lebih cerdas, dan tentu saja lebih relevan di masa kini ketimbang buku tua Carnegie yang ditulis lebih dari tujuh puluh tahun silam."

Library Journal

"Anda mungkin punya gagasan brilian, tapi jika Anda tak bisa menyampaikannya dengan gamblang dan meyakinkan, gagasan itu tak akan membawa Anda ke mana-mana."

—Lee Iacocca

"Panduan yang menyenangkan dan berguna untuk memperoleh kekuatan woo. Buku ini membantu pembaca tidak saja di dunia profesionalisme."

Publishers Weekly

 

ENDORSEMENT

"Shell dan Moussa telah melakukan sesuatu yang luar biasa: mengubah seni yang misterius dan intuitif menjadi ilmu pengetahuan sistematis dan gamblang. Dalam prosesnya, 'Woo' telah berubah menjadi 'Wow!'…."

Robert B. Cialdini, penulis bestseller Influence: Science and Practice

"Memiliki gagasan cemerlang adalah satu hal, tetapi mempunyai kecakapan persuasi dan keterampilan politis untuk mendapatkan dukungan bagi gagasan tersebut adalah hal lain. … Woo adalah tentang membuat orang lain tidak hanya menerima, tapi juga mendekap erat-erat inisiatif Anda."

—Michael Wheeler, Profesor, Harvard Business School

"The Art of Woo adalah buku menarik yang mengajarkan sesuatu yang merupakan inti dan jiwa dari pelayanan finansial.… Bacaan penting bagi siapa pun yang ingin maju menjadi yang terdepan di dunia pasar bebas yang kompetitif."

Robert Wolf, Chairman & CEO, UBS Group Americas

"Esai yang enak dibaca, karya praktis yang menyampaikan pesan kunci mengenai keefektifan dalam bisnis. The Art of Woo adalah bacaan wajib bagi siapa pun yang punya gagasan besar tapi mengalami kesulitan untuk menjualnya."

—Paul Zeven, CEO, Philips North America

"Sebuah panduan yang disusun dengan baik, tahap demi tahap, yang membawa kita ke sebuah perjalanan, menggambarkan dan menjelaskan proses menjual gagasan. Teknik-teknik yang mudah diikuti dan proses perencanaan yang sistematis untuk membantu kita mempraktikkan 'Art of Woo'.          

Business & Leadership

 

 

PENULIS

G. RICHARD SHELL adalah Guru Besar Ilmu Hukum, Etika Bisnis dan Manajemen di Wharton School, University of Pennsylvania, AS. Di kampus ini, dia mengajar sejak 1986, dan kini menjadi direktur akademik di dua program pendidikan eksekutif Wharton: Workshop Negosiasi Eksekutif dan Workshop Persuasi Strategis. Business Week menyebutnya sebagai salah satu profesor sekolah bisnis terbaik di Amerika Serikat.

Sebagai konsultan, Profesor Shell telah bekerja untuk lebih dari 100 perusahaan dan organisasi nirlaba. Kliennya termasuk General Electric, Johnson & Johnson, Citibank, Hewlett-Packard, American Association of Medical College, dan United Food serta Commercial Workers International.

Artikel opininya tersebar di berbagai media massa, seperti Wall Street Journal, New York Times, Boston Globe, dan Philadelphia Inquirer. Karyanya, Bargaining for Advantage, memenangi penghargaan buku terbaik the CPR Institute for Dispute Resolution's 1999.

MARIO MOUSSA adalah Direktur Akademik Wharton School of Executive Education dan Presiden Moussa Consulting. Sebelumnya ia menjabat Kepala CFAR Inc, sebuah firma konsultan manajemen. Moussa menyandang MBA dari Wharton School dan meraih Ph.D dari University of Chicago.

Dr. Moussa rutin memberikan presentasi dan workshop bagi para kliennya di seluruh dunia: berbicara di depan ribuan eksekutif di Hong Kong, Istanbul, Sao Paolo, Delhi, Mumbai, Paris, serta berbagai kota di Amerika Serikat. Dia juga telah memimpin proyek di United Health Group, Bristol-Myers Squibb, PNC Bank, Georgetown University Medical Center, dan State Farm Insurance.

 

DATA BUKU

Judul              : The Art of Woo [Seni Menjual Gagasan dengan Persuasi Strategis]

Penulis           : G. Richard Shell dan Mario Moussa

Penerjemah   : Th. Dewi Wulansari

Editor             : Wendratama

Genre             : Pengembangan Diri

Penerbit         : Gemilang (Kelompok Pustaka Alvabet)

Cetakan          : Mei 2010

Ukuran           : 15 x 23 cm (flap 8 cm)

Tebal              : 360 halaman

ISBN              : 978-979-19974-4-7

Harga              : Rp. 69.000,-

 



==========================================
Pustaka Alvabet
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl. Ir. H. Juanda No. 5A, Ciputat
Jakarta Selatan Indonesia 15411
Telp. +62 21 7494032,
Fax. +62 21 74704875
www.alvabet.co.id


__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

.

__,_._,___

[ac-i] Klab Penulis Banten

 

BANTEN MEMBACA, GONG PUBLISHING,

HARI KEBANGKITAN BUKU, DAN  KLAB PENULIS BANTEN

Oleh Gol A Gong

 

"HARI KEBANGKITAN BUKU #3" di Taman Bacaan Rumah Dunia pada 15 Mei 2010, pukul 13.00 – 17.00 WIB adalah gerakan kebudayaan yang tiada henti sejak tahun 2000, dimana batu-bata ditanamkan ke tanah untuk mendirikan Rumah Dunia, seperti halnya di Babad Banten, Pupuh XII, "Gawe Kuta baluwarti bata kalawan kawis"; membangun peradaban atau kota dengan batu dan karang. Begitulah Rumah Dunia, membangun peradaban baru di Banten yang melek aksara dan informasi. Lalu Gong Publishing hadir untuk Banten, yaitu membangkitkan lagi tradisi menulis yang sudah lama tenggelam, karena "menulis adalah membaca dua kali"..

 

UBAH STIGMA

Kini 10 tahun bergulir sejak Rumah Dunia didirikan. Fase ketertarikan membaca dan kebiasan membaca sudah merasuki warga di sekitar Rumah dunia; yaitu Kampung Ciloang, Kubil, tegal Duren, dn Kesuren. Anak-anaknya kini rajin ke sekolah. Setiap pagi, anak-nak kampung berseragam merh-putih berduyun-duyun ala warga Baduy ke sekolah. Ini sangat menggembirakan. Beberapa anak Kampung Ciloang pun sudah pandai menulis berita dan essay di koran, serta menulis cerpen dan novel.

Keberadaan Taman Bacaan Masyarakat Rumah Dunia di Kampung Ciloang memberi warna tersendiri bagi perkembangan keaksaraan di Banten, bahkan di Indonesia. Rumah dunia ibarat titik gempa literasi, sehingga getarannya terasa ke seluruh pelosok Banten, bahkan Indonesia. Di Banten kini bermunculan banyak komunitas baca dan taman bacaan masyarakat. Setiap akhir pekan, para aktivis buku berbondong-bondong menghadiri kegiatan literasi di Rumah Dunia. Seusai pesta literasi di Rumah dunia, mereka pulang ke kampungnya dan sepakat meneggelorakan visi "Banten Membaca". Di Cipanas, Ikatan Keluarga Mahasiwa Cipanas menyulut sumbu literasi "Lebak Membaca" dengan mendirikan 'Kosala Library". Di Pandeglang, Forum Pandeglang Bangkit bersiap menyulut dinamit "Pandeglang Membaca".

            Melihat antusiasme masyarakat Banten selama 10 tahun usia Provinsi Banten cukup menggembirakan. Indikasinya di setiap mall di Banten sudah ada toko buku tiga Serangkai, pasar buku murah di terminal Pakupatan, Serang, Banten book Fair di Radar Banten, para mahasiswa mulai rajin ke toko buku dan mengadakan bedah buku serta jumpa penulis di kampus. Ini sangat menggembirakan. Taman-taman bacaan masyarakat bersaing dengan pembangunan real estate, rumah toko, atau rumah kantor. Koran-koran lokal bertumbuhan. Televisi lokal bertambah. Ini luar biasa. Banten memasuki peradaban baru; over load informations! Bnbjir informasi.

Eko Koswara, Kadisdik Provinsi Banten sumringah di setiap acara, "Buta aksara di Banten berhasil diberantas!" Dan kejutan paling hangat ibarat sang mentari fajar, saat Disdik, Perpusda Banten, Disbudbar  Banten dan Kota Serang bekerjasama dengan  Forum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia menggagas TBM@Mall (baca: Taman Bacaan Masyarakat di mall) di Carrefour Serang. Keseriusan warga Banten yang ingin menghancurkan "mitos" ketertinggalan di pendidikan dan stigma buram tentangteluh dan santet dibuktikan pada 2 Mei 2010, persis pada saat seluuruh anak negeri larut dalam suka-cita Hari Pendidikan nasional.

Pada 2 Mei itu, hanya 2 kota yang meluncurkan TBM@Mall; yaitu di Plaza Semanggi, Jakarta, yang diresmikan Mentri Pendidikan Nasional, Moh. Nuh, dan TBM@Mall Banten Membaca di Carrefour, Serang, oleh Gubernur, Banten, Rt. Atut Chosiyah. Peristiwa ini akan tercatat di gerakan "Indonesia Membaca", bahwa Banten berada di garis depan! Kata Atut, "TBM@Mall adalah usaha dari 'Banten untuk Indonesia Membaca'.nati harus ada di 8 tempat di Banten."

TBM@Mall ibarat bom literasi di Banten. Ledakannya tidak akan menghancurkan, tapi membangunkan orang-orang untuk berpikir, bahwa membaca adalah pintu menuju ilmu pengetahuan. Para relawan di TBM Rumah Dunia, Permadani, Al-Ikhlas yang tergabungdi Forum TBM Kota Serang pimpinan Ratu Nizma Susanti, sudah siap tempur mengelola TBM@Mall. "Kami akan mengingatkan orang-orang yang berbelanja di Carrefour agar tetap ingat pada buku. Belanja boleh, tapi jangan melupakan buku!" kata Novi dari TBM Al-Ikhlas, Serang, yang kebagian jaga pagi di TBM@Mall Banten Membaca. Hal itu diamini Erna, pengelola TBM Permadani, Serang.

 

MENU KOLOSAL

Mengimbangi kecepatan "Banten Membaca" yang mulai masuk gigi tiga, Rumah Dunia  membuka lini usaha, yaitu Gong Publishing. Dengan motto "warnai hidupmu dengan buku".Gong Publishing ingin membantu para penulis Banten menembus pasar nasional. Ini adalah cara paling strategis mengubah citra atau stigma Banten yang identik dengan jawara plus kekerasan , santet, pelet, dan ketertinggalan. Dengan Gong Publishing, mencoba membangun citra baru; saatnya otak, bukan otot, yaitu interprestasi dari kredo  Toto ST Radik, "simpan golokmu, asah penamu".

Kerja keras pertama adalah menyelenggarakan "HARI KEBANGKITAN BUKU #3" (HKB) di Rumah Dunia. Pada HKB pertama (2008) peluncuran 6 novel terbaru Gol A Gong. Setahun berikutnya di HKB #2, memestakan penulis lokal; Iwan K. Hamdan dan Khatib Mansyur. Di HKB #3 kolosal. Beragam menu digodok, sehingga HKB #3 mewakili harapan warga Banten.

Menu utamanya, peluncuran dan book signing buku bundel BALADA SI ROY (BSR). Novel remaja fenomenal karya Gol A Gong,. yang sudah menginspirasi jutaan pembaca di Indonesia. Buku BSR awalnya dimuat bersambung di majalah HAI (1989 – 1994) dan diterbitkan Gramedia berupa 10 jilid. Kini Gong Publishing menerbitkan kembali dalam bentuk bundel, hard cover, 680 halaman, ukuran buku 15 x 23 cm, jenis kertas HVS 70 gram, harga di too buku Rp. 150.000,- . Tapi saat launching di HKB #3 harga promosi saat peluncuran Rp. 100.000,-

Menu tambahan yang sedap di hati, adalah deklarasi "Klab Penulis Banten". Mengusung visi  "Membangkitkan Kembali Tradisi Menulis", para penulis Banten siap menyerbu pasar Jakarta. Itu dibuktikan dengan soft launching beberapa buku yang diterbitkan Gong Publishing, yaitu  novel "Gadis Bukan Perawan" karya Jenny Ervina, buku kumpulan tulisan pembangun jiwa "Melihat Tanpa Mata [Penghargaan Pada Inspirasi]" karya Abdul Latief, buku sosial-politik "Membaca Banten, Membaca Indonesia" karya Iwan K. Hamdan, buku kumpulan cerpen "Gilalova [Segila-gilanya Cinta] karya 25 penulis muda yang tergabung di Forum Lingkar Pena Banten, buku pencerahan spiritual "Tamasya ke Mesjid [catatan buruh migrant di Dubai] karya Jaya Komarudin Cholik, dan buku panduan menulis "Be a Writer" karya Gol A Gong.

Profesor Yoyo Mulyana, guru besar Untirta Serang, menulis di situs jejaring sosial Facebook, 'Acaran HKB #3 dahsyat banget tuh. Mari, use your brain and heart, not your muscle!" Profesor Yoyo siap melakukan orasi dengan tema "Membngkitkan Kembali Tradisi Menulis di Banten."

Menu penyedap lainya akan ada perang bintang pembacaan Puisi-puisi "Balada Si Roy" oleh penyair 2 geberasi; Toto ST Radik versus Rahmat Heldy HS. Toto dikenal sebagai penulis sajak pembuka di hampir semua episode Balada Si Roy. Juga ada musikalisasi Ki Amuk pimpinan Firman Venayaksa. Tidak ketinggalan testimoni pembaca "Balada Si Roy", yang sudah memberikan inspirasi kepada mereka.

Eit, satu lagi menu gurih! Penjualan kaos merchandise Balada Si Roy! Cover lawas yagn apik dari Mas Wedha dan penggalan puisi Balada Si Roy dari puisi karya Toto ST Radik! (*)

 

*) Penulis adalah Pendiri Taman Bacaan Rumah dunia dan Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia



==================================

 

Rumah Dunia dan GONG Publishing mempersembahkan:

HARI KEBANGKITAN BUKU #3

Sabtu 15 Mei 2010, Pukul 13.00 – 17.00 WIB Komplek Hegar Alam 40, Pintu Tol Serang Timur, Kampung Ciloang, Serang Tlp. 0254 – 224 955, email: gongpublishing@yahoo.com, HP: 0815 13310 132

 

Acara HARI KEBANGKITAN BUKU #3 terselenggara berkat kerjasama dengan Antara News, KOMPAS.Com, Radar Banten, Banten Raya Post, Good Read Indonesia, Forum Lingkar Pena, Rumah Dunia, Gen-ID, Suhud Media Promo, Solidaritas Kebersamaan, Gramedia, Tiga Serangkai, Barometerbook, XL, BR TV, www.rumahdunia.com, SNP Merchandise, Majalah HAI, PT. Bhakti Pancawarna, HOT FM, www.rumahsehat.com, (www.studiofotografi.com), Serang FM, Radio TOP FM, www.rumahdunia.com



--- On Thu, 5/6/10, mediacare <mediacare@cbn.net.id> wrote:

From: mediacare <mediacare@cbn.net.id>
Subject: [ac-i] Ditemukan 2 kerangka manusia prasejarah di Karawang
To: zamanku@yahoogroups.com, ppiindia@yahoogroups.com, "mediacare yahoogroups" <mediacare@yahoogroups.com>, media-jabar@yahoogroups.com, artculture-indonesia@yahoogroups.com, media-jabodetabek@yahoogroups.com
Date: Thursday, May 6, 2010, 11:10 PM

 



Dua Kerangka Manusia Prasejarah di Karawang Bertumpuk

Karawang (ANTARA) - Dua dari enam kerangka manusia prasejarah yang ditemukan di halaman Candi Blandongan bagian Tenggara, Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, terlihat bertumpuk dalam satu lubang yang sama.

Koordinator Kabupaten Juru Pelihara Candi Blandongan, Sunarto mengatakan di Karawang, Selasa, enam kerangka manusia prasejarah tersebut ditemukan tim penggalian dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang, yang bekerja untuk pemugaran Candi Blandongan.

Kerangka manusia itu ditemukan sekitar 25 meter dari bibir tangga candi bagian tenggara.

Keenam kerangka manusia sepanjang 170 centimeter itu berposisi membujur arah timur laut-barat daya. Terkubur di kedalaman sekitar 1 meter dengan posisi berjejer, katanya.

Dari ujung kaki sampai kepala, kerangka manusia itu cukup utuh. Bahkan, senjata jenis logam yang berada di sekitar kerangka itu juga masih utuh. Di dekat kerangka, ditemukan pula sejumlah gerabah yang diduga menjadi bekal kubur manusia prasejarah tersebut.

Kondisi gerabah itu sudah pecah saat tim penggalian dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang menemukan kerangka manusia prasejarah tersebut.

"Dari kerangka manusia yang berjejer itu, jarak antara kerangka yang satu dengan lainnya sekitar 90 centimeter," kata Sunarto.

Dikatakannya, penemuan kerangka manusia prasejarah itu tidak disengaja saat tim penggali melakukan strukturisasi Candi Blandongan sejak pertengahan April 2010. Tetapi, karena ditemukan kerangka tersebut, maka tim penggali menyelesaikan penggalian kerangka itu terlebih dahulu.

Pada awalnya, sekitar dua pekan lalu, para petugas melakukan penggalian halaman candi terkait dengan kegiatan pemugaran atau strukturisasi candi. Tetapi ketika melakukan penggalian tanah di halaman candi bagian tenggara, titik koordinasi G-9, ditemukan kerangka manusia.

"Pada awalnya, ditemukan kerangka lutut, tetapi setelah penggalian dilanjutkan, kerangka manusia itu terlihat utuh dari kepala sampai kaki. Di antara kerangka itu terdapat senjata jenis logam yang berada di bagian dada kerangka," kata Sunarto.

Pada akhirnya, di halaman candi bagian tenggara itu terdapat enam kerangka manusia yang diduga berasal dari masa prasejarah. Satu dari enam kerangka tersebut menumpuk dalam satu kubur, sehingga terlihat lebih panjang. Sedangkan kerangka lainnya rata-rata sepanjang 170 centi meter.

 

Facebook: Radityo Djadjoeri
YM: radityo_dj
Twitter: @mediacare

__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

.

__,_._,___

[ac-i] Fw: Scedule pameran Galeri Canna, Juni 2010.

 



Dear AGSI, Galeri
scedule exhibition Galeri Canna , June  2010.


10 - 22 Juni 2010, Group Exhibition "Soccer Fever".
at Galeri Canna, Kelapa Gading.
curated by Afnan Malay & Wahyudin.
officiated by Mr. Andi Malaranggeng.


15 - 26 Juni 2010 Solo Exhibition Wisnu Auri
at Jakarta Art District, Grand Indonesia.
curated by Alia Swastika.



__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

.

__,_._,___

[ac-i] Jadi Duta KA, Didi Petet Gencarkan Promosi

 

                                                     http://www.KabariNews.com/?34878



Siapa sih yang tidak kenal pria ini. Dia adalah Didi Petet salah satu aktor senior Indonesia yang berhasil memerankan film 'Si Kabayan' yang sampai sekarang image itu masih terus menempel.

Pria berambut kriting ini selalu tampil dengan aksi kocaknya, meski ada beberapa film tampil berwibawa, tapi peran 'kabayan' tetap menempel. Diluar dari peran panggungnya, Didi baru-baru ini mendapatkan kehormatan menjadi duta Kereta Api (KA).

Saat hadir dalam peluncuran KA rute Bandung-Malang, Didi mengaku bangga mengenakan seragam kebesaran KA dan iya pun merasa berhak mengenakan seragam KA. " Sudah sebulan saya menjadi duta Kereta Api, jadi saya berhak mengenakan seragam ini," ungkapnya.

Buat pemilik nama asli Didi Widiatmoko, kereta api merupakan salah satu alat transportasi yang nyaman, untuk itu Didi akan mensosialisasikan angkutan KA kepada masyarakat.

" Ada suasana khas dalam perjalanan dengan kereta. Saya juga menikmati aktivitas baru ini, mensosialisasikan angkutan KA kepada masyarakat luas" ujarnya.

Ditambahkan Didi, katanya KA juga merupakan alat transportasi yang akan dibutuhkan di masa depan. KA menjadi satu solusi transportasi jalan raya yang semakin padat.

Kereta api juga salah satu kendaraan ekonomis dan praktis untuk berpergian jauh. Selain kendaraan ramah polusi, kereta api juga nyaman. " Ayo naik kereta, layanannya memuaskan. Naik kereta itu asyik, tak ada polusi dan bisa sambil piknik. Kita bisa melihat pemandangan kiri-kanan." ujarnya seraya berpromosi.


__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

.

__,_._,___

Re: [ac-i] Sie Jin Kwie, Potret Lelahnya Mengolah Teater

 

Salam Bung Roy...

Bung kalo ada review pertunjukan lainnya yang up to date, mohon di transfer ke jogjateater@gmail.com untuk saya upload di Jogjateater.blogspot.com

selain review juga bisa artikel wacana maupun artikel praktis seputar seni pertunjukan (teater, tari dan musik)

tengkyu
M. Ahmad Jalidu


SEKOLAH SENI YOGYAKARTA
Acting | Sulap | Gamelan | Tembang Jawa | MC Jawa | Skenario Film | Buku Non Fiksi | Biola | Gitar Elektrik.
http://sekolahsenijogja.blogspot.com

Sindikat Daya Guyub
http://dgprojogja.blogspot.com
http://www.Jali.Tokopedia.com
http://teatergmt.blogspot.com
http://paguyubanslenk.blogspot.com
http://jogjateater.blogspot.com


--- On Mon, 3/5/10, Roy Thaniago <jagoanpatas@yahoo.co.id> wrote:

From: Roy Thaniago <jagoanpatas@yahoo.co.id>
Subject: [ac-i] Sie Jin Kwie, Potret Lelahnya Mengolah Teater
To: "agenda 18" <forum-agenda18@yahoogroups.com>, "forum penulis kota malanh" <forum_penulis_kota_malang@yahoogroups.com>, "forum pembaca kompas" <forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com>, "teater koma" <teaterkomajakarta@yahoogroups.com>, "artculture indonesia" <artculture-indonesia@yahoogroups.com>, "kUNCI" <kunci-l@yahoogroups.com>, "apresiasi sastra" <apresiasi-sastra@yahoogroups.com>, "mudika bhk" <bhk-mudik@yahoogroups.com>, "Budaya Tionghoa" <budaya_tionghoa@yahoogroups.com>, "lingkar pena" <forum_lingkarpena@yahoogroups.com>, "penulis lepas" <penulislepas@yahoogroups.com>, klub-sastra@yahoogroups.com, "komunitas musikbaru" <komunitasmusikbaru@yahoogroups.com>, "Lingkar Seni" <lingkar-seni@yahoogroups.com>, lintasseni@yahoogroups.com, "mediacare" <mediacare@yahoogroups.com>, "musyawarah-burung" <musyawarah-burung@yahoogroups.com>, "pantau narasi" <pantau-narasi@yahoogroups.com>, "soe hok gie" <soe_hok_gie@yahoogroups.com>, "Sosiologi Budaya" <sosiologibudaya@yahoogroups.com>, "wartawan budaya" <wartawan_budaya@yahoogroups.com>
Date: Monday, 3 May, 2010, 2:07 PM

 


Sie Jin Kwie, Potret Lelahnya Mengolah Teater

Oleh: Roy Thaniago


Teater Koma, sebagai salah satu kelompok teater di Indonesia yang punya umur panjang ini, berulah lagi. Kali ini ulahnya dikasih judul 'Sie Jin Kwie'. Pentas yang digelar di Graha Bhakti Budaya pada 5-21 Februari 2010 ini menjadi produksi ke-119 dalam usia 33 tahun Teater Koma.

 

LAKON Sie Jien Kwie, yang mengambil latar di Cina ketika pemerintahan Dinasti Tang (618-907), memang menjadi pilihan cerita yang menggembirakan di tengah berlangsungnya euforia perayaan 'kembalinya' masyarakat Cina di Indonesia. Bahwa terhitung sejak tahun 2000, di mana pemerintah mencabut Inpres 14/1967 tentang pelarangan hal-hal yang berbau Cina, kelompok etnis masyarakat ini kembali patut turut dicatat dalam sejarah sebagai salah satu elemen yang membentuk Indonesia sebagai sebuah bangsa. Rupanya Teater Koma pun turut ingin mencatatnya, sekaligus terlibat dalam perayaan ini. Dan tahun ini tepat 1 dekade, di mana pemaknaan perayaan ini menjadi makin mesra. Makin manis. Akankah lakonnya pun turut manis?

 

Mungkin iya. Banyak penonton yang riang, dan semua media meliput dengan girang, seolah tidak ada yang perlu dipersoalkan. Kenyataannya, tidaklah harus demikian. Pujian yang berlebihan, hanya melahirkan seniman yang mapan. Padahal, seniman harus terus gelisah, harus terus mencari. Ketika ia berhenti mencari, ia sudah selesai sebagai seniman.

 

Bukan mencari-cari penyakit kalau tulisan ini mengambil sikap berbeda dibanding ulasan-ulasan lain yang bergenit eluan tentang pementasan Sie Jin Kwie. Pasalnya, di samping banyak hal positif (konsistensi berteater, manajemen kelompok, regenerasi, kemampuan mengembangkan penonton, dan produktivitas) , demikianlah yang ada: pementasan ini memperlihatkan Teater Koma yang kehabisan energi artistik. Inilah pementasan Teater Koma yang usang dan tampak kelelahan.

 

Sie Jin Kwie Sebagai Sejarah

 

Menyaksikan Sie Jin Kwie berarti membaca sejarah. Khususnya sejarah bangsa Cina di jaman kerajaan. Sie Jin Kwie adalah seorang jendral perang paling terkenal dari Dinasti Tang. Kisah tentangnya sudah menjadi cerita klasik di Tiongkok, bahkan lebih sering dipahami sebagai mitos akibat dipopulerkan lewat cerita fiksi yang didramatisir.

 

Sie Jin Kwie dalam dialek Mandarin dilafal Xue Ren Gui. Di Indonesia, yang banyak dihuni pengucap berlidah Hokkian, ia dikenal sebagai Sie Jin Kwie. Pada awalnya di Tiongkok, kisah ini ditulis oleh Tio Keng Jian, dan kemudian disunting oleh Lo Koan Chung.

 

Adalah penerbit Kho Tjeng Bie yang punya andil dalam mengenalkannya ke masyarakat Indonesia . Dan Siauw Tik Kwie, yang punya nama lain Ki Oto Swastika, karena usahanya dalam menyebarkan filsafat Ki Ageng Suryo Mentaram, semakin mempopulerkannya sebagai komik dengan judul Sie Djin Koei yang dimuat secara bersambung di majalah Star Weekly pada 1950-an. Pun di era 1990-an, Markus Aceng Setiawan kembali mengangkat kisah Sie Jin Kwie untuk masyarakat Indonesia . Oleh N. Riantiarno, sutradara Sie Jin Kwie, cerita ini ditulis ulang untuk kemudian ia sutradarai.

 

Pementasan lakon Sie Jin Kwie yang digelar Teater Koma kali ini, adalah salah satu bagian dari trilogi yang kedua bagian lainnya akan dipentaskan pada tahun-tahun pementasan berikutnya. Lakon berdurasi sekitar 4 jam ini, mengisahkan Sie Jin Kwie (Rangga Riantiarno), seorang pemuda dari keluarga miskin yang akhirnya termashyur menjadi panglima perang dari Dinasti Tang.

 

Dinasti Tang yang dikaisari oleh Lisibin (Prijo S. Winardi) ini ditantang perang oleh Kerajaan Kolekok, yang merupakan salah satu daerah kekuasaan Dinasti Tang. Tantangan perang ini dipimpin oleh Jendral Kaesobun (Paulus Simangunsong) , yang setelah sebelumnya melakukan kudeta dari Raja Kolekok (Budi Suryadi). Dalam ancaman perang ini, Sie Jin Kwie hadir sebagai pahlawan penyelamat dalam mimpi Lisibin, sang kaisar. Maka, segala cara Lisibin tempuh untuk bisa bertemu dengan Sie Jin Kwie. Dari sinilah lika-liku perjalanan Sie Jin Kwie memasuki istana menjadi pokok cerita yang disajikan.

 

Usang dan Lelah

 

Lakon ini, oleh Teater Koma, disajikan dengan alur yang amat lambat dan bertele-tele. Ada kesan ingin menampilkan semua bagian cerita secara lengkap, sehingga sungkan membuang adegan-adegan yang tidak perlu. Namun pilihan ini rupanya menampakkan sajian lakon yang terengah-engah. Banyak adegan yang hanya memanjangkan durasi, tapi tidak menambah esensi cerita. Pun bila dimaksudkan untuk memperkaya cerita, strategi bertuturnya lebih banyak yang tidak berhasil.

 

Misalnya saja, keterengahan itu tampak dari pilihan plot yang dibawakan dalam alur maju yang sangat kronologis. Penguasaan akan cerita baru hadir ketika Sie Jin Kwie, sang tokoh utama, masuk panggung. Namun, Sie Jin Kwie justru baru masuk belakangan setelah penonton diombang-ambingkan pada penceritaan awal yang bertele-tele. Strategi bertutur ini sebenarnya bisa lebih luwes kalau saja mencoba dalam alur maju mundur, juga mengetengahkan Sie Jin Kwie lebih personal dan ditempatkan lebih awal pada mula-mula cerita.

 

Tawaran bertutur di atas timbul karena dalam lakon ini terdapat dua peristiwa yang berjalan (seakan) bersamaan: kisah kehidupan istana Dinasti Tang dengan tetek bengeknya ditambah mimpi Lisibin, dan kisah hidup Sie Jin Kwie sejak kelahirannya menuju dewasa hingga kemudian bersinggungan dengan spektrum kisah Dinasti Tang. Jadi, seperti ada dua garis yang otonom lantas bertemu pada satu titik karena beberapa alasan, salah satunya mungkin takdir. Masalahnya, peristiwa bertemunya dua garis ini, dalam lakon Sie Jin Kwie, terjadi terlalu larut.

 

Sebenarnya ada usaha untuk mengantisipasi masalah bercerita atau bertutur tadi. Salah satunya adalah dengan melibatkan narasi dalang yang diaktori oleh Budi Ros dan juga melalui media wayang yang dinamai Wayang Tavip – karena nama pencipta dan dalangnya adalah Tavip. Cara ini, memang terbukti mampu meringkas cerita, sekaligus merekatkan potongan-potongan kisah yang tercecer, ditambah memberi kesegaran di tengah-tengah kesesakan adegan-adegan yang monoton. Tapi entah mengapa, konsistensi ini tidak terjaga hingga ujung cerita. Tugas penceritaan yang semulanya diemban dalang, malah berpindah ke pemain-pemain lain, seakan tergesa-gesa dan kikuk menghadapi durasi. Ini terlihat jelas terutama di adegan-adegan akhir di mana sesekali Sie Jin Kwie atau pemain lain menjadi narator baru.

 

Keusangan paling jelas dari pementasan ini adalah sisi keaktorannya. Tidak ada greget yang cukup menonjol dari pemain-pemain yang ada. Namun pengecualian untuk Prijo S. Winardi dan Paulus Simangunsong yang berperan sebagai Lisibin dan Kaesobun, karena bermain baik. Terutama Prijo yang sangat kharismatik di atas panggung. Sedang yang lain, seperti menjadi karakter usang yang hanya berganti baju dan judul lakon. Tak pelak penonton yang setia mengamati pementasan Teater Koma beberapa tahun terakhir, akan mendapati karakter akting yang sudah-sudah dan tak berkembang. Lakon berubah, tapi cara ungkapnya sama.

 

Seperti beberapa produksi sebelumnya, Teater Koma dikenal 'royal' dalam mengolah sisi artistik panggung. Poin ini pun tetap hadir dalam pementasan Sie Jin Kwie. Mata penonton dimanjakan dengan visualisasi kehidupan Cina di zaman lampau. Dari tata panggung yang detil nan megah, properti yang esensial, hingga kostum dan tata rias. Terlihat ada usaha berbasis riset terhadap gaya Opera Cina yang dilakukan Rima Ananda dan Sena Sukarya, Penata Busana dan Penata Rias pementasan ini.

 

Sayang, usaha yang sama kurang digarap di sisi musik yang dikomandani Idrus Madani. Pendalaman akan musik tradisi Cina hanya menyentuh kulit-kulitnya saja, yang cukup diwakili oleh tangga nada pentatonik Cina (dalam teori musik barat: la-do-re-mi- sol) atau bunyi perkusi berbahan logam khas Opera Cina atau pola tabuhan beduk. Itu pun tidak membalur sepenuhnya karena sebagian besar musik lainnya ditampilkan secara biasa saja. Namun, Idrus sangat piawai dalam mengisi ilustrasi musik yang bukan lagu. Ia, dengan beragam senjatanya yang bersifat perkusif, mampu mengisi ruang yang meningkahi gerak lakon dari para pemain. Idrus pun peka untuk mengurangi porsinya atau menambal porsinya dengan sigap.

 

Teater Koma adalah teater penuh kejutan. Selain karena beberapa kali berurusan dengan pihak yang berwajib karena pementasannya yang kritis terhadap pemerintah, mereka juga dikenal dengan penonton yang loyal. Dan tiap tahun, daftar penggemarnya tampak bertambah. Tak terkecuali pementasan kali ini yang berhasil mengundang penonton-penonton baru dengan karakteristik yang berbeda dari yang sudah-sudah. Maka, dengan segala hormat dan tanpa mengurangi peran Teater Koma dalam memasyaratkan teater lebih luas, harus diakui, pementasan ini menjadi potret bagaimana lelahnya mengolah teater. Yakni sebuah jalan budaya yang berliku, tapi penuh kedalaman ketika berhasil sampai di ujung sana .

Roy Thaniago

Peminat  masalah seni dan budaya,

bergiat di Agenda 18


__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

.

__,_._,___