Wednesday, July 28, 2010

[ac-i] SLAMET RACHMAT in memoriam (1933-2010)

 

ASAHAN:
 
 
                                     SLAMET RACHMAT
 
                                          in memoriam
 
                                           (1933- 2010)
 
 
Mencapai usia hingga 77 ( persisnya kurang tiga bulan) dalam situasi kehidupan buangan politik di luar negeri, adalah juga prestasi usia yang cukup mendingan bahkan untuk ukuran manusia Indonesia sudah termasuk panjang umur. Tapi bukan soal umur yang akan menjadi tekanan dalam memoriam sekarang ini.
Bung Slamet atau  bung Rachmat menurut panggilan akrab teman-temannya, saya kenal sejak di Moskow ketika masih sama-sama belajar di Universitas Lumumba. Bung Rachmat selalu tampak sederhana dalam penampilan, baik cara berpakaian maupun cara bergaulnya, berbicara tidak keras dengan nada selalu mencari solusi dalam setiap perbedaan pendapat dan menawarkan advis. Bung Rachmat tidak suka menonjolkan diri. Dalam organisasi yang manapun orang akan sukar mencari nama Slamet Rachmat yang memangku sesuatu fungsi dalam organisasi dan bila orang memintanya agar duduk dalam fungsi-fungsi tertentu, dia akan memulai dengan kata penolakan dan itu terdengar jujur tidak pro forma dan itu ternyata berlangsung hingga ahir hidupnya. Kwalitas demikian untuk saya sangat mengesankan. Penyakit atau syndrom berburu fungsi dalam setiap organisasi dalam masyarakat Indonesia begitu dramatisnya dan juga sekaligus begitu memuakkan yang juga berlaku dalam kehidupan berorganisasi di luar negeri yang meskipun sudah sebagai pelarian buangan politik (tidak pandang apakah sudah memiliki paspor yang bukan Indonesia), tapi setelah berhasil mendapatkan fungsi-fungsi dalam organisasi itu,  biasanya 99 persen tidak pernah berfungsi kecuali hanya mencatatkan nama. Hal itu tidak berlaku bagi bung Rachmat. Dia tidak gila fungsi tapi selalu bersedia bila mendapat tugas kerja apa saja, tidak perlu harus menyandang fungsi "sekretaris pertama" atau apa saja untuk penghias pengumuman atau pernyataan dan bahkan hingga pernyataan duka cita.
 
Juga dalam hal perbedaan pendapat. Kehidupan kaum buangan politik Indonesia akibat peristiwa 65, sebelum mereka menyebar ke Eropah dan Amerika dan tempat-tempat lainnya di luar Indonesia adalah kehidupan pertengkaran, cakar-cakaran, faksi-faksi, ekstrim kanan dan kiri, bahkan hingga terlibat dalam dunia bergajul(terutama di Tiongkok) serta saling pencil memencilkan (hingga sekarang). Tapi pengalaman saya dengan bung Rachmat selama berkumpul dan bersama dalam berbagai kegiatan, meskipun kami punya perbedaan pandangan dalam banyak hal, tapi sikap bung Rachmat terhadap siapa saja yang berbeda pendapat dan pandangan, dia selalu punya sikap adil dan tenang dan tidak mencap lawan politiknya sebagai musuh dan selalu bisa berteman biasa, normal dan tetap bersahabat secara wajar dan tidak dibuat-buat. Untuk saya kwalitas demikian selalu menimbulkan kesan mendalam, terutama ketika seseorang telah pergi mendahului yang masih hidup. Yang pergi duluan tidak perlu diangkat sebagai pahlawan, direkayasa jasa-jasanya atau dibesar-besarkan kwalitas hidupnya yang sebenarnya biasa-biasa saja tapi karena sudah meninggal semuanya harus indah tanpa cacad yang tidak sesuai dengan kenyataan ketika yang meninggal masih hidup. Bung Rachmat telah meninggalkan kesederhanaan dan kejujuran. Dia bukan orang yang romantis(meskipun yang pertama berhasil membangun keluarga di antara kumpulannya), bukan pemimpin dalam level yang manapun, bukan pemburu fungsi dalam dunia organisasi, bukan tokoh terkenal di antara golongannya tapi cukup dikenal banyak orang karena kwalitas kesederhanaan hidupnya, sebuah kwalitas manusia yang murni, tidak dibikin bikin orang lain atau dibikin-bikinnya sendiri. Hidup, dengan demikian telah mencapai  ahirnya dengan baik dan semoga tidak diberi tambahan yang tidak diperlukan bagi yang sudah pergi untuk kepentingan yang masih tinggal.
ASAHAN
Hoofddorp, 28 Juli 2010.

__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.

.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment