Thursday, July 22, 2010

[ac-i] Widayaka alumnus SMPN Tuban-Alun-alun

 

Radar Bojonegoro -JAWA POS Group
[ Jum'at, 23 Juli 2010 ]
Cerita Widayaka Aryadiyaksa, Pelukis yang Terpilih Ikuti Festival Seni dan Budaya Nasional
Jadikan Koleksi Pribadi, tak Pernah Jual Lukisan

Widayaka Aryadiyaksa menjadikan semua huruf Jawa sebagai dasar untuk mengembangkan lukisannya. Berkat ketelatenannya itu, dia berhak mengikuti festival seni dan budaya nasional-internasional di Jogjakarta, 2 Agustus mendatang.

ZAKKI TAMAMI, Tuban

---

WIDAYAKA Aryadiyaksa sibuk dengan bacaan buku tebal bersampul biru. Buku berjudul Puisi itu tak juga lepas dri genggaman tangan pria ini. Bacaan itu untuk menunjang pria berkaca mata ini sebagai tenaga pendidik.

Di balik kesehariannya sebagai guru, Widayaka mempunyai hobi melukis. Meski hanya hobi, pria berambut cepak ini mampu menghasilkan karya bernilai seni tinggi. Bahkan, hasil karyanya tak hanya pernah dipajang di beberapa wilayah di negeri ini. Juga, Australia.

Bagi warga Tuban, hasil karya Widayaka bisa dilihat ketika mendekati rumahnya di Perumahan Gedongombo Baru. Tembok samping rumahnya dilukis dengan lukisan khas huruf Jawa. Tak hanya itu, dinding ruang tamu pria ini juga dihiasi banyak pajangan dari hasil karyanya.

Widayaka merupakan seniman lukis asli Tuban yang saat ini sedang naik daun. Hasil karya pria yang pernah masuk lima karya terbaik Nasional dalam Festival Seni dan Budaya Nasional 2008 di Jogjakarta itu sekarang terpilih kembali untuk mengikuti festival yang sama, 2 Agustus mendatang, juga di Kota Gudeg tersebut. ''Ini diikuti juga 13 negara lainnya. Bisa dikatakan festival selevel internasional,'' tuturnya.

Lukisan Ing Ngarso Sung Tulodo, karya khas kaligrafi Jawa pria kelahiran 21 Oktober 1959 ini yang terpilih mengikuti festival tersebut. Lukisan itu berhasil menyingkirkan ratusan peserta lainnya saat seleksi 15 Juni lalu.

Dalam lukisan tersebut, Widayaka mencoba menggambarkan buah pikiran dan renungan Ki Hadjar Dewantoro, di tengah membangun motivasi dan prestasi, di belakang sebagai pembimbing. Pemikiran itu dianggap sebagai pondasi sikap pendidik dalam membangun karakter bangsa. ''Entah apa (alasan panitia) kok terpilih,'' jelas dia.

Suami Munawaroh itu melukiskan karyanya di atas kain kanvas berukuran 1 x 1,5 meter. Lukisan itu diselesaikan dalam waktu sebulan. Setiap pulang dari tempat mengajar, Widayaka meluangkan waktu untuk mengerjakan lukisannya tersebut. Cat minyak yang ada di rumahnya seakan menjadi teman hidupnya. ''Saya mengikuti ini baru dua kali. Sebelumnya 2008 yang masuk lima karya terbaik. Kami berharap tahun ini bisa masuk lima karya terbaik lagi,'' ujarnya.

Alumni Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta ini mengaku menggeluti dunia lukis sejak 1990. Awalnya, dia meminta diajari cara melukis yang benar kepada seniman di Tuban. ''Pernah diejek, saya nggak bisa. Ejekan itu membuat saya semangat untuk membuat karya yang lebih baik,'' kata dia.

Meski hanya otodidak, hasil karya Widayaka mampu bersaing dengan seniman nasional. ''Setiap mengikuti even, saya nggak pernah menjual karya saya meski masuk lima besar nasional. Sebab, lukisan ini adalah koleksi pribadi saya,'' paparnya. (*)

 

__._,_.___
Recent Activity:
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment