Saturday, November 21, 2009

[ac-i] 3 x 8 = 23 (?)

 

MENCAPAI PELAJARAN YANG TERTINGGI
 
Diceritakan kembali dari cerita-cerita Sufi
 
Seorang pemuda yang baru menikah lalu memutuskan untuk belajar agama ke sebuah negeri yang jauh dan harus berpisah denga isterinya yang baru dinikahinya. Setelah puluhan tahun belajar agama dan tammat dengan hasil gemilang, sang pemuda yang telah mulai berumur itu kembali pulang ke kampung halamannya untuk berkumpul kembali dengan istrinya. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang Ustad dan lalu mereka bercakap-cakap dan saling menceritakan pengalaman masing-masing. Dengan bangga lelaki yang baru tamat belajar itu mengisahkan hasil-hasil belajarnya kepada sang Ustad. Ustad hanya tersenyum dan bilang: "Menurut saya pelajaran yang kamu tuntut belum cukup tinggi dan masih harus belajar lagi". Lelaki itu merasa heran dan lalu bertanya: " Apa gerangan yang saya harus pelajari  agar mencapai tingkat tertinggi dalam agama?".  Sang Ustad menjawab: "KESABARAN". Dengan rasa kecewa mendengar jawaban Ustad yang dianggapnya sangatlah biasa dan tidak ada apa-apanya itu,  lalu berkata:"Kata itu hampir setiap hari saya dengar dalam pelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari". Sang Ustad menjawab: "Tapi kamu belum teruji dalam kehidupan dan hanya apabila kau lulus dalam ujian kesabaran itu, barulah bisa dikatakan kamu sudah menuntut pelajaran tertinggi dalam agama". Lelaki itu lalu bertanya: "Lalu apa yang mesti saya lakukan agar lulus dari pelajaran yang tertinggi itu?"
Sang Ustad menjawab: "Saya kirim kamu ke sahabat saya yang mengerjakan tanah di sebuah desa yang  jauh dari sini dan kamu harus bekerja di sana selama dua tahun dan bila lulus barulah kamu bisa dikatakan telah menuntut pelajaraan yang teringgi dalam agama". Sang lelaki berpikir sebentar dan merasa tantangan itu harus dilakukannya juga dan iapun setuju dan berangkat ke desa yang ditunjukkan sang Ustad. Di desa itu dia bekerja yang semakin hari semakin berat saja dengan upah yang tiada seberapa meskipun dapat makan minum dari sahabat sang Ustad. Lama kelamaan sang lelaki menjadi bosan karna kerja-kerja yang itu-itu saja dan dia tidak merasa mendadapatkan sesuatu dari pekerjaan yang semakin berat dan menjemukan dan pengetahuan agamanyapun tidak lebih bertambah. Lalu ia meninggalakan pekerjaannya dan menuju ke jalan pulang menjelang beberapa minggu sebelum masa cobaan itu berahir karena dia telah sangat begitu rindu dengan istrinya yang ditinggalkannya selama puluhan tahun. Ia tidak lagi mementingkan pelajaran tertinggi yang dianjurkan oleh Ustad  yang mengirimnya untuk bekerja di ladang dan tiba pada kesimpulan bahwa kalau cuma harus bersabar , orang tidak perlu menyiksa diri dengan ujian=ujian yang tak terasa manfaatnya.
 
Perjalanan jauh dan rasa rindu membuat lelaki itu merasa lelah dan ingin cepat-cepat sampai di rumah. Dan ketika tiba di ambang pintu rumah istrinya, lelaki itu tiba-tiba mengurungkan maksudnya untuk segera masuk. Tiba-tiba timbul keraguan dan kecurigaannya terhadap istrinya yang dia tinggalkan puluhan tahun. Dia mulai mengintip- intip sekeliling rumah dan dari jendela istrinya ia melihat seorang pemuda tampan  sedang duduk  di ranjang istrinya. Darahnya tersiraap karena cemburu dan ia cepat mencabut pistolnya untuk membunuh dua mahluk itu. Tapi juga segera dia teringat kembali akan nasihat sang Ustad agar bersabar sebelum bertindak yang  mungkin akan mengakibatkan penyesalan di kemudian hari dan ia tiba-tiba mendengar pemuda tampan itu bilang pada istrinya: "Ibu, saya harus pulang sekarang, lain kali ibu teruskan  cerita  tentang ayah saya yang sedang menuntut pelajaran itu". Lelaki itu cepat masuk ke dalam rumah dan memeluk anak lelakinya yang semula disangkanya seorang lelaki lain telah berselingkuh dengan istrinya. Sejak itu dia mengerti apa yang dimaksudkan pelajaran tertinggi seperti yang  dibilang Ustad yang ditemuinya dalam perjalanan pulang: "KESABARAN ADALAH PELAJARAN YANG TERTINGGI".
 
Dikisahkan kembali dari cerita-cerita Sufi
oleh Asahan.
 
 
----- Original Message -----
From: ChanCT
To: HKSIS
Sent: Saturday, November 21, 2009 1:08 PM
Subject: #sastra-pembebasan# Fw: 3 x 8 = 23 (?)

 


----- Original Message -----
From: Hendra Iskandar Lim
To: Hendra Iskandar Lim
Sent: Saturday, November 21, 2009 2:22 PM
Subject: FW: 3 x 8 = 23 (?)

Yan Hui adalah murid kesayangan Confucius yang suka belajar, sifatnya baik.
Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain
sedang dikerumuni banyak orang.
Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: "3 X 8 = 23, kenapa kamu bilang 24?"

Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: "Sobat, 3 X 8 = 24, tidak usah
diperdebatkan lagi."

Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: "Siapa
minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius.
Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan."

Yan Hui: "Baik, jika Confucius bilang kamu salah, bagaimana?"

Pembeli kain: "Kalau Confucius bilang saya salah, kepalaku aku potong
untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?"

Yan Hui: "Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu."

Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confucius. Setelah
Confucius tahu duduk persoalannya, Confucius berkata kepada Yan Hui sambil
tertawa: "3×8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Berikan jabatanmu kepada dia."

Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya.
Ketika mendengar Confucius berkata dia salah, diturunkannya topinya lalu dia
berikan kepada pembeli kain.
Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.

Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confucius tapi hatinya tidak sependapat.

Dia merasa Confucius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar
darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga.
Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.
Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confucius memintanya cepat kembali
setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasihat : "Bila hujan
lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh."

Yan Hui menjawab, "Baiklah," lalu berangkat pulang.

Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya
sudah mau turun hujan lebat.
Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba-tiba ingat nasihat
Confucius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi.
Dia meninggalkan pohon itu.
Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur.
Yan Hui terkejut, nasihat gurunya yang pertama sudah terbukti.
Apakah saya akan membunuh orang?
Yan Hui tiba di rumahnya saat malam sudah larut dan tidak ingin mengganggu
tidur istrinya.
Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya.
Sesampai di depan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri
ranjang dan seorang lagi di sisi kanan.
Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya.
Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasihat Confucius,
jangan membunuh.
Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah
adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confucius, berlutut dan berkata:
"Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?"

Confucius berkata: "Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun
hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah
pohon.
Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru
mengingatkanmu agar jangan membunuh".

Yan Hui berkata: "Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum."

Jawab Confucius : "Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga.

Kamu tidak ingin belajar lagi dariku.
Cobalah kamu pikir.
Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan
jabatanmu.
Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah
dan itu berarti akan hilang 1 nyawa.
Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih
penting?"

Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : "Guru mementingkan yang lebih
utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu."

Sejak itu, kemanapun Confucius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.


Cerita ini mengingatkan kita:
Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan
kamu, apalah artinya.
Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah
kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting.
Banyak hal ada kadar kepentingannya.
Janganlah gara-gara bertaruh mati-matian untuk prinsip kebenaran itu, tapi
akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.
Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan.
Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.

__________________________________________________________
Weight Loss Program
Best Weight Loss Program - Click Here!

No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 9.0.707 / Virus Database: 270.14.75/2516 - Release Date: 11/21/09 03:43:00

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment