Thursday, May 13, 2010

[ac-i] MEDIA TK SENTRA [1 Attachment]

 
[Attachment(s) from yudhistira massardi included below]

SUDAH EDAR, MEDIA TK SENTRA, Panduan Guru TK/RA/PAUD & Orangtua

Pada Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2010 ini
Siska dan Yudhistira ANM Massardi
Dengan bangga mempersembahkan untuk bangsa:
Edisi Perdana
MEDIA TK SENTRA
Majalah panduan para Guru TK/RA/PAUD & Orangtua

Kami bekerja di garis depan
Melaksanakan Paradigma Baru Pendidikan di Indonesia
Membangun Karakter dan Budi Pekerti
Memuliakan anak sebagai ciptaan Tuhan paling sempurna
Dengan Metode Sentra dari Sekolah Al-Falah Jakarta
Metode asal Amerika yang dijiwai Asmaul Husna
Kualitas internasional dengan jiwa-mulia Islam
Sudah teruji, sudah terbukti!

Bapak, Ibu
Sayangi anak-anakmu
Ketahui kebutuhan mereka
Pahami cara memberikannya
Media TK Sentra Panduannya

(Edisi Perdana DISKON 30%. Bisa dipesan ke Bagian Pemasaran Majalah, di Megamall Ciputat Blok E-20, Jl. Ir. H. Juanda Ciputat, Tlp/Fax (021) 74706517, atau melalui SMS ke HP 083898809880. email: ymassardi@yahoo.com.)

__._,_.___

Attachment(s) from yudhistira massardi

1 of 1 Photo(s)

Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

.

__,_._,___

[ac-i] Fwd [World Book Day Indonesia] Temu Penulis Muda 15-16 Mei 2010 di Museum Mandiri Kota

Forum Indonesia Membaca dan IKAPI Jakarta mengadakan kegiatan Temu Penulis Muda yang merupakan rangkaian acara World Book Day Indonesia 2010 dan Hari Buku Nasional. Kami mengundang para penulis atau calon penulis yang berusia di bawah 30 tahun untuk berkumpul dan saling berbagi demi masa depan dunia perbukuan Indonesia yang lebih baik.

Salah satu program dalam kegiatan tersebut yaitu Bursa Naskah dan Klinik Penerbitan dimana para calon penulis dapat berkonsultasi mengenai karyanya kepada penerbit maupun agen kepenulisan. Jika kamu berniat menerbitkan buku namun masih memiliki kebimbangan terhadap naskahmu, silakan mengikuti kegiatan ini. Kamu dapat berkonsultasi langsung dengan penerbit atau agen kepenulisan pada tanggal 15-16 Mei 2010. Atau kamu juga dapat langsung memasukan naskahmu (dalam bentuk cetak, CD, atau USB) ke dalam "Script Drop Box" yang disediakan oleh penerbit atau agen kepenulisan selama kegiatan Temu Penulis Muda berlangsung.

Kami juga mengundang sekolah untuk berkunjung secara rombongan dalam kegiatan Temu Penulis Muda ini. Rombongan sekolah Anda dapat memilih program (lihat lampiran susunan acara) yang sesuai dengan kebutuhan
sekolah dan melengkapinya dengan Tour Klinik Penerbitan atau Tour Museum Mandiri. Silakan daftarkan rombongan sekolah Anda ke Nia 02170030093/96 sebelum tanggal 13 Mei 2010 pukul 17.00. Sekolah yang mendaftarkan rombongannya akan mendapat paket buku dari Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Berikut susunan acara Temu Penulis Muda yang akan dilaksanakan pada tanggal 15-16 Mei 2010 di Museum Mandiri - Kota (seberang Halte Transjakarta Kota dan Stasiun KA Beos) :

Sabtu, 15 Mei 2010
10.00-16.00 Pameran Foto Kepergok Membaca, Bursa Naskah dan Bazar Buku Mini
10.00-12.00 Kumpul dan Curhat Penulis Muda
Pembuka Diskusi: Ria R. Badaria (Pemenang Khatulistiwa Award 2009 kategori Penulis Muda Berbakat | Sundea (Penulis Buku Indie) | Ollie (Penulis Fiksi dan Non Fiksi)
13.00-14.00 Diskusi Buku Cruise On You
Margareta Astaman | Jia Effendi
13.00-16.00 Nonton Bareng Film "Oeroeg": Obrolan Buku "Oeroeg" dan "Burung-Burung Manyar" (Di Ruang Orientasi) oleh GoodReads Indonesia
14.00-16.00 Diskusi The Chronicles Of Willy Flarkies karya Satrio Wibowo oleh Kurnia Esa

Minggu, 16 Mei 2010
10.00-16.00 Pameran Foto Kepergok Membaca, Bursa Naskah dan Bazar Buku Mini
10.00-12.00 Talkshow Bersama Penerbit: "Dicari! Penulis Muda Berbakat"
Yuni (Sygma) | Nita (Kurnia Esa) | Novera
Kresnawati (GPU) |Jia Effendie (Penerbit Atria)
12.00-13.00 Penampilan Musik oleh Ajeng
13.00-15.00 Hermesian: Saat Lisan Melangkah, Tulisan Mampu Berlari oleh The Hermes (komunitas Penulisan)
Music Bluesummer, Talkshow Karya Hermes:
Adriana, Hermes For Charity, Emagz Hermes in Love, Pembacaan Puisi, Pembagian CD E-Magz gratis
13.00-15.00 Pemutaran Film Winnetou III: Winnetou Gugur (1965) oleh Paguyuban Karl May Indonesia

Informasi :
Stand | Ade Oktarini (0813 8880 0040)
Acara | Sandi Taruni (0818 0495 6566)
Media| Bayu Bergas (0813 2722 1190)

www.worldbookdayindonesia.org <http://www.worldbookdayindonesia.org>
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

[ac-i] undangan dan press rilis pameran "La Condition Humaine, Mung Sakieu Buktosna" [1 Attachment]

 
[Attachment(s) from Phthalo Gallery included below]

und Cover Belakang okok.jpg

 

We warmly invites you & partner to attend the opening of 

 

"La Condition Humaine'

Mung Sakieu Buktosna"

 

a Group Exhibition by :

 

Acep Zamzam Noor, Budi Gunawan, Cecilia Laurent, Iwan Kuswana

Jono Sugiartono, Nita Nursita, Tommy Faisal Alim, Yana WS, Yusa Widiana

 

 

On Saturday, May 15th 2010 at 17.00  (5pm)


 
Curated by :
Wicaksono Adi

  

Officiated by :

Mrs. Chantal Penin
 
The exhibition current until May 31th, 2010



Tak Ada Bom Hari Ini

La Condition Humaine

Mung Sakieu Buktosna



Lazimnya orang mengenal "bobot kehadiran" karya seni rupa pada dimensi yang paling mendasar dan tercakup oleh bentuk yang termanifestasikan secara dwimatra atau trimatra dengan media atau material yang sudah dianggap baku (kanvas atau kertas dengan cat minyak, cat air, akrilik, tinta, arang, charchoal, gouache dan sejenisnya, patung dengan batu, kayu, logam, atau resin dan lain-lain) beserta berbagai tingkat permainan pada media yang dipilih berdasarkan perluasan kemungkinan estetik seluas-luasnya dari konvensi-konvensi yang telah disepakati secara spesifik.

Artinya, "bobot kehadiran" seni rupa bertumpu pada formalisasi media yang kemudian dibakukan melalui serangkaian kreasi individual yang unik sebagai hasil dari sentuhan genius sang seniman dengan prosedur yang baku pula. Itulah yang kemudian lazim disebut sebagai "seni murni". Tapi sejak muncul Dadaisme di Eropa dan Amerika, "bobot kehadiran" semacam itu mulai bergeser ke wilayah yang lebih cair, bahwa segala sesuatu adalah media, dan media adalah segala sesuatu: kloset, perkakas kerja, barang-barang bekas, hingga sampah sekali pun. Yang pokok bukan lingkup khusus keindahan konvensionalnya melainkan pada otoritas si pesulap yang mengenggam fifsafat sebagai senjata beserta upacara pemberkatan di altar-altara berupa galeri dan museum mapan dengan para kritikus, teoritikus, promotor dan jurnalis berpengaruh sebagai pendetanya.

Kemudian muncul gejala lanjutan: bahwa seni rupa adalah aksi. Ada performance art, happening art, seni kolaboratif, demo di jalanan, seni publik, seni lingkungan, gerakan seni politik dan omong kosong hingga tindakan-tindakan estetis yang berbau mistik dan seterusnya dan seterusnya. Bahkan ada seniman yang menciptakan "bobot kehadiran" karyanya melalui apa yang disebut sebagai "kerja": bahwa seni rupa bukan sekadar wahana untuk mengekspresikan egosentrisme guna menciptakan monumen-monumen estetik melainkan terjemahan langsung dari kegiatan si seniman di tengah masyarakatnya.

Segalanya kini menjadi sejenis perayaan atas kemungkinan "bobot kehadiran" yang kian luas dan lentur, plus dari kemudahan teknologi serta fleksibilitas spasio-temporal yang fantastik dengan munculnya media cyber dunia digital dan kemajuan teknologi audio-visual yang kian menakjubkan itu. Di situ tak ada batas antara karya seniman dan bukan seniman karena setiap orang dapat membuat karya seni secara bebas pula. Dan akibatnya memang di sana sini muncul karya seni rupa yang asal jadi. Yang penting "heboh, kul dan seru aja".

Situasi "asal jadi" ini telah mewabah ke mana-mana: seorang seniman melumuri tubuhnya dengan lumpur lalu berguling-guling di jalan raya, menggeliat-geliat seperti cacing. Tentu, si seniman asal menggeliat saja karena memang tidak pernah belajar olah tubuh secara sungguh-sungguh sebagaimana penari. Juga asal berteriak (bengak-bengok) sekenanya lantaran tak pernah belajar olah vokal dengan benar sebagaimana aktor teater.

Itulah ekses perluasan "bobot kehadiran" serba boleh yang akhirnya kehilangan daya gedornya pula. Di tengah gemuruh perluasan "bobot kehadiran", plus maraknya pengaruh internasional di pusat-pusat seni rupa Indonesia (Jogja, Bandung, Jakarta dan Bali), nyatanya masih banyak yang bersetia dengan disiplin seni konvensional. Dan mayoritas seniman Indonesia tetap bekerja dengan paradigma konvensional itu, termasuk para seniman Tasikmalaya yang menggelar pameran ini. 

Menyaksikan karya-karya mereka (plus satu seniman Jakarta), beberapa hal dapat kita catat. Pertama, mereka ternyata belum tergoda ikut menghambur ke dalam pusaran hiruk pikuk perluasan "bobot kehadiran" seni rupa kontemporer yang serba boleh itu. Tentu, itu tidak berarti bahwa mereka terisolasi dari segala gemuruh hiruk pikuk semacam itu karena mereka juga menyaksikan berbagai peristiwa penting seni kontemporer Indonesia saat ini. Bahkan dua di antaranya, yakni Acep Zamzam Noor (ITB) dan Iwan Koeswana (IKJ) dapat dikatakan sudah menjadi bagian dari arus utama seni rupa kontemporer Indonesia di era 1980-an.

Saat itu mereka sudah tampil di beberapa pameran di beberapa galeri penting di Jakarta, Jogja, Bandung dan di manca negara. Acep Zamzam Noor dikenal dengan karya-karya semi-representasional yang liar dan sublim dalam mengelaborasi tema-tema keterasingan diri yang kelam-ngilu. Dua puluh tahun kemudian kita mengenal karya-karya seniman muda Jogja seperti S Teddy D, Bob Sick Yudhita, Yunizar, Jumaldi Alfi dan Ugo Untoro yang mirip dengan karya-karya generasi Acep Zamzam Noor di Bandung.

Jika karya-karya seniman Jogja itu memperoleh apresiasi pasar yang luar biasa, karya-karya Acep dan Iwan Koeswana seolah lenyap ditelan bumi. Karya-karya Acep dan Iwan Koeswana terlalu dini muncul ke panggung seni rupa Indonesia. Hingga kini Acep terus mengeksplorasi tema keterasingan diri berikut dimensi-dimensi paling rawan dari individualitas sebagai subjek yang harus berhadapan dengan modernitas yang nyaris melenyapkan dasar-dasar terbentuknya individualitas itu sendiri. Di situ biasanya muncul kondisi yang nyaris tak berbentuk tapi dapat diidentifikasi sebagai ambang batas: apakah individualitas itu masih dapat dibuat utuh atau tidak sama sekali.

Sementara pada karya-karya Iwan Koeswana kita menemukan dramatisasi yang lebih gamblang dari kerawanan titik pijak individu di antara segala yang berada di luarnya. Segala bentuk nyata yang dapat dilihat dari konteks-konteks biasa, tapi diliputi teror pula. Lalu kita menemukan elaborasi dengan tingkat kerumitan yang berbeda-beda pada karya-karya Budi Gunawan, Yana WS, Jiono Sugiartono, Cecilia, Yusa Widiana, Nita Nursita, dan Tommy Faisal Alim. Meski mereka menggunakan bentuk yang sederhana, tapi sang manusia cenderung tak ditampilkan dalam wujudnya yang tegas dan utuh. Situasi sang subjek tampak rapuh dan kabur sehingga terkadang manusia mirip gumpalan figur yang siap hablur oleh sesuatu yang tak dapat dikendalikan.

Barangkali itulah gambaran kondisi manusia yang harus berhadapan dengan modernitas yang semula hendak menemukan subjek otonom tapi pada akhirnya justru menghancurkan dasar-dasar evidensial terbentuknya subjek itu sendiri. Kita memang banyak menemukan keterbelajan subjek dalam seni rupa kontemporer Indonesia dua puluh tahun terakhir. Hiruk pikuk perluasan "bobot kehadiran" seni rupa itu juga suatu upaya untuk menunjukkan keterbelahan subjek yang kian parah sehingga nyaris melahirkan situasi yang kian anarkis. Segalanya seolah tak mungkin dibuat utuh dan kian sulit dikendalikan.

Para seniman yang berpameran di sini adalah bagian dari saksi sekaligus pelaku dunia yang terpecah-belah itu. Mereka tak dapat lari dari segala representasi mengenai kemustahilan penemuan kembali keutuhan individu sebagai subjek otonom yang nyaris hancur itu. Mereka menampilkan situasi itu dalam bentuk-bentuk yang sederhana.

Tentu, kita tak menemukan bom di sini. Tapi sebagaimana yang dikatakan Albert Camus, penataan ulang dunia yang khaos itu, dengan bom atau tidak, adalah tugas seni yang tak akan pernah selesai. Seni telah dikutuk untuk melaksanakan tugas itu. Dan kutukan itu pada saat tertentu telah menjadi berkah: justru karena kemustahilan menemukan keutuhan subjek, maka seniman akan terus menata ulang dunianya. Dari proses tanpa henti itulah estetika akan lahir. Para seniman Tasikmalaya telah menunjukkan bahwa mereka adalah bagian tak terpisahkan dari proses pergulatan yang tak pernah usai itu. Dengan bahasa sederhana mereka dapat menunjukkan kerumitan pergulatan tersebut. Pergulatan yang rawan dan kadang berbahaya.

Dan kita di sini, di Indonesia yang besar ini, dikerumuni hal-hal sederhana yang tiba-tiba dapat menjadi berbahaya. Kita berpijak di tubir runcing yang lembut tapi sewaktu-waktu dapat meledak menjadi bom. Segalanya tampak wajar tapi tak nyaris dapat dipastikan risiko apa saja yang tersimpan di baliknya. Barangkali pada dasarnya memang begitulah kondisi manusia. Jika orang Prancis (termasuk novelis Andre Malraux) bilang: beginilah la condition humaine, maka para seniman Tasikmalaya menimpali: mung sakieu buktosna. Ya beginilah adanya, justru karena kita hidup dalam dunia yang kacau, maka seni menemukan alasannya untuk lahir terus menerus.

 

***

 

Wicaksono Adi, Kurator Seni Rupa, tinggal di Jakarta.


 


PHTHALO GALLERY

Jl. Kemang Selatan 8 No. C4
Jakarta Selatan 12730

Open:

Everyday | 09.00 – 19.00

Holiday, open by appointment

 

T. 021-7182587
F. 021-7196826

E. phthalo_gallery@yahoo.com | phthalo.gallery@gmail.com


facebook: Phithalo Aart Galeri

 

 

 

 

 






__._,_.___

Attachment(s) from Phthalo Gallery

1 of 1 Photo(s)

Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

.

__,_._,___

[ac-i] Korban Tirani - Nota 1998 (2) A.Kohar Ibrahim

 

Nota 1998 (2)

By

A.Kohar Ibrahim

 

 

Korban Tirani

 

 

Lagi dan lagi para korban berjatuhan

Di antara demonstran penuntut perubahan

Rupanya sudah menjadi tradisi tirani

Membasmi pejuang pro demokrasi

 

Bumi yang tersiram darah pejuang perubahan zaman

Kian subur menumbuhkan semangat perlawanan

Dengan pemberontakan atau reformasi

Menumbangkan tirani menegakkan demokrasi!

 

(Awal Mei 1998)

 

*

Catatan: Kreasi N°. 39 1998 hlm 66

 

*

 

A.Kohar Ibrahim :

 

Tidak Kah Itu

 

Tidak Kah

Ah Tidak Kah Itu

Bukti Yang Satu

Arti Kata Pepatah

Di Mana Ada Penindasan

Di Situ Timbul Perlawanan

Cepat Atau Kah Lambat

Sang Pengkhianat

Pasti Tergugat

Gugat

!

Gugat

!

Gugat

!

*

(Nota 12.05.2010)

 

Naskah Nota 1998 (2) tertera dalam kumpulan tulisan bersama :

 « Yang Tertindas Yang Melawan Tirani »  2, hlm 66

Kreasi N° 39 1998. ISSN 0923-1934.

Penerbit: Yayasan Budaya, Amsterdam, Nederland

Editor: A.Kohar Ibrahim.

Biodata A.Kohar Ibrahim:

 http://16j42.multiply.com/journal/item/517/

Facebook Mei 2010.


__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

.

__,_._,___

Wednesday, May 12, 2010

[ac-i] Sang Raja - Nota (1) A.Kohar Ibrahim

 

Nota 1998 (1)

By

A.Kohar Ibrahim

 

 

Sang Raja

 

Tiga dasawarsa lebih jadi penguasa Orba

Orang asal desa itu dijuluki raja

 

Sang Raja

Kerna kekerasan kepalanya

Sang Raja

Kerna kelicikan dan kemunafikannya

Sang Raja

Kerna kebiadabannya

Sang Raja

Kerna takhtanya melampung di telaga darah

Sang Raja

Kerna maha kaya berkat kerakusan kekuasaannya

Sang Raja

Kerna sejalan dengan sebangsanya

Sang Raja

Sebangsa Ciang Kaisek, Mobutu, Markos, Batista

Sang Raja

Yang pasti 'kan mengalami nasib sebangsanya !

 

(Maret 1998)

 

Tertera dalam kumpulan tulisan bersama :

« Yang Tertindas Yang Melawan Tirani »  2, Kreasi N° 39

 terbitan Yayasan Budaya, Amsterdam. Editor: A.Kohar Ibrahim. ISSN: 0923-1934. 1998.

Biodata A.Kohar Ibrahim: http://16j42.multiply.com/journal/item/517/

Facebook Mei 2010.

 


__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

.

__,_._,___