Thursday, October 14, 2010

Re: [ac-i] Silaturahmi MABMI

 



Salah satu sebab terpokok bahwa orang Melayu semakin tenggelam dan menyusut adalah karena sifat Melayu yang tidak suka atau menolak rasa dendam hingga mudah kompromi, ambil mudahnya saja, mudah berdamai tanpa prinsip, mudah dibujuk, mudah melupakan konflik, mudah puas diri, kurang berani berbuat lebih besar dari yang di luar kemampuannya...singkat kata mempunyai watak yang mudah mlempem hingga mudah dikerjain(dimakan) etnis lain yang lebih agressif. Bahasa Melayu terus digerogoti, dianulir, diganti begitu saja dengan bahasa(istilah) etnis lain sehingga perbendaharaan bahasa Melayu yang sudah sejak lama menjadi bahasa Indonesia semakin tipis dan juga menjadi aus akibat serangan bahasa "gaul". Bila orang Melayu tidak mau merubah watak dan sifat-sifatnya yang kompromis tanpa prinsip dan menyerahisme, bukanlah mustahil bangsa Melayu akan melenyap secara perlahan dari muka bumi seperti juga bangsa Champa yang juga sudah lenyap dari muka bumi. Kisah-kisah Hang Tuah, hang Jebat, Hang Kesturi dan Hang-Hang apa lagilah, dalam waktu seratus tahun atau lebih singkat lagi akan sirna dari ingatan manusia Indonesia digantikan Mahabarata dan Ramayana. Siapa sekarang ini yang masih menarikaan "Serampamg 12"?. Indonesia dan dunia hanya mengenal tari Bali dan tari Jawa.Kesusasteraan Melayu moderen sudah lama tenggelam dan dilupakan orang. Dalam sejarah, memang bangsa Melayu pernah jaya, tapi sekarang bangsa ini adalah bangsa yang sedang bunuh diri di antara etnis besar lainnya dan itu adalah karena mentalitas bangsa itu senidiri yang sistimatis merosot seperti kata pepatah Melayu itu sendiri: "SEPERTI TERATAK DI ATAS BATU, HIDUP SEGAN MATI TAK MAU"  dan itulah MELAYU !!!.
ASAHAN (bukannya malu tapi merasa dramatis dilahirkan sebagai suku Melayu)
 
 
 
----- Original Message -----
Sent: Thursday, October 14, 2010 8:09 AM
Subject: Re: [ac-i] Silaturahmi MABMI

 



Perlu ditambah bahawa Negeri Brunei Darussalam jua lebih 90 peratus adalah orang Melayu.
 
 
----- Original Message -----
Sent: Monday, October 04, 2010 8:32 AM
Subject: [ac-i] Silaturahmi MABMI

 

MABMI: Melayu Adalah Bangsa Besar
Senin, 4 Oktober 2010 | 00:59 WIB
jennysiregar.blogspot.com

MEDAN, KOMPAS.com--Ketua Umum Pengurus Besar Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia Syamsul Arifin mengatakan, "Melayu" bukan sekadar etnis semata melainkan sebuah bangsa besar yang tersebar dari Asia hingga Afrika.

"Dari Aceh hingga Madagaskar itu adalah bangsa Melayu," kata Syamsul Arifin dalam silaturahim dan halalbihalal Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) di Medan, Sabtu.

Menurut dia, terjadi pengecilan bangsa Melayu dalam beberapa dekade terakhir sehingga menjadi etnis, termasuk di Indonesia sehingga dikenal dengan istilah suku Jawa, Batak, Minang dan sebagainya.

Padahal, Melayu itu sebuah rumpun bangsa yang sangat besar yang tersebar di sejumlah negara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Myanmar hingga Madagaskar yang berada di benua Afrika.

Hal itu dapat dilihat dari kesamaan bentuk wajah, kulit dan bahasa yang hampir sama meski akses dan pengucapannya berbeda.

"Semua negara Asean itu Melayu. Bahkan di Indonesia, etnis Jawa, Minang, Batak dan lain-lain juga Melayu," kata Syamsul Arifin yang juga Gubernur Sumatera Utara tersebut.

Namun, kata dia, keberadaan dan kebesaran bangsa melayu itu sepertinya mengalami kondisi yang kurang menggembirakan dalam beberapa dekade belakangan ini.

Ketua Umum Pengurus Besar MABMI yang bergelar Datuk Sri Lilawangsa Hidayatullah itu mengumpamakan kondisi tersebut  seperti "batang terendam".

Salah satu penyebab mundurnya bangsa Melayu itu karena sering mengalami benturan yang dilakukan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan tidak menginginkan Melayu berjaya.

Ia mencontohkan kondisi politik yang sempat memanas antara Indonesia dan Malaysia belakangan ini. "Padahal kita tidak memiliki masalah apa pun,tapi dibesar-besarkan seolah-olah ada masalah !" katanya.

Upaya untuk membangkitkan kejayaan Melayu itu harus dilakukan sendiri oleh seluruh bangsa yang memiliki motto "Tak Melayu Hilang Di Bumi" tersebut.

Salah satunya membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan menghilangkan berbagai "penyakit hati" terhadap semua pihak, khususnya kepada kelompok-kelompok yang tidak sepaham.

"Jangan pernah marah, apalagi merasa dendam dengan orang lain. Itu bukan sifat bangsa melayu," katanya.

Kemudian, kata dia, bangsa Melayu juga harus memperbaiki etos kerja dan rela berkorban agar mampu meraih masa depan yang lebih gemilang.

"Selama ini, track record bangsa Melayu kurang bagus. Mau enak saja. Rumah sudah condong tetapi mau makan gulai lemak terus," katanya.

Dalam  silaturahim dan halalbihalal MABMI itu, hadir Konsul Jenderal Malaysia di Medan Hj Norlin Othman dan pengurus UMNO Penang Dato Aidi Ruslan yang membawa rombongan sebanyak 18 orang.


Penulis: Jodhi Yudono   |   Editor: Jodhi Yudono   |   Sumber : ANT Dibaca : 625
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A








<p>Your browser does not support iframes.</p>
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda
 



__________ NOD32 5526 (20101013) Information __________

This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com

__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment