Monday, April 27, 2009

[ac-i] Om adalah Simbol Tuhan [1 Attachment]

[Attachment(s) from leonardo_rimba@yahoo.com included below]

Saya dulu suka bilang: "Ngapain mikirin Tuhan, Tuhan aja gak mikirin kita kok!" And that was as honest as I could be.

Yg namanya aliran dalam agama tidak terhitung banyaknya, dan masing-masing klaim sebagai paling benar sendiri. Kristen Protestan memiliki, mungkin, puluhan ribu denominasi. Denominasi itu semacam pemerintahan gereja yg terpusat. Satu denominasi bisa membawahi ribuan gereja di puluhan negara.

Nah, puluhan ribu denominasi Kristen Protestan itu mau diapain? Ya tidak diapa-apain.

Islam juga memiliki, mungkin, jutaan ulama. Setiap ulama memiliki cara berpikir sendiri, dan berhak mengeluarkan fatwa. Fatwa itu sahih, dan berlaku bagi si ulama sendiri dan orang yg mau mengikuti dia. Bisa dihitung berapa banyak pendapat?

Hindu juga begitu, ribuan aliran. Hindu Bali termasuk kecil kalau dibandingkan dengan Hindu di India di mana segala macam bisa masuk.

Buddha memiliki ribuan organisasi dengan nama dan pemikiran berbeda. Ada Buddha Srilanka, Buddha Tibet, Buddha Jepang, Buddha Cina. Saya juga bisa klaim bahwa saya sharing ajaran Buddha. Bisa saja. Biarpun liar, itu bisa saja dilakukan.

Belum lagi segala macam agama-agama aneh yg mungkin belum pernah kita dengar seperti Zoroastrianisme, Paganisme, macam-macam.

Makanya saya lebih suka sharing pengalaman spiritualitas pribadi, bagaimana kita akhirnya mengerti bahwa segala macam agama dan tradisi itu isinya cuma simbol-simbol saja, dan yg penting adalah kultivasi spiritualitas di diri kita masing-masing.

Biasanya saya memasukkan semua tradisi dan agama itu dalam satu kategori, yaitu kategori budaya. Budaya artinya buatan manusia. Karena buatan belaka, artinya kita bisa memperbaiki apa yg ada sekarang. Perbaiki saja, robah saja, dan terapkan sendiri. We can make and remake our religions right now.

Segala agama-agama itu isinya dogma-dogma yg sebenarnya juga mungkin sudah tidak dipercayai lagi oleh orang yg mengaku sebagai penganutnya. Siapa yg percaya Allah bikin manusia di Taman Firdaus? Siapa yg percaya alam semesta diciptakan Allah dalam 6 hari saja? Pedahal kisah seperti itu merupakan bagian dari iman di masa lalu. Dan mungkin juga bagian dari iman di masa kini bagi agama tertentu. But so what gitu lho!

Yg bilang segala mitos itu bagian dari iman adalah para pemimpin agama, sedangkan banyak dari orang-orang yg mengaku menganut agama sendiri sudah tidak perduli lagi dengan mitos-mitos yg, konon, harus diimani itu. Siapa yg percaya Isra Miraj benar-benar terjadi secara fisik? Mao percaya boleh, tidak mao percaya juga tidak apa-apa.

Yg penting adalah spiritualitas di diri kita. Bagaimana kita akhirnya bisa menerima bahwa kesadaran kita itu abadi, bahwa yg namanya Allah atau Tuhan cuma proyeksi dari kesadaran kita saja. Spiritualitas adalah kultivasi kesadaran di diri kita masing-masing.

+

Dalam Hinduisme, Shakti pasangan Shiva sering diartikan sebagai energi. Memang seperti itu konsep populernya. Itu pengertian umum. Shakti itu "sakti" dalam Bahasa Indonesia; kata bendanya menjadi "kesaktian", or "kesakten" dalam Bahasa Jawa. Kesaktian adalah energi, that's true.

But I am here talking about Shakti, Shiva's consort, yg sering digambarkan sedang ML dengan Shiva. I am deliberating on the essence of it in relation to meditation.

Nah, Shiva yg sedang fucking dengan Shakti adalah simbol dari manunggaling kawula lan gusti atau union with God. Secara abstrak, hubungan kelamin antara Shakti dan Shiva digambarkan dengan Lingga Yoni. Lingga simbol dari Shiva, dan Yoni simbol dari Shakti. Ternyata, Lingga Yoni itu bentuknya bukan Lingga yg masuk ke dalam Yoni, melainkan Lingga yg berdiri di atas Yoni.

Dengan kata lain, manunggaling kawula lan gusti itu bukan soal masuk memasukkan alat kelamin, melainkan gabungan antara kedua kecenderungan manusia, feminin dan maskulin. Feminin itu tubuh bagian bawah, cakra sex. Shakti juga simbol dari cakra sex. Dan maskulin itu tubuh bagian atas, cakra mata ketiga. Shiva adalah simbol dari kesadaran manusia atau cakra mata ketiga.

Thus, Lingga Yoni adalah union dari kultivasi kedua cakra itu, yg tetap terpisah menjadi dirinya sendiri tapi menyatu dalam aktifitas ML yg goyang-goyang terus tapi tidak pernah mencapai klimaks. Itulah manunggaling kawula lan gusti di mana kesadaran kita menyatu dengan naluri kita, di mana kita sadar bahwa kita sadar. Tentu saja tidak ada Allah di sana karena Allah memang konsep doang.

Shiva adalah simbol dari kesadaran kita sendiri saja. Ketika kita sadar bahwa kita sadar, maka kita dikatakan manunggaling kawula lan gusti atau menyatu dengan kesadaran "tinggi". Pedahal tidak tinggi maupun rendah. Kita tetap sebegini saja tapi, maybe, ada juga yg berubah, yaitu pengertian.

Kita mengerti bahwa kita adalah itu. Tat Tvam Asi. You are that.

+

Di dalam Islam, Nur Muhammad merupakan konsep adaptasi dari pemikiran Yunani, dan dipakai di kalangan Sufi saja. Islam syariat tidak mengenal Nur Muhammad. Nur Muhammad ini essensinya sama dengan pengertian Firman dalam Perjanjian Baru di Kristen, yg juga meminjam dari pemikiran Yunani.

Yesus itu inkarnasi dari "Firman Allah". Firman Allah adalah Allah. Muhammad adalah inkarnasi dari "Nur Muhammad". Nur Muhammad adalah proyeksi dari Allah. Yesus inkarnasi Allah. Muhammad inkarnasi Allah. Semua manusia inkarnasi Allah, termasuk anda dan saya. Begitu pengertiannya secara hakekat atau essensi.

Kalau mau mengikuti jalur pemikiran keagamaan, yg juga banyaknya tidak terhitung, maka anda tidak akan pernah sampai kepada hakekat atau pengertian tentang essensi, anda hanya akan berputar disitu-situ saja. Untuk mencapai hakekat atau pengertian tentang essensi, maka mau tidak mau kita harus mem-bypass dan memangkas banyak hal yg tidak perlu.

Nur Muhammad itu Kristus yg selalu ada bersama Allah. Itu yg saya sebut sebagai kesadaran "tinggi" yg ada di diri anda, saya, dan siapa saja. Tetapi untuk memberikan pengertian yg sangat simple inipun tidak mudah, karena mereka yg merasa sudah bersusah payah puluhan tahun mengumpulkan amal ibadah akan merasa rugi, selain ada kepentingan tertentu, biasanya berasal dari kalangan institusi keagamaan, yg mau tetap menyembunyikan pengertian hakekat agar tidak sampai ke khalayak banyak. Atau, mungkin juga mereka sendiri tidak mengerti?

Yg jelas, kesadaran yg ada di anda itu memang sama persis dengan kesadaran yg ada di saya dan di siapa saja. Itu juga kesadaran yg sama yg ada di Yesus dan di Muhammad, di semua orang yg di-nabikan, di semua orang yg dicap kriminal, maupun di semua orang yg dianggap tercerahkan.

Itu Nur Muhammad, kesadaran Kristus, kesadaran Buddha, manunggaling kawula lan gusti, dan banyak istilah lainnya lagi yg semuanya bermakna sama.

Leo
@ Komunitas Spiritual Indonesia <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>.

(Keterangan gambar di attachment: Rajah Om yg digunakan sebagai simbol Tuhan dalam Hinduisme. Di Bali dikenal sebagai Acynthia, yg tak terperikan, tak terbatas, tak bisa dibicarakan. Brahma, Wisnu, dan Siwa bukan Tuhan dalam Hinduisme, melainkan simbol dari apa yg ada di diri manusia. Shiva is jiva, kata Swami Vivekananda. Siwa itu simbol dari jiwa kita, kesadaran kita. Om adalah simbol Tuhan. Om... om... om... Dalam Sufisme, padanannya adalah lafal Hu. Hum... hum... hum....)


Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.

__._,_.___

Attachment(s) from leonardo_rimba@yahoo.com

1 of 1 Photo(s)

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment