Sunday, July 4, 2010

[ac-i] MANASSA ke 13 di Solo [1 Attachment]

 
[Attachment(s) from Wajah Bercahaya included below]

07/06/2010 17:14:42

Pengumuman Hasil Seleksi Abstrak Simposium Manassa ke-13

Atas nama Pengurus Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), dengan senang hati kami memberitahukan bahwa abstrak-abstrak terlampir telah terpilih untuk dipresentasikan dalam Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara ke-13. Bagi mereka yang namanya tercantum, dimohon untuk menulis makalah versi lengkap, selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sebelum pelaksanaan Simposium, atau tanggal 17 Juli 2010.


Silahkan baca dan fahami baik-baik semua informasi yang terdapat dalam lampiran (a) Informasi Hasil Seleksi, untuk mendapatkan penjelasan tentang mekanisme pemilihan asbtrak, dan sekaligus pemberitahuan penting bagi para pengirim abstrak lainnya yang tidak terpilih untuk presentasi.


Panitia akan menanggung biaya pendaftaran Pemakalah Terpilih, serta akomodasi dan konsumsi selama kegiatan berlangsung. Mengenai tanggungan biaya transportasi menuju lokasi, sampai saat ini kami belum dapat memastikan karena masih menunggu kondisi pendanaan yang diperoleh Panitia Simposium. Sebaiknya, Pemakalah Terpilih tetap mengantisipasi kemungkinan harus membiayai sendiri transportasi menuju lokasi Simposium.


Segala hal berkaitan dengan informasi dan perkembangan kegiatan Simposium ke-13 berikutnya, akan kami informasikan melalui website ini. 

Kami akan segera menghubungi para pemakalah terpilih melalui email untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

 

Demikian, terima kasih.

an. Pengurus Manassa

 

Lampiran:

a. Informasi Hasil Seleksi

b. Abstrak Terpilih

c. Jadwal Tentatif Simposium


DAFTAR ABSTRAK TERPILIH

UNTUK DIPRESENTASIKAN DALAM

SIMPOSIUM INTERNASIONAL PERNASKAHAN NUSANTARA KE-13


p

1. Achmad Opan Safari, M.Hum. (IAIN Syekh Nurjati, Cirebon, Jawa Barat)

'Iluminasi Naskah Cirebon'


2. Amiq, Drs. M.A. (Fak. Adab IAIN Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur)

'Tipologi Manuskrip Islam Pesantren di Indonesia'


3. Andriyati Rahayu (FIB UI Depok)

'Naskah-Naskah Merapi Merbabu : Tinjauan Aksara dan Perkembangannya'


4. Dafirah, M.Hum. (Unhas, Makassar)

'Pengobatan Tradisional Bugis'


5. Dwi Laily Sukmawati (Balai Bahasa Surabaya, Jawa Timur)

'Inventarisasi Naskah Lama Madura'


6. Ellya Roza, Dr. (UIN Susqa, Riau)

'Penelusuran Naskah-naskah di Masyarakat Kabupaten Kampar Riau'


7. Fathin Masyhud, Lc., MHI (PSM Takeran, Magetan Jawa Tengah)

'Manuskrip PSM Takeran Magetan: Sejarah, Karakteristik, dan Akses Naskah'


8. Indah Sri Rahayu (Harian Seputar Indonesia, Jakarta)

'Menguak Identitas Naskah Jawa Timur Melalui Iluminasi Angling Dharma'


9. Makrifat Iman, Dr. H./Mahrus, M.Ag. (Cirebon, Jawa Barat)

'Mengungkap Koleksi Naskah Warisan Keluarga Kraton Kanoman Cirebon'


10. Mu'jizah, Dr. (Pusat Bahasa, Jakarta)

'Naskah dan Pembentukan Karakter Budaya Bangsa'


11. Munawar Holil, M.Hum./Aditia Gunawan, S.S. (FIB UI Depok/Perpusnas RI)

'Membuka Peti Naskah Sunda Kuna di Perpustakaan Nasional RI: Upaya

Rekatalogisasi'


12. Nanny Sri Lestari, M.Hum (FIB UI Depok)

'Kreatifitas Seni Batik dalam Koleksi Naskah'


13. Ninawati Syahrul (Kantor Bahasa Lampung)

'Upaya Penyelamatan dan Pelestarian Naskah Kuno Lampung'


14. Pande Wyn. Renawati, S.H., M.Si. (IHDN Denpasar, Bali)

'Naskah Yama Purana Tatwa dan Usadha Sawah: Sumber Upacara Ngaben Tikus di

Tabanan, Bali'


15. Pramono, M.Hum. (Fak. Sastra Unand, Padang)

'Perkembangan Mutakhir Pelestarian Naskah di Minangkabau'


16. Revo Arka Giri, Dr. (Universitas Leiden)

'Pelestarian dan Penyajian Teks Jawa di Wikisource sebagai sebuah situs web milik

Wikimedia Foundation'



17. Sudibyo, M.Hum. (UGM Jogjakarta)

'Mimikri dan perlawanan antikolonial dalam syair kompeni walanda berperang dengan

cina, hikayat mareskalek, dan syair perang siak'


18. Titin Nurhayati, Dr. (Fak. Sastra Unpad, Bandung)

'Kajian Naskah Sunda: Pola Rima Syi'iran dalam Hubungannya dengan pola rima syair

Arab'


19. Wan Ali Wan Mamat (Universiti Islam Antarbangsa, Malaysia)

'Penemuan manuskrip Melayu di Mekah, Saudi Arabia'


20. Yudhi Irawan (Perpusnas RI Jakarta)

'Rekam Informasi Di Luar Teks Pada Digitalisasi Naskah KBG Koleksi Perpustakaan

Nasional RI'



MASYARAKAT PERNASKAHAN NUSANTARA (MANASSA)

Sekretariat:

Ruang8109,GedungVIIIFakultasIlmuPengetahuanBudaya

UniversitasIndonesia,

telp./faks

021--‐7870623Depok16424





 


__._,_.___

Attachment(s) from Wajah Bercahaya

1 of 1 File(s)

Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

[ac-i] Legenda Joko Samudro

 

 Radar Jember-JAWAPOS Group
[ Minggu, 04 Juli 2010 ]

Legenda Joko Samudera dan Indahnya Watu Ulo
JEMBER - Bagi warga Jember dan sekitarnya, Watu Ulo sudah dikenal sejak zaman dahulu. Tidak hanya sekadar menjadi tempat jujugan dalam berwisata, Watu Ulo juga menjadi tempat mencari nafkah bagi masyarakat pinggir pantai.

Sayang, hingga kini, Watu Ulo tak mengalami perubahan. Seolah keindahan alamnya dibiarkan begitu saja, dan terabaikan.

Watu Ulo adalah sebuah pantai yang terletak di Kecamatan Ambulu, Jember. Pantai ini merupakan gugusan Samudera Indonesia, atau biasa di sebut pantai selatan. Letaknya di sebelah selatan Kabupaten Jember, sekitar 45 menit dari pusat kota.

Bisa dikunjungi dari dua jalur. Yakni, dari jalur pusat kota menuju ke Kecamatan Jenggawah, dan berlanjut ke Kecamatan Ambulu. Sedangkan jalur kedua bisa menggunakan jalan dari pertigaan Rambipuji menuju ke Kecamatan Balung, kemudian berlanjut ke Kecamatan Ambulu. Bisa dinaiki oleh kendaraan apa saja karena jalan menuju ke sana sangat lapang dan mulus.

Watu Ulo merupakan nama dalam bahasa Jawa yang berarti batu ular. Syahdan, di tempat itu dulu tinggal pasangan suami istri yang bernama Aki dan Nini Sambi. Kedua pasangan suami istri ini memiliki seorang anak bernama Joko Samudera. Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, pasangan suami istri yang harmonis ini mencari kayu bakar di bukit-bukit sekitar pantai.

Sedangkan, anak mereka, Joko Samudera mencari ikan di laut.

Suatu ketika, Aki dan Nini Sambi yang sedang mencari kayu bakar di hutan, dikejutkan oleh suara tangis bayi. Mereka mencari sumber suara tersebut dan menemukan seorang bayi lelaki yang montok dan tampan. Melihatnya, Nini Sambi langsung jatuh hati.

Dia memohon pada sang suami, agar si anak bisa mereka rawat. Melihat sang istri begitu ingin mengasuh bayi tersebut, Aki Sambi mengijinkan. Dan mereka memberi nama bayi tersebut Marsudo.

Waktu berjalan membuat kedua bocah lelaki ini tumbuh dewasa. Mereka selalu bergantian mencari ikan di laut untuk kebutuhan hidup keluarga. Di suatu hari yang cerah, Marsudo yang sedang memancing, tersentak karena pancingnya bergoyang.

Diangkatnya, pancing itu dan betapa terkejutnya dia ketika melihat seekor ikan yang besar nyangkut di mata pancingnya. Lebih terkejut lagi, ikan itu bisa bicara. Dia ingin Marsudo melepaskan dirinya dan sebagai ganti Marsudo akan dikabulkan setiap keinginannya.

Kasihan dan merasa tidak tega, Marsudo melepaskan ikan yang bernama Raja Mina itu. Dengan penuh ucapan rasa terima kasih, Raja Mina langsung berenang dengan bebas. Perbuatan Marsudo yang melepaskan ikan sangat besar, ternyata membuat Aki Sambi marah. Hingga dia membuat nasi yang akan dimakannya. Nantinya, nasi tersebut akan berubah menjadi pasir putih di Pantai Pasir Putih Jember.

Sementara itu, untuk menghilangkan kejengkelan sang ayah, Joko Samudera memancing ikan di laut menggantikan adiknya. Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Bukannya mendapat ikan, dia malah mendapat seekor ular besar. Ular ini mengamuk karena kait pancing Joko Samudera melukai tubuhnya.

Tak mau menyerah, Joko Samudera melakukan perlawanan. Duel sengit tak dapat dihindarkan. Melihat sang kakak pontang-panting melawan ular raksasa, Marsudo memanggil Raja Mina.

Dia meminta janji Raja Mina ditepati. Yakni, semua keinginanya dikabulkan. Dia ingin kakaknya menang melawan sang ular raksasa. Mendengar permintaan Marsudo, Raja Mino memberinya sebatang cemeti.

"Pukul dua kali, maka tubuhnya akan terbelah jadi tiga. Pisahkan ketiga bagian tubuhnya ke tiga tempat, hingga dia tidak bisa bersatu. Kalau bersatu dia akan hidup kembali. Begitu kata Raja Mino pada Marsudo," terang Kalsum, seorang penduduk Watu Ulo yang sudah sejak tahun 1989 bermukim di kawasan itu.

Begitulah legenda yang membuat pantai tersebut bernama Watu Ulo. Di pinggir pantai, memang ada gugusan batu, yang jika diamati mirip dengan anatomi tubuh seekor ular. Panjang dan berlekuk-lekuk serta model batuannya, seperti sisik. Bahkan, masih menurut Kalsum, pernah ada seseorang yang mencungkil batu itu. Tapi, akhirnya dikembalikan, karena batu itu mengeluarkan darah.

Terlepas dari legenda dan mitos tentang Watu Ulo, pantai ini sesungguhnya potensi alam yang layak untuk dikelola dengan baik. Sayang, sampai saat ini pantai tersebut seperti dibiarkan tumbuh dengan sendirinya.

"Dari tahun 1989 sampai sekarang, tidak berubah," sambungnya. Kondisi ini jelas sangat memprihatinkan. Padahal, jika dikelola dengan baik, Watu Ulo akan semakin menarik perhatian masyarakat. Tidak hanya masyarakat Jember sekitarnya, tapi luar kabupaten.

Begitu banyak hal tersiakan di kawasan pantai ini. Pohon-pohon waru yang dibiarkan tumbuh asal-asalan, hingga daunnya banyak mengotori kawasan pantai. Ada juga kawasan pantai yang dibiarkan kosong. Tidak ada tanaman yang bisa menjadi tempat berlindung sehingga suasana panas menyengat. Arena bermain untuk anak, sempat didirikan. Namun, dibiarkan termakan usia dan cuaca. Yang tertinggal hanya besi-besi berkarat bekas ayunan anak-anak.

"Kami warga setempat, sangat berharap Watu Ulo bisa dikelola dengan baik. Sebenarnya kan satu pantai dengan Papuma. Hanya beda yang mengelola makanya Watu Ulo jadi begini," katanya. Sebagai warga yang tinggal di Watu Ulo, wajar jika Kalsum berharap ada penanganan yang baik. Sebab, Watu Ulo sangat berprospek sebagai tempat wisata yang menjanjikan penambahan penghasilan baginya dan warga sekitar.

Tidak hanya itu, dengan pengelolaan yang maksimal sebagai objek wisata, Watu Ulo tidak akan dijadikan tempat remaja melakukan hal-hal negatif. Salah satunya mabuk-mabukan dan melakukan seks bebas. Dia mengatakan jika malam minggu banyak anak muda yang mabuk-mabukan dan melakukan perbuatan mesum di kawasan pantai.. Hal ini sangat meresahkan warga sekitar. Apalagi, ada banyak anak kecil yang tinggal di kawasan tersebut. "Kalau ada yang menjaga, nggak bakalan ada yang berani berbuat seperti itu," pungkasnya. (lie)

 

__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Get real-time World Cup coverage on the Yahoo! Toolbar. Download now to win a signed team jersey!

.

__,_._,___

[ac-i] Sunan Bejagung Tuban

 

Radar Bojonegoro-JAWAPOS Group
[ Minggu, 04 Juli 2010 ]

Mengupas Mitos Peninggalan Sunan Bejagung Lor-B
Watu Gajah Penjelmaan Gajah Tentara Majapahit ?

Sejarah penyebaran ajaran Islam di tanah Jawa tak bisa dilepaskan dari sosok Sunan Bejagung Lor dan Bejagung Kidul yang makamnya berada di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding. Begitu berpengaruhnya, sejumlah mitos dikaitkan dengan kedua aulia ini.

DWI SETIYAWAN, Tuban

---

GUGUSAN batu besar nan hitam teronggok di barat lapangan Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, sekitar 2,5 kilometer (km) selatan barat Kota Tuban. Sudah ratusan tahun batu-batu tersebut bercokol di tanah desa seluas 2 hektare tersebut.

Sebagian batu mirip gajah, terutama di bagian utara. Meski tidak dijaga dan dilindungi dengan bangunan pagar, tidak ada satu pun yang berani mengusik batu-batu itu. Jangankan membongkar, untuk sekadar memindahkan batu pun tidak ada yang bernyali.

Gugusan batu yang bernama Watu Gajah ini termasuk salah satu mitos kebesaran Sunan Bejagung Lor dan Bejagung Kidul. Konon, batu-batu tersebut penjelmaan dari gajah tentara Majapahit yang hendak membawa pulang paksa Pangeran Kusumohadi yang mengaji kepada Maulana Abdullah Asyari (Sunan Bejagung).

Pangeran Kusumohadi adalah putra Prabu Hayam Wuruk, salah satu raja Majapahit. Setelah mengetahui bahwa anaknya mengaji di Padepokan Sunan Bejagung Tuban, maka sang prabu memerintahkan patihnya Gajah Mada menjemput. Mendengar rencana itu, Pangeran Kusumohadi memohon kepada Sunan Bejagung untuk membantunya menolak kehendak Prabu Hayam Wuruk.

Alasannya, pangeran ingin tetap menekuni ilmu Islam dan tidak ingin menjadi raja. Kehendak pangeran tersebut dikabulkan Sunan Bejagung. Untuk melindungi sang pangeran, Sunan Bejagung menggaret tanah sekitar Padepokan Kasunanan Bejagung yang sampai sekarang dikenal dengan Siti Garet. Tujuannya, agar tentara Majapahit tidak bisa masuk kasunanan.

Tentara Majapahit akhirnya tak bisa masuk kasunanan dan berhenti di selatan kasunanan. Melihat itu, salah seorang santri melapor kepada Sunan Bejagung bahwa di sebelah selatan kasunanan banyak pasukan gajah dari Majapahit. Sunan Bejagung spontan mengatakan tidak gajah tetapi batu. Karena kekuatan karomah sang wali, semua gajah menjadi batu.

Kepala UPTD Museum Kambang Putih Tuban, Supriyadi membenarkan bahwa Watu Gajah hanyalah bagian dari mitos sejarah Sunan Bejagung Lor dan Bejagung Kidul. Meski dikaitkan dengan siar wali di daerah setempat, tidak ada bukti sejarah yang menguatkan kalau batu-batu tersebut adalah bagian dari sejarah.

Karena itu, batu-batu tersebut tidak masuk benda cagar budaya (BCB) yang dilindungi. Dikatakan dia, yang masuk dalam situs sejarah hanyalah seluruh benda di dalam kompleks makam Sunan Bejagung Lor dan Bejagung Kidul.

Mitos lain yang terkait dengan karomah Sunan Bejagung adalah pantangan warga Bejagung memakan ikan meladang (jenis ikan laut). Sekdes Bejagung, Kusnadi mengatakan, hampir semua warganya tak pernah melanggar pantangan tersebut. ''Kalau dilanggar, maka yang memakan akan gatal-gatal,'' kata dia.

Mitos ini terkait dengan pengalaman Sunang Bejagung yang terapung di laut dan ditolong ikan tersebut. Ponpes Sunan Bejagung mengupas pantangan memakan ikan ini dalam situsnya sunan-bejagung.net. Rujukannya, buku Babad Tanah Jawa, Babad Tuban, dan juga buku dokumen Bejagung.

Dalam situs ini disebutkan, suatu ketika Sunan Bejagung diajak berhaji oleh santrinya yang berwujud jin. Santri tersebut sanggup menggendong Sunan Bejagung dari Tuban sampai ke Masjidil Haram Makkah. Namun, saat digendong melintas samudra, Sunan Bejagung lepas dan jatuh ke laut.

Dalam musibah tersebut dikisahkan Sunan Bejagung selamat karena dan ditolong ikan meladang. Ikan inilah yang membawa sunan sampai di suatu pantai di Hadramaut (yang sekarang dikenal dengan Saudi Arabia). Setelah sampai di Arab, Sunan Bejagung berpesan kepada semua anak cucunya jangan sampai makan ikan meladang.

Dalam portal Ponpes Bejagung ini juga dibeber sejarah kedatangan Sunan Bejagung yang dikaitkan dengan hancurnya Kerajaan Pasai di Kutai. Setelah Pasai hancur, terjadi eksodus besar-besaran muballig Arab yang dipimpin Syekh Jumadil Kubro. Pengikutnya, Syekh Ibrohim Asmoro Qondi, Maulana Ishak, Maulana Malik Ibrahim, Maulana Abdullah Asyari Sunan Bejagung, dan ulama lainnya.

Sesampai di tanah Jawa yang menjadi tujuannnya, Syekh Jumadil Kubro membagi tugas dakwah. Dia menuju kerajaan Majapahit. Maulana Ishaq ke Kadipaten Banyuwangi, Maulana Malik Ibrahim ke Gresik. Sementara Syekh Maulana Ibrohim Asmoro Qondi dan  Syekh Maulana Abdullah  Asy'ari  ditugaskan di Kadipaten Tuban. Mubalig lainnya ditugaskan di tempat yang berbeda dengan tujuan yang sama, siar ajaran Islam.

Kedatangan Maulana Abdullah Asy'ari di Tuban disambut baik Adipati Tuban Wilotikto. Sang Adipati sangat menghormati ulama pendatang tersebut, meski pada saat itu dia belum bisa menerima islam sebagai agama yang baru. Bentuk rasa hormatnya kemudian diwujudkan dengan memberikan tanah pardikan (kemerdekaan) di sebuah daerah pegunungan yang saat ini bernama Desa Bejagung di Kecamatan Semanding.

Di daerah inilah Syekh Maulana Abdullah Asy'ari mendirikan sebuah kasunanan dengan nama Kasunanan Bejagung sekitar 1360 M yang pada akhirnya menjadikan beliau dikenal dengan sebutan Sunan Bejagung .

Awalnya, tidak ada istilah Sunan Bejagung Lor dan Sunan Bejagung Kidul karena Sunan Bejagung memang hanya satu yaitu Maulana Abdullah Asya'ari Sunan Bejagung. Kisah ini berawal dari datangnya seorang santri yang dikirim oleh Syeh Jumadil Kubro. Namanya, Pangeran Kusumohadi yang tidak lain putra Prabu Brawijaya IV atau Prabu Hayam Wuruk dari salah seorang selirnya.

Kusumohadi pergi meninggalkan kerajaan karena tidak menginginkan tahta kerajaan yang saat itu menjadi rebutan antara Pangeran Wirabumi dan Putri Kusuma Wardani. Setelah diterima sebagai santri Sunan Bejagung, Kusumohadi berganti nama menjadi Hasyim Alamuddin. Karena alim, sholeh, dan ketauhidannya sangat tinggi, akhirnya Kusumohadi diambil menantu Sunan Bejagung. Dia dinikahkan dengan putrinya bernama Nyai Faiqoh.

Melihat kemampuan menantunya dalam mengajarkan agama, Hasyim Alamuddin dipasrahi siar di wilayah Bejagung Kidul. Sementara Syekh Maulana Abdullah Asy'ari berpindah atau uzlah ke Bejagung bagian utara (Bejagung Lor). (*/yan)

 


__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

.

__,_._,___

[ac-i] [BAG. 2] News Release + Photo | GEMPITA GIANYAR 3 - Day 2 [6 Attachments]

 
[Attachment(s) from bayu rahanatha included below]



Bayu Rahanatha, SE
Event / Marcom consultant
Phone     : 081916515455
email/ym : theyoung_99@yahoo.com

--- On Sun, 7/4/10, tursiana setyohapsari <tursiana@yahoo.com> wrote:

From: tursiana setyohapsari <tursiana@yahoo.com>
Subject: [BAG. 2] News Release + Photo | GEMPITA GIANYAR 3 - Day 2
To: "Arif Senoaji" <dimassenoaji@yahoo.com>, "Bayu Rahanata" <theyoung_99@yahoo.com>, "Yana (media relations)" <yana_ps@yahoo.com>
Date: Sunday, July 4, 2010, 2:53 PM

Tambahan foto-foto hari kedua Festival GEMPITA GIANYAR 3.
 
Tursiana Setyohapsari
Partner | Head - Public Relations
Dua Synergy Communications
Kompleks Duta Mas Fatmawati Blok C2 No. 9 | Jakarta 12150
T +62 21 7279 2723 | F +62 21 721 0728 | www.duasynergy.com



__._,_.___

Attachment(s) from bayu rahanatha

6 of 6 Photo(s)

Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Get real-time World Cup coverage on the Yahoo! Toolbar. Download now to win a signed team jersey!

.

__,_._,___

[ac-i] [BAG. 1] News Release + Photo | GEMPITA GIANYAR 3 - Day 2 [9 Attachments]

 
[Attachment(s) from bayu rahanatha included below]

Kepada Yth.:
Rekan-Rekan Media
Di Tempat

Tadi malam, Sabtu tanggal 3 Juli 2010, telah digelar diselenggarakan acara penutupan GEMPITA GIANYAR 3, yaitu Parade UBUD STREET BASH dan PELIATAN ROYAL HERITAGE DINNER. Pagelaran akbar ini telah sukses memukau ribuan wisatawan dan masyarakat Ubud, dengan helatan parade Ogoh-Ogoh raksasa, fashion show di atas jalanan dan sebagainya. UBUD STREET BASH juga diramaikan oleh peserta dari Ubud Festival, menandai dibukanya acara tahunan Ubud lain Ubud Festival.

Berikut ini kami sampaikan event release acara penutupan GEMPITA GIANYAR 3, dan beberapa foto pilihan dokumentasi acara.

Semoga informasi yang kami sampaikan dapat menjadi bahan berita yang menarik bagi rekan-rekan media.

Terima kasih sebelum dan sesudahnya atas perhatian dan dukungan bagi GEMPITA GIANYAR 3.

Salam budaya!

Panitia GEMPITA GIANYAR 3

Public Relations:
 
Tursiana Setyohapsari
Partner | Head - Public Relations
Dua Synergy Communications
Kompleks Duta Mas Fatmawati Blok C2 No. 9 | Jakarta 12150
T +62 21 7279 2723 | F +62 21 721 0728 | www.duasynergy.com



__._,_.___

Attachment(s) from bayu rahanatha

8 of 8 Photo(s)

1 of 1 File(s)

Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

.

__,_._,___