Thursday, April 23, 2009

[ac-i] Diskusi buku TEATER DAN KEMBARANNYA-ANTONIN ARTAUD, Dewan Kesenian Jatim



Monggo datang.

Diskusi dan pembagian buku TEATER DAN KEMBARANNYA-ANTONIN ARTAUD,

Terjemahan MAX ARIFIN.

Senin, 27 April 2009 pukul 13.00-15.00 wib

di toko buku diskon PETRA TOGAMAS

Jl.Pucang Adi 5 Surabaya



Narasumber:

-Syah A Lathif, Konsultan artistik sanggar Lentera, Sumenep

-Indra Tjahyadi



Moderator:

Didik Wahyudi



Informasi:

-R Giryadi, 081 330 65 7845, Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jawa Timur

-Ribut Wijoto, 031-72102178, 081 33111 4544, Ketua Departemen Infokom Dewan Kesenian Jawa Timur

-Sekretariat Dewan Kesenian Jawa Timur Jl. Wisata menanggal Surabaya 60234

Telp/fax 031-855 4304. email:dk_jatim(at)yahoo.com; www.dewankesenianjatim.com; www.brangwetan.com.

Acara ini terbuka untuk umum dan gratis.



TEATER DAN KEMBARANNYA
Antonin Artaud

Diterjemahkan dari edisi bahasa Inggris
The Theatre and Its Double, Antonin Artaud, Grave Press, 1994

Penerjemah:
Max Arifin

Editor:
Abdul Mukhid

Desain sampul:
R Giryadi

Tata letak:
Zahiria

Pracetak:
Ribut Wijoto, Abdul Malik

Diterbitkan pertama kali dalam edisi Bahasa Indonesia oleh
Dewan Kesenian Jawa Timur
Jl.Taman Mayangkara 6
Surabaya 60241
Telp/fax 031-5610432
email:dk_jatim@yahoo.com


Kerjasama dengan:
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Propinsi Jawa Timur

Cetakan pertama:
Februari 2009

ISBN:
978-979-18793-0-9

Tebal:
X+74 halaman

 

Untuk mendapatkan buku ini, silakan mengajukan permohonan via surat/email/fax:

Kepada Yth

Sdr. R Giryadi, Ketua Komite Teater

Dewan Kesenian Jawa Timur

Jl. Taman Mayangkara 6

Surabaya 60241

Tel/fax 031- 5610432

Email:dk_jatim@yahoo.com, zahiria@yahoo.com

Hp 081 330 65 78 45

 

Terima kasih.

 

 


Daftar Isi
Pengantar
Teater dan Kembarannya
Tentang Teater Bali
Mise en Scene dan Metafisik
Teater Kimia (Alchemist Theatre)
Teater Kejam (The Theatre of Cruelty) First Manifesto
Surat-surat tentang Cruelty.
Teater dan kekejaman
Surat tentang Bahasa
Teater dan wabah
Tak ada lagi Adikarya
Teater dan Perpuisian
Teater Oriental dan Teater Barat
Pertama-tama Teater adalah Ritualistik dan Magik
Sebuah Athleticism yang afektif
Teater dan Kebudayaan
Teater dan Dewa-Dewa
Medea tanpa api



Kata pengantar

Serpihan-serpihan Tubuh

Setelah menonton teater Bali , akumulasi kegelisahan Antonin Artaud yang selama ini dipendamnya, seperti mendapat pembenarannya. Sentuhannya dengan pertunjukan Teater Bali di Paris sekitar tahun 1931 itu, seperti menjadi hulu ledak obsesi Artaud untuk menciptakan idelaisasi teater yang digelisahkan sejak tahun-tahun sebelumnya atau sejak ia diasingkan oleh teman-temannya dalam gerakan sastra Surrealismenya.
Tidak hanya teater Bali tetapi juga karya seni rupa yang tersimpan dalam museum Louvre, karya Leyden dari abad 15 berjudul The Daughters of Lot . Film karya Marx Brothers yang berjudul Monkey Business, telah menjadi pendorong keinginan Artaud untuk menciptakan teaternya yang dikemudian hari disebutnya sebagai teater kejam, The Theatre of Cruelty.
Bagi Artaud ketiga karya di atas, memiliki kesamaan atas konsepsinya tentang teks teater yang telah mendominasi panggung dan actor selama betahun-tahun di seluruh dataran Eropa. Menurut Artaud, lewat gesturnya, Teater Bali mampu memberikan daya magis yang mengancam teks-teks verbal. Begitu juga dengan lukisan Leyden dan filmnya Max Brothers.
Artaud memandang lukisan Leyden sebagai hasil dari arah kreatif yang diuraikan secara indah, seperti layaknya penguasaan atas suatu tontonan yang teatrikal yang digubah, disusun di atas pentas, diwujudkan di atas pentas, tanpa dialog atau teks. Artaud juga melihat lukisan itu sebagai suatu paduan, assembling, dan penyampaian eksplosi-eksplosi (ledakan-ledakan) suara untuk memperjelas pengaruh visualnya (its visual impact).
Menurut Artaud, film Max Brothers, memiliki pembebasan yang lengkap dan perobekan (penghancuran) terhadap realitas. Peristiwa itu menurut Artaud memiliki potensi untuk menimbulkan ledakan yang merusak. Artaud memandang dengan kagum terhadap kekuatan gelak tawa (the power of laughter) yang bisa menimbulkan transformasi secara tiba-tiba. Ia menekankan kualitas pemberontak yang terdapat pada ledakan, keributan, dan gerakan (movement) dalam film-film Marx Brothers.
Theatre of Cruelty melalui perjalanan yang sangat panjang. Selama 30 tahun, teater ini dianggap mustahil untuk diwujudkan. Bahkan teatrawan Polandia Jerzy Grotowski menganggapnya, tanpa memahami konsepsi Artaud secara baik dan benar, hanya akan menurunkan derajat teaternya dan tidak punya arti apa-apa selain hanya gaya (action) belaka. Dan memang, selama itu pula Artaud (sendiri) menemui kegagalan demi kegagalan, sampai menjelang akhir hayatnya (4 Maret 1948) sebagai seniman yang keras kepala dan miskin.
Periode akhir kemunculan Artaud merupakan intensifikasi sekaligus kristalisasi terhadap karya-karya sebelumnya. Karya-karya terakhirnya memiliki kejelasan yang final, yaitu terkontrol dan liar atau brutal. Inilah projek teater kejamnya ( Theatre of Cruelty) Artaud. Gema atau gaung pengaruh Artaud terhadap seni inovatif dan eksperimental berkembang ke berbagai arah dan luas. Pengaruh itu membentang dari seni visual sampai ke seni vocal dan yang bersifat teoritik.
***
The Theatre and Its Double karya Antonin Artaud, lebih konprehensif membahas konsep teater kejam, karena ditulis sendiri oleh Artaud. yang diterjemahkan oleh oleh Max Arifin menjadi Teater dan Kembarannya. Buku ini banyak mengisahkan proses perjalanan Antonin Artaud. Buku ini membeberkan konsepsi Artaud mulai dari gerakannya di seni sastra Surrealisnya sampai pada konsepsi teater kejamnya (The Theatre of Cruelty).
Artaud dikenal sebagai seorang penulis yang karya-karyanya sangat provokatif dan mendatangkan banyak malapetaka. Gerakannya yang provokatif dan bahkan ekstrim itu membuatnya ditolak dalam lingkungannya sendiri terutama oleh teman-temannya sendiri para Surrealis, di Paris. Penolakannya itu bahkan justru membuahkan hasil yang sangat produktif setelah ia juga mengalami serententan perjalanan dan perawatannya di rumah sakit jiwa (azilum).
Karya-karyanya menggali isu-isu tentang kebebasan, pengurungan, dan kreatifitas, dengan menghasilkan imaji-imaji yang begitu krusial tentang penyadaran bahasa dan kehidupan. Dalam jejak-jejak karyanya, kita akan menemukan serpihan-serpihan kemauan yang keras kepala dan garang.
Ia meninggalkan Prancis –ia mengembara ke Mexico dan Irlandia- setelah mengalami kegagalan besar dalam meluncurkan mimpinya tentang Theatre of Cruelty, suatu proyek artistic yang didesain untuk menumbangkan kebudayaan dan membakarnya untuk dikembalikan pada kehidupan ini, sebagai suatu laku yang langsung menentang masyarakat.
***
Antonin Artaud lahir dengan nama Antoine Marie Joseph Artaud, pada 4 September 1896, di dekakat kebun binatang Marseilles , Perancis. Artaud sendiri dalam berbagai kesempatan sering mengganti dan merusak namanya. Ia pernah mengganti namanya menjadi Eno Dailor untuk beberapa naskah awal Surrealisnya. Bahkan dalam satu periode ia mengumumkan 'My name must disappear' (namaku harus lenyap). Bahkan ia tak bernama sama sekali awal penahanannya di azilum. Usai pembebasannya di azilum ia memakai nama samaran 'le Momo' (bahasa slang Marseilles yang berarti si idiot, bodoh, atau ndeso).
Kehidupan Artaud merupakan tragedy besar, kegagalan dahsat datang silih berganti, dan tekanan demi tekanan. Tetapi ia memiliki semacam kekuatan magis dan kemapuan monumental untuk bangkit aktif dan merekontruksi kembali kegelisahannya. Karya Surrealisnya pada tahun 1920-an mencoba bereksperimen tentang kesadaran lewat atau melalui karya sinematik dan puitik. Setelah projek-projek Surrealismenya berantakan pekerjaannya terlibat dalam ruang teatrikal.
Bahasa yang dipakai Artaud dalam tulisa-tulisannya bercampur aduk bagai terikan atau jeritan-jeritan yang menuju ke kecabulan yang ekstrim dan murni. Menulis bagi Artaud adalah suatu penumpahan atau pengeluaran semua substansi yang bersifat fisikal, baik yang berdampak liar maupun yang bersifat interogratif. Tulisannya merupakan luapan ekspresi yang kasar dan berterus terang dari reflek-reflek yang bersifat indrawi, menentang control social.
***
Hadirnya buku Artaud ini menambah perbendaharaan buku-buku terjemahan yang membahas tentang konsepsi-konsepsi besar teater dunia yang selama ini terasa amat kurang, meski Max Arifin sendiri telah menerbitkan (menerjemahkan) karya-karya Bertolh Breach, Konstantin Stanislavsky, Peter Brook, dan Jerzy Grotowsky. Seandainya buku Artaud ini terbit akhir tahun 1980-an, maka akan menemukan konteksnya dengan perkembangan teater kontemporer di Indonesia.
Seperti kita ketahui konsep Artaud telah menjadi pemicu dalam pertunjukan-pertunjukan teater di Indonesia menjelang akhir tahun 1980-an. Teatrawan yang biasa disebut memiliki kegelisahan sama dengan Artaud adalah Budi S Otong dengan teater SAE, kemudian juga teater Kubur, Dindon WS. Pada pertengahan tahun 1990-an teater ini 'mewabah' sampai Jawa Timur, Bali , dan Makasar. Tetapi meski begitu buku ini tetap menarik disimak sebagai bahan telaah teoritik maupun kesejarahan, bagi para peminat teater.
***

Rakhmat Giryadi
Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jawa Timur



__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Search Ads

Get new customers.

List your web site

in Yahoo! Search.

Yahoo! Groups

Auto Enthusiast Zone

Auto Enthusiast Zone

Car groups and more!

Weight Loss Group

on Yahoo! Groups

Get support and

make friends online.

.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment