Sunday, April 26, 2009

[ac-i] Memoar Peraih Nobel Sastra



Memoar Peraih Nobel Sastra
Hernadi Tanzil Book Blogger & Book Reveiwer
Berbagai kisah mengenai Istanbul membuat kita memahami sejarah dan kultur Istanbul modern pada 1950-1970-an, yang menyiratkan kemurungan wajah Turki. Juga terbelahnya kultur masyarakat Turki antara Islam dan sekularisasi, modern dan tradisional, Timur dan Barat, yang ternyata masih bisa dirasakan hingga kini.
ISTANBUL adalah memoar dari peraih Hadiah Nobeldalam Bidang Sastra 2006asal Turki, Orhan Pamuk.Berbeda dengan memoar-memoar lain yang lebih mengutamakan kisah hidup si penulis, dalam memoarnya ini Pamuk tak hanya berkisah mengenai sejarah hidupnya. Dengan cara bertutur seperti dalam novel-novelnya, Pamuk mencatat penggalan memori kehidupan masa lalu dikaitkan dengan memori kolektif Istanbul, kota kelahirannya yang begitu ia cintai. Jadi, bisa disimpulkan bahwa buku ini merupakan serpihan memoar dan esai panjang Pamuk tentang dirinya dan Istanbul.
Bagi Pamuk, yang begitu lekat dengan kota kelahirannya, takdir Istanbul ialah takdir dirinya. Sebab, Istanbullah yang membuat dia menjadi seperti sekarang.
Istanbul adalah mata air yang terus menerus memberi inspirasi. Tidak mengherankan jika sebagian besar novel-novelnya berlatar Istanbul, kota warisan kesultanan Usmani yang tak henti bergumul dengan identitas Barat dan Timur. Begitu pun dalam memoarnya ini, di mata Pamuk, Istanbul dimetaforakan sebagai makhluk yang berwajah murung, atau istilah dalam bahasa Arabnya huzun.
Kemurungan Setelah Kesultanan Usmani ambruk, dunia nyaris lupa bahwa Istanbul ada. Kota tempat saya dilahirkan ini lebih miskin, kumuh, dan lebih terasing ketimbang sebelumnya selama sejarahnya sepanjang dua ribu tahun. Bagi saya, Istanbul selalu merupakan kota penuh reruntuhan dan kemurungan masa akhir kesultanan. Saya menghabiskan hidup memerangi kemurungan ini atau (seperti semua penduduk Istanbul) menjadikannya kemurungan saya (hal 7).
Istanbul modern dalam kacamata Pamuk memang telah mengalami kemunduran sejak jatuhnya Kesultanan dan berdirinya pemerintahan Republik dengan reformasi yang dipimpin Mustafa Kemal Ataturk (pendiri Turki dan presiden pertama Turki). Bagi Ataturk, satu-satunya jalan untuk melangkah maju dengan cara mengembangkan konsep baru mengenai ke-Turkian yang modern. Sayangnya, konsep itu dilakukan dengan cara melupakan masa lalu sehingga kultur, seperti bahasa dan pakaian tradisional, dilupakan.
Bahkan literatur tradisional pun dilupakan.
Kemurungan Istanbullah yang menjadi benang merah seluruh kisah dalam memoarnya ini. Karena itu, jangan harap kita akan disuguhi panorama keindahan Istanbul. Dalam memoarnya ini, wajah Istanbul modern yang kini semakin karut-marut dikisahkan secara paralel dengan kehidupan masa lalu. Pamuk yang dilahirkan dari keluarga kelas menengah dan hidup dalam budaya sekuler Barat. Dengan begitu, hidup Pamuk menceritakan tentang dirinya dan keluarganya, apartemen-apartemen yang pernah didiami, jalan-jalan yang sering dilalui, peristiwa yang pernah dialami, kisah cinta pertama yang kandas, serta keinginannya yang besar untuk menjadi pelukis sebelum ia banting setir dan akhirnya memutuskan untuk Judul Buku Istanbul, Kenangan Sebuah Kota Penulis Orhan Pamuk Penerjemah Rahmani Astuti Penerbit Serambi Ilmu Semesta, Februari 2009 Tebal 363 halaman menjadi penulis.
Karena, setiap jejak langkah Pamuk senantiasa dikaitkan dengan memori kolektif Istanbul, daya pikat memoar ini bukan hanya terletak pengalaman pribadi penulis, melainkan identifikasi puitisnya dengan Istanbul.
Hasilnya semacam esai berisi sejarah dan kehidupan sosial masyarakat Istanbul, baik dari apa yang diperolehnya dari pengalaman maupun risetnya sendiri. Pun dari catatan orangorang yang pernah menulis sejarah Istanbul, seperti Yahya Kemal, seorang penyair, Resat Ekrem Kocu, seorang sejarawan, Tampinar, seorang novelis, dan Abdulhak Sinasi Hisar, seorang kronologis. Sementara itu, untuk penulis Barat terwakili oleh Gerard du Nerval, Teophile Gautier, dan Gustave Flaubert. Foto Untuk lebih menghidupkan memoarnya, Pamuk juga menampilkan ratusan foto hitam putih, baik yang berasal dari koleksi keluarga Pamuk maupun foto-foto Istanbul karya fotografer lokal, Ara Guller.
Tak kalah menariknya, fotofoto lukisan engraving AntoineIgnace Melling, pelukis Jerman yang merekam Istanbul di abad ke-18.
Jika foto-foto karya Ara Guller didominasi wajah Istanbul modern yang muram, pada karya Mellinglah keindahan masa lalu Istanbul terungkap.
Sebagai seorang novelis terkemuka, Pamuk menyajikan memoarnya ini dengan begitu menarik dan hidup sehingga membaca ke-37 bab kisahnya tak membuat kita bosan, kendati dia terkadang menceritakan hal-hal yang sederhana yang pernah dialaminya. Hal-hal sederhana itu ia hubungkan dengan lukisan, buku-buku, lanskap, bangunan kuno, legenda, sejarah, politik, dan lain-lain sehingga potret dirinya dan Istanbul terekam dengan menarik.
Sayangnya, memoar Pamuk terhenti di era 70-an ketika dia memutuskan mengubah jalan hidup dari seorang pelukis menjadi penulis. Jadi, dalam memoar setebal 363 halaman ini kita tak akan menemukan jejak Pamuk dan Istanbul ketika ia meniti kariernya sebagai penulis.
Semenjak kecil hingga menjadi seorang mahasiswa arsitektur, tampaknya tak ada tanda-tanda Pamuk yang kelak akan menjadi seorang penulis terkenal, kecuali kesenangannya membaca.
Akhir kata, novel ini memang sangat-sangat menarik. Kisah kehidupan Pamuk, pergumulan batin, serta responsnya atas lingkungan yang membesarkannya membawa pembaca pada sebuah perenungan dalam.
Berbagai kisah mengenai Istanbul membuat kita memahami sejarah dan kultur Istanbul modern di 1950-1970-an yang menyiratkan kemurungan wajah Turki. Juga terbelahnya kultur antara Islam dan sekularisasi, modern dan tradisional, Timur dan Barat, yang ternyata masih bisa dirasakan hingga kini.
Seperti ditulis Irish Times sebagai pujian, memoar Pamuk ini layak disejajarkan dengan karyakarya terbaik Pamuk dan bukubuku terbaik yang pernah ditulis mengenai Istanbul. (M-1
 
http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2009/04/25/ArticleHtmls/25_04_2009_019_002.shtml?Mode=0#

Profil Facebook Wahyudi Yudi


Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!

__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment