Thursday, January 14, 2010

[ac-i] Buku Dewan Kesenian Jatim: ORDE MIMPI, Drama Pilihan 1994-2007 R Giryadi

 

Inilah buku ke-10 dari 11 judul buku yang diterbitkan Dewan Kesenian Jawa Timur.

Judul buku : ORDE MIMPI, Drama Pilihan 1994-2007
Penulis : R Giryadi
Editor : Tjahjono Widarmanto
Pracetak : Ribut Wijoto dan Abdul Malik
Desain cover dan layout: R Giryadi dan Mufian Haris
Foto cover : Akbar Insani
Cetakan pertama: November 2009
Tebal: 236 halaman+v
ISBN: 978-602-96092-1-9

Diterbitkan oleh
Dewan Kesenian Jawa Timur
Jl.Wisata Menanggal Surabaya 60234
Telp/fax 031- 8554304
Email:dk_jatim@yahoo.com


Bekerja sama dengan;
Bayumedia Publishing
Jl.Bukit Barisan 23 Malang
Telp 0341- 570343 fax 0341- 570342
Email:bayumedia@yahoo.com



DAFTAR ISI
-Tentang Salah paham Generasi
-Monolog Biografi Kursi Tua
-Luka Panjang Karena Perang
-Monolog Peperangan
-Korupsi Yang Berurat dan Berakar
-Monolog Retorika Lelaki Senja
-Gagal Melahirkan Generasi Baru
-Monolog Orde Mimpi
-Rumitnya Menyelsaikan Masalah
-Monolog Orang-orang Bawah Tanah
-Dari Kacau ke Kacau
-Monolog Terompet Senjakala
-Sebuh Adaptasi dari Novel Bumi Manusia
Hikayat Perlawanan Sanikem:
Nyai Ontosoroh
-Biodata




PENGANTAR PENULIS

Seiring dengan tumbuh kembangnya teater di Indonesia hal yang masih menjadi keprihatinan adalah minimnya penerbitan naskah lakon. Banyak naskah lakon karya penulis ternama seperti Putu Wijaya, WS Rendra, Wisran Hadi, Danarto, Ikranegara, Remy Silado, Arifin C Noer, Arthur S Nalan, Akhudiat dan lain sebagainya kurang tersosialisasi dengan baik. Minimnya penerbitan naskah lakon ini mengakibatkan anggota teater kurang tahu tentang naskah lakon.

Bagaimanapun keberadaan naskah drama, sesungguhnya tidak dapat diabaikan dari jagad teater tanah air. Apabila merujuk pengertian teater modern dan teater tradisional di Indonesia, salah satu unsure pembeda yang utama adalah ada atau tidaknya naskah yang dimainkan.

Begitu pula, pentingnya naskah lakon sebagai bagian dari teater Indonesia kurang disadari. Naskah lakon seolah-olah hanya bagian dari sastra an-sich, sementara di dunia sastra sendiri naskah lakon identik dengan teater.Selain itu, tidak banyak pula Pembina/pelatih/sutradara/guru teater yang menulis naskah sendiri. Mereka masih menganggap bahwa penulisan termasuk naskah lakon, lebih merupakan wilayah sastra.

Menyadari hal tersebut diatas, kehadiran buku ini menjadi sangat penting. Tidak untuk memberikan jawaban atas kelangkaan itu, tetapi untuk memberikan dorongan bangkitnya semangat menulis naskah lakon dan penerbitan naskah lakon.

Naskah-naskah yang terangkum dalam kumpulan Orde Mimpi ini, saya tulis sejak saya benar-benar serius di teater sekitar tahun 1990-an. Saya memilih beberapa naskah yang saya anggap layak untuk dimainkan oleh siswa SMA dan yang sederajat.

Naskah ini saya susun terdiri dari tiga bagian, pertama: Monolog. Ada tiga naskah monolog yang saya tawarkan. Tiga naskah ini untuk belajar bermain karakter secara mandiri. Selain itu naskah ini juga untuk mengantisipasi minimnya pemain.

Bagian kedua: Dialog, memuat tiga naskah yang dimainkan lebih dari empat orang. Naskah ini untuk belajar bermain teater tingkat lanjut. Setelah penguasaan bermain secara mandiri, actor perlu berlatih bermian secara kelompok.

Bagian keiga: Epilog, memuat naskah adaptasi dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Naskah adaptasi ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa karya sastra seperti novel, cerpen, puisi juga bisa dimainkan dalam seni teater.

Untuk mempermudah memahami, setiap naskah sengaja saya tuliskan sedikit pengantar mengenai tema, synopsis dan gambaran setting. Namun semua itu tidak mengikat.

Terakhir , saya berharap buku ini menjadi tambahan referensi naskah-naskah drama, di lingkungan teater SMA ataupun teater umum lainnya.

Surabaya, November 2009
R Giryadi
081 330 65 78 45
e-mail: zahiria@yahoo.com



SEKAPUR SIRIH

Syukur Alhamdulillah, program penerbitan buku tahap kedua berjalan sesuai rencana. Sejak semula, Dewan Kesenian Jawa Timur memahami bahwa kesenian tidak hanya terpaku dengan wilayah olah rasa. Tapi juga ada gelibat kencang dari pergulatan pemikiran. Inilah yang perlu dicatat. Problemnya, mencatat pemikiran belum menjadi tradisi yang mengakar di Jawa Timur. Terbukti, penerbitan buku di provinsi yang beragam etnik ini masih teramat sepi. Tetapi kami tetap optimistis. Sepi bukan berarti tidak ada sama sekali.
Kami berharap usaha penerbitan ini mampu meningkatkan gairah kehidupan kesenian. Terkhusus di Jawa Timur. Untuk itu, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada para seniman yang telah mencurahkan keringat-dinginnya untuk menulis buku, editor, penerbit, dan seluruh insan yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam kehidupan kesenian di Jawa Timur. Selebihnya, ungkapan kuno, tiada gading yang tak retak, patut kami ketengahkan. Artinya, kami tetap mengharapkan adanya kritik dan saran demi terciptanya kondusivitas berkesenian yang sehat dan progresif. Amin.

Surabaya, 10 November 2009

Achmad Fauzi
Ketua Umum Dewan Kesenian Jatim



Buku Terbitan Dewan Kesenian Jawa Timur:
1. Koreografi Etnik Jawa Timur
Penulis: Tri Broto Wibisono, Bambang Sugito, Rahmat Djoko Prakosa, Eko Wahyuni Rahayu, Peni Puspito, Setyo Yanuarti
Editor: Eko Wahyuni Rahayu
Produksi Komite Tari, Tahun 2009
2. Teater dan Kembarannya
Penulis: Antonin Artaud (terjemahan)
Penerjemah: Max Arifin
Editor: Abdul Mukhid
Produksi Komite Teater, Tahun 2009
3. Dua Kutub, Panjak Hore & Rock Progresif
Penulis: Suwarmin dan Gamantyo Hendrantoro
Editor: Nashar Bathati
Produksi Komite Musik, Tahun 2009
4. Damar Kurung, dari Masa ke Masa
Penulis: Ika Ismurdyahwati
Editor: Nonot Sukrasmono
Produksi Komite Seni Rupa, Tahun 2009
5. Isu Minoritas dalam Sinema Indonesia Pasca Orde Baru
Penulis: Rachmah Ida, dkk
Editor: IGAK. Satrya Wibawa
Produksi Komite Film, Tahun 2009
6. Pesta Penyair, Antologi Puisi Jawa Timur
Penulis: Akhudiat, dkk
Editor: Mashuri dan Ribut Wijoto
Produksi Komite Sastra, Tahun 2009


__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment